Baper Cinta, Sahabat yang Lambat Dewasa

Emma Debora

 

Prahad membuka lipatan lembar pertama surat berwarna abu-abu itu. Surat dari Keziah, sohib di kampusnya dulu. Peradaban sudah maju begini, masih ada yang mengirim surat di atas kertas dikirim via Pos pula? Itulah Keziah, teman paling unik yang ia punya.

Tok, tok, apa kabarmu Bro?

Jangan nyinyir yes, kalau membaca suratku ini.

Yes?

Apa nggak bisa pakai istilah Indonesia saja? ‘ya’, gitu. Kok nggak enak aku bacanya, batin Prahad. Mereka sudah 35 tahun kini. Bukan anak muda lagi yang berbahasa suka-sukanya. Tapi pasti Kez protes. “Kita masih kategori milenial, Prah,” katanya selalu. Iya, milenial. Tapi surat lo itu, bukan produk milenial tauk. Ini produk rezim orba ke bawah. Kenapa nggak pake email atau What’s App aja seh, umpatnya lagi.

Aku nggak mau pake cara meinstrim, kirim surat by email. Aku mau pakai gaya klasik dulu, surat aseli di kertas dan dikirim dengan jasa pos & giro.

Oh, seakan si Keziah bisa membaca pikiranku, gerutu Prahad. Dia menjelaskan kenapa pakai kertas surat dan dikirim via pos. Eh, tapi kamu itu nggak update Kez. Bukan pos & giro. Udah lama jadi PT. Pos Indonesia. Apa apa denganmu? Kenapa belum melangkah ke pelaminan juga? Bagaimana kabar Dania? Kali ini Prahad bertanya dengan bersuara. Berbicara sendiri.

Aku mau curhat lagi bos.  Biasalah, soal cewek. Tapi kali ini lebih pelik. Bukan tentang  WillaDania. Dia aman-aman saja. Secara, dia kan sudah mature juga toh? Tentu kamu bertanya aku mau curhat tentang siapa?

Siapa lagi kalo bukan nenek sihir itu. Sebel aku dengernya. Tiap hari nulis yang jelek-jelek tentang  aku. Sepanjang soal-soal remeh dan hal biasa, aku nggak masalah. Tapi ini dia buka-bukaan soal kejadian yang lalu-lalu, yang menurutku cukup hanya untuk kami saja.

Kau pasti bertanya kenapa si Pompi, nenek sihir itu buka aib di media sosial. Aku juga enggak tahu kenapa dia melakukan hal itu. Dania belum tahu sedikitpun soal ini. Tapi aku yakin, suatu saat akan tahu juga. Aku ngenes Prah. Sebal tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah DM dia supaya jangan menyebut namaku dengan sevulgar itu, kena UU ITE baru tahu. Tapi si Pompi nggak peduli. Dia makin lancang.

Prah, aku khawatir WillaDania akan tahu juga pada akhirnya. Tapi aku masih takut menjelaskan soal ini ke dia. Salah bicara, bisa kabur dia. Aku belum yakin dia mau terima alasanku. Si mbak satu itu, kelewat puritan, you know? Pantesan masih jomblo sampe sekarang. Idealis kayak gitu, siapa yang mau sama dia?

Eh, elo kan yang mau sama dia? Prahad protes pada surat si Keziah. Ampun deh ini orang. Nggak dewasa-dewasa juga dia. Prahad hobi sekali mengatai Dania kelewat idealis sehingga menjomblo terus karena tidak ada yang mau. Tapi kawannya ini mengejar-ngejar dia.

Prahad membuka lipatan kertas kedua.

Aku mesti gimana Prah? Tertulis dengan kalimat sebesar anak  gajah. Besar sekali sampai menghabiskan tiga perempat halaman surat itu. Di bawahnya tertera nama dan tanda tangan Keziah.

Keziah sungguh membosankan. Dia menulis surat hanya mengatakan sebagian kisah saja. Bulan lalu kawan sekaligus sparing partnernya ini ngomel-ngomel karena Pompi, si ex pacar sudah punya pacar baru. Mengomelnya di telepon. Berjam-jam pula. Lalu Prahad menantang Kez melakukan hal yang sama bersama WillaDania. Tapi Keziah keberatan.

“Dania nggak bakalan mau. Dia itu jaga wibawa banget Prah. Lagian, kami belum sepakat mau jalan atau enggak. Keluarga besarnya nggak setuju.”

Ya iya sih, mana ada orangtua yang setuju anaknya pacaran dengan lelaki don yuan begitu. Keziah sangat populer di kampusnya dulu. Melebihi popularitas Dewa 19 sepertinya. Tebar pesona kemana-mana. Tapi yang Keziah sering lupa, mbak Dania itu sepengetahuannya tidak ingin menikah. Khas wanita mandiri. Dan yang ia dengar dari istrinya, perempuan berambut coklat itu pernah meminta pengertian ibunya untuk melajang seumur hidup. Entah bagaimana reaksi ibunya, tidak ada informasi soal itu.

Terus kenapa si Kez naksir Dania dan berencana menjadikan dia pacar? Apa ingin menjadikan perempuan itu sekedar bamper untuk memanas-manasi Pompi? Prahad curiga dengan modus sohibnya itu.

Sepanjang histori percintaan Keziah, Prahad menyaksikan baru kali ini yang agak rumit. Dia dan Pompi dipertemukan di sebuah acara Pentas Seni. Kala itu Pompi jadi bagian Marching Band di kampusnya dan Keziah sedang meliput kegiatan itu untuk keperluan website yang dikelolanya.

Pompi tampak manis dalam balutan seragam marching band. Ia mengambil beberapa gambar, sekian diantaranya wajah gadis itu. Usai pengambilan gambar, Keziah menghampiri Pompi di sesi jeda meminta waktu untuk berbincang-bincang. Setelah itu mereka bertukar nomor telepon, dan berlanjutlah jalinan pertemanan mereka. Keziah tidak butuh waktu lama untuk mengambil hati sang gadis. Belum genap sebulan, tersiar kabar kalau Keziah punya pacar baru anak Marching Band.

Suasana aman terkendali selama beberapa waktu. Keziah tampaknya nyaman dan merasa pas dengan gadis cantik dan manis yang sama populernya. Tapi tanpa ada pemberitahuan apa-apa, tahu-tahu Keziah mengumumkan kalau ia dan Pompi sudah putus. Putus baik-baik, kata Keziah. Sekarang ia sedang mendekati WillaDania setelah mendapat bantuan pencomblangan dari Piere, teman seperguruannya di komunitas fotografi.

Tapi baik-baik apanya kalau kemudian terjadi huru-hara antara dia dan Pompi?

***

Prahad mengamati mimik dan gaya bicara perempuan di depannya dengan seksama. Sangat tertata dan terkendali. Ia tidak begitu mengenal WillaDania tapi sudah pernah membicarakan beberapa hal tentang Keziah. Senja di pergantian langit jingga menuju malam itu, mereka bertiga, ia, Mila istrinya dan Dania sepakat bertemu. Membicarakan ‘adik bungsu’ mereka alias si bayi besar itu, mau diapakan dia. Keziah berbuat ulah lagi. Setelah keributan dengan Pompi di sebuah grup What’s App, mereka saling mengancam akan saling menjelekkan perangai masing-masing. Tapi yang membuat penonton terpukau adalah ketika seseorang memancing Keziah apakah sebetulnya dia masih cinta Pompi atau tidak; lelaki itu menjawab lugas ‘sebenarnya masih’.

Lalu hal yang sama ditanyakan kepada Pompi. Gadis itu tidak menjawab, tapi dia mengirim pesan japri ke admin WAG. Minta menegur Keziah jangan banyak bicara lagi. Dia mau balikan asal statusnya dengan mbak Dania diperjelas dulu. Apakah dua insan itu berpacaran atau tidak. Si admin bersedia menjadi penengah antara mereka.

Tapi suasana panas kembali ketika Keziah mengumumkan ke beberapa pihak kalau dia sebetulnya hanya main-main. Tidak bersungguh-sungguh masih mencintai ex pacarnya itu. Ia keceplosan bicara dan sebetulnya hanya bermaksud mendinginkan perang badar itu.

Karena keriuhan itu terjadi secara terbuka, akhirnya ada yang diam-diam melapor kepada Dania. Dania kesal dan ingin mengajak Keziah berbicara empat mata. Tapi Keziah tidak memberi jawaban yang tegas, antara mau dan tidak bertemu Dania. Akhirnya ditempuhlah langkah ini. Dania meminta bantuan Prahad dan istrinya mencari cara mengatasi sikap Keziah.

“Kau tahu Had, aku tidak serius-serius amat menanggapi aksi playboy si Keziah. Tapi dia itu juga kelewat caper. Aku juga berkali-kali bilang, santai aja. Kita berteman saja dulu. Tapi entah kenapa, dia itu suka sekali pamer. Aku curiga, dia mendekati aku hanya untuk memancing reaksi si Pompi. Bejat nggak orang seperti itu?” kata WillaDania. Nadanya datar, tapi ada sesungging senyum di bibirnya.

“Oh, sangat mbak. Kita semua tahu apa sih kurang bejatnya si Keziah itu?” Mila menanggapi penuh semangat.

“Yah, tapi bagaimanapun dia teman kita. Dia hanya lambat dewasa karena terhalang tampangnya yang rupawan itu. Kita harus menolongnya. Kalau tidak, bisa-bisa dia baru menikah setelah usia 60. Ngeri aku membayangkannya,” tutur Prahad prihatin.

“Aku sih enggak. Biar aja dia menjomblo seumur hidup,” tukas Mila.

“Kalau aku tengah-tengahlah. Jangan 60, usia 50’lah dia baru menikah,” canda Dania.

Hahahahaha ……

“Tapi aku mau tanya kamu mbak, kalau si Keziah balik sama Pompi, kamu nggak apa-apa?”

“Ah, biar aja. Untuk orang seperti dia, nggak apa dijadikan bamper cinta. Kali ini aku cukup beruntung, tidak terlalu mengambil hati sikap Keziah.”

“Untung mbak yang dijadikan bamper, coba kalau yang lain. Pasti sudah terjadi Perang dunia entah yang keberapa,” Mila masih sewot.

“Iya, tapi ingatkan dia Had, bagaimanapun tidak baik menjadikan seseorang sebagai bamper. Apalagi untuk urusan perasaan. Sudah banyak korban berjatuhan karena pria dan wanita yang sakit hati dijadikan pelampiasan orang yang sedang putus cinta. Ingatkan dia. Kalau tidak mau kualat, berhentilah di aku. Tapi kalau memang penasaran bagaimana rasanya kena kualat, ya silakan teruskan kebiasaan itu,” Dania mengingatkan.

“Setuju,” pekik Mila.

Prahad mengangguk. Keziah, sahabatnya yang baik itu adalah yang paling terlambat dewasa. Keziah punya segalanya, kecuali tantangan menghadapi krisis. Semoga Tuhan memberi dia sedikit masalah, bisik Prahad penuh harap. Tampaknya kali ini doanya kurang baik. ***

 

 

2 Comments to "Baper Cinta, Sahabat yang Lambat Dewasa"

  1. Dewi Aichi  18 September, 2018 at 19:47

    suka banget tulisan ini………..

  2. emma  13 September, 2018 at 09:38

    dear Baltyra, trims ceritanya sdh tayang. tp ada salah ketik, sorry blm sempet dikoreksi wkt kirim by email.

    harusnya BAMPER ya, bukan baper

    bamper itu semacam pengganjal, spt bamper mobil, gt.

    trims ..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.