[Imelda’s Stories #3] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain – Selesai

Emma Debora

 

Artikel sebelumnya:

[Imelda’s Stories #1] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain

[Imelda’s Stories #2] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain

 

Aku memasuki tahun 2018 dengan berbagai perasaan. Gembira karena diperkenankan memasuki tahun berikutnya, sedih karena ada tantangan yang harus aku lewati. Pada minggu ketiga bulan Januari 2018, aku ditemani oleh Judi mencari rumah sewaan. Tidak gampang, karena kali ini kriterianya lebih banyak. Kamar pribadi, ruangan pertemuan, dan dapur serta kamar mandi yang dekat dengan aktivitasku.

Tetapi ada beberapa alternatif. Aku menyurvey semua alternatif itu. Judi cukup sabar mengantarku dengan motornya dan sekaligus memberi masukan. Katanya, sebaiknya aku memilih rumah yang tidak jauh dari jalan besar. Sebab, akan ada banyak teman-teman yang datang nantinya. Aku pikir, betul juga.

Di hari ketiga, barulah kami menemukan tipe rumah yang aku cari. Setelah bertanya ini dan itu kepada penghuninya, akhirnya aku diberi nomor telepon pemilik rumah itu, Ibu Haji. Dan aku tidak perlu menunggu waktu lagi, saat itu juga aku mengirim pesan pada Ibu Haji, dan tak lama kemudian beliau menelepon. Kami janjian bertemu di rumah itu besok untuk membuat kesepakatan.

Masih bulan Januari, tapi aku sudah memastikan akan tinggal di rumah itu awal bulan Maret. Aku bersyukur karena Tuhan memberiku jawaban doa begitu cepat. Dan tipe rumah sewa yang aku cari mendekati impianku. Harganya pun tidak terlalu mahal.

***

Selanjutnya, aku harus melewati sekian minggu di rumah Zus Jerita dengan amat berat. Karena beberapa alasan, aku tidak langsung pindah saat itu juga meskipun sudah membayar uang muka. Selama masa jeda ini aku manfaatkan untuk menjelaskan pada Mama Jordan mengenai rencana kepindahanku. Ia sangat terkejut, namun berusaha maklum karena ia tahu bahwa sejak lama aku memang mencari ‘rumah’ bukan ‘kamar’. Tapi ia menyayangkan karena katanya, kami sudah dekat dan harus berpisah. Sayang sekali, aku tidak bisa menanyakan perihal gosip yang disampaikan oleh dia kepada Maria soal aku dan Iwan. Rasanya berat sekali lidah ini. Kenapa ya? Apa aku takut menyinggung perasaannya? Entahlah … aku merasa lebih baik dipendam saja.

Tetapi karena itu pula relasiku dengan dia tidak lagi hangat. Aku kebingungan bersikap. Kalau mau protes bahwa aku tidak pacaran dengan Iwan, nyatanya aku pernah memiliki perasaan khusus pada lelaki itu. Jadi, aku hanya bisa diam sambil menjaga sikapku pada Iwan sebaik mungkin. Iwan pun pada akhirnya merasa bahwa aku menjaga jarak padanya.

“Ada apa Mel?” tanyanya suatu kali ketika akhirnya ia tahu bahwa aku akan pindah kos.

“Nanti deh, aku cerita kapan-kapan,” jawabku. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa pada Iwan. Masa aku bilang bahwa aku menyukainya? Lalu mengatakan bahwa perasaanku padanya dilihat oleh Zus Jerita, yang kemudian disimpulkan oleh Zus Jerita bahwa kami berpacaran?

Akhirnya, aku pindah kembali ke tempat yang hanya berjarak 1 km saja. Aku tidak peduli lagi apa kata orang. Yang penting, aku sudah berada di tempat baru dan terbebas dari ‘jebakan’ kedua sahabatku, Iwan dan Zus Jerita. Aku sungguh tidak bermaksud memusuhi mereka, hanya memberi jarak aman untuk sementara.

Ketika akhirnya Iwan tahu aku pindah, berkali-kali ia menanyakan, ‘ada masalah apa, ada persoalan apa sehingga kamu pindah, nona?’ Dan berkali-kali pula aku menjawab, ‘nanti, nanti Wan, penjelasannya,’ jawabku mengulur waktu.

Karena penasaran, malam setelah aku menempati rumah baru Iwan meneleponku. Ia minta maaf jika ada kesalahan yang ia buat terhadapku. Atau jika ada perkataan Mama Jordan yang melukai hatiku, katanya. Aku menjamin bahwa tidak ada kesalahan yang ia buat. “Ini murni masalahku,” kataku. Entah dia percaya atau tidak, nantilah ada waktunya aku jelaskan, janjiku dalam hati.

Ketika kami bertemu di gereja, ia bertanya kembali. Tapi kali ini ia menyampaikan pertanyaan dari Mama Jordan. “Melda, Mama Jordan tanya, apa sih masalah yang membuat kamu pindah?” Aduh, bagaimana aku menjelaskannya ya? Masa aku harus bilang bahwa aku pindah untuk menghindar dari kemungkinan terjadinya perselingkuhan? Aku tidak siap mengatakan hal itu pada Iwan, apalagi pada Mama Jordan!

Syukurlah akhirnya rasa penasaran Iwan lenyap juga. Akupun mulai bisa memusatkan perhatianku pada orang-orang yang aku temui sehari-hari, baik di sekolah maupun di komunitas.

Di rumah kontrakan yang aku sewa 2 kamar itu, dihuni oleh beberapa keluarga. Rumah milik Ibu Haji ini lumayan besar. Letaknya tidak jauh dari tepi jalan. Seluruhnya ada 4 kamar tidur; dua kamar di antaranya dilengkapi kamar mandi. Ada ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. Lalu di belakang ada dapur dengan penataan modern, satu kamar mandi umum dan satu ruangan kecil untuk mencuci piring dengan bak penampung air. Di sebelah dapur ada paviliun yang memiliki akses pintu keluar. Di paviliun ini ada dua kamar. Satu ukuran kecil untuk tidur, satu lagi ukuran besar untuk ruangan kerja dan pertemuan-pertemuan.

Karena rumah ini akan kujadikan sekretariat kegiatan mentoring juga, aku menyewa lagi salah satu kamar yang masih kosong. Jadi, seluruhnya ada 3 kamar yang menjadi areaku. Cukuplah, pikirku. Aku berharap bisa lama tinggal di sini.

Lalu, apakah di rumah baru persolan lawan jenis tidak ada? Tidak juga. Salah satu penghuni kamar di bagian depan adalah seorang duda yang tinggal bersama anak lelakinya. Aku tidak ingin alergi dengan laki-laki, siapapun dia. Tetapi cukuplah pelajaran yang kuterima selama tinggal dan berkawan dekat dengan lelaki lain.

Kali kini aku sudah lebih siap menghadapi para lelaki beristri agar tidak sampai masuk kembali pada ‘jebakan’nya. Kalau sebelum-sebelumnya aku memakai jurus menghindar, kali ini dengan jurus ‘menjaga jarak aman’ saja.

(Selesai)

 

 

2 Comments to "[Imelda’s Stories #3] Tidak, Bukan Wanita Idaman Lain – Selesai"

  1. emma  5 September, 2018 at 09:08

    Ini kombinasi antara real story dan bbrp tambahan/pengembangan imajinasi.

    ternyata, mnrt bbrp pakar sastra, cerita fiksi itu hrs lahir dari realita/fakta. terimakasih utk opininya @Alvina. semoga sy bs kirim cerita2 lainnya.

  2. Alvina VB  5 September, 2018 at 00:15

    Ini cerpen seperti kehidupan sehari-hari ya. Apa ‘based on true story’?
    Selamat menulis cerita2 yg lainnya ya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.