[Imelda’s Stories #1] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain

Emma Debora

 

Konsep tentang hati sebagai ‘rumah dengan banyak kamar’ aku dapat dari Ibu Mooryati Soedibyo, bussiness woman yang terkenal itu. Tapi aku yakin, konsep tentang pria/wanita idaman lain tidak termasuk di dalamnya.

 

Agustus 2017

Inilah dia!

Rumah baruku. Paviliun kecil dengan halaman luas yang asri. Tanganku tidak terlalu ‘dingin’ untuk mengubah benih menjadi tanaman. Makanya di rumah yang lama gersang sekali. Tetapi di sini, pohon apa saja ada. Pemilik rumah yang menanamnya. Sepetak tanah di samping teras ada tanaman jahe merah berjejer rapi. Sebelah kanannya pohon-pohon kemangi. Lalu di sudut sana ada belasan pohon tomat dan cabe rawit. Mengitari seluruh rumah ini berbaris pohon pisang dari segala jenis. Belum lagi tanaman hias yang disusun rapi di pot-pot raksasa.

Kalau anak-anak kos mau memasak, tinggal memetik sayuran yang setiap minggu pasti panen. Akupun begitu. Apa sih yang tidak ada di rumah ini? Kalau belanja, hanya membeli ikan dan bumbu dasar saja.

Pagi hari, yang aku bilang sebagai Prime time-nya bekerja, aku gunakan untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Setiap pagi antara jam 7-8 aku pasti berada di dapur ditemani Zus Jerita, induk semang alias ibu kos kami. Karena ia punya anak yang namanya Jordan, kami kerap memanggil Zus Jerita dengan sebutan “Mama Jordan”. Ia jarang memasak karena sudah ada adik sepupunya yang mengerjakan tugas itu. Ia di dapur hanya untuk mengobrol denganku. Rasanya asyik sekali punya teman sebaya. Ngobrol apapun nyambung. Satu-satunya yang aku tidak tahan adalah, Zus Jerita suka sekali bergosip. Siapa saja selalu dibahas dari sudut pandang negatif.

Aku belum sadar saat itu bahwa kalau ia begitu lancar memperbincangkan orang lain kepadaku, apakah tidak demikian nantinya ia memperbicangkan diriku kepada orang lain? Aku masih euforia dan merasa nothing to loose.

Zus Jerita atau Mama Jordan rajin memberitahuku bawah ada penghuni kos sebaya kami yang harus aku kenal. Namanya Iwan Hutahuruk, ia bekerja di salah satu bank swasta di kota ini. Tanpa aku minta ia memfasilitasi pertemanan kami. Aku agak jengah sebetulnya. Tapi demi sopan santun aku hargai juga usaha ibu satu ini. Ia kerap mengatakan, ‘Biasanya sesama orang Batak akrab dimanapun berada.” Betul sih, tapi aku belum berniat berdekat-dekatan dengan lawan jenis, apalagi Iwan punya istri dan anak yang tinggal di Jakarta.

Kebetulan aku dan Iwan satu gereja. Setelah dikenalkan oleh Mama Jordan, Iwan menawariku sesekali pergi gereja sama-sama. Aku nebeng mobilnya. Untuk mencegah orang berpikir macam-macam karena kami pergi satu mobil, Iwan akan langsung memberitahu siapa saja bahwa kami satu rumah (kos). Ada yang maklum, ada juga yang tidak suka. Sekali waktu aku nebeng mobil Iwan lagi. Di halaman muka, aku berpapasan dengan Windy yang menatap kami dengan penuh curiga.

Cukup sudah, pikirku. Minggu depan dan minggu-minggu berikutnya aku harus berangkat sendiri saja. Tatapan aneh dari orang-orang sudah cukup memaksaku berhenti. Kalau di kota besar, aku mungkin tidak peduli dengan situasi seperti ini. Tetapi jadi berbeda kalau berada di kota kecil dimana gosip bisa cepat menjalar kemana-mana. Aku kini bukan lagi orang bebas yang tak perlu memikirkan perasaan orang lain.

Namun, keakraban di rumah tetap berlangsung. Pikirku, kalau teman-teman kosku bertanya-tanya kenapa aku akrab dengan Iwan, lebih mudah menjelaskannya. Aku dan mereka sering bertemu dan pada akhirnya bisa melihat bahwa orang-orang satu suku yang tinggal di perantauan umumnya lebih akrab.

Pasangan artis favoritku, Shannaz Haque dan Gilang Ramadhan salah satu contohnya. Gilang itu lembut dan Shannaz malah ‘perkasa’. Aku tertawa keras ketika ada yang mengubah panggilan mereka menjadi Kang Shannaz dan Neng Gilang.

Ada-ada saja cara yang dilakukan Iwan agar ia bisa mampir ke dapur dan meminta bantuanku menyiapkan makanan. Kalau aku bisa, aku lakukan. Kalau tidak bisa, aku tidak lakukan. Selama di dapur itu, aku dan Iwan juga sering ngobrol. Kebetulan banyak topik yang kami bahas itu nyambung, yang sayangnya malah sering tidak dimengerti oleh Zus Jer. Barangkali, situasi itu menimbulkan ketidaknyamanan bagi dirinya. Pikirku, biar sajalah. Sesekali aku ingin punya privacy. Kami bertiga; aku, Iwan, dan Mama Jordan orang-orang yang tengah memasuki usia 40 tahunan. Masa-masa dimana fokus kami sudah bukan lagi tengah mencari jatidiri, tetapi lebih mengejar kualitas relasional. Apalagi Iwan cukup mengerti pekerjaan yang kugeluti. Dan dia menawarkan bantuan apapun yang aku perlukan.

Tetapi lama-kelamaan aku merasa bahwa kedekatanku dengan Iwan menjadi sesuatu yang urgent. Aku tidak tahu kapan perasaan itu mulai muncul.

Aku sekarang hafal rutinitasnya. Iwan berangkat ke kantor setiap pukul 7 pagi. Sebelum itu, dia akan mampir ke dapur jam setengah tujuh dan berteriak dari jauh, “Mel, titip telur mata sapi ya? Telurnya ambil aja di kulkas di kamar.” Iwan lebih suka memanggilku Melda ketimbang Imelda. Kalau masih banyak waktu, Iwan akan berada di dapur lebih lama dan sesekali bertanya soal keluargaku di kota S. Atau menyampaikan pengamatannya bahwa katanya aku jauh dari feminin.

“Cara berdirimu itu Mel, kok kayak cowok sih?” katanya tanpa nada canda sedikitpun.

“Hanya cara berdiri aja kan? Jenis kelaminku tetap perempuan lho. Aku menstruasi setiap bulan,” jawabku taktis.

“Alaaaa … kalo itu gue tahu. Tapi maksud gue, elo itu maskulin Mel,” katanya lagi.

“Biar aja Wan …” jawabku. Aku urung menambahkan kalimat ‘memangnya kenapa? Kan banyak juga kaum adam yang feminin’. Takut dia ilfil gara-gara tidak suka dengan selera humorku. Aku pernah ikut sebuah diskusi yang membahas fenomena ini. Dimana banyak lelaki yang berperangai lembut dan ‘keibuan’ dan perempuan yang tomboy atau cenderung maskulin. Itu normal-normal saja dan tak perlu dianggap sebagai kelainan.

Pasangan artis favoritku, Shannaz Haque dan Gilang Ramadhan salah satu contohnya. Gilang itu lembut dan Shannaz malah ‘perkasa’. Aku tertawa keras ketika ada yang mengubah panggilan mereka menjadi Kang Shannaz dan Neng Gilang. Tapi lelaki di depanku ini, si Iwan, sepertinya tidak suka dengan ‘anomali’ seperti itu. Jadi aku mencoba ‘bermain aman’ saja. Diam atau mengalihkan perhatian.

Kadang-kadang, aku menumpang mobilnya saat dia ngantor lalu turun di pasar. Iwan sih dengan senang hati memberikan tumpangan. Namun berbeda dengan sikap Iwan, sikap Mama Jordan tampaknya tak suka. Aku sama sekali tidak memperkirakan gosip atau obrolan apa yang dibahas oleh dia di rumah bersama sepupunya setelah kami pergi. Kenapa saat itu aku tidak berpikir bahwa Zus Jerita mungkin saja cemburu atas kedekatanku dengan Iwan. Kesadaran ini baru muncul lama setelah peristiwa itu berlalu. Betul juga apa yang dikatakan orang. Kalau sedang jatuh cinta, orang suka tidak aware lagi.

Ufff, jatuh cintakah aku pada Iwan? Cintakah namanya kalau setiap hari aku harus memastikan jam berapa Iwan pulang dan jam berapa dia pergi? Cintakah namanya kalau setiap bangun pagi yang lebih dulu berkelebat di kepalaku adalah si Iwan ketimbang berdoa, atau setidaknya mau masak apa hari ini? Oh, kalau masak sih selalu terpikir, tetapi kali ini terkait dengan ‘pesanan’ Iwan. Pada saat-saat merasakan semua itu, apakah aku juga memikirkan Mathilda, istrinya? Ya, aku memikirkan dia tentu saja. Tetapi baru aku rasakan, seseorang yang tengah jatuh cinta bisa memilah sedemikian rupa pikirannya. Kalau hati diibaratkan rumah, maka di rumah itu ada banyak kamar. Aku seperti itu. Di ‘rumah’ku ini ada ‘kamar’ untuk anak-anak didikku, ‘kamar’ untuk Iwan sebagai personal, dan ‘kamar’ khusus untuk menghormati Iwan dan keluarganya.

Well, tidakkah cara berpikir demikian sungguh mengerikan? aku bertanya pada diriku. Konsep tentang hati sebagai ‘rumah dengan banyak kamar’ aku dapat dari Ibu Mooryati Soedibyo, bussiness woman yang terkenal itu. Tapi aku yakin, konsep tentang pria/wanita idaman lain tidak termasuk di dalamnya. Dalam artikel yang aku baca mengenai hal ini, Ibu Mooryati hendak mengatakan bahwa kita tidak perlu disetir oleh masalah. Tarulahlah masalah itu di kamarnya masing-masing di hati kita.

Ahhhh, tidak! Aku tidak mau mencomot konsep itu untuk masalah ini. Cukup satu kali saja aku pernah mengalami ‘cinta bertepuk sebelah tangan’ karena mencintai orang yang salah. Aku belum lupa dengan sindiran teman-temanku tentang ‘keledai saja tidak mau jatuh di lubang yang sama dua kali’.

Sejak itu, hampir setiap malam aku berdoa, “Ya Tuhan, bagaimana melepaskan lekatan emosiku pada Iwan?” Iwan mungkin tak tahu aku mengalami dilema ini. Dia sangat easy going, khas orang marketing. Tapi dia berhasil membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Konsentrasiku pada pekerjaan sering buyar gara-gara dia.

Sanggupkah aku bersikap biasa kembali seperti sedia kala? Dan, adakah orang yang rela mendengarkan keluh-kesahku soal ini? Duh, rasanya tidak ada. Aku tidak siap melihat reaksi teman-temanku yang masih sangat muda. Sosok Kak Imelda di mata mereka adalah gambaran seseorang yang harus diteladani. Seorang yang bisa menjaga sikapnya. Seorang yang tidak main-main dalam menjalin hubungan terlarang. Teman-temanku itu, mungkin saja belum bisa membedakan kondisi seseorang yang sudah commited (berpacaran) dengan pria beristri atau yang masih dalam batas menginginkan commitment itu. Sungguh, aku tidak siap jika mereka beranggapan aku sudah selingkuh padahal tidak. Kalau di sedang bersama para sahabat, aku bisa curhat setidaknya pada mereka. Maka aku hanya bisa berteriak, “Tuhan, tolong saya!”

***

Liburan Natal dan Tahun Baru 2017-2018 ini aku sendirian di rumah. Zus Jerita dan suami serta anak mereka Jordan, pulang kampung. Iwan juga pulang ke Jakarta, natalan bersama keluarganya. Karena kasihan melihatku sendirian, Iwan memberikan kunci kamarnya. “Nih kunci kamar gue, siapa tahu elo kepingin nonton TV,” kata Iwan. Aku menerimanya dengan senang hati. Siapa sih yang mau di rumah bersepi-sepi ria? Menonton televisi adalah solusi yang tepat.Tetapi di malam tahun baru nanti, aku dan teman-teman akan mengadakan acara Kebaktian Tutup Tahun. Zus Jerita sudah mengizinkan.

Suasana malam itu sungguh ramai dan menghangatkan hati kami. Dalam ibadah malam itu masing-masing dari kami membagikan pengalaman hidup selama tahun 2017; apa yang paling berkesan dan kehidupan seperti apa yang ingin diwujudkan di tahun 2018. Rasanya, setiap pergantian tahun menjadi momen penting dan penuh haru bagi kami. Aku memaknainya sebagai masa ‘jeda’ dari waktu yang terus berjalan. Saking berkesannya, momen pergantian tahun jadi lebih istimewa dibandingkan momen ulangtahun.

***

Pagi hari di awal 2018, langit di kotaku mendung meski tidak hujan. Suasana kota pun sepi. Hatiku merasa ikut mendung. Padahal sore nanti aku harus siaran dengan tema “Tahun Baru dan Harapan Baru”. Aku menguat-nguatkan hatiku supaya tetap bersemangat pada saat siaran.

Rumah kembali sepi. Teman-teman yang menginap tadi malam sudah pulang jam 7 tadi pagi. Hari ini aku tidak ke gereja, karena sudah pergi tadi malam. Pagi hingga siang hari ini aku pakai untuk mematangkan persiapan siaran.

Ngomong-ngomong soal banyaknya kebaktian natal di gereja-gereja di Indonesia, aku teringat ucapan temanku yang sedang mengambil Ph.D di Amerika. Ia bilang bahwa di sana, jadwal ibadah atau perayaan Natal hanya satu atau dua kali saja, untuk memberi kesempatan pada jemaat lebih banyak berkumpul bersama keluarga.

Sejak itu, aku tidak perlu lagi merasa bersalah kalau tidak mengikuti semua jadwal ibadah Natal. Bukan karena aku fanatik pada tradisi Barat, tapi aku pikir ada baiknya mengikuti prinsip itu. Pernah saking seringnya aku datang ke ibadah Natal, pikiranku rasanya penuh dan tidak bisa lagi mencerna apa yang disampaikan pendeta di mimbar. Namun demikian, aku tidak menyalahkan gereja-gereja di Indonesia kalau mereka menyusun banyak sekali ibadah Natal. Akulah yang menyeleksi mana yang akan kuhadiri, mana yang tidak.

***

Pagi hari tanggal 2 Januari, beberapa teman dan tetangga mulai berdatangan. Ada Neta, partnerku bersiaran, lalu ada Maria, yang sering mencucikan pakaian keluarga Mama Jordan dan Iwan. Mereka masing-masing membawa teman dua orang.

Setelah saling mengucapkan selamat natal dan tahun baru, aku mengambil kue kering yang sengaja kusimpan di lemari. Tahun baru kali ini diiringi mendung berhari-hari. Aku tidak terlalu suka mendung. Tanpa bisa dicegah, mendung turut membuat suasana hatiku menjadi kelabu. Tetapi kedatangan teman-teman di rumah membuat hatiku sedikit lebih hangat. Aku dan Neta khususnya, sudah melewati masa Natal yang penuh kesibukan selama bulan Desember. Dan di hari itu, kami bersama-sama merayakan kegembiraan kami.

Di tengah suasana yang hangat itu tiba-tiba Maria nyeletuk, “Zus Elda, kenapa Mama Jordan bilang kalau kamu pacaran sama Pak Iwan?”

Deg! Pertanyaan itu seperti guntur di telingaku. ***

 

bersambung

 

 

2 Comments to "[Imelda’s Stories #1] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain"

  1. Sierli FP  15 August, 2018 at 14:59

    lanjutkaannnnnn…

  2. James  15 August, 2018 at 11:19

    lanjuuuttt……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.