Menuju Olimpiade?

Osa Kurniawan Ilham

 

Pengin tahu bagaimana anak kita kelas 2 SMP belajar mata pelajaran Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di sekolahnya? Dengan menggunakan buku teori setebal 318 halaman ini di dalam kelas dan sesekali praktek di luar kelas.

Saya sudah lama merasa ada yang salah dengan metode pengajaran olahraga di sekolah-sekolah kita, tapi siapa sih saya hanya seorang ayah yang cerewet pada keadaan?!

Tahun 2014 saya mengirimkan email kepada Mendikbud yang baru dilantik oleh Jokowi saat itu. Saya usulkan untuk pelajaran olahraga nggak usah terlalu banyak teori dalam kelas. Suruhlah anak untuk keluar kelas lalu berlari, meloncat, melompat atau berjalan. Setelah itu baru olahraga permainan.

Jadikan Endurance Standard Test yang dilakukan di sekolah-sekolah Singapura sebagai standar yaitu berapa menit berlari sejauh 2,5km? Berapa kali bisa melakukan push-up selama 60 detik dan berapa kali bisa melakukan crunch selama 60 detik. Setiap hasilnya ada poin yang akan menentukan level endurance anak-anak kita ada di mana. Itu yang saya lakukan di tempat kerja sekarang untuk mencapai standar stamina yang diharapkan. Sayang, karena patah kaki ini kegiatan rutin itu jadi belum bisa lagi saya lakukan.

Usulan itu tidak pernah ditanggapi oleh pak menteri dan saya kaget waktu kemarin melihat anak saya menghafalkan teori olahraga dari buku setebal ini waktu akan ulangan di sekolahnya.

Mungkin minimnya lapangan menjadi kendala utama…Tapi tidak bisakah stadion atau lapangan yang ada bisa digunakan secara bergiliran selama 7 hari oleh setiap sekolah di wilayah sekolah itu berada? Atau kalau perlu pemerintah paksa developer untuk membuat fasum atau fasilitas umum berupa stadion mini untuk atletik bila mereka membangun proyek perumahannya. Toh stadion mini seperti itu juga bisa dijadikan taman bermain?

Tidak ada yang tidak bisa kalau ada niat. Saya ingat dulu dari SD sampai SMA kami masih melakukan semua pelajaran olahraga itu di lapangan. Hanya ketika belajar tentang ilmu gizi kami baru belajar di dalam kelas.
Kenapa sekarang tidak bisa?

Ini PR untuk presiden, mendikbud, menpora dan kepala daerah kalau kita ingin berprestasi dalam bidang olahraga. Apalagi mau punya mimpi sebagai tuan rumah olimpiade lagi?!

 

 

2 Comments to "Menuju Olimpiade?"

  1. Sumonggo  6 September, 2018 at 11:26

    He he .. Olahraganya cuma di gawai …..

  2. Lani  5 September, 2018 at 07:59

    Waduh olahraga kok disuguhi buku teori menurutku tidak ada manfaatnya…….yg penting praktek, praktek……..dilapangan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.