Lebaran dan Menjadi Indonesia

Asrida Ulinuha

 

Senyampang masih Syawal, mari kita tengok meja kita masing-masing. Setiap daerah memiliki adatnya sendiri-sendiri tentu. Tidak tercantum dalam kitab manapun sebelumnya, bahkan tidak ditemukan ada nota kesepakat antar orang per orang mengenai apa saja yang wajib ada saat Lebaran. Namun hampir bisa dipastikan bila bertamu saat Hari Raya Idul Fitri dan melihat suguhan nastar dan kastengel, kita tahu tuan rumahnya orang Indonesia.

Berakhirnya puasa Ramadhan memang sangatlah erat kaitannya dengan dua kata, “Lebaran” dan “Mudik”. Dua hal tersebut masih dilengkapi dengan serangkaian acara Halal bi Halal, kue nastar, kastengel, putri salju, ketupat dan tak ketinggalan angpao; itu masih ditambah dengan tradisi Kupatan yang melengkapi tujuh hari awal Syawal di beberapa tempat, hanya ada di Indonesia.

Lebaran menurut orang tua-tua berasal dari kata lubar, Bahasa Jawa yang artinya selesai. Kemudian dikaitkan lagi dengan kata laburan yang maksudnya melapisi. Melabur hati agar indah di rasa, melapis dinding rumah dengan cat agar suasana tidak kusam saat menerima tamu. Masih ada satu lagi kata terkait yaitu luberan yang berarti berlimpahan. Benarlah saat lebaran kita akan keluberaan tamu, panganan berlebih-lebih, rezeki berlimpah-limpah.

Di negara lahirnyanya agama Islam, Arab Saudi, tradisi semacam itu tidak ada. Bahkan secara definitif ‘Halal bi halal’ tidak tertulis di Al qur’an dan hadist. Namun demikian, tradisi buatan beraroma Nusantara ini bukanlah hal yang buruk. Dalam Al qur’an dan hadist tercantum banyak ayat yang menganjurkan silaturahim, menghormati tamu, membuat majlis doa dan memperbaiki hubungan kemanusiaan, hablum minannaas yang ternyata sejajar dengan hablum minallah atau hubungan baik dengan tuhan.

Mari kita lanjutkan obrolan ini dari ruang tamu. Awalnya kue nastar dan kastengel dianggap teramat istimewa. Ketika itu yang menikmati hanyalah orang-orang gedongan dan priyayi kaya lagi terhormat. Lama kelamaan sejalan dengan membaiknya perekonomian kemudian semakin banyak rumah yang menyajikan. Pada dasarnya orang Indonesia memang memiliki sifat kekeluargaan, sangat senang dengan segala hal terkait silaturahim, dan pandai menghormati tamu. Silaturahim tentu bisa setiap saat, akan tetapi Idul Fitri hanya datang setahun sekali. Waktunya istimewa, tamunya istimewa, maka suguhannya pun demikian.

Sejatinya nastar dan kastengel adalah kuenya orang Belanda. Mulanya diperkenalkan oleh nyonya-nyonya Belanda untuk menyuguhkan tamunya saat momen tertentu. Maka jangan heran bila dua kue tersebut juga ada di saat Natal atau perayaan lain yang melibatkan berkumpulnya keluarga. Nastar berasal dari dua kata Bahasa Belanda, ananas dan taart. Ananas berarti nanas dan taart dijadikan generalisasi orang kita untuk kue. Jadi ini adalah kue dengan isian nanas di dalamnya.

Sedangkan kue Kastengel berasal dari kata kaas dan stengels. Kaas berarti keju dan stengels adalah batangan. Di negeri asalnya Kaastengels adalah kue keju panggang berbentuk seperti batangan jari sepanjang antara 20 hingga 30 cm. Di Indonesia kemudian berubah bentuk menjadi “bite size” atau orang Jawa bilang sak emplokan alias seukuran satu gigitan sekali makan. Jangan lupakan kue putri salju yang menjadi kesukaan anak-anak. Sebetulnya ini dibikin untuk memeriahkan Natal yang jatuh saat salju turun. Bisa dibayangkan mereka orang Eropa, berada di negara tropis tanpa salju, sebagai penghibur cukup melihat tepung gula kastor yang halus sudah tampak indah seperti salju di halaman rumah sana.

Selesai dengan camilan, tamu diarahkan ke meja makan. Di sini kita akan menemukan ketupat beserta uborampenya. Ketupat, lagi-lagi bukanlah ajaran agama yang berpaut dengan Ramadhan. Kisah ini bahkan saya dapat dari almarhum kakek. Leluhur sebelum Canggah kami adalah penganut Hindu Jawa, ketupat konon sudah mereka kenali. Orang Jawa disamping filosofis, dikenal sangat suka membuat akronim. Pada cerita yang diulang setiap Hari Raya ini dikatakan bahwa kata ketupat sendiri berasal dari Bahasa Jawa “Kupat”, yaitu ngaku lepat atau mengaku salah.

Saat mengaku salah kita tidak hanya menyodorkan tangan, tetapi juga sambil sedikit membungkukan badan, merendahkan diri sebagai perlambang merendahkan ego. Kata maaf saling terlontar diimbuhi dengan senyum nan tulus, ada yang ditambahi dengan saling berpelukan agar detak jantung dekat seirama satu sama lain, selesai itu tangan yang lepas dari berjabat tadi ditempelkan ke dada. Saya pernah ditanya seorang kawan dari negeri asing, mengapa orang Indonesia selalu menempelkan tangan ke dada sehabis bersalaman. Untuk jawaban ini saya mendapatkannya dari seorang budayawan Semarang. Ia menuturkan maknanya, “Bersalaman merekatkan kita, setelahnya tangan ditempelkan ke dada dengan makna engkau ada di hatiku kini.” Bukan main orang Indonesia.

Akan tetapi hal-hal tersebut tidak akan terjadi bila para perantau tidak mudik. Mengenai asal kata mudik ada beberapa versi. Ada yang mengatakan dari Bahasa Jawa mulih sedilik (pulang sebentar) ada juga yang menuturkan berasal dari kata menuju udik. Adapun udik berarti desa atau kampung. Mudik memang erat maknanya dengan pulang ke kampung halaman, entah itu ke tempat lahir atau ke tempat leluhur.

Sudah puas makan jajanan? Sudah kenyang makan ketupat dan selesai bermaaf-maafan? Kini waktunya pulang. Sudah bisa diduga ini menjadi momen kesukaan terutama anak-anak. Sambil berpamitan, tangan-tangan mungil tersodor; permohonan maaf terbalaskan dengan amplop angpao. Jelas dari namanya, ini adalah tradisi orang-orang Tionghoa. Kata Angpao berasal dari istilah Hokian yang secara harafiah berarti bungkus merah atau amplop merah.

Tradisi memberikan uang biasanya dilakukan sebagai hadiah Ya Sui atau pertambahan usia, juga saat pergantian tahun; muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam sebuah literatur ada tertera anak-anak menggunakan uang angpao itu untuk membeli petasan dan manisan. Apakah hal ini familiar juga bagi anda?

Angpao bukan hanya diberikan saat momen tersebut di atas, biasanya juga dimaksudkan sebagai sangu perjalanan bagi kerabat yang datang dari jauh. Memberikan uang dianggap lebih praktis daripada bekal makanan yang mungkin menjadi basi dalam perjalanan. Terkadang pemberian angpao pada perayaan tahun baru atau lebaran memiliki maksud tersembunyi, salah satunya dengan tujuan membantu kerabat yang hidupnya kekurangan.

Hari Raya Idul Fitri telah dirayakan, semoga kita lubar dengan pergulatan-pergulatan di dalam diri sehingga kita berhasil mudik dengan jiwa yang sentausa. Bisa jadi kepulangan terjauh adalah pulang kepada kesejatian diri. Selamat berlebaran wahai jiwa-jiwa yang berbahagia.

#catatanulin #tulisankolom di harian cetak Suara Merdeka

 

 

7 Comments to "Lebaran dan Menjadi Indonesia"

  1. Alvina VB  6 July, 2018 at 18:59

    Mbakyu Lani, aku udah ke sana, memang enak mbak, murah meriah dan bumbu2annya mantaf. Silahkan ke sana kl pulkam lagi mbak. Dikalengin ya oleh2 dari dapur mereka lah. Jangan lupa beli snack jejamuran juga.

  2. Lani  6 July, 2018 at 03:09

    Al: Menurut info dr bbrp org restaurant Jejamuran di Yogya mmg wuenaaaak………..aku belum pernah ngicipi, nanti klu mudik pasti hrs disatroni……..

    Kenapa Opor kalengan? Beli jamurnya di masak sendiri lbh wuenaaaaaaaaak

  3. Lani  6 July, 2018 at 03:07

    James: Malah tambah ediaaaaaan Opor Kangguru? Memangnya ada dan kamu pernah ngicipi po???

  4. Alvina VB  4 July, 2018 at 05:38

    Wuih…..dah ketinggalan sepur….. sampe lebaran dah kelewatan. Mau juga opor jamur, he..he…..kemarin itu ke Yogya makan jejamuran dan pulang bawa opor jamur yg dikalengin, mantafffff….

  5. James  30 June, 2018 at 07:18

    mbak Lani, atau Opor Kangguru ….?

  6. Lani  28 June, 2018 at 09:56

    James: opor kambing??????

  7. James  27 June, 2018 at 10:19

    maauuuu…… ketupat Lebaran sama opor kambing

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.