Islam dan Terorisme

Juwandi Ahmad

 

~Apa yang orang-orang lihat dengan mata kepala mereka sendiri? Ya, para teroris itu orang Muslim, sangat Islam. Dan sangat lanyah mengutip ayat-ayat, hadist-hadist, seruan-seruan yang memperkuat niat mereka. Tak perlu menafsir Islam yang benar itu seperti apa. Sebab teroris punya penafsiran sendiri. Bahkan mereka meyakini tentang Islam, yang lebih Islami dari Islammu~

~Dan kamu berkata, “Terorisme tak ada kaitannya dengan agama. Jangan mengkait-kaitkan terorisme dengan Islam, dengan Muslim” Kamu boleh menyalahkan mereka yang mengkaitkan terorisme dengan Islam. Tapi sebaik-baik dan sebijak apapun gagasaan tidak akan pernah dapat melampaui dan membatalkan kenyataan: bahwa para teroris itu Muslim, terinspirasi Islam, memperjuangkan sesuatu yang dianggap suci. Orang-orang melihat api. Dan kau bilang bukan. Tapi nyatanya jubah terbakar. Kau bilang Islam agama damai. Tapi di luar sana, orang terperangah dengan Muslim, ustadz-ustadz yang menebar kebencian dan permusuhan, mendukung teror, dan pelaku teror. Siapa yang lebih mendesak untuk diajari, diluruskan? Mereka yang mengkait-kaitkan terorisme dengan Muslim, atau Muslim yang menjadi teroris, mendukung teror, menebar kebencian dan pemusuhan? Siapa di antara umat yang paling sering berselisih paham, berserteru, dan saling hujat di antara mereka sendiri? Orang akan menjawab: Muslim.~

~Maka, sempatkan waktu untuk berdiam. Bawa tubuh, pikiran dan hatimu di sudut gelap, lalu tanyakan pada Semesta Jagad Raya, “Ada apa dengan agama dan pemeluknya?” Barangkali kamu akan menyadari bahwa agama yang karenanya banyak orang tercerahkan ini juga punya sisi gelap, yang dapat menjadi alasan untuk membenci, menjadi dasar untuk memusuhi, menjadi jalan untuk menipu. Bahkan membunuh saudara dan anak-anak mereka sendiri. Itu kenyataan. Dan suatu kabar buruk yang selalu saja disangkal, diingkari.~

~Dengan kesadaran itu barangkali saja kau akan lebih sungguh-sungguh untuk memikirkan tentang Tuhan dan agama yang seperti apa yang selayaknya kau tanamkan dalam nalar, batin, dan laku anak-anakmu. Itulah sebaik-baik cara bagi yang menginginkan agama yang lebih mencerahkan di masa depan. Sekurang-kurangnya, agama yang menakhlukan jiwa, yang menumbuhkan penyesalan atas duri di dalam hati, juga congkak dalam pikiran~

 

 

8 Comments to "Islam dan Terorisme"

  1. Dj. 813  25 May, 2018 at 19:36

    Mas Juwandi . . .
    Untung yang nulis, anda orang islam .
    Dj. bisa bayangkan , kalau yang nulis artikel ini non muslim . . .
    Hahahahahaha . . . ! ! !
    Jelas, islam bukan teror .
    Tapi teros, senantiasa islam , ini bukti .
    Tidak perlu didiskusikan, tokh tidak akan mendapat titik temu,
    sama seperti rel KA
    Salam Damai untuk keluarga dirumah, dari kami di Mainz .

  2. Sierli FP  22 May, 2018 at 15:13

    Setuju dengan tulisan mas Ahmad.

  3. Tammy  21 May, 2018 at 14:39

    Mas Juwandi, pasti banyak yg menghujat ya berani2nya bilang ada ustadz menebar kebencian dan mendukung terorisme.
    Tapi muslim seperti mas Juwandi ini yg di Indonesia makin lama makin berkurang rasanya.
    Yg bisa memerangi atau menyadarkan muslim radikal ya kaum muslim sendiri. Karena kalo kaum lainnya, bisa rame!!! Jadi kaum muslim sendiri harus proactive. Kalo mendengar ujaran kebencian di masjid2, pesantren, dll, hendaknya jgn diam saja. Rekam, dan laporkan misalnya.
    Terima kasih artikelnya, Mas!

  4. anthony lim  18 May, 2018 at 06:59

    to : adrian.
    ediaaaannnn ah.wkwkwk

  5. djasMerahputih  17 May, 2018 at 20:24

    Muslim itu org yg saudaranya selamat dari lidah dan tangannya.

  6. James  16 May, 2018 at 16:25

    catch me if you can

  7. adrian.lowe  15 May, 2018 at 14:26

    Islam itu agama damai. Kalo ga setuju saya gorok lehermu.

    Kira2 begitu lha.

  8. James  15 May, 2018 at 11:16

    Teroris = Islam Radikal

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.