Anugerah yang Indah

Wiwit Sri Arianti

 

Pagi itu perasaan kami berdua sangat bahagia namun penuh was-was tidak jelas karena menunggu putriku yang baru saja masuk ruang operasi untuk melahirkan anak pertamanya. Aku sudah mendampingi bersama suaminya sejak kemaren sore dan ini pengalaman pertama kali menanti hadirnya cucu pertama, jadi bisa kebayang to seperti apa perasaan kami?

Sebetulnya kami dan dia berharap bisa melahirkan dengan cara normal, namun karena mata putriku minus 5 lebih diserta silinder dan kegemukan maka dokter menyarankan untuk operasi. Jika melahirkan dengan normal, ada kekhawatiran proses kontraksi yang berlebihan dapat berakibat putusnya pembuluh kornea mata dan kalau itu terjadi bisa menyebabkan kebutaan. Untuk menenangkan perasaan yang tidak karuan ini, berkali-kali kupandangi halaman RSI Siti Hajar dari depan ruang operasi di lantai lima untuk menemukan rasa tenang.

Kukatakan pada putriku agar tenang, berdoa dan serahkan seluruh proses pada Allah, karena hanya DIA lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu, jadi tidak perlu khawatir. Alhamdulillah putriku nurut dan nampak tenang ketika perawat sudah mendorong kursi rodanya menuju ruang oprasi dan dia sempet memberikan senyum manisnya pada kami yang seolah memberi tahu kalau kami juga harus tenang dan membantunya dengan doa. Saat menunggu inilah tiba-tiba aku teringat dengan percakapan kami lima tahun yang lalu.

“Ibu dulu married umur berapa?”, tanya putriku di sela-sela diskusi harian seputar kehidupan.

“Umur 28 tahun, kenapa?”,  jawabku santai tanpa curiga apapun, kuanggap itu pertanyaan biasa dari gadis remaja kuliahan.

“Oh ya udah, in shaa Allah aku besuk juga married umur 28 tahun”,  jawab putriku tak kalah santai dan seperti mendapat angin sejuk. “Jadi Ibu jangan pernah tanya-tanya ke aku ya kapan married sebelum umurku 28 tahun”, lanjutnya sebelum aku sempat merespon.

Mungkin percakapan kami tersebut di-amini sama Malaikat sehingga tepat pada usianya yang ke 28 dia baru menikah dengan lelaki pilihannya, temannya nge-band waktu kuliah. Namun antara waktu kami diskusi dengan menunggu datangnya ungkapan klau dia sudah menentukn pilihannya itu terasa sangat lama. Bahkan suamiku beberapa kali memintaku untuk mengingatkan putriku agar tidak lupa memikirkan pernikahannya, namun ku-iya-in aja karena aku sudah janji tidak akan menanyakan hal tersebut pada putriku. Alhamdulillah sepuluh bulan setelah pernikahannya hari ini dia sedang berjuang di ruang operasi untuk melahirkan anak pertamanya.

Di depan ruang operasi kami menunggu bersama keluarga dan keluarga besan, serta anggota keluarga lain yang juga sedang menunggu keluarganya operasi. Pagi ini ada 3 orang yang akan operasi, dua orang melahirkan dan seorang laki-laki karena kecelakaan. Menunggu memang pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi menunggu keluarga yang sedang dioperasi, tidak hanya membosankan namun disertai rasa kuatir. Untungnya aku selalu menyelipkan buku di tas sehingga ketika sudah ngobrol bermacam-macam topik dan bolak-balik memandang ke luar gedung belum juga bisa rilek, maka suasana seperti ini hanya bisa dinetralisir dengan membaca buku, dengan begitu pikiranku dapat larut dalam irama kata yang ada di buku.

Ketika akhirnya terdengar tangis bayi yang nyaring dari ruang operasi, spontan kami mangucap Alhamdulillah…. padahal belum tahu juga itu suara bayi siapa, namun kelahiran seorang bayi yang sangat diharapkan akan selalu membuat bahagia itu hadir.

Kami yakin itu suara bayi putriku karena dialah yang pertama masuk ke ruang operasi. Setelah menunggu hampir dua jam dari suara tangisan bayi, akhirnya kami mendapat kepastian ketika nama putriku disebut oleh perawat untuk memanggil keluarganya. Namun hanya boleh satu orang yang masuk, yaitu ayah bayinya, sehingga kami tetap belum mengetahui kepastian kondisi dari cucuku. Kami baru benar-benar bahagia ketika menantuku keluar dari ruang operasi dengan menjinjing tempayan kecil bertutup yang terbuat dari tanah berisi ari-ari bayi dengan label nama putriku. Alhamdulillah…ibu dan bayinya selamat, putriku melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat badan 3,190 gr dan panjangnya 52 cm. Malam hari ketika bayi sudah stabil baru diantar ke kamar putriku dan akupun bisa menggendongnya sebentar karena jam 20.00 wib perawat mengambil kembali bayinya untuk dikembalikan ke ruang bayi.

Bersamanya beberapa jam setelah lahir

Di atas ini fotoku bersama cucuku yang cantik hehe… menurut perawat, dia terlahir bersih dan putih, ketika kubuka  selimutnya, memang benar dia putih dan bersih, jemari tangannya lentik, secara spontan terucap dalam hatiku bahwa kelak dia akan tumbuh kembang menjadi gadis yang cantik, sholeha dan membanggakan. Aamiin…  Ini anugerah yang sangat indah dalam kehidupan kami, akhirnya kami berdua mendapat status baru sebagai eyang putri dan eyang kakung dengan kehadirannya.

Ketika putraku melihat keponkannya, dia langsung komentar “Wah…Iga banget”, komentar tersebut mendorongku untuk mengamati cucu pertama kami. Kalau dilihat bentuk mukanya yang bulat, itu jelas ikutan ayahnya, kalau dagunya yang panjang orang Jawa bilang “nyathis”, itu sih dagu ibunya, kalau lihat matanya yang indah, itu sih mata eyang putrinya ya hehehe….

Oh ya, selama ini kami mempercayai bahwa minum air kelapa setiap hari ketika kehamilan berumur 7 bulan dapat membuat bayi lahir dengan kulit yang putih dan bersih, seperti pengalamanku waktu hamil anak-anak kami. Tapi ternyata menurut dokter hal itu hanya mitos, seperti penjelasan  dr. Karin Wiradarma (pakar kesehatan) bahwa air kelapa kaya akan nutrisi, termasuk vitamin C. Kandungan inilah yang sangat baik bagi kesehatan dan kecantikan kulit, termasuk kulit bayi yang ada di dalam kandungan. Hanya saja, kandungan di dalam air kelapa tidak akan mampu mengubah warna kulit bayi. Menurut dr. Karin, kandungan vitamin C ini akan membentuk kolagen pada kulit bayi sehingga membuatnya lebih kenyal, bukannya mengubah warna kulit karena memang tidak akan terjadi. So,…karena tetap bermanfaat,  jadi ya menurutku tetap baik untuk untuk dikonsumsi hihi…

Bersamanya beberapa jam setelah lahir

Di atas ini foto ari-ari/plasenta cucuku setelah ditanam, untuk masyarakat Jawa seperti kami, mengubur ari-ari bayi sesaat setelah lahir merupakan tradisi yang sangat penting karena ada keyakinan bahwa ari-ari merupakan teman atau saudara bayi karena ari-ari sudah bersama bayi sejak bayi ada dalam kandungan ibunya. Dalam ajaran spiritual Jawa, ada istilah Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Getih lan Puser, yang menggambarkan bahwa ari-ari menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan orang Jawa.

Setelah ari-ari dibersihkan/dicuci bersih, ari-ari beserta ubarampenya kemudian dibungkus dengan kain mori (kain pembungkus warna putih) dan dimasukkan ke dalam periuk, ubarampe yang menjadi syarat ini masing-masing daerah berbeda jenisnya. Periuk yang dipakai wadah terbuat dari tanah yang ada tutupnya supaya tidak tercium baunya sehingga aman dari gangguan binatang buas. Ari-ari ditanam dalam lubang sedalam satu lengan orang dewasa, untuk bayi perempuan ditanam di sebelah kiri pintu rumah dan untuk bayi laki-laki ditanam di sebelah kanan pintu rumah. Di atas kuburan ari-ari bayi diberi pagar dari bambu atau dengan tumpukan genting atau keranjang, dan untuk mempermudah mencarinya, kami memilih menggunakan keranjang plastik. Di dalam keranjang tersebut diberi lampu penerangan selama selapan (35 hari), dengan maksud agar ari-ari dan bayi selalu diberi pepadhang, atau penerangan.

Dalam tradisi Jawa, yang berhak menanam ari-ari adalah ayah kandung bayi, atau kakeknya, atau siapapun saudara laki-laki yang paling dekat dengan si bayi. Setelah ditimbun tanah, ada beberapa doa yang dibacakan terlebih dahulu, karena keluarga kami selain dari Jawa juga menganut agama Islam, maka doa yang kami lakukan dengan mengumandangkan adzan dan iqomah, membaca dua kalimat Syahadat, dan Sholawat. Meskipun ada banyak cara menurut adat Jawa dalam penanaman ari-ari, sebenarnya hanya kepada Allah SWT lah kita memohon pertolongan dan juga hanya kepada Allah lah seharusnya kita percaya.

Alhamdulillah satu minggu setelah lahir, tali pusat cucuku sudah terlepas dengan sendirinya, dalam tradisi di Jawa namanya “puput” pada momen ini keluarga bersyukur dengan membuat bubur merah dari beras ketan, gula merah dan disiram dengan santan kental sebagai saosnya. Untuk mengabarkan kebahagiaan ini bubur merah kami antar ke tetangga agar mereka mengetahui telah hadir di masyarakat seorang bayi yang akan menjadi tambahan warga. Di bawah ini foto tali pusat yang baru saja terlepas dan setelah dibungkus untuk disimpan dengan penanda ditali dengan pita merah supaya tidak keliru dengan tali pusat ibunya (putriku) dan tali pusat om-nya (putraku) karena semua akan disimpan di tempat yang sama. Mungkin ada dari sahabat yang bertanya, buat apa disimpan? Jawabnya untuk kenang-kenangan hehe…

Ada yang bilang kalau tali pusat dapat dipakai sebagai obat herbal atau penyembuh bayi yang sakit dengan cara tali pusat yang sudah kering dan kita simpan direndam ke dalam air matang hangat dan air rendaman tersebut diminumkan pada bayi/anaknya yang sakit. Namun ternyata menurut dokter anak belum ada penelitian yang terbukti secara medis terkait hal tersebut. Jadi kalau ternyata dilakukan dan bayinya sembuh benar, itu katanya hanya karena pengaruh sugesti saja.

Sebenarnya yang bisa dipakai untuk pengobatan bukan tali pusat yang sudah kering, namun sel punca dari darah tali pusat bayi itulah yang bisa digunakan sebagai obat berbagai macam penyakit bagi bayinya. Seperti yang ditulis di blog Merries”, menurut Andrew Ekaputra, PhD yang merupakan Direktur Laboratorium Cordlife mengatakan bahwa sel punca dari darah tali pusat tersebut memiliki keunggulan yang sangat dahsyat.  Di antaranya, keunggulan sel punca adalah lebih muda dan juga lebih murni, memiliki risiko sel-sel untuk menyerang tubuh sendiri akan lebih rendah karena tingkat kecocokan yang akurat, serta ibu nantinya tidak perlu mencari pendonor seperti halnya pada sel punca yang diambil dari sumsum tulang belakang bayi tersebut. Akan tetapi sayangnya hanya ada satu kesempatan untuk mengambil darah tali pusat tersebut, yaitu ketika bayi dilahirkan. Selain dari itu maka sel punca dari darah tali pusat ini tidak bisa digunakan.

Jadi kusimpan semua tali pusat anak-anak dan cucu kami lebih untuk kenang-kenangan, tapi siapa tahu suatu saat nanti ada hasil penelitian yang akurat secara medis tentang manfaat tali pusat yang kering ya alhamdulillah….

Baiklah, kembali ke cucuku yang imut dan cantik, aku merasa bayi sekarang perkembanganya sangat cepat, pada umur satu minggu dia sudah kuat menyangga lehernya, ketika habis menyusu ibunya dan ditepuk-tepuk lembut punggungnya supaya keluar sendawa sehingga tidak gampang muntah karena mungkin kekenyangan, ech dia malah mengangkat kepalanya seperti mau mengatakan kalau leherku sudah kuat.  Pada umur tiga minggu seperti sudah bisa diajak komunikasi, dia sudah bisa merespon bunyi  dan memandang  mainan yang bergerak di atas tempat tidurnya.  Di bawah ini foto cucuku yang tertidur lelap di tempat tidurnya setelah sampai di rumah dan bersama ayahnya ketika berumur tiga minggu, dia seperti sedang berkomunikasi dengan gembira pada ayahnya.

Benar apa yang dikatakan oleh mereka yang sudah mempunyai cucu bahwa perhatian dan sayangnya melebihi pada anaknya sendiri. Karena putriku melahirkan dengan proses operasi maka hampir seluruh perawatan bayi setelah di rumah mulai dari menjemur setiap hari sebelum jam 07.00 pagi, memandikan, dan memberikan asi di botol ketika ibunya sedang peri ke rumah sakit, semua itu masih aku yang melakukan. Bahkan ketika terdengar suara tangisan, aku seperti tergerak untuk lari ke kamarnya karena sangat khawatir terjadi sesuatu padanya. Semua kegiatan bersamanya kulakukan dengan sangat menyenangkan, serasa punya bayi lagi, bahagia banget…

Ada kata-kata bijak bahwa “semua akan indah pada waktunya”, itu benar adanya, seperti yang saat ini sedang kami alami dengan hadirnya cucu pertama kami. Beruntung pekerjaanku di Jakarta sudah selesai dan belum ada komitmen untuk pekerjaan jangka panjang sehingga aku bisa mendampingi putriku melahirkan pertama kali dan bisa membantu merawat langsung bayinya. Seandainya aku sudah bekerja lagi di luar kota pasti akan kesulitan mengambil cuti lama untuk melakukan semua itu, jadi semua ada hikmahnya. Sebagai sebuah keluarga, saat ini keluarga kami anggotanya lengkap karena aku,  suamiku dan kedua anak kami bahkan menantu dan cucu bisa berkumpul kembali dalam satu rumah, jadi keluarga beneran nih.  Sebelumnya kami berempat sempat tinggal di empat kota yang berbeda, aku di Jakarta, suamiku di Papua, putriku di Surabaya, dan putraku di Malang, alhamdulillah sekarang bersatu kembali. So, semua akan indah pada waktunya hehe…

 

 

6 Comments to "Anugerah yang Indah"

  1. Wiwit  14 July, 2018 at 00:09

    Makasih mbak Vina, maaf juga aku telat responya. Cucuku sekarang sudah 9 minggu mbak, dia lahir akhir April

  2. Alvina VB  9 July, 2018 at 15:06

    Mohon maaf telat, bln Juni saya gak ada di tempat.
    Selamat utk kelahiran cucu pertamanya mbak Wiwit; cucunya sudah 3 mingguan ya?

  3. Wiwit Arianti  13 June, 2018 at 09:58

    Aamiin… terimakasih pak James, mas Handoko, n Bu Lani untuk perhatianb& & doanya

  4. Lani  13 June, 2018 at 06:53

    Congratulation! Dengan kelahiran cucu pertama……..

  5. Handoko Widagdo  12 June, 2018 at 09:17

    Alhamdullilah halelyuah. Selamat untuk Uti Wiwit Arianti dan Mas Warno. Selamat juga untuk Iga.

  6. James  12 June, 2018 at 09:02

    ucapan Selamat untuk Cucu pertamnya, semoga sehat selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.