[Imelda’s Stories #2] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain

Emma Debora

 

Artikel sebelumnya:

[Imelda’s Stories #2] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain

 

Mama Jordan juga sering mengatakan bahwa rasanya lebih enak jadi single sepertiku ketimbang menikah dan punya anak. Kata dia, “Kamu enak deh mbak Elda, bisa kemana-mana kapan kamu suka. Nggak ada tanggungan.” Aih, memang ya. Rumput tetangga selalu lebih hijau, begitu jawabku.

 

“Apa?” kataku. “Bagaimana bisa Zus Jer bilang begitu? Sembarangan saja! Kami memang akrab kalau di perantauan, “ ujarku membela diri. Aku berjuang agar tak ada seorangpun yang tahu bahwa aku menyukai Iwan.

“Iyo, saya pikirpun begitu memang. Mama Jordan ini suka sekali bikin gosip. Saya ndak percaya itu apa dia bilang,” jawab Maria.

“Mungkin Mama Jordan jeles (cemburu) sama Kakak. Karena Pak Iwan lebih akrab sama Kakak ketimbang sama Mama Jordan,” timpal Neta.

“Nggak peduli saya. Saya nggak suka Mama Jordan bilang begitu tentang saya. Itu fitnah namanya,” kataku lagi. Aku berani mengatakan hal itu fitnah sebab pada dasarnya aku tidak berpacaran dengan Iwan. Tidak ada commitment di antara kami. Aku hanya menyukai dia, itu saja.

“Bagaimana kalau istrinya tahu si Mama Jordan bikin gosip yang tidak benar?” tambahku lagi.

“Ya, sudahlah. Jangan dipedulikan. Kita kan sudah tahu bagaimana tabiatnya Mama Jordan. Senang sekali bergosip. Semua orang di kota ini sudah pernah dia gosipkan,” kata Maria lagi.

Pembicaraan kami selesai ketika Maria, Neta dan teman-temannya pamit pulang. Tapi konflik yang melanda batinku tidak hilang. Aku gelisah bukan main demi mendengar bahwa Zus Jerita menggunjingkan kedekatanku dengan Iwan kepada orang lain. Aku merasa bahwa nama baikku tercemar oleh gosip yang disebarkannya.

Aku tak mampu lagi membendung kemarahanku pada Zus Jerita. Kali ini bukan lagi karena dia telah membuat gosip, tetapi juga ketakutanku yang bertubi-tubi. Aku takut berita ini menjadi preseden buruk bagi keberadaanku sebagai guru sekaligus sebagai pendidik.

Aku tidak terima dengan tindakannya. Bagaimana mungkin persahabatan kami dirusak oleh kecerobohannya? Tidakkah dia tidak sadar bahwa kabar bohong yang dia sebarkan bisa berakibat fatal untuk kelangsungan kehadiranku di kota ini? Perasaanku berkecamuk. Mama Jordan masih satu minggu lagi di kampungnya. Ini berarti aku akan melewati malam-malam penuh mimpi buruk karena persoalan ini.

Duhhh, aku seperti merasakan kembali beratnya menjadi pergunjingan orang karena menanggung rasa malu. Setidaknya sekarang sudah lebih dari lima orang yang menduga aku ada hubungan khusus dengan Iwan. Aku benci mengalami hal ini kembali. Kalaulah Iwan belum beristri, tentu akan lain masalahnya. Aku jadi ingat, bagaimana dulu –beberapa bulan lalu—Iwan pernah complain kepada Mama Jordan karena mengomentari kebiasaannya pulang malam. Dia secara sepintas bilang padaku, “Mel, aku nggak suka sekali caranya Mama Jordan ngurusin hidup gue. Mana dia tahu kalau tiap pulang kerja gue kongkow-kongkow sama sohib-sohib gue. Eh, dia malah myebar gosip kalau gue suka bawa perempuan ke rumah. Gila tu orang. Kalo temen-temen sekantor sih udah tahu gue ngapain aja, mereka bakal kebal kalo gue digosipin punya perempuan. Secara, nggak ada buktinya juga. Di sini Mel, sekecil apapun yang kita bikin, orang bakal tahu. Nah, ngapain juga kita berulah. Tapi begitu si Jerita bilang-bilang begitu, gue senewen juga. Gimana kalo cerocosan dia kedengeran istri gue?”

Aku tak paham benar apa masalahnya waktu itu. Karena aku tak tahu apa sebab Mama Jordan sampai membuat pernyataan seperti itu. Tapi kini, setelah aku turut digunjingkan barulah aku mengerti kekhawatiran yang pernah dirasakan Iwan. Terpikirkah aku untuk melaporkan Zus Jerita pada polisi atas tuduhan pencemaran nama baik? Oh, tidak! Zus Jerita adalah sahabatku. Beberapa kerabatnya pun aku kenal dengan baik.

Aku bersama Neta pernah membahas topik ini di radio tempatku bertugas. Kami mengadakan talk show dengan tema ‘relasi sosial yang harmonis’. Aku mengundang Pak Alex, temanku di lembaga bantuan hukum untuk menyoroti masalah pencemaran nama baik dari sisi hukum. Menurutnya, sah-sah saja kalau kita melaporkan orang yang telah membuat gosip tentang kita kepada pihak kepolisian. Tetapi di bagian penutup, narasumber lainnya (seorang pendeta) memaparkan bahwa apabila masalah penyebaran gosip terjadi di lingkungan dekat, sebaiknya masalah tersebut diselesaikan dulu secara kekeluargaan.

Waktu itu, aku kami semangat sekali mengarahkan acara talk show tersebut. Namun kalau diminta mengulang kembali tema itu, lidahku pasti kelu.

***

Kini hari-hariku tidak lagi sama. Aku berangkat tidur dengan beban yang menindih dan bangun dengan hati yang terkoyak. Mama Jordan adalah orang pertama yang langsung cocok dengaku ketika memulai pertemanan di kota ini. Biasanya butuh waktu yang lama untuk bisa dekat dengan seorang teman. Padahal, teman adalah kebutuhan utamaku selama tinggal di kota ini. Dengan Mama Jordan aku bisa berbicara apa saja dan aku anggap dia cukup dewasa untuk membahas hal-hal yang agak sedikit nyeleneh. Dia pun begitu tampaknya. Di dua bulan pertama kos di rumah itu, kami seperti kawan lama yang bebas membicarakan apa saja. Mulai dari selera makanan, relasi dengan lawan jenis, sampai dengan isi dompet masing-masing. Bagi kaum perempuan, tak perlu gengsi mengatakan ‘aku belum punya uang saat ini’.

Mama Jordan juga sering mengatakan bahwa rasanya lebih enak jadi single sepertiku ketimbang menikah dan punya anak. Kata dia, “Kamu enak deh mbak Elda, bisa kemana saja kapan kamu suka. Nggak ada tanggungan.” Aih, memang ya. Rumput tetangga selalu lebih hijau, begitu jawabku.

Aku betul-betul tidak siap kehilangan seorang teman dekat. Sama tidak siapnya jika orang banyak mendengar berita tentang aku dan Iwan. Aku merasa aneh juga, kenapa tidak terpikir untuk menunggu Mama Jordan dan mencari waktu berbicara dari hati ke hati soal ini? Tapi sudahlah, hatiku kalut bukan main. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana secepatnya keluar dari situasi ini.Tampaknya aku harus siap jika kehilangan kedua sahabatku. Dengan Mama Jordan dan dengan Iwan. Aku tidak sanggup mengelola begitu banyaknya persoalan di kota ini.

Aku belum genap dua tahun dan pekerjaan yang aku tangani membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Aku tidak bisa tetap stabil berada di antara ketiganya; memperhatikan orang-orang yang aku layani, berdekatan dengan Iwan, dan tetap berteman dengan Mama Jordan seolah tidak tertjadi apa-apa. Akupun tidak bisa berdoa dalam keadaan seperti ini.

Aku hanya bisa mengalihkan keresahanku dengan meminta Tika, salah satu sahabat baikku –meski usianya masih muda– menginap di rumah. Setidaknya kami bisa mengobrol apa saja, sehingga masalahku bisa terlupakan sejenak. Dalam obrolan kami, Tika sempat menanyakan soal rumah yang bisa dijadikan tempat ngumpulnya anak-anak. Baik itu anak-anak didikku di sekolah maupun teman-teman di komunitas.

Entah kenapa, sentilan tentang rumah itu seolah menjadi inspirasi bagiku untuk pindah. Ohhh, pindah lagi? Bagaimana pula ini? Aku sesunguhnya nyaman tinggal di sini. Sekolah tempatku mengajar sangat dekat. Anak-anak bisa sering mampir. Suasananya pun asri. Kamarku luas dan halaman rumah ini dikelilingi banyak pepohonan, termasuk apotek hidup. Semua penghuni rumah ini bebas mengambilnya kapan saja. Jadi, masa’ aku harus pindah lagi?

Tetapi, apa aku sanggup kalau digunjingkan lagi? Ufffffhhhhh, beratnya.

***

Hari Minggu ini aku pergi ke gereja yang jadwalnya pagi. Biasanya aku mengambil jadwal gereja sore, jadwal yang juga dipilih oleh Iwan. Nah, lebih aman bagiku untuk berangkat pagi saja, bukan?

Sudah dua minggu ini aku berdoa pada Tuhan agar diberikan hikmat mengatasi persoalanku. Aku sempat mengakui rasa bersalahku karena membiarkan hatiku menerima perhatian Iwan melebihi batasnya. Batasnya sampai dimana, sulit kujelaskan. Ketika aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatiku saat Iwan melimpahkan perhatiannya, sepertinya di situlah batasnya. Aku tahu yang ‘aneh-aneh’ itu kerap muncul. Tapi aku tidak ingin kehilangan hal itu. Sampai kemudian ada orang lain yang melihatnya.

Kenapa aku kerap melewati batas itu, karena di sisi lain hatiku berkata, ‘bukankah cinta itu bisa datang kapan saja, tidak kenal waktu, tidak kenal usia, dan tidak kenal tempat? Tetapi secepat itu pula sisi hati yang lain akan mengatakan bahwa cinta yang aman adalah cinta yang diberikan kepada orang yang tepat.

Manakah yang harus kupilih? Kalau menggunakan akal sehatku tentu saja aku memilih ‘sisi hatiku’ yang kedua. Apalagi sudah ada pengalaman sebelumnya. Dan harus kuakui, mencintai orang yang salah lebih banyak ruginya ketimbang manfaatnya. Kata-kata kasar teman perempuanku masih kuingat dengan jelas, “Sudah tahu dia bukan single lagi, eeehh si Melda malah jauh cinta pula.”

Aku masih belum berhenti. Mencoba merasionalisasikan situasi itu dengan pembelaan bahwa cukuplah mencintai dalam hati saja. Tidak harus sampai ada relasi konkret.

Eiittt, tidak! Tidak akan, sanggahku. Lalu untuk apa gunanya berdoa dan minta maaf pada Tuhan kalau merencanakan dalam hati untuk mempertahankan perasaan tersebut? Argumen lainya muncul lagi, bahwa perasaan itu sesuatu yang sulit dikendalikan, jadi biarkan mengalir sajalah. Nikmati sajalah kedekatan itu.

Really?

O no! Aku menolak kembali. Justru karena aku tidak bisa mengendalikan perasaanku makanya aku berdoa pada Tuhan. Kiranya Ia berbelas kasih melepaskan aku dari lekatan itu. Aku teringat kisah seorang anak muda di perantauan bernama Yusuf. Ia pernah mengalami situasi ini. Tinggal sebagai asisten rumah tangga dan setiap hari bertemu nyonya rumah yang kerap menggodanya. Aku yakin bahwa pemuda ini pasti merasakan desakan yang kuat dalam dirinya untuk menikmati tawaran sang nyonya. Tapi ia memutuskan lari ketimbang menyerahkan diri.

Haruskah aku begitu? Lari? Pindah rumah (lagi)? Aduh, bagaimana kalau aku ditertawakan teman-temanku lagi dan ditanya macam-macam oleh para tetangga yang sudah aku kenal baik?

Well, tetapi si Yusuf pun begitu pula bukan? Dia menerima konsekuensi dari tindakannya; difitnah si nyonya dan kemudian…….. penjara! Ohhhh … baiklah, baiklah. Meski aku sama sekali tidak layak untuk disandingkan dengan nama besar itu, tapi setidaknya aku sudah punya insight sekarang. Baiklah, pindah akan jadi alternatif.

***

Hari ini yang bertugas membawakan khotbah adalah pendeta Rompas. Rasanya ini bukan bulan September, tapi kenapa ya beliau menyinggung peristiwa ‘Tragedi 9/11’? Relevankah itu dengan keadaan di kota ini, khususnya jemaat di gerejaku, pikirku. Namun aku terus menyimak penjelasan beliau. Ternyata, Pdt. Rompas hanya menjadikan peristiwa tersebut sebagai latar belakang saja. Inti pesan yang ia sampaikan kepada kami adalah bagaimana sebuah negara besar setelah dipecundangi kemudian sangat berhati-hati dan waspada.

“Sikap apa yang harus kita tiru dari peristiwa tersebut?” katanya kepada para jemaat.

“Sikap hati-hati dan menjadikan itu sebagai peringatan,” jawabnya. Negara adidaya itu tidak ingin hancur yang kedua kali, dan oleh karenanya mereka sekarang sangat berhati-hati dan waspada (kalau tidak mau dibilang jadi paranoid –itu kataku dalam hati). “Belajar dari kesalahan di masa lalu, bagaimana dengan Anda, jemaat sekalian?” tanyanya kembali.

Bagaimana dengan kami? Kalau aku, jelas. Tentu aku akan berhati-hati terhadap kesalahan yang pernah aku lakukan, responku dalam hati. Hhhmmmm … eh, o ya? Begitukah? Arrgghhhhhh, apakah maksudnya, Tuhan? Engkau memintaku untuk waspada terhadap apa? Terhadap kasus ‘teman tapi mesra’-ku, Iwan?

Hhhhh ….. aku tak bisa mengelak lagi. Kalau itu maksudnya, Tuhan, baiklah. Aku akan berjuang. Demi sebongkah keyakinan bahwa segala sesuatu yang datang dari-Mu (termasuk peringatan-peringatan) adalah baik adanya. Setelah begitu banyak kebaikan yang aku terima dari Engkau.

Aku kini tidak ingin protes pada Tuhan, kenapa gara-gara harus menjadi figur bagi anak-anak muda lalu aku tidak bisa mencintai orang dengan bebas. Aku teringat ayahku. Beliau ketika masih muda banyak perempuan yang menyukainya. Ini yang membuat ibuku selalu merasa unsecure karena cemburu. Akhirnya mereka sering cekcok. Namun meski demikian, beliau tetap setia kepada ibu. Tidak mau punya WIL karena beberapa alasan. Yang pertama, kasihan kepada anak-anak. Yang kedua, hal itu melanggar adat-istiadat kami. Dalam prosesi pernikahan budaya Batak, prosesnya sangat rumit dan sarat makna. Banyak sekali saksi dari kerabat kedua belah pihak. Jadi kalau ada perceraian, seolah-olah tercerai-berai pula kekerabatan kedua belah pihak yang jumlahnya sangat banyak itu. Kemudian alasan yang paling krusial adalah karena keyakinan iman kami melarangnya.

Ibuku sih pernah (sempat) mengucapkan kata ‘cerai’, tapi sepengetahuanku ayahku tidak. Entah kalau di belakang kami. Yang aku saksikan, ayahku berusaha menjadi ayah yang baik bagi kami semua. Kalau mereka sering ribut, seringkali anak-anaknyalah yang menjadi ‘juru damai’.

Akhirnya hal itu membuatku bertekad untuk mempertahankan pernikahanku kelak sampai di akhir hidup kami. Aku setidaknya punya sandaran untuk bersikap setia pada suamiku kelak. Dan tentu saja ujiannya adalah saat ini! Mau tidak aku membiarkan Iwan tetap setia pada Mathilda, istrinya.

Tetapi, o my God! Betapa tidak mudahnya. (bersambung)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.