Laut Bercerita

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Tahun Terbit: 2018 (cetakan ketiga)

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal: x + 379

ISBN: 978-602-424-694-5

 

Saya membaca «Laut Bercerita» berdekatan dengan membaca «Pulang,» tak sampai selang tiga bulan. Oleh sebab itu, saat membaca Laut Bercerita mau tak mau pikiran saya selalu membandingkan Laut Bercerita dengan sang kakak – «Pulang.» Saya membandingkan sejauhmana kekuatan risetnya, sebeda apa cara bertuturnya, kuat mana penokohannya dan sebagainya. Untunglah, meski otak saya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan perbandingan tersebut, saya tetap bisa menikmati Laut Bercerita menceritakan kisah tragisnya dari dasar laut yang dalam. Saya juga dibuat haru biru dengan kisah keluarga yang ditinggalkan tanpa pernah mendapat jawaban.

Novel Laut Bercerita ini berkisah tentang aktivis mahasiswa yang hilang menjelang masa reformasi. Memang saat itu banyak aktivis mahasiswa dan bukan mahasiswa yang hilang, atau lebih tepatnya dihilangkan karena dianggap berbahaya bagi sang penguasa. Beberapa dari mereka dipulangkan dengan cara yang berbeda-beda. Selebihnya hilang sampai saat ini. Berdasarkan kejadian inilah Leila Chudori menuturkan kisahnya.

Dan novel adalah sarana untuk menyatakan kebenaran yang tak bisa diungkap ke ruang publik oleh institusi resmi karena dianggap masih terlalu sensitif bagi keamanan negara. Novel juga menjadi sarana yang kuat untuk menggambarkan betapa derita keluarga korban yang ditinggalkan tanpa pernah mendapatkan jawaban.

Leila memulai kisahnya dengan menggambarkan bagaimana kelompok mahasiswa itu tumbuh. Ia kembali ke jaman tahun 1991, dimana beberapa mahasiswa kritis mulai tumbuh di kampus-kampus. Tahun awal 90-an adalah awal kegelisahan terhadap Orde Baru yang dianggap terlalu otoriter dalam memerintah negara. Masa itu adalah masa dimana beberapa mahasisma tertarik dengan pemikiran kiri dan kritis. Buku-buku Pramodya diedarkan secara sembunyi-sembunyi. Karya-karya Frankfrut School didiskusikan di kost-kost mahasiswa.

Leila memilih kasus penyerobotan tanah rakyat di Jawa Timur (Blangguran) sebagai cara untuk menggambarkan aksi-aksi awal para mahasiswa. Tahun 1993 adalah masa dimana kekerasan terhadap buruh dan petani terjadi di banyak tempat. Kasus Marsinah adalah salah satu kasus perburuhan yang melibatkan kekerasan aparat. Belum lagi kasus-kasus konflik tanah yang melibatkan aparat di beberapa tempat. Saat itu para mahasiswa -bersama dengan aktivis lain, ikut turun melalui demo-demo dan pendampingan kepada para buruh dan petani yang terancam kehilangan lahan. Saat itulah tindakan represif mulai dilakukan oleh aparat kepada tokoh-tokoh buruh, tokoh-tokoh petani dan para aktivis.

Bukannya mereda, gerakan mahasiswa dan para aktivis bukan mahasiswa menjadi semakin kuat. Meski beberapa dari mereka ditangkap, mendapat perlakuan kekerasan, yang lainnya terpaksa harus bersembunyi dari kejaran aparat, tetapi gerakan menentang Orde Baru semakin menjadi. Periode 1993-1996 koran-koran dihiasi berita tentang kekerasan terhadap buruh dan petani. Dalam setiap kasus hampir selalu disebut adanya «aktor intelektual,» yang biasanya adalah para aktivis mahasiswa. Istilah «gebug» sering digunakan oleh pemimpin negara.

Leila menggambarkan dengan sangat detail bagaimana para aktivis ini disiksa. Para aktivis yang tertangkap mengalami siksaan dalam bentuk tendangan, injakan dan tidur telanjang di atas balok es. Leila menggambarkan bagaimana para aktivis yang diculik ini saling menguatkan di tempat tahanan. Ia juga membangun cerita yang sangat kuat untuk menggambarkan sebuah pengkhianatan.

Puncaknya adalah tahun 1998, saat demonstrasi besar dan terbuka dilakukan untuk menurunkan Suharto dari tampuk kekuasaan. Pada tahun 1996, 1997 dan awal 1998 terjadi eskalasi penangkapan aktivis secara sembunyi-sembunyi, atau lebih sering dikatakan sebagai penculikan. Peristiwa penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro di Jakarta pun dihubungkan dengan para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokrasi (PRD). Berita aktivis yang ditangkap dan orang hilang menghiasi halaman-halaman surat khabar nasional maupun surat khabar lokal. Para aktivis dikejar-kejar dan tiba-tiba hilang.

Meski Suharto akhirnya bisa diturunkan dari kekuasaan, namun persoalan orang hilang ini tak kunjung bisa diselesaikan. Berbagai pihak menekan negara supaya segera bisa menuntaskan masalah ini. Beberapa keluarga yang anggotanya hilang melakukan apel di depan Istana Negara secara simultan. Dari sekian banyak aktivis yang hilang, hanya sebagian yang pulang. Sedangkan yang hilang, sampai saat ini tidak pernah ada penjelasan yang memadai. Tidak ada kejelasan mengapa mereka hilang, dimana mereka saat ini, jika sudah mati dimana kuburnya. Dan…keluarganya dibiarkan menunggu dengan kepedihan yang tak tersembuhkan.

Leila menggambarkan bagaimana sedihnya keluarga Arya Wibisana kehilangan Laut Biru, anak lelakinya. Arya Wibisana tetap menantikan Laut Biru pulang. Ia dengan rajin mengelap buku-buku milik Laut Biru. Sementara sang ibu tetap menyiapkan makan malam di setiap Minggu sore, menanti kepulangan sang anak kesayangan. Mereka bedua memasuki kepompongnya setiap akhir minggu.

Baiklah, sekarang saya mau membandingkan Pulang dengan Laut Bercerita. Leila adalah seorang penulis yang sangat rajin melakukan riset sebelum menulis. Pulang dan Laut Bercerita ditulis dengan bekal riset yang sangat kuat. Menurut riset untuk menulis Laut Bercerita lebih kuat daripada Pulang. Leila mengumpulkan banyak bahan dan mewawancarai para pelaku. Itulah sebabnya rangkaian kisah Laut Bercerita memiliki ditail yang sangat mirip dengan kejadian yang sesungguhnya. Saya bisa membayangkan siapa tokoh, peristiwa, organisasi yang dimaksud dalam kisah sesungguhnya. Saya juga sangat terkesan dengan kisah pelarian dan penahanan para aktivis yang beberapa detailnya sangat mirip dengan kisah pernah dimuat dalam majalan nasional.

Dari cara bercerita, Leila menggunakan setting yang mirip. Kedua novel ini dibagi menjadi dua bagian. Masing-masing bagian menggunakan tokoh utama yang berbeda. Dalam Pulang kita dikenalkan sosok Dimas Suryo sebagai tokoh utama di bagian pertama dan Lintang sebagai tokoh utama di bagian kedua. Sedangkan dalam Laut Bercerita, Leila menggunakan tokoh Laut Biru di bagian pertama dan Asmara Jati di bagian kedua. Kedua bagian saling melengkapi dan kronologis. Bedanya, jika di novel Pulang Leila sangat berhasil membangun tokoh-tokohnya (yang hampir semuanya berkisah sebagai orang pertama), di Laut Bercerita Leila menjelaskan tokoh-tokoh utamanya dalam kisah pendek yang hampir seperti narasi cetak biru sang tokoh. Penjelasan tokoh-tokoh di awal novel Laut Bercerita ini membuat saya menjadi kurang imajinatif dalam menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel Laut Bercerita.

Saya menikmati cara Leila menggambarkan penderitaan batin para tokohnya. Penderitaan Arya Wibisana dan istrinya dalam novel Laut Bercerita sama harunya dengan tokoh Dimas Suryo dalam novel Pulang. Kekosongan jiwa akibat kehilangan demikian kuat digambarkan oleh Leila.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Laut Bercerita"

  1. Handoko Widagdo  5 June, 2018 at 06:45

    Avy, tidak perlu menyebut nama. Saya suka cara Ayu Utami yang menggambarkan sosok persis seperti tokoh militer yang diduga terlibat dalam sebuah peristiwa tetapi tidak memunculkan nama.

  2. Alvina VB  5 June, 2018 at 05:30

    Seperti siapa contohnya Han? Wiranto? Prabowo?

  3. Handoko Widagdo  4 June, 2018 at 07:21

    Sayang sekali novel ini tidak menampilkan tokoh militer intelektual yang diduga mendalangi penculikan.

  4. Handoko Widagdo  3 June, 2018 at 08:38

    Terima kasih Avy. Sayangnya bangsa kita adalah bangsa yang sering amnesia.

  5. Alvina VB  3 June, 2018 at 04:00

    Thanks but bedah bukunya Han. Semoga rakyat Indonesia gak amnesia.

  6. Handoko Widagdo  2 June, 2018 at 05:52

    Harus disusun kamus orde baru Mas Sumonggo

  7. Handoko Widagdo  2 June, 2018 at 05:51

    Air ngapain James?

  8. Sumonggo  30 May, 2018 at 17:13

    Saya ingat sejumlah “kosa kata” yang populer di masa itu: gebug, asal njeplak, OTB (Organisasi Tanpa Bentuk)
    Sayangnya bangsa kita bangsa pelupa. Saat ini ancaman bahaya laten Orde Baru lebih nyata ketimbang bahaya laten PKI yang isunya “digoreng” secara masif. Tinggal menunggu waktu para garong Cendana dan kroni-kroninya akan menebar intrik untuk merebut kekuasaan.

  9. James  30 May, 2018 at 11:30

    Laut berderita sedangkan Gunung Menyimak saja, Udara menonton

  10. Handoko Widagdo  30 May, 2018 at 10:58

    Maturnuwun sudah diunggah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.