Wajah Bapak

Fidelis R. Situmorang

 

Belum terlalu lama saya memejamkan mata, terdengar penggilan memilukan dan isak tangis di televisi. “Papaaa… Papaaaa… “

Saya segera membuka mata, mencari tahu, apa yang sedang terjadi di televisi. Saya duduk mendekat ke muka televisi. Televisi mengabarkan keadaan keluarga imigran gelap yang ditahan oleh pemerintah Amerika Serikat. Anak-anak ditempatkan terpisah dari orangtua mereka. “Papa…. Papa… ” terdengar lagi suara ketakutan seorang anak imigran memangil-manggil, berharap suaranya didengar ayahnya.

Kecaman datang dari berbagai pihak. Tetapi Trump bergeming. Dalam salah satu pidatonya, ia mengatakan bahwa ia tak ingin Amerika Serikat menjadi seperti Eropa yang begitu terbebani dengan kehadiran para imigran. Kebijakan nol toleransi diberlakukan dengan menetapkan para imigran sebagai kriminal.

Belum ada kejelasan bagaimana dan kapan anak-anak yang bingung dan ketakutan itu akan bisa bertemu dengan orang tua mereka. Menyedihkan, kata saya dalam hati, jauh dari rumah dan tak ada seorang ayah yang bisa melindungi dan menentramkan hati mereka.

Saya pandangi wajah bapak yang sedang tidur di samping saya. Seorang yang selalu ada di sepanjang hidup saya, bahkan di saat-saat saya mulai merasa terganggu dengan kehadirannya.

Saat saya masuk SMA, saya mulai memiliki banyak teman-teman baru dan kesukaan-kesukaan baru. Saya mulai menghindar dan menjauh dari bapak. Saya merasa lebih leluasa tanpa kehadirannya. Bertemu dengan teman-teman yang saya sukai dan keluyuran ke tempat-tempat yang saya suka tanpa ayah tahu. Terlalu banyak larangan yang keluar dari mulut bapak pada masa-masa itu.

Suatu kali, saya pulang terlalu malam karena terlalu asik bersama teman-teman hingga lupa waktu. Sebagai akibatnya, saya harus menerima kemarahan bapak. Sebab kenapa saya terlambat pulang tak penting bagi bapak. Saya tetap salah di matanya karena pulang tak tepat waktu sebagaimana yang diberikan bapak. Tak boleh ada alasan.

Pada malam berikutnya, bapak datang ke tempat di mana saya biasa berkumpul dengan teman-teman. Saya dijemput pulang malam itu. Saya merasa malu melihat teman-teman. Saya diam sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah, malas berbicara dengan bapak.

Di hari kelulusan SMA, saya tidak langsung pulang ke rumah. Saya merayakan hari itu bersama teman-teman dekat saya. Kami pergi ke Curug Nangka dan bergembira ria di sana. Hari itu adalah hari terakhir kami kumpul bersama sebagai teman satu sekolah. Setelah puas bermain di air terjun, sebelum hari gelap kami kembali ke Jakarta dan melanjutkan kegembiraan kami di salah satu taman di Cililitan. Waktu bergulir tanpa terasa. Pukul 12 malam. Kami kemudian berpisah dengan janji untuk tidak saling melupakan.

Pukul setengah satu dini hari. Saya tahu bahwa saya akan kena marah. Saya pulang menumpang ojek dan mempersiapkan diri menerima kemarahan bapak. Di sepanjang perjalanan, saya berharap bapak sedang tak ada di rumah, atau semoga bapak sudah tertidur, sehingga saya bisa menyelinap langsung ke kamar saya. Tetapi ia selalu ada untuk saya. Bapak berdiri menunggu saya di jalan depan rumah. Mampus gua, kata saya dalam hati. Saya berjalan lemas mendekatinya. Bapak menyambut saya dan meletakkan lengannya di pundak saya, menggandeng saya berjalan menuju rumah.

“Kenapa lama banget pulangnya?” tanya bapak pelan. Saya hanya menundukkan kepala, tak menjawab pertanyaan bapak. Bapak tak pernah suka alasan apa pun.

“Kita makan ya,” kata bapak. “Ibu masak ayam khusus untuk kamu. Kamu ditungguin dari tadi.”

Saya masuk ke ruang tengah. Piring nasi dan lauk pauk sudah disiapkan. Ibu bangkit berdiri dan memeluk saya. “Selamat ya, Nak,” kata ibu. “Udah besar ya… Udah lulus SMA,” katanya lagi, melepaskan pelukan dan tersenyum menatap wajah saya.

Ibu menyiapkan makanan dan memberikan bagian-bagian yang terbaik dari potongan daging ayam itu untuk saya. Lalu bapak berdoa, berterima kasih kepada Tuhan untuk semua rahmatnya, dan untuk kelulusan saya. Tak ada kemarahan bapak di hari itu.

Saya pandangi lagi wajah bapak yang masih lelap tertidur. Memandang wajahnya yang lelah dan mendengar bunyi dengkurnya yang berat, tiba-tiba saya merasa amat bersalah mengingat hari itu.

 

 

One Response to "Wajah Bapak"

  1. Alvina VB  28 June, 2018 at 21:59

    Terima kasih buat ceritanya bung Fidelis. Cerita ini bikin saya sedih dan nangis, karena papi saya sudah tidak kenal/tahu dengan nama, muka dan semua kegiatan saya lagi. Sejak kena dimentia beberapa tahun yang lalu, ingatannya semakin parah. Saya hanyalah tamu asing dari Kanada. Kanada masih teringat, tapi anaknya terlupakan. Bagi yg masih punya Bapak dan sehat walafiat, harap dihargai dan diperhatikan. Kita tidak tahu kapan ingatan dan kesehatannya akan menurun/hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.