Bila Usia Senja Tiba (6 – Tamat)

Erna Manurung

 

Artikel sebelumnya:

Bila Usia Senja Tiba (1)

Bila Usia Senja Tiba (2)

Bila Usia Senja Tiba (3)

Bila Usia Senja Tiba (4)

Bila Usia Senja Tiba (5)

 

Sabtu pagi. Hari ini seharusnya Lestari berada di luar panti. Kalau tidak jalan-jalan di pantai, ia akan menginap satu atau dua malam di Kaliurang. Tetapi akhir pekan kali ini ia agak malas bepergian. Ia mau menguji ketahanannya tinggal di dalam rumah selama dua minggu penuh tanpa acara jalan-jalan. Apakah sanggup atau tidak.

 Namun demikian, Lestari beruntung memiliki pimpinan yang peduli dengan vitalitas para Staf yang mengurus lansia. Lima hari dalam seminggu, mereka diwajibkan bekerja sementara dua hari dibebastugaskan. Terserah mau melakukan aktivitas apa, kantor menyiapkan dananya. Tentu saja dengan plafon. Baginya, bisa bekerja di panti lansia yang dikelola secara profesional adalah kesempatan berharga.

 Tapi ia merasa sedikit terganggu setelah mendengar cerita Sarweni kemarin. Di luar sana, masih banyak lansia yang kurang perawatan karena minimnya fasilitasnya. Lestari memperkirakan, setelah Sarweni pulang ke kampung halaman, ia harus melewati masa adaptasi yang tidak mudah. Dari bekerja di panti lansia untuk kalangan mampu ke panti wreda milik pemerintah.

Di kamarnya Lestari berjuang mengatasi kegelisahannya. Gelisah karena ibu Yani belum memberikan kepercayaan kepadanya. Gelisah karena banyak penghuni panti yang berkecukupan secara materi namun tidak bahagia. Gelisah karena tidak semua orangtua seberuntung ayahnya; melewati masa tua dengan lancar, tidak perlu ke panti jompo. Beliau tinggal di rumah dan punya banyak teman. Gelisah karena hampir semua orangtua selalu ingin anak-anaknya menikah dan membentuk keluarga, lalu beranakcucu untuk memperbanyak keturunan. Belum pernah ia temui orangtua yang memberi kebebasan kepada anak-anaknya mengambil pilihan sendiri. Membentuk ‘keluarga’ sendiri, dengan versi dan standar kebahagiaan mereka misalnya. Ia juga gelisah karena ternyata pusat kebahagiaan seseorang tidak melulu dari materi yang dipunyainya. Tante Linda itu kurang apa, coba? Anaknya sudah mandiri, harta lebih dari cukup karena bisnisnya tetap berjalan dan kini dikelola anak sulungnya.

“Yang dibutuhkan Tante Lindamu itu adalah seorang suami, kata hati kecilnya.

“Benar, tapi kalau tidak punya suami, bukankah masih ada sahabat dan teman-teman?” kilah suara hatinya yang lain.

“Tidak sesederhana itu. Ia hidup bukan di lingkar pertemanan yang kuat seperti kamu,” bantah hati yang satu lagi.

***

Dua hari yang lalu, seorang perempuan seusia Tante Linda datang. Ia menginap di Pondok Usia Indah. Namanya Ibu Sylvana. Astry tidak bilang kalau ibu Syl penghuni baru. Gadis itu hanya menyampaikan sekilas kalau beliau adalah tamunya Ibu Linda, yang minta izin menginap di sini beberapa hari saja.

Ibu Yani memberikan beberapa dispensasi. Siapa saja yang terkait dengan penghuni boleh datang dan menginap, tentu dengan beberapa peraturan dan batasan. Soal biaya, ada hitung-hitungannya. Pingkan, putri Pak Wayong pernah menginap satu mingu di sini. Beberapa anggota keluarga yang lain juga pernah mengajak keluarganya menginap. Para staf akan membantu mengatur kamar, asalkan ada pemberitahuan sebelumnya.

O ya, sejak kedatangan ibu Sylvana, Tante Linda agak suli ditemui. Mereka berdua banyak mengobrol di kamar atau berjalan-jalan di hutan mini. Sekali waktu duduk berjam-jam di ruang makan di sudut utara. Apa saja yang diperbincangkan mereka berdua ya?

Lestari ingin sekali merajuk karena merasa tidak diperhatikan. Tapi ia bukan teman mereka yang bebas bersikap semaunya. Ia Staf yang harus bekerja profesional. Akhirnya Lestari berharap agar besok atau lusa Tante Linda akan memperkenalkan Ibu Syl kepada penghuni di sini. Meski ibu Yani melarang keras para Staf mencampuri urusan pribadi penghuni.

*****

Minggu siang. Pulang dari gereja, Lestari  mampir ke kamar Astry. Gadis itu sedang leyeh-leyeh. Minggu ini ia piket, jadi tak bisa keluar asrama.

“As, kamu tahu nggak kenapa Ibu Linda diterima di ini. Padahal kan dia belum lansia?” Lestari nyelonong ke kamar Astry yang pintunya sedikit terbuka. Ia melanggar kesepakatan ‘bahwa  masuk kamar siapapun harus mengetuk pintu’. Untung Astry tidak protes. Ah, tapi ia bisa protes kok dengan bilang, ‘hei, aku tak mau diganggu’. Yang dibalas Lestari dengan ‘jadi, kapan dirimu bisa kuganggu?’.

“Lho, memangnya bu Yani tidak memberitahu kamu selama in?”

Lestari menggeleng.

“Memang sih ini wewenangnya HRD. Tapi menurutku semua Staf perlu tahu riwayat semua penghuni di sini. Setidaknya hal-hal yang umum.”

“Mungkin bu Yani lupa.”

“Bisa juga. Okelah, tapi kamu perlu tahu juga. Empat tahun lalu, Ibu Linda datang diantar anaknya ke sini. Ia memperkenalkan diri sebagai mantan mahasiswa praktek yang dulu PKL di panti ini sebelum berganti nama Pondok Usia Indah. Ibu Linda minta izin, apakah dia bisa tinggal di Pondok Usia Indah untuk beberapa bulan saja. Ia tahu bahwa usianya belum memenuhi syarat untuk menjadi penghuni. Tapi entah apa yang dibicarakan mereka, akhirnya Ibu Linda tinggal di sini. Kepada para Staf, Ibu Yani memberi tahu bahwa ibu Linda akan tinggal beberapa bulan saja.

“Tetapi akhinya Ibu Linda tinggal sampai empat tahun. Anak-anaknya jarang menjenguk dia. Dari cerita mereka, kami tahu kalau Ibu Linda sudah berceri dari suaminya. Dia sangat tertutup. Setahuku, cuma kepada ibu Yani dia mau terbuka. Orang kedua yang berhasil mendekati dia adalah kamu.”

Lestari tergelak. Baginya, memulai pertemanan dengan siapa saja tidaklah sulit. Yang berat adalah mengelolanya. Dari Astry ia juga tahu kalau tamunya Tante Linda itu sahabatnya semasa kuliah. Mereka dulu kuliah di Sanata Dharma. Keduanya sama-sama pernah praktek di Pondok Usia Indah yang waktu itu belum sebesar sekarang. Ibu Sylvana mengunjungi kota ini setelah mendapat kabar kalau sahabatnya sudah  4 tahun tinggal di sini.

“Waktu Ibu Sylvana datang, mereka berdua bertangisan. Kami agak canggung melihatnya,” Astry melanjutkan ceritanya. Lestari sedikit menyesal mengapa ia tidak ada di sana waktu itu. Ibu Syl datang sore hari ketika ia sedang berbelanja kebutuhan bulanan di mini market dekat  asrama.

***

“Kenapa Baskoro pergi, Syl?” Linda bertanya lirih.

“Entahlah, aku tak mau menyalahkan perempuan itu. Anggap saja memang jodoh kami sudah selesai.”

“Ehm, bukannya kita dilarang bercerai ya?”

“Memang, tapi kalau suami kita yang ingin pergi, lalu kita mau apa?”

Linda tahu bahwa Sylvana berusaha optimis dengan perkataannya barusan. Berusaha tidak marah lagi seperti semalam. Tadi malam, sahabat karibnya tak bisa menutupi lukanya ketika bercerita tentang Baskoro yang pergi begitu saja. Tentang Citra, yang berhasil memikat suaminya dengan segudang akses untuk kelanggenggan karir ayah dari keempat anaknya. Tentang kepiluan karena ia merasa, Baskoro sudah tidak membutuhkannya lagi. Tentang penyesalan karena di masa lalu mereka tak pernah membicarakan keadaan yang mungkin tak lagi sama. Tentang kebingungan yang akan mereka temui kelak. Dan tentang, mengapa dulu mereka sanggup mengucapkan ‘sampai maut memisahkan kita’ namun tak sanggup mempertahankannya.

“Apakah kita orang-orang yang kalah, Linda? Menurutmu bagaimana?”

“Ah, entahlah.”

“Lalu, kenapa kamu ke sini?”

“Hhhh… Aku ke sini untuk mencari tahu kenapa kami melewatkan begitu banyak waktu yang berharga untuk membenahi hubungan kami.”

“Kamu masih menyesali itu ya?”

“Sedikit. Tapi tetap merasa lebih beruntung dari banyak orang di tempat ini. Setidaknya, anak-anakku masih memberikan perhatian. Aku tidak bisa menuntut banyak dari mereka. Mereka sudah punya kehidupan sendiri dan tanggung jawab masing-masing. Membentuk keluarga dan membesarkan anak-anaknya. Aku jadi egois kalau hanya memikirkan diriku sendiri. Di sini Syl, kamu tahu? Yang lebih menderita dari kita cukup banyak meskipun mereka punya segalanya. Aku diberitahu Lestari, minggu lalu ada salah satu penghuni yang kedapatan menelan obat tidur over dosis. Untung ibu Yani segera bertindak.”

“O, begitu?”

“Ya. Aku pikir, cukuplah kebaikan Tuhan buatku. Aku masih punya keluarga dan pekerjaan yang bisa menghidupiku. Satu-satunya kesusahanku hanya pengapuran di kaki. Tapi itu jadi terasa ringan sekarang.”

Sylvana memeluk sahabatnya. Betul juga yang dikatakan Linda. Mungkin mereka terlalu asyik dengan kemapanan hidup selama ini. Ia boleh kehilangan Barkoro, anak-anak akan pergi, usia akan bertambah, dan tubuh akan akan semkain rapuh. Tapi ia masih memiliki sahabat dan teman-teman baik. Tuhan memberinya pelajaran penting beberapa hari di tempat ini.

***

Ibu Yani masih rapat berasama Pengurus Yayasan. Siang ini mereka harus memutuskan siapa yang akan ditugaskan untuk menjadi Ibu Asrama. Ibu Yani belum yakin apakah Lestari bisa menjalankan tugas tersebut. Ia percaya dengan semangat dan ketulusan gadis itu, tapi rasanya masih butuh waktu dan pengalaman yang lebih banyak. Lestari masih harus berlatih mengelola relasinya dengan penghuni panti.

Dua minggu lalu ada pasangan suami-istri yang berencana tinggal di Pondok Usia Indah. Bapak dan Ibu Bambang namanya. Mereka pernah menjadi konselor di salah satu Crisis Center di Jakarta. Untuk menghabiskan masa tuanya, keduanya sepakat akan tinggal di panti lansia. Supaya tidak merepotkan anak-anak katanya.

Ibu Yani ingin meminta mereka bekerja di panti ini untuk mengatur kerumahtanggaan yang tentunya dibantu para Staf dan Asisten rumah tangga. Semoga mereka bersedia, harap Ibu Yani.

Hari Kamis pagi, tamu Tante Linda menemui Astry di ruangannya.

“Hallo mbak Astry,” Sylvana menyapa gadis itu.

“Selamat pagi bu Syl. Nyenyak tidurnya?” jawab Astry sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Wah, tentu saja. Tempat ini asyik ini juga mbak. Asri dan suasananya tenang.”

“Terimakasih bu Syl, kapan-kapan datang lagi ke sini ya?”

“O iya, tentu.”

Pagi itu Ibu Sylvana memberitahu kalau ia akan kembali ke Jakarta hari Jumat siang. Maka, ia membereskan seluruh pembayaran dan menyelipkan beberapa gantungan kunci untuk dibagikan kepada para Staf. Bulan depan, sahabatnya akan menyusul ke Jakarta.

Mereka berdua memutuskan akan menyewa sebuah rumah yang cukup besar untuk dijadikan  rumah singgah atau rumah tinggal bagi para lansia yang membutuhkan. Linda ingin melanjutkan hidupnya bersama teman-teman sebaya; melakukan hal-hal yang bermanfaat. Ia masih harus menggunakan tongkat tetapi hatinya kini lebih optmis. Usianya belum lagi 60 tahun. Masih ada kesempatan untuk  menjalankan bisnisnya di dua kota, Jakarta dan Ambon.

Bagaimana dengan Lestari? Setelah melalui diskusi yang cukup panjang selama beberapa waktu, akhirnya ia memilih resign, meskipun ibu Yani menawarkan pekerjaan baru di kantor Yayasan. Lestari memutuskan keluar bukan karena sudah ada calon ibu Asrama, atau karena sahabatnya Tante Linda akan pergi dari panti. Ia merasa perlu mencari pengalaman lebih banyak di tempat lain sebelum sungguh-sungguh yakin akan mengabdikan hidupnya di panti lansia.

Minggu ini Sarweni mengakhiri masa prakteknya. Kembali ke kampus, dan setelah lulus ia akan pulang ke Sulawesi bekerja di Panti Jompo milik pemerintah. Persahabatannya dengan Lestari cukup mengesankan. Ia seperti punya kakak perempuan. Kapan-kapan, Sarweni akan mengundang si ‘Kakak’ berkunjung ke kotanya. Pasti seru.

———-

Penghuni panti lansia Pondok Usia Indah kini semakin ramai. Karena itu Yayasan menambah jumlah kamar sebanyak 5 unit. Rupanya cukup banyak yang merekomedasikan tempat ini untuk menghabiskan hari tua.

Siang ini ibu Yani kedatangan beberapa tamu. Sebagian sedang mengurus pendaftaran sebagian lagi menunggu giliran untuk berbincang-bincang dengan Ketua pengurus yayasan itu.

Tapi terjadi sedikit kehebohan di beranda. Ibu Patricia 70 tahun, salah satu tamu yang datang diantar putri sulungnya, kedapatan menangis. Tampaknya seseorang telah meneleponnya. Percakapan itulah yang membuat ibu Patricia menangis.

“Sudahlah Ma, ngapain juga dengerin orang. Ini kan demi Mama sendiri? Mama yang ingin ke sini, kan?” bujuk anaknya.

“Iya, tapi Mama nggak tahan dengan omongan inangudamu itu. Dia bicara kemana-mana tentang rencana kita tinggal di sini,“ tutur sang Mama sambil terbata-bata.

“Ah, memangnya dia tahu apa kesusahan kita? Memang mereka yang kasih kita makan? Memangnya inanguda Sarah itu yang membantu kita waktu Mama kesepian di rumah? Sudahlah, kan kita sudah bahas ini berkali-kali.”

“Iya, tapi kenapa mereka bikin gosip segala kalau kalian nggak urus Mama?”

“Itu risiko kita Ma, jangan dipikirkan …”

“Tapi Mama jadi kepikiran terus kalau begini. Sekarang inanguda kalian, besok-besok keluarga yang lain yang akan salahkan kalian karana nggak ngurus Mama.”

Sonya, si puteri sulung hanya bisa membuang nafas demi menyaksikan ketidaktetapan hati Mamanya. Mereka sudah pernah membahas soal ini berkal-kali. Tapi si Mama juga yang mementahkannya. Namun ia maklum. Siapa tahu iapun akan seperti itu kelak.

Lalu mau bagaimana lagi sekarang? Pulang ke rumah dan pamit kepada ibu Yani lagi? Terhitung, ini yang keempat kalinya mereka datang ke Pondok Usia Indah; mulai dari survey tempat sampai dengan menanyakan kemungkinan kalau ia akan menemani ibunya menginap meski tidak setiap hari.

Ternyata ibu Yani sudah berada di beranda sejak 15 menit yang lalu. “Bagaimana mbak Sonya? Jadi mau masuk hari ini?” ia sungkan bertanya langsung kepada ibu Patricia yang masih terisak.

Yang ditanya diam sejenak. Sonya bimbang, meminta ibunya segera masuk dan mengabaikan saja suara-suara di luar sana atau kembali ke rumah. Menunggu waktu yang tepat sampai beliau siap. Meksipun mereka akan melalui siklus yang sama lagi; setelah tiba di rumah ibunya akan lega sejenak, lalu menyesali keputusannya batal tinggal di panti, lalu akan kembali mengeluh karena tidak punya teman, lalu meminta anaknya mempersiapkan pakaian, lalu mereka akan datang lagi ke panti, dan …. peristiwa serupa akan terulang kembali.

“Kami pulang dulu saja bu Yani. Kami akan cari waktu yang pas untuk datang ke sini. Jangan bosan-bosan ya bu.”

“Sama sekali tidak, mbak Sonya. Kami tunggu dengan senang hati.”

Lalu ibu dan anak itu beranjak sambil menjabat tangan ibu Yani. Keduanya melangkah keluar gerbang. Taxi online sudah menunggu di luar. Mengiringi langkah mereka masuk ke dalam taxi, terdengar celoteh ceria ibu Patricia. Katanya, ia senang bisa memberi makan lagi si Puppy, anjing mereka. (Tamat)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.