Islam Kita

Chandra Sasadara

 

“Mari aku sederhanakan,” kata Cak Maskur.
.
Perdebatan antara Cak Maskur, guru ngaji dengan Cak Wahab, kepala SMP di warung kopi Yu’ Jum itu telah berlangsung lebih dari satu jam, namun belum ada tanda-tanda akan berakhir. Aku, Salamun, dan Samuji hanya menyimak, Cak Jumali yang biasanya dominan dalam diskusi-diskusi politik di warung kopi istrinya pun diam terpaku.
.
“Mau disederhanakan seperti apa lagi? Islam Nusantara adalah kekafiran gaya baru, kemusyrikan yang diberi label Islam,” kata Cak Wahab menantang.
.
“Cak Wahab, berapa banyak buku, dokumen ilmiah, dan kitab-kita klasik tentang Islam, perkembangan madzhab, fiqih, ushul fiqih, sejarah Islam, dan lain-lain yang pernah Sampean baca?” Samuji mulai ikut jengkel. Kawan mainku itu mengganggap Cak Wahab sudah keterlaluan dengan mengkafirkan dan memusyrikkan orang lain. “Kalau hanya mendengar apa kata ustadzmu di pengajian, penilaianmu terhadap Islam Nusantara terlalu jauh, Cak,” kata Samuji sengak.
.
“Sudah, Ji!” kata Salamun melerai Samuji. “Biar Cak Maskur saja yang menjelaskan kepada Cak Wahab: apa Islam Nusantara itu? Mungkin beliau tak mendapat pemahaman itu di tempat pengajiannya.”
.
“Cak Wahab, Islam Nusantara itu praktik keislaman di Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan budaya sebagai realitas sosial,” kata laki-laki yang menghabiskan masa mudanya di salah satu pesantren di Jombang itu.
.
“Islam tidak bisa dicampuradukan dengan kebudayaan!” Hardiknya.
.
“Bukan mencampuradukkan, tapi ingin menampilkan Islam sebagai agama maslahat bagi manusia: salah satu caranya dengan melakukan terobosan-terobosan metodologis sesuai dengan konteks zamanya, sesuai urf’ (adat dan budaya) setempat.”
.
“Zaman yang harus tunduk kepada ajaran Islam, bukan ajaran Islam direkayasa dan dipaksa agar sesuai dengan nafsu manusia sekarang.”
.
“Cak Wahab, pernah mengaji kitab Bidayah al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd?”
.
“Belum,” kata Cak Wahab sambil mengangkat cangkir kopinya. Samuji tersenyum sinis mendengar Cak Wahab belum pernah mengaji kitab Bidayah, meskipun aku yakin dia sendiri juga belum pernah mengaji kitab tersebut.
.
“Ibnu Rusyd menyebut al-nushush al-mutanahiyah, nas atau teks itu bersifat terbatas dan al-waqa’i ghair al-mutanahiyah, sedangkan kenyataan bersifat tak terbatas. Mengapa begitu, karena teks-teks (nushush) syariat turun pada era tertentu, sedangkan kenyataan berkembang mengikuti peradaban dan semangat zamannya.”
.
“Jadi Islam Nusantara ingin mengubah teks-teks suci agar sesuai dengan kehendak zaman sekarang?”
.
“Bukan mengubah teks atau nas, tapi membaharui penerapan hukumnya untuk mencapai maslahat dan menghindari mafsadat, keburukan. Kaidah fiqihnya berbunyi: taghayur al-fatwa wa ukhtilafuha bi hasabi taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwal wa al-niyah wa al- awa’id, perubahan fatwa dan perbedaannya itu mengikuti perubahan situasi, kondisi, niat, dan tradisi.”
.
“Bagaimana bisa urusan akidah dan ubudiyah (ritual) hendak diperbaharui sesuai dengan situasi, kondisi, dan tradisi?”
.
“Cak Wahab, Islam Nusantara tidak menggarap hal-hal yang bersifat tetap dan tak berubah dalam Islam, al-tsawabit: seperti akidah dan ubudiyah. Wilayah garapan Islam Nusantara adalah hal-hal yang bersifat mutaghayyirat, yang bisa berubah dalam Islam, bidang muamalat yang meliputi wilayah relasi manusia dengan manusia dalam keluarga, ekonomi, sosial, politik, dan pergaulan antar bangsa.”
.
“Hal-hal yang antum jelaskan itu telah berlaku sejak dulu. Jika Islam Nusantara ingin menerapkan hal itu, mengapa baru muncul belakangan ini, pada saat Muktamar NU ke 33 di Jombang?” Cak Wahab terus berkelit.
.
“Cak Wahab salah! Konsep sejenis Islam Nusantara telah ada sejak lama: pada 1961, Prof. Hasbi Ash-Shiddiqie pernah menglontarkan gagasan tentang ‘Fiqih Indonesia,’ alasanya karena fiqih yang menjadi rujukan ulama-ulama Indonesia didominasi fiqih-fiqih yang berdasar pada adat istiadat Hijaz, Mesir, dan Hindi. Pada 1980, Gus Dur juga mendorong ‘pribumisasi Islam’ tak lain dan tak bukan agar pemahaman Islam lebih kontekstual dengan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal dalam merumuskan hukum agama.” Cak Maskur menghentikan kalimatnya, seolah memberikan kesempatan kepada Cak Wahab untuk mencernanya.
.
“Kalau Cak Wahab baca sejarah,” kataku memberanikan diri ikut berbicara. “Apa yang dikonseptualisasikan sebagai ‘ISLAM NUSANTARA’ adalah metodologi dakwa yang sudah ada sejak zaman awal masuknya Islam di tanah becek ini. Sunan Kudus melarang minoritas Muslim menyembelih sapi dan menggantinya dengan sembelihan kerbau, hanya karena sapi adalah binatang yang disucikan oleh mayoritas penganut Siwa Sogata di Kudus saat itu. Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan para penyebar agama Islam lainya mengadaptasi wayang, tembang, permainan anak-anak milik orang Jawa agar bisa bersyiar dengan cara damai sesuai dengan konteksnya,” kataku menambahkan.
.
“Pendeknya Islam Nusantara itu praktik berislam seperti yang kita jalani selama ini, Cak Wahab. Islam yang tak asal mengkafirkan, membidahkan, memusyrikan, dan memicu pertengkaran antar kita,” Salamun ikut berbicara.
.
“Lek jare aku,” Cak Jumali akhirnya bersuara setelah bosan mendengarkan pecakapan bertele-tele. “Ribut-ribut tentang Islam Nusantara akhir-akhir ini tak jauh-jauh dari urusan politik!”
.
“Nalare yo’opo, Cak?”


.
“Saat PKS menyebut Islam Nusantara dalam Falsafah Perjuangan dan Platform Kebijakan mereka pada 2008 sebagai praktik Islam yang dialogis, damai, dan modern, tak ada yang meributkan. Namun ketika Islam Nusantara menjadi tema Muktamar NU ke 33 di Jombang pada 2015, orang-orang seperti Wahab ini ribut seperti tersengat semut rangrang. Apa itu namanya kalau bukan politik, cuk-diancuk?”
.
“Bubar!” Teriak Yu’ Jum. “Minum kopi secangkir, omongnya berjam-jam. Warunge mbahmu, tha?”

 

 

2 Comments to "Islam Kita"

  1. Sumonggo  16 August, 2018 at 09:10

    Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah.
    Stempel sorga dan neraka bisa dengan gampang digadaikan.
    Politik itu cair ….. seperti cepirit ……

  2. Alvina VB  16 August, 2018 at 03:55

    “Bubar!” Teriak Yu’ Jum. “Minum kopi secangkir, omongnya berjam-jam. Warunge mbahmu, tha? LOL
    Saya sangat merindukan ISLAM NUSANTARA bukan ISLAM arab.
    Gimana mbakyu Lani? Setuju?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.