Benteng Pendem yang Megah dan Merana

Wiwit Sri Arianti

 

Perjalanan ke Ngawi kali ini mendorongku memenuhi hasrat penasaran tentang satu tempat bersejarah yang beberapa kali tayang di televisi dalam acara uji nyali, kisah mesterius, dan dunia lain. Tempat bersejarah yang indah meskipun tinggal puing itu dikenal dengan nama Benteng Pendem, atau sering disebut dengan Fort van Den Bosch. Kalau dilihat dari namanya, pasti kita sudah bisa menebak dong benteng tersebut peninggalan siapa.

Yup…Benteng tersebut peninggalan jaman penjajahan Belanda, dan menjadi penanda nyata bahwa Republik tercinta ini pernah dijajah oleh Belanda.  Seperti halnya banyak tempat bersejarah lainnya di Negeri tercinta ini yang memiliki bangunan bersejarah peninggalan Belanda, antara lain Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dll.

Menurut ceritanya, pada tahun 1825 Belanda berhasil merebut dan menduduki Ngawi, maka untuk mempertahankan kedudukannya di Ngawi dan fungsi strategis dalam menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah benteng. Proses pembangunan benteng tersebut selesai pada tahun 1845 dan diberi nama Benteng van Den Bosch. Benteng ini pernah dihuni oleh 250 orang tentara Belanda dengan bersenjata bedil dan 6 meriam api serta 60 orang kavaleri yang dipimpin oleh Johannes van Den Bosch. Itulah kenapa benteng tersebut diberi nama Benteng van Den Bosch sesuai dengan nama pemimpinnya.

Ketika aku berkeliling menyaksikan bekas keindahan dan kemegahan benteng ini, aku seperti merasakan aura mistisnya benteng, tiba-tiba saja merasa merinding, seperti ada yang berjalan di dekatku, tiba-tiba terasa “isis” seperti semilir angin. Menurut cerita orang yang memiliki indra ke enam dan pernah berkunjung, konon di lokasi ini kerap terlihat penampakan-penampakan gaib. Yuk kita telusuri Benteng Pendem melalui foto-foto di bawah ini.

Pertama, Pintu Gerbang Depan, di sini menjadi tempat pembayaran tiket dan dijaga oleh petugas militer.  Di dekat pintu gerbang ini juga terdapat bekas pondasi jembatan angkat untuk akses penghubung menuju pintu gerbang depan pertama dan bekas gerigi katrol yang digunakan untuk mengangkat jembatan.

Pintu gerbang depan

Setelah masuk pintu gerbang depan, kita menuju pintu gerbang utama. Di atas pintu gerbang utama ini tertera tulisan 1839-1845, itu berarti Benteng Pendem ini dibangun selama 6 tahun. Arsitektur pada benteng ini memiliki gaya Castle Eropa berpadu corak Indische seperti foto di bawah ini.

Pintu Gerbang Utama

Tampilan sisi kanan bangunan

Masyarakat  mengenal Benteng van den Bosch ini sebagai Benteng Pendem, sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng ini dibangun di areal tanah seluas 15 Ha, dengan bangunan berukuran 165 m x 80 m. Benteng ini dibangun di bawah permukaan tanah dan dikelilingi tanah lebih tinggi sehingga hampir seluruh bangunan tidak terlihat dari kejauhan.

Konstruksi bangunan Benteng Pendem sangat kokoh, karena pada setiap dindingnya diperkuat dengan besi yang menyerupai jangkar atau kail sebagai penguatnya. Bangunan ini masih original, sejak dibangun pertama hingga sekarang, benteng ini belum pernah direnovasi. Lokasi benteng mudah dijangkau yakni sekitar 1 Km arah timur laut dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi. Letaknya sangat strategis karena berada di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Di bawah ini foto Johannes Graaf van den Bosch pemimpin tentara Belanda yang bertugas di Ngawi dan namanya diabadikan menjadi nama benteng yang dibangun. Ketika kita masuk ke dalam benteng, kita dapat menemukan foto yang sama dalam kain spanduk dipasang di dinding dekat pintu masuk dan bekas katrol jembatan.

Johannes Graaf van den Bosch

Katrol jembatan

Ketika kami sampai di Benteng Pendem hari sudah sore menjelang senja sehingga sudah hampir tutup, namun karena kami bilang dari Jakarta, jauh-jauh pingin melihat tempat bersejarah, akhirnya petugas mengijinkan kami masuk melihat-lihat di dalam. Kami datang bertiga dengan Pak Jalil, sahabat yang menjadi penanggung jawab program di Kabupaten Ngawi serta pak sopir, namun pak sopirnya hanya menunggu di luar. Ada beberapa tempat yang membuat bulu kudukku merinding, entah kenapa menjadi ragu untuk melanjutkan pengamatan lebih dalam sehingga kuajak seorang remaja yang duduk-duduk di dekat pintu masuk untuk menemaniku keliling melihat-lihat bagian dalam benteng. Kekagumanku pertama pada keindahan pemandangan bekas taman yang ada di dalam benteng, seperti bangunan benteng yang ada di luar negeri ya, mungkin karena dikonsep oleh orang Belanda. Coba diamati foto di bawah ini, indah to, seperti bukan di daerah Ngawi…

Taman di dalam Benteng Pendem

Bersama Pak Jalil membuktikan keberadaan Benteng Pendem

Pintu gudang senjata

Pada tahun 1962 setelah Indonesia merdeka, benteng ini menjadi markas dan gudang amunisi Batalyon Armed 12, gudang amunisi ini letaknya bersebelahan dengan ruang penjara. Sebelumnya Batalyon Arned 12 ini berada di Kecamatan Rampal Malang, kemudian dipindah ke benteng ini dan dialih fungsikan pula untuk latihan perang. Namun hanya selama 8 tahun benteng ini difungsikan sebagai markas, dan pada tahun 1970 – 1980 gudang amunisi dipindah ke jalan Siliwangi sehingga benteng kosong, tidak berpenghuni dan tertutup untuk masyarakat umum. Sehingga membuat suasana di benteng menjadi angker dan beberapa kali sempat digunakan sebagai tempat untuk acara uji nyali dan dunia lain.

Pada tahun 2011 akhirnya Pemerintah Kabupaten Ngawi membuka kembali Benteng van Den Bosch dan terbuka untuk dikunjungi oleh masyarakat umum. Pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Ngawi melakukan beberapa renovasi untuk membangun kawasan wisata sejarah dan edukasi pada masyarakat Ngawi.

Kantor Utama, di bawah ini foto gedung kantor utama yang megah, bangunan bercorak Roman-Indische dahulu digunakan sebagai gedung utama perkantoran bagi tentara Hindia Belanda berpangkat tinggi, setara Perwira dan Letnan. Gedung tersebut ditandai dengan 4 pilar penopang yang sangat kokoh dipadu dengan pintu dan jendela besar, sehingga terlihat seperti bangunan Romawi.

Gedung kantor utama dilihat dari sudut samping kanan

Merasakan auranya di dekat bekas sumur tua

Sumur tua, sumur ini terletak dibagian belakang kantor umum, terdapat 2 sumur konon dulunya sumur ini digunakan oleh Belanda untuk membuang jenazah korban penangkapan (tahanan), para pekerja rodi yang meninggal yang ketika sehat dimanfaatkan sebagai pekerja dalam pembangunan Benteng Pendem dan korban pembataian anggota PKI 1966 – 1968.  Sumur pertama terdapat tembok pembatas dengan kedalaman sekitar 100 – 200 meter dan di sebelah barat terdapat sumur kedua tanpa pembatas, hanya ada bekas pondasi saja.  Di area sumur ini yang menjadi salah satu tempat yang angker dan juga menjadi misteri yang ada dalam benteng ini.  Suasana dan aura di dekat sumur ini terasa panas, mungkin karena terdapat  banyak jenazah yang tertimbun di dalamnya hi hi…

Berjalan di antara puing yang hancur karena dijatuhi bom oleh pesawat militer Jepang

Foto di atas adalah bangunan gedung yang di Bom oleh Jepang, bangunan gedung ini letaknya paling selatan dengan ukuran seperti kantor umum berupa dua lantai. Gedung ini dulunya merupakan bagian dari barak (asrama tentara) Belanda namun pada saat perang dunia II (1942-1943) bangunan ini dibom oleh tentara Jepang sehingga beberapa bagian runtuh terutama pada bagian atap dan temboknya. Pada bagian tengah bawah bangunan ini terdapat pintu gerbang yang menghadap ke timur dan dipercaya bahwa bagian ini merupakan tempat yang digunakan untuk kegiatan mengumpulkan dan memberi makan pekerja rodi.

Coba perhatikan foto sisa pohon yang ditebang di bawah ini, menurut teman-teman seperti penampakan apa ya? Hehe…

Barak (Asrama Tentara), merupakan tempat bagi serdadu Belanda,  bangunan barak sebenarnya berlantai tiga yang posisinya mengililingi kantor utama, kantor umum dan lapangan. Pada setiap gedung dilantai dua dihubungkan dengan jembatan penyeberangan, seperti foto di bawah ini. Kondisi barak ini kebanyakan sudah tanpa atap, keropos dan ditumbuhi oleh berbagai rumput, tanaman liar dan akar pohon beringin. Kayu yang digunakan sebagai sekat antara lantai dasar dengan tingkat diatasnya banyak yang telah lapuk dan mulai keropos.

Salah satu sudut bangunan barak tentara

Tangga akses ke bangunan lantai dua

Ruang Penjara, terletak dibagian bawah tangga dari setiap gedung yang ada. Dari setiap penjara, terdapat tiga buah ruang mulai dari yang berukuran besar, sedang dan kecil mengikuti bentuk/tinggi tangga dengan tujuan mengikuti kesalahan dari para tahanan mulai dari yang ringan, sedang hingga berat.

Makam Misterius, di dalam benteng ini ada satu makam dengan nama  K.H Muhammad Nursalim, beliau ini merupakan  salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng. Menurut cerita, K.H. Muhammad Nursalim adalah seorang ulama yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Ngawi, ketika beliau tertangkap oleh Belanda,  ternyata beliau memiliki kesaktian kanuragan yang kebal dari senjata termasuk senjata api. Hal itu membuat Belanda frustasi akhirnya beliau dikubur hidup-hidup di salah satu bangunan utama benteng  dengan posisi terikat kencang. Tidak lama sesudah peristiwa tersebut terdengar kabar bahwa Kyai Muhammad Nursalim telah meninggal.

Pada tanggal 17 Agustus 1992 Pemerintah Indonesia melakukan pemugaran makam beliau seperti dalam foto di bawah ini dan diperbarui menjadi salah satu kisah sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajahan Belanda pada masa itu.

Pintu masuk ke makam

Makam KH. Muhammad Nursalim

Setelah selesai berkeliling, sebelum pulang aku menyempatkan diri “nyekar” ke makam KH. Muhammad Nursalim meskipun tanpa bunga, yang penting  kirim doa untuk mendoakan beliau yang telah berjuang bersama Pangeran Diponegoro untuk merebut Republik tercinta dari tangan penjajah agar arwahnya tenang dan mendapat tempat terbaik.

Langit mulai berubah warna, mentari sudah kembali ke peraduannya dan senjapun menjelang  membuat suasana terasa mencekam. Kami buru-buru keluar benteng dan mengamati pergantian waktu dari luar benteng kuatir melihat yang tak terlihat. Karena menurut Eyangku, senja seperti ini merupakan pergantian waktu dari kehidupan dunia terang/siang hari ke kehidupan dunia gelap/malam hari. Sehingga makhluk malam akan segera beraktifitas, dan kalau energi tubuh kita berada dalam satu gelombang dengan makhluk tersebut maka wujudnya akan terlihat oleh kita.

Teman-teman yang beminat datang ke Benteng Pendem, rutenya sangat mudah karena berada dekat dengan pusat kota, hanya sekitar 1 km dari kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi. Tepatnya di Desa Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng Pendem buka jam 08.00 – 17.00  WIB dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000,00 per orang dan membayar parkir sebesar Rp. 3.000,00 jika membawa kendaraan sendiri. Sangat terjangkau to, dengan biaya yang murah meriah kita bisa menikmati keindahan Benteng Pendem atau Fort van den Bosch.

Sebetulnya Pemerintah sudah merencanakan untuk revitalisasi kawasan Benteng Pendem seperti foto di bawah ini. Ok teman-teman…. see you on my next trip ya di sesi Jelajah Nusantara…

 

 

10 Comments to "Benteng Pendem yang Megah dan Merana"

  1. Wiwit  24 May, 2018 at 21:03

    Sama2 Swan Liong Be, saya dengar sih akan direvitalisasi tapi belum tahu kapan realisasinya. Semoga terlaksana karena sayang banget tempat bersejarah ini kalau dibiarkan saja.

  2. Wiwit  24 May, 2018 at 20:59

    Sama2 mbak Vina, saya pikir juga begitu, mestinya ada dana untuk perawatan jadi terjaga dan tetap menarik untuk dikunjungi. Kalau yang di Jogja nampak lebih terawat, tergantung Pemda dan Dinasnya mbak

  3. Wiwit  24 May, 2018 at 20:56

    Betul Bu Lani, saya sempet merinding waktu berdiri dekat sumur tua hehe…

  4. Swan Liong Be  24 May, 2018 at 17:30

    Terimakasih Wiwit atas artikel diatas yang sangat menarik, bukan hanya bagi saya melainkan tentu juga untuk pembaca lainnya.Kalo saya keIndonesia tentu saya akan mengunjungi Benteng pendem ini. Moga² benteng ini sebagai peninggalan zaman kolonial dirawat dan direstorasi. Sekali lagi thumbs up untuk artikel ini!!

  5. Alvina VB  24 May, 2018 at 03:50

    Terima kasih sudah sharing tentang benteng peninggalan Belanda di Ngawi. Mustinya ada dana utk perawatan dan pemugaran benteng ini ya mbak. Saya sempet lewatin benteng peninggalan Belanda yg ada di Yogyakarta, ttp gak sempet masuk.

  6. Lani  23 May, 2018 at 06:28

    Suasananya angker dan memedeni………….

  7. Wiwit  22 May, 2018 at 22:46

    Sama2 Pak Sumonggo…harus diungkap dan dirawat ya

  8. Wiwit  22 May, 2018 at 22:45

    Betul Pak James…sedih melihatnya

  9. Sumonggo  22 May, 2018 at 16:42

    Sejarah memang harus diungkap, tidak boleh dipendam.
    Terimakasih ceritanya.

  10. James  22 May, 2018 at 10:14

    sayang tidak terawat dengan baik Benteng Peninggalan Belanda ini yang bersejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.