Pelindung yang Rentan

Dian Nugraheni

 

Ketika Ibuku meninggalkanku di sore mendung dan akhirnya hujan itu, apakah aku lalu membencinya..?

Tidak…

Sebab sebelomnya aku sudah sering mendengar orang-orang berkisah, membahas, atau pun apa judulnya, membicarakan Ibuku. Ya, bahkan juga ketika Ibuku menjawab pertanyaan-pertanyaan orang yang sedang main ke rumah,”mengapa kau gugat cerai suamimu..?”

Ya, Ibuku menggugat cerai suaminya yang tampan, yang pelukis itu, karena suaminya menghina-hina dia ketika masih dalam status pernikahan. Ibuku, jauh lebih keras daripada aku, pantang baginya dihina, meski oleh suaminya sendiri.

Bla..bla..bla..

Jadi aku kecil waktu itu menyimpulkan, bahwa Ibuku meninggalkanku untuk sebuah good reason, maka begitu dia menghilang dan tak kembali malam itu, sendiri, di tempat tidur besi berkelambu putih, aku hanya diam tak bersuara, tak bertanya apa-apa pada orang-orang dewasa di rumahku. Satu-satunya yang kukatakan dalam hati adalah, “Tuhan, buat Ibuku bahagia, jangan dia kehujanan sampai basah kuyup dan kedinginan..” Aku bahkan membuka lemari baju Ibuku, dan meneliti, apakah Ibuku membawa baju hangatnya…dan ternyata tidak…Saat itu aku benar-benar berampun-ampun dan meminta pada Tuhan, agar Ibuku tidak kedinginan di malam gelap di luar sana.

Ibuku pulang lagi, suatu hari…

Aku senang, dan diam-diam mendengar kisah yang diceritakannya pada orang-orang dewasa di rumahku. Diam-diam pula aku merasa “ayem’, setidaknya Ibuku terlindungi, oleh sebuah keluarga dokter, keturunan Cina, yang sangat sopan dan baik hati.

Lalu Ibuku pergi lagi, untuk bekerja dan mencari nafkah. Begitu terus selama bertahun-tahun, Ibuku pergi dan pulang. Sepanjang waktu itu pula, selalu yang terbanyak ada dalam benakku adalah, doa agar Ibuku sehat, selamat, dan bahagia.

Lalu, ternyata aku berkembang menjadi seorang anak kecil yang berkarakter sebagai “pelindung”. Aku melindungi satu-satunya kakak perempuan yang usianya 18 bulan di atasku. Aku mencucikan bajunya, menyetrikakan bajunya menggunakan setrika berkatup pengunci berbentuk ayam jago, dengan pemanas bara arang yang dimasukkan ke dalamnya. Aku mengikuti kemana-mana ketika Kakakku main dengan teman-temannya semata-mata untuk memastikan bahwa tak seorangpun nakal padanya. Tapi oleh Kakakku aku sering dihalau, “Cah cilik rasah melu-melu dolan cah gede…!” Anak kecil jangan ikut-ikutan main anak gede, katanya.

Aku juga mencoba menghibur ketika Kakakku yang waktu itu sama-sama kecil, menangis, “Jangan nangis, nanti Ibu di sana juga sedih…”

Ya, aku kecil, sejak usiaku belom genap enam tahun waktu itu, dengan cepat aku terbentuk menjadi anak “perkasa”, tak pernah merengek, tak pernah terlalu meminta, mengatasi semua dengan diam, ingin melindungi banyak orang, dan seterusnya.

Terlalu dini untuk menjadi perkasa, tak heran ketika aku dewasa, aku kayak overloaded, kejiwaanku goncang dan seterusnya. Tapi syukur pula, aku sudah menemukan beberapa jalan sehingga jiwaku bisa merasakan rileks dan lebih bahagia, setidaknya, aku mampu menolong diriku sendiri.

Kalau ada yang bilang, menjadi janda (duh, bahasanya hixixixi, janda gitu loh..!!), okay, aku ganti, jadi kalau ada yang kusak-kusuk di belakang, bahwa aku menjadi single adalah kutukan turunan, yaa, aku menyesali untuk Ibuku, karena sampai akhir hidupnya di usia 48 tahun, beliau belom sempat bahagia menurut versiku, tapi, setidaknya, bagiku, aku bisa bilang bahwa aku baik-baik saja, hampir seperti tak merasa kurang dibanding bila ada pasangan, atau bahkan maaf, bukan mengecilkan arti pasangan, bahwa aku merasa jauh lebih baik ketika sendirian.

Foto: Bunga Sepatu, akrilik di atas kanvas, belom selesai, capek duyuuu…

Dan, kalau memang itu sebuah kutukan turunan, aku rela mengambilnya menjadi bagian dari hidupku, janganlah ini menimpa satu-satunya kakak perempuanku, sebab aku yakin seyakin-yakinnya, dia ga bakalan mampu tegak berdiri tanpa pelindung, seorang suami di sisinya…

 

 

One Response to "Pelindung yang Rentan"

  1. s.Goh  23 August, 2018 at 14:50

    good story…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.