Dilema Protokoler

Ki Ageng Similikithi

 

Bulan Oktober 1979, kami menyelenggarakan 2nd Southeast Asian and Western Pacific Regional Meeting of Pharmacologist di Yogyakarta. Sedianya akan dibuka oleh Wakil Presiden, Bp. Adam Malik, tetapi berhubung satu dan lain hal, beliau tidak dapat hadir tetapi digantikan oleh dua orang Menteri, Bpk Dr. Daud Jusuf (P&K) dan pk. Dr. Suwardjono Suryaningrat (Kesehatan). Saya sebagai Sekrataris eksekutif dan baru kali pertama menyelenggarakan pertemuan internasional. Dihadiri lebih dari 300 peserta, lebih 200 orang dari kawasan Asia Pasiifik, Eropa dan Amerika Utara.

Dalam acara pembukaan, deretan kursi di depan sebagian besar kosong. Kursi-kursi itu disediakan untuk para undangan penting, terutama para pejabat daerah, yang harus diundang sesuai dengan ketentuan yang ada. Protokol Menteri bertanya kenapa banyak yang kosong, saya jawab apa adanya. Beliau sepakat agar peserta diminta pindah duduk di depan menempati kursi-kursi yang kosong tersebut, sebelum acara dimulai.

Tidak ada masalah lebih lanjut, meski alm pak Daud Jusuf sempat bersungut oleh karena acara terpaksa mundur 7 menit. Mundur 7 menit bagi beliau sudah sangat berpengaruh oleh karena sejak semula sudah wanti -wanti jangan sampai terlambat. Masih ingat saat makan malam, Ketua Delegasi Jepang, prof. E Hosoya, memberi selamat dan saya minta maaf atas keterlambatan beberapa menit itu. Dia malah bilang well done, it could be worse than that. Masalah sederhana yang perlu swift decision, saya merasa in charge langsung ambil keputusan saat itu.

Sekarang saya sering melihat dalam acara-acara resmi penting di tingkat nasional maupun lokal, baik di dalam lingkungan akademis maupun di luar akademis, deretan kursi depan yang di ‘reserved” untuk para undangan sebagian besar kosong. Waktu pembukaan molor tidak karuan, pernah dalam satu Konggres nasional molornya sampai 1.5 jam.

Apakah ada kemunduran penerapan etika umum dalam menerima undangan resmi? Datang dan tidak datang mestinya memberitahu pengundang

 

 

One Response to "Dilema Protokoler"

  1. Herlani Herkamto  16 August, 2018 at 08:12

    Paling tidak suka moloooooooor……….atau jam karet

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.