Gerakan Literasi Sekolah – Dari Pucuk Sampai Akar

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Gerakan Literasi Sekolah – Dari Pucuk Hingga Akar

Penulis: Billy Antoro

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Tebal: x + 370

ISBN: 978-979-772-058-2

 

Sejak dikumandangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan jaman Anies Baswedan, gerakan literasi sekolah terus bergulir. Gerakan yang menjadi bagian dari penumbuhan budipekerti bangsa ini telah berjalan sejak tahun 2015, saat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2015. Bagaimana keadaan gerakan literasi sekolah setelah 3 tahun berjalan? Billy Antoro, sang sekretaris Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menuangkannya dalam buku ini.

GLS berjalan beriring dengan Gerakan Indonesia Membaca (GIM). Jika GLS bergerak di sekolah, maka GIM bergerak di masyarakat dan di keluarga. Kedua gerakan literasi ini berada dalam koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. GLS dan GIM bahu membahu di lapangan. Dua gerakan ini bersinergi untuk membangun minat baca orang Indonesia. Selain dua gerakan yang berada di bawah Kemdikbud, ada satu gerakan membaca yang bernama Gerakan Literasi Bangsa (GLB). GLB dikomandani oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ketiga gerakan ini berada dalam satu kesatuan Gerakan Literasi Nasional (GLN).

Selain dari tujuan untuk menumbuhkan minat baca, khususnya GLS diharapkan bisa mendongkrak capaian anak-anak Indonesia dalam tes Program for International Student Assesment (PISA) dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Jebloknya capaian anak-anak Indonesia dalam dua tes internasional tersebut memang memprihatinkan. Oleh sebab itu perlu upaya khusus dan konsisten untuk membawa anak-anak Indonesia sejajar dengan anak-anak dari negara-negara lain dalam hal memahami literasi dan sain.

Buku ini sangat menarik karena memuat detail-detail kelahiran gagasan Gerakan Literasi Sekolah di jaman Mendikbud Anies Baswedan dan perkembangannya sampai dengan saat ini. Detail-detail rapat, ucapan-ucapan para penggagas bisa disampaikan dengan akurat karena Billy Antoro adalah sekretaris GLS. Akses sang penulis terhadap rapat-rapat, workshop-workshop dan diskusi-diskusi sejak awal kelahiran GLS membuat buku ini bisa menyampaikan detail-detail penting GLS yang tidak mungkin ditemui di buku lain.

Bukan hanya detail-detail di lingkungan kementerian yang disampaikan oleh Billy Antoro. Kerajinannya mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai daerah dituangkan dalam buku ini. Respon sekolah saat awal GLS dicanangkan, kegalauan sang Dirjen Hamid Muhammad tentang kurangnya sekolah yang tahu tentang GLS sampai dengan contoh-contoh keberhasilan di tingkat sekolah disajikan dengan apa adanya.

Kegiatan awal GLS adalah pembiasaan. Kemdikbud memilik kegiatan membaca 15 menit membaca buku nonteks pelajaran sebelum proses pembelajaran. Pilihan ini tentu ada alasannya. Billy Antoro, mengutip hasil penelitian menyatakan bahwa frekuensi lebih penting dari durasi. Untuk membiasakan anak-anak membaca, kegiatan membaca harus dilakukan secara rutin setiap hari. Jumlah jam tidak bisa diakumulasikan hanya pada satu hari saja dalam seminggu. Lebih baik anak-anak membaca hanya 15 menit tetapi dilakukan setiap hari daripada diberikan waktu 3 jam tapi hanya sekali seminggu.

Selanjutnya Billi Antoro membeberkan apa itu sekolah literat dan peran berbagai pihak, termasuk orangtua dan masyarakat sampai dengan Pemerintah Daerah. Memang benar bahwa untuk membuat sekolah literat, tidak bisa kita mengharapkan kerja guru atau kepala sekolah saja. Memang kepala sekolah memegang peran penting sebagai driver. Namun tanpa keikut-sertaan berbagai pihak, semua stakeholder sekolah, maka upaya untuk membangun sekolah yang literat tak akan berhasil.

Secara khusus Billy Antoro membahas pentingnya ketersediaan buku bacaan di sekolah di bab V. Setelah menyajikan kebutuhan buku nonteks pelajaran, Billi Antoro membahas kondisi perbukuan Indonesia. Ia menunjukkan bahwa sebenarnya kebutuhan buku nonteks pelajaran sangatlah besar di Indonesia. Namun berbagai faktor menjadi sebab tiadanya buku nonteks pelajaran yang jumlahnya memadai di sekolah-sekolah kita. Ia juga membahas berbagai upaya dari Kemdikbud untuk mengubah regulasi perbukuan supaya menjadi lebih kondusif bagi sekolah dan produsen buku.

Sayang sekali Billy Antoro tidak terlalu membahas bagaimana pendanaan pengadaan buku nonteks pelajaran ini bagi sekolah-sekolah. Memang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telah cukup dibuka sehingga sekolah bisa memanfaatkannya untuk pengadaan buku nonteks pelajaran. Namun demikian, persoalan-persoalan membuat sekolah belum membelanjakan BOS untuk menambah koleksi buku nonteks pelajaran.

Persoalan pertama adalah masih dibutuhkannya anggaran untuk membeli buku teks pelajaran, khususnya buku-buku K-13 yang setiap tahun berganti karena kurikulum ini masih terus direvisi. Kedua, karena buku nonteks pelajaran yang termuat di daftar buku dari PUSKURBUK kebanyakan hanya buku referensi dan buku pengayaan, maka buku bacaan anak dan buku sastra jarang sekali terbeli oleh sekolah. Kepala Sekolah ada yang takut berbelanja buku dengan uang BOS jika buku tersebut tidak ada dalam daftar PUSKURBUK.

Persoalan ini harus segera diselesaikan. Dengan demikian upaya yang sudah dibangun dengan baik bisa terus lestari dan bahkan berkembang. Sehingga cita-cita mengembangkan karakter sekaligus membenahi hasil capaian belajar siswa melalui GLS bisa terwujud dan Indonesia bisa memperbaiki peringkatnya dalam tes-tes internasional seperti PISA dan PIRLS.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

One Response to "Gerakan Literasi Sekolah – Dari Pucuk Sampai Akar"

  1. Handoko Widagdo  19 July, 2018 at 16:24

    Maturnuwun sudah dimuat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.