Menikahlah Denganku

Dian Nugraheni

 

Ketika pertengkaran antara pacarku dengan Ibunya terjadi di hadapanku itu, sebenarnya aku baru beberapa hari sebelomnya lulus pendadaran, tinggal menunggu yudisium dan wisuda, sementara pacarku memang belom bisa lulus di semester yang sama denganku.

Aku cuma berpikir, bahwa keadaan ke depan tentu akan makin rumit dengan ekspresi tak suka dari Ibu pacarku, yang belom pernah aku kenal pula. Ya, sekalinya bertemu, memperkenalkan diri saja belum sempat, sudah diteriakin.

Sejak kejadian itu, tentu saja aku banyak murung, keceriaan memudar, dan beban demi beban segera tertulis dalam benakku: wisuda, pulang kampung selamanya, ke Jakarta cari kerja. Itu artinya, aku meninggalkan Jogja, dan berpisah jarak dengan kekasih kesayanganku.

Tanpa kukatakan, ternyata pacarku pun memikirkan hal yang sama. Siang itu, ketika kami makan di sebuah warung kecil di daerah Pogung Lor, pelan, pacarku bilang, “hampir wisuda…, habis itu…”

Dia tak meneruskan kata-katanya, kami bertatapan. Ada senyum sedih di antara kami. Lalu dia melanjutkan kalimatnya sendiri, “Jakarta..? Seperti kebanyakan orang yang barusan lulus, kemudian berlomba cari kerja di Ibukota…”

Aku diam.

Dia, “Jangan pergi…, kamu tidak boleh pergi…”

Aku, “kalau aku sudah wisuda, aku nggak bakalan dibolehin keluargaku untuk tetap tinggal di Jogja, kecuali aku dapet kerja di sini…”

Dia, “carilah kerja di sini, aku juga akan cari-cari info biar kamu nggak pergi jauh dariku, aku akan bayarin uang kontrakanmu sementara kamu belom kerja…”

Aku menggeleng, “sepertinya itu nggak mungkin…, keluargaku tak akan lepaskan aku tanpa kepastian seperti itu…”

Dia, “lalu..?”

Aku, “aku nggak tau.., lalu akan gimana..”

Aku, “kenapa kamu nggak mau aku ke Jakarta..?”

Dia, “aku nggak mau kehilangan kamu. Belantara Jakarta terlalu kejam, entahlah, aku takut membayangkan kamu pergi dan kerja di Jakarta, bergaul dengan banyak orang di sana, yang kamu nggak tau pasti apa dan bagaimana suasana pergaulan di ibukota…tak ada yang menjagamu di sana…”

Aku, “kalau begitu, kita harus menikah, jadi aku ada alasan untuk tetap tinggal di Jogja, denganmu…kalau sudah resmi menikah, tak mungkin keluargaku akan melarangku untuk tinggal di Jogja…’

Dia, seperti kaget, terdiam, dan, “nggak semudah itu untuk melakukan pernikahan, kan, harus ada rencana panjang, ini itu, harus siapkan uang, dan lain-lain…aku belom lulus, belom kerja…belom punya uang sendiri..”

Aku, “teman kosku barusan menikah di masjid Syuhada, pernikahannya sangat sederhana, tapi kata mereka, pokoknya sah…”

Dia, “apakah kamu merasa cukup dengan pernikahan macam begitu..? Tunggulah sampai kita benar-benar siap, kita bisa melakukan pernikahan yang lebih baik dengan mengundang cukup banyak handai taulan..”

Aku, “lho, aku kan cuma menanggapi maumu, kau tak mau aku pergi ke Jakarta, kamu khawatir ini itu, kamu mau aku tetap tinggal di Jogja setelah lulus, dan itu bagiku nggak bakalan terjadi, sebab keluargaku ga akan ijinkan, maka aku pikir, jalan terbaik adalah menikah…”

****

Ternyata, apa yang kukatakan pada pacarku, ditanggapi serius olehnya. Setelah wisuda, pacarku dan keluarganya, yang terdiri dari Ibunya, oom dan tante, serta beberapa kerabat lain, minus Bapaknya, karena Bapak pacarku sudah meninggal, datang ke rumah keluargaku, yaitu keluarga bulik dan paklikku, untuk berkenalan. Saat itu, aku pun sudah yatim piatu, maka keluarga bulik dan paklikku menjadi wakil dari bapak ibuku.

Seperti pertemuan dua keluarga pada umumnya, saling berbasa-basi, saling memberikan buah tangan, bercanda-canda. Padaku pun, si Ibu berbicara baik-baik, seperti tak pernah terjadi peristiwa pertengkaran beberapa bulan sebelom pertemuan keluarga.

Sampai menjelang sore, ketika tetamu dari keluarga pacarku itu meninggalkan rumah keluargaku, dan keesokan harinya, aku dipanggil oleh Bulikku, untuk bicara empat mata denganku.

Bulikku bicara pelan, berat, dan hemat kata-kata, sebelom akhirnya bilang, “kenapa kamu mempermalukan keluarga kita..? Kenapa kamu minta cepat-cepat dinikahi oleh pacarmu..? Apa yang terjadi..? Kamu tau, kamu disekolahkan sampai universitas, agar setelah lulus, bisa cari kerja yang baik, kemudian membahagiakan dirimu sendiri, memberi kebanggaan untuk keluarga besarmu…agar Bapak dan Ibumu di surga juga tersenyum, senang…, bukan malah bikin malu begini..Apa kamu nggak pengen kerja, seperti pada umumnya orang yang lulus dari universitas..? Kalau cuma soal makan, monyet juga makan…, tapi kamu kan manusia, punya harga diri, harusnya kamu bisa berpikir jauh lebih baik dari seekor monyet di hutan sana..”

Halilintar, serasa menampar gendang telingaku. Panas memerah padam pasti roman wajahku menahan malu dan marah, meski aku nggak sepenuhnya memahami, apa yang dikatakan bulikku, terutama ketika beliau bicara soal monyet, tapi aku tak punya kata-kata satu patah pun. Aku cuma, pelan beranjak, masuk ke kamar, dan menangis sesenggukan tanpa suara.

Ibu, Ibu kandungku, bila dirimu masih ada di sini bersamaku, apakah kau akan mengatakan hal yang sama dengan bulik..? Aku yakin, tidak…, Ibuku amat sangat mengerti tentang aku, anaknya…

Ibu.., Ibu kandungku, mengapa aku kau tinggalkan begini..? Aku masih tetap membutuhkanmu, Ibu…

Aku meratap dalam batin, dan dengan tiba-tiba, muncul sebuah pikiran: “Aku harus membuat perhitungan dengan pacarku dan Ibunya..!”

(bersambung)

*Menikahlah Denganku, lagunya Java Jive


(Foto: Gadis berbaju biru, akrilik di atas kanvas)

 

 

6 Comments to "Menikahlah Denganku"

  1. Swan Liong Be  8 July, 2018 at 16:04

    Itu memang kebudayaan timur jauh dn timur tengah, selalu keluarga ikut ²an. Aku pribadi sensitif kalo dengar istilah “mempermalukan keluarga”. Disini aku lebih cocok dengan kebudayaan barat dimana tanggungjawab pribadi sendiri yang menentukan.

  2. Alvina VB  7 July, 2018 at 23:35

    Ini cerita masa lalu kan ya Dian? Yg penting ‘now/this moment in life’.

  3. s.Goh  6 July, 2018 at 09:19

    KUATKANLAH HATIMU
    LEWATI SETIAP PERSOALAN
    TUHAN ALLAH SeLALU MENOPANGMU
    JANGAN BERHENTI HARAP PADA-NYA

    TUHAN PASTI SANGGUP
    TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT unTUK MENGANGKATMU
    TUHAN MASIH SANGGUP
    PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU

  4. Lani  6 July, 2018 at 03:06

    Dian: wadoh iki bukan zaman Siti Nurbaya……….menikah disereg dipaksakan………..horaaaaaaaaaa waelah…….amit2 dah

  5. EA.Inakawa  4 July, 2018 at 18:55

    Aku yakin sesungguhnya kamu belum siap untuk menikah…..Bulik itu benar, bahagiakan dirimu terlebih dahulu,itu yg terbaik.

  6. James  4 July, 2018 at 15:40

    yakin bahwa Bulik dan Paklikmu sangat benarnya karena mereka menginginkan kau bahagia dengan Pernikahan dikemudian harinya, biasa semua orang tua selalu memikirkan hal tersebut, demi kebaikan anaknya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.