Traveling Partner

Straight Line

 

Dear Baltyrans,

 

Kembali lagi bersama saya setelah cukup lama vakum hahaha. OK, karena saya cukup lama vakum, kali ini saya bakal berceloteh panjang dikit. Yah seputar traveling, tapi bukan soal makan atau tempat-tempat yang saya kunjungi, pengalaman yang saya tulis disini seputar curahan hati seorang traveller yang pergi sama temennya. Yah karena kalo soal makanan saya sendiri orang yang pemilih dan susah soal makanan, bukan orang yang pinter ngemil haha, jadi tidak akan saya bahas di sini.

Pergi dengan teman/traveling partner itu sebenarnya sesuatu yang agak jarang saya lakukan, kecuali pergi dengan keluarga yah. Pernah saya baca di suatu group di media sosial mengenai suka duka punya traveling partner. Salah satu yang bisa dipetik dari celotehan sesama traveller itu mungkin benar katanya kalo mau lihat sifat asli seseorang, ajaklah dia traveling.

Jadi beberapa bulan yang lalu, setelah kepulangan saya dari Hong Kong, ada temen kantor yang ajak pergi ke negeri tetangga, sebut saja Singapore. Setelah saya dan temen jalan-jalan saya memilih tanggal (kebetulan long weekend, biar ga ribet minta cuti) maka ditunggulah waktu itu. Selama selang waktu itu teman saya pun berceloteh tentang apa yang akan dia beli dan dia mau nanti setiba di Spore.

Saya pikir yah biarkan saja dia ngoceh, mungkin itu euphoria dia karena akan pergi jalan-jalan. Sedangkan saya memilih diam, karena sebenarnya tidak tau harus berkata apa. Meski menjelang kepergian saya tau traveling partner saya bukan kali ini saja ke Spore.

Ketika hari H tiba dan saya sudah tiba di airport, drama pun dimulai. Sewaktu screening menuju bagian imigrasi, koper  partner saya kedapetan membawa botol cairan besar yang entah berapa ukurannya. Oleh petugas screening diberitahu jika ketentuan barang bawaan ke dalam kabin pesawat adalah cairan dibawah 100 ml. Partner saya ngotot kalau yang dilihat adalah (isi) cairannya yang 100 ml, sedangkan yang dia bawa adalah botol-nya yang memang besar, cairan-nya (menurut asumsi teman saya) kurang dari 100 ml. Terlebih lagi (menurut partner saya) ketika kepergian dia ke Spore beberapa bulan lalu dan dia membawa botol yang sama, lolos dari pengawasan petugas, kali ini kenapa dipermasalahkan?

Let’s say, ok, membawa cairan di atas 100 ml ke dalam kabin itu dilarang dan sudah aturan internasional.

Partner saya tetap ngotot kalau yang dihitung adalah isi (cairannya) yang kurang dari 100 ml. Teriakan dan marah pun muncul dari partner saya, kemudian keluarlah petugas airport yang lebih senior, menegaskan aturan di bawah 100 ml tadi.  Partner saya pun tetap ngotot dengan asumsinya. Petugas pun marah dan meminta partner saya untuk membuang barang yang disita sambil meminta HP partner saya. Partner saya tetap kekeuh tidak mau memberikan HP-nya.

Partner saya membalas “buang aja sana, ngapain saya buang barang sendiri. Nanti kalian situ juga tuh barang dipakai sama kalian (petugas)” sambil berlalu. Sang petugas pun memanggil partner saya sambil membuang dan membanting barang sitaan plus mengancam akan mengeluarkan partner saya dari airport. Partner saya pun pergi dan melanjutkan proses di imigrasi.

Saya hanya bisa terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sembari berlalu dan melanjutkan proses di imigrasi. Setelah proses imigrasi selesai, saya bertemu dengan travel mate saya dan mendengarkan celotehan dia, panjang dan lebar. Waktu itu saya masih kaget dengan kejadian dia bertengkar dengan petugas screening, jadi saya diam saja.

Tiba dengan selamat sampai negara tujuan, kita pun kembali ke hotel, istirahat sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan dengan berkeliling, mall to mall hahaha. Apalagi yang dilakukan kalo bukan belanja? Yaaahh…tidak semua barang dibeli, kalo saya pribadi, saya hanya melihat-lihat saja, travel partner saya yang belanja.

Ada suatu saat ketika saya dan teman saya berkeliling, dan berkumpul di suatu point melihat dia membawa beberapa tentengan belanjaan dan dia sendiri lupa untuk claim refund GST (refund tax). Karena kalo di Spore, kalo ga salah setiap pembelanjaan di atas SGD 100, turis bisa claim refund tax. Saya dan partner pun kembali ke store tempat dia belanja. Saya sempat penasaran soal perhitungan refund tax ini. Ketika saya nyeletuk “dapet berapa refund tax lo ?” lalu temen saya bales “udah ah, jangan liat-liat bill belanjaan gw!” Saya diam setelah itu.

Travel Partner, yang cocok itu gampang-gampang susah mau ditemukan.

 

Salam Cap Travel Partner,

SL

 

 

About Straight Line

Dari luar Pulau Jawa yang merantau ke Ibukota menapaki kehidupan yang lebih baik. Seorang pejuang sejati meraih impian karirnya.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Traveling Partner"

  1. Straight_Line  20 September, 2018 at 21:00

    iya bener. dan paling gondok tuh travelling partner gw itu nyolot orangnya, ga bisa dikasitau. abis itu gw kapok deh keluar ama dia, balik ke indo langsung jadi “mantan travelling partner”. suer gw ogah keluar ama org gini. paling enak tuh keluar ama keluarga sendiri, karena dah tau baik buruknya, malah kebanyakan ketawa-nya.

  2. erny  19 September, 2018 at 16:19

    heheh saya juga punya pengalaman yang kurang nyaman dengan travel mate saya (ini pengalaman pertama saya pergi hanya berdua dengan teman) ternyata kelakuan dan ucapannya sempat bikin saya shock karena sangat beda dengan sehari2. jadi ucapan ” kalo mau lihat sifat asli seseorang, ajaklah dia traveling” ada benarnya karena saya sudah mengalami sendiri.
    saya berpikir cukup sekian dan terima kasih pergi dengan dia hahahhaa.

  3. Alvina VB  3 September, 2018 at 08:58

    SL: paling enak travelling sama keluarga sendiri aza, krn udah tahu kelakuannya kaya apa….gak pernah tertarik punya travelling partner dari dulu sampe sekarang, he…he….pernah juga travelling sama rombongan sekolahan jadul, he..he…lain lagi yak ceritanya.

  4. Straight_Line  29 August, 2018 at 18:43

    Saya sendiri juga sangat menyayangkan sikapnya waktu itu. padahal bukan kali itu saja dia ke luar negeri.

    Malah partner saya itu nyeletuk : “kalo di indo gw berani, kalo di luar (negeri) gw ga berani”.

    Banyak orang indo yang suka kagum akan kedisiplinan bangsa luar, tapi ketika melihat kelakuan orang dalam negeri sendiri yang susah diatur, merasa miris. Bukannya kedisiplinan itu dimulai dari diri sendiri ? bukan hanya sekedar rasa kagum.

  5. James  29 August, 2018 at 12:39

    ini adalah kebanyakan dablegnya manusia Indonesia, sudah tahu bahwa itu peraturan Penerbangan Internasional demi pencegahan bom berupa cairan, masih saja ngoto berdebat dengan Petugas Bandara, buang waktu, buang energi dan MALU nya itulah karena Dampak Indisipliner

    Saya banyak sekali mendengar sikap tingkah laku orang Indonesia kalau traveling ke LN, suara Negatif suara sumbang perihal Bangsa Indonesia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.