Tiara, Gambaran Sejuta Anak yang Kesepian

Emma Debora

 

‘Tante Erika nanti mau pergi ya?” tiba-tiba dia muncul di pintu kamar kos saya.

Saya agak kaget. Tidak terbiasa dengan orang yang tanpa permisi masuk begitu saja ke area privat saya.

“Hmm, mungkin saja Tiara. Lihat nanti,” jawab saya sambil menengok ke wajah imutnya. Ketika dia muncul, saya sedang mengetik. Meja saya berhadapan dengan pintu luar. Jadi, posisi saya dengan gadis kecil itu saling berhadapan. Tapi tidak tegak lurus. Agak diagonal.

“Ooo gitu ya? Tante perginya lama nggaaak?” rengeknya.

“Memangnya kenapa?” tanya saya pelan. Kali ini tanpa menoleh. Saya tetap asyik dengan ketikan saya. Sebetulnya sikap seperti itu tidak sopan. Berbicara dengan seseorang, betapapun  muda dan masih kecilnya dia, namun tidak memandang wajahnya, sungguh tidak sopan. Tapi pagi itu saya mulai gelisah dengan kedatangan Tiara yang terus-menerus ke kamar saya.

 Hei, pemuja privacy ya? batin saya menuduh

 Tidak. Hanya tidak biasa saja, elak saya.

 Tidak biasa atau tidak suka orang lain melihat hidupmu lebih dalam? kejar si batin.

 Dua-duanya, akhirnya saya menjawab dengan jujur.

Saya menyadari dua sikap yang tidak sehat ini. ‘Tidak biasa diakrabi’ dan  (sekaligus) ‘menjaga privacy’. Apa masalahnya kalau anak kecil seperti Tiara mencari teman? pikir saya. Dia sendirian di lingkungan kos-kosan ini. Ibu dan ayah tirinya ‘kerja malam’. Si Ibu, yang usianya lebih muda dari saya setiap malam harus mencari nafkah sebagai penyanyi kafe. Pulang pagi, lalu tidur sepanjang siang. Sore hari, siap-siap lagi untuk kerja. Suaminya, atau ayah tiri si gadis selalu menemani istrinya bekerja malam.

Makanya, Tiara dititipkan ke neneknya di Bekasi. Tapi entah kenapa, ada saat-saat tertentu dia lebih suka berada di Jakarta, di sini. Di tempat saya kos. Mungkin karena di sini lebih ramai. Ada banyak ‘tante’nya; para penghuni kos yang rata-rata seusia ibunya. Mungkin saja –saya menduga—di tempat neneknya dia kesepian. Tidak banyak orang.

Kesepian? Uhhhh, ini dia penyakit parah banyak orang di dunia. Kesepian telah melanda banyak manusia. Inggris bahkan menganggap ini masalah serius sehingga perlu ada satu kementerian yang mengurusi persoalan kesepian. Kesepian, menurut sebuah studi, semakin meningkat dengan masifnya media sosial yang mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. Kesepian, masih menurut studi itu, bisa mempercepat kematian seseorang. Kesepian juga bukan monopoli usia lanjut. Anak-anak bahkan banyak yang kesepian di era ini.

Anak-anak yang kesepian akan menghadapi banyak masalah di kemudian hari. Ia biasanya akan sangat bergantung secara emosional kepada orang lain yang dianggapnya dekat dan berpengaruh. Significant others, kata orang-orang tua zaman dulu.

Saya agak ngeri membayangkan hal-hal seperti itu.

Kenapa? Punya pengalaman pribadi ya, hehe …. entah siapa yang bertanya itu! Selalu saja menyabotase ‘self talk’ saya. Baiklah jawab saja. Seseorang, dengan pengalaman kekurangan gizi emosional di masa kecil, akan kelaparan secara emosional sepanjang hidupnya. Dan dia akan mencarinya kemana-mana. Biasanya kepada orang-orang terdekat (teman, guru, dll.). Sehingga membuat mereka terkadang sulit ‘bernafas’ karena dilengketi terus oleh ‘anak kelaparan’ ini. Cerita tentang orang-orang yang depend butuh sesi tersendiri sepertinyaJ.

Kembali pada sikap segan saya.

Kenapa ya saya tidak terlalu ingin dekat dengan orang-orang di sekitar saya? Bukankah Tiara adalah gambaran sejuta anak Indonesia yang sedang kelaparan? Lapar akan perhatian, penerimaan, kasih sayang, dll., karena punya ibu bekerja? Apa susahnya saya memberikan sebagian energi saya untuk mereka, Tiara misalnya. Padahal rasanya saya tidak sulit menjalin persahabatan dengan siapapun.

Baiklah Tiara, tante bukan tidak mau dekat-dekat dengan kamu. Tapi tante kan tidak lama di sini. Beberapa bulan ke depan, tante harus kembali ke kampung halaman tante. Kita tetap berteman. Setiap hari kamu boleh main ke kamar tante, menemani tante masak, atau melihat ketikan tante. Tapi jangan lupa ya sayang, tante akan pulang. Mungkin kamu akan sedikit kehilangan. Tante juga akan kehilangan. Eh, bukan hanya kita. Tuh, si Broni dan si Boncel juga akan kehilangan tante. Tante akan kangen suara guk guk mereka yang super keras itu. Kadang susah ngebedainnya, kapan guk guk mereka itu pertanda marah sama orang asing, kapan mereka ingin kita pegang-pegang kepalanya, haha.

Tante punya beberapa keponakan. Dua di antaranya pernah marah dan menangis sangat keras waktu tante mau pulang. Habis bagaimana ya? Tempat tinggal tante kan bukan di Jakarta. Kami sudah sangat dekat selama 3 minggu itu. Lalu tiba-tiba tante harus pergi. Bagaimana mereka tidak sedih, coba. Kalau orang dewasa, palingan hanya diam dan menangis kalau mereka harus berpisah dengan orang yang dekat. Tetapi adik-adik kecil itu? Mereka menangis keras-keras dan lalu ‘memusuhi’ tanteJ.

Nah, waktu tante datang setahun kemudian, tante jadi orang asing lagi bagi mereka. Uhh, kasihan memang jadi musafir seperti tente ini ya, Tiara. Selfpity deh …

***

“Tiara, tante memang mau pergi sebentar sore,” akhirnya saya putuskan untuk pergi saja.

“Kemana?

“Ke Mall Armada”

“Di mana itu, Tan?”

“Di perbatasan kali Serayu itu, Tara.”

“Ohhh, jauh ya. Tiara nggak bisa anter tante dong dengan motor..”

“Ah, nggak usah. Kapan-kapan saja nanti bawa tante keliling di sekitar sini, “ jawab saya. Kecil-kecil begitu, Tiara sudah  bisa mengendarai motor. Tantenya? Nggak jelassss, masih bisa atau tidak bawa motorJ

“Ya udah deh, kalau begitu. Tiara masuk kamar dulu ya? pamitnya.

“Daaaahhh ..” jawab saya.

Ada perasaan sepi karena melepas seorang anak kecil pergi dari ruangan saya.

Tiara sudah dua bulan jadi teman saya.

Kalau pagi, dia menemani saya masak. Dia heran, kenapa kamar saya lebih besar dari kamar ibunya. Kenapa saya tinggal sendiri di kamar besar ini sementara dia dan ibu serta ayah tirinya tidur dalam satu kamar yang ukurannya lebih kecil. Dia juga bertanya, kenapa di kamarnya tidak ada perlengkapan masak, sementara di kamar saya banyak ragamnya.

Saya biarkan dia bertanya apa saja, tapi tidak membiarkan saya menjawab semua pertanyaannya. Paling hanya merespon dengan satu kalimat, “O gitu, ya” lalu mengalihkan pembicaraan.

Sore ini, adalah hari kedua Tiara tidak nampak di pelataran ruah kos kami. Dia diminta pulang ke Bekasi oleh neneknya karena akan melewati hari pertama bulan puasa di sana. Terasa juga sepinya. Sesepi ketika harus meninggalkan para keponakan yang berteriak-teriak karena saya harus pergi. ***

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.