Sultan Agung – The Greatest King

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SULTAN AGUNG, raja Mataram Islam terbesar (memerintah 1613-1645), kini ada biopic-nya, “Sultan Agung. Tahta, Perjuangan dan Cinta” (2018). Sebuah film biopic yang dibuat BRA Mooryati Soedibyo, keturunan ke-12 Sultan Agung, yang juga cucu Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono X, penguasa negeri Kasunanan Pakubuwono (1893-1939), serta pemilik mobil Mercedes-Benz pertama di Asia.

Kayak apa sosok Sultan Agung? Baca saja buku karya DR. HJ de Graaf, terbitan grafitipers. Buku ini netral isinya. Sosoknya digambarkan sangat berwibawa, tegas, ditakuti, muda dan ‘divine’. Ada unsur ilahiah yang diemban dalam dirinya. Makanya gelar resmi raja Mataram Islam ada embel-embel ‘Khalifatullah ing Alaga Sayidin Panatagama’ (pemimpin agama). Ini mirip gelar raja/ratu Inggris, ‘Defender of Faith’. Sampai malam ini, gelar itu masih ada melekat pada keturunannya, ISKS Pakubuwono XIII dan ISKS Hamengkubuwono X.

Yang dikenal dari Sultan Agung sang pemberani, saat dia menyerbu Batavia pada 22 Agustus 1628 di Teluk Jakarta. Diulangi lagi pada Mei 1629. Penyerbuan yang terkordinir rapih (walau gagal), bisa dilakukan dengan kordinasi baik. Padahal belum ada WhatsApp, internet. Bandingkan dengan sekarang, punya smartphone masih main cari-carian di mall.

Banyak jejak sejarah ditinggalkan Sultan Agung. Dari penyerbuan itu, masih tersisa bekasnya di Jakarta sampai malam ini. Daerah Matraman kini (dari kata /mataraman/), dulunya tempat peristirahatan prajuritnya sebelum menyerbu Batavia dari selatan. Jalan Pegangsaan, di daerah Matraman, diambil dari nama semacam wadah masak (gangsa) ketika prajurit Mataram ‘camping’ di sana sebelum bergerak menyerbu benteng di Batavia.

Kelak tiga ratus tahun kemudian, di daerah Pegangsaan, tepatnya di rumah Soekarno, Jl Pegangsaan Timur No. 56, seorang keturunan Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono IX, berangkat sore hari 27 Des 1949, menuju Istana Rijswijk (kini Istana Merdeka). Di istana itu Hamengkubuwono IX menyaksikan penurunan bendera Belanda, menandai berakhirnya secara resmi kekuasaan Belanda di Tanah Jawa (Indonesia), setelah dengan susah payah diusir Sultan Agung. Akhirnya penyerbuan Sulan Agung 3 abad lalu, “dibalas” oleh keturunannya, dari Pegangsaan itu.

Sultan Agung tidak pernah kalah.

 

PS: Sampai kini keturuan Sultan Agung mengusai jagat sosial politik budaya di Indonesia, selama sebelum dan sesudah kemerdekaan. Lihat saja deretan Pahlawan nasional, pejuang, tokoh politik, budayawan, dsb, banyak diisi oleh keturunan Sultan.

 

 

4 Comments to "Sultan Agung – The Greatest King"

  1. Alvina VB  3 August, 2018 at 01:36

    Jadi pengen liat filmnya.

  2. James  1 August, 2018 at 11:29

    s e j a r a h

  3. Sierli FP  1 August, 2018 at 11:06

    Woooww..
    Suka banget artikel yang mengandung ilmu pengetahuan sejarah.
    Trims Om Kamah.

  4. Lani  1 August, 2018 at 02:50

    ISK: Tulisan yg sll mengedukasi……..mahalo. Apakabar? Lama tdk mencungul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.