[Imelda’s Stories] Politik Dinasti

Emma Debora

 

Ia lega ketika mengingat ucapan Pak Benyamin Mangkudilaga … ‘tolong jangan membawa saya pada dilema ini’. Maksudnya, dalam posisinya sebagai pejabat negara jangan pernah diberi sesuatu, meskipun itu sebagai simbol persaudaraan. Semata-mata demi kepatuhan pada aturan hukum yang berlaku.

 

Hanya karena mengirim pesan pendek usulan tema diskusi mingguan di radio Swara, Imelda mendapat telepon dari produser acara  itu.

“Hallo, ini dengan Imelda?” kata suara dari seberang.

“Iya betul, ini dengan siapa?” tanyanya.

“Ini Andriani dari radio Swara. Kalau boleh tahu, ini Imelda yang dulu sekolah di SMA 1 Sedayu ya?”

“Betul. Kok tahu?”

“Yang jurusan A3?”

“Iya.”

“Yang satu genk sama Damayanti, Ieda, Ade?”

“Hmmm … iya tepat. Ini Andriani mana ya? Tahu tentang saya dari sana?” tanya Imelda penuh selidik.

“Hei Mel, apa kabar? Pasti kamu lupa sama saya. Saya sohibnya Mumu, kelas A3 dua. Kalian A3 satu kan?”

“Andriani …. Andri? Oooo Andri? Andri cewe?” tebak Elda.

“Haha, iya, aku Andri cewe. Soalnya di SMA 1 kan banyak nama Andri, cowo-cowo lagi,” kata Andriani yang sudah meng’aku’, bukan lagi ‘saya’.

“Astagaaa, jadi kamu kerja di Swaratama Radio ‘Ndri?” Imelda terkejut karena ada teman lamanya yang bekerja di radio favoritnya.

“Iya udah 4 tahun, dan tetep setia di bagian pemberitaan,” jelas Andriani.

“Padahal kuliah kamu bukan di jurnalistik kan?” tanya Imelda kembali.

“Bukan, aku di fakultas hukum. Sempet kerja 6 bulan di LBH Jakarta jadi pengacara buat para petani di Indramayu. Tapi kemudian ditawarin kerja di radio jadi reporter. Lama-lama jadi produser deh …” terangnya.

“Ck ck ck … hebat, hebat kamu Ndri,”  puji si kawan lama.

“Ah, biasa aja. Aku memang seneng banget kerja di media. Dinamis, dan selalu jadi orang pertama yang tahu berita,” katanya bangga.

“Wuihhhh mantaaaap!” Imelda setuju dengan Andriani, meski sekarang sudah ada media sosial yang kadang-kadang bisa menandingi kecepatan media mainstream dalam menangkap isu-isu terbaru. Tapi kalau soal akurasi, ia masih percaya pada media mainstream. Semata-mata karena di sana ada proses cek dan ricek yang lumayan ketat.*)

“Mel, berarti yang kirim pesan pendek usulan topik diskusi itu kamu ya? Soalnya nama Imelda Simarmata langka banget, hehe…”

“Iya. Eh, nama Imelda sih banyak, tapi Simamarta memang nggak ‘gitu banyak.”

“Tema Politik Dinasti yang kamu usulin bakal dijadiin tema diskusi besok lho Mel. Tapi ini dia nih. Host utama kami dua-duanya pada nggak bisa bertugas. Sebetulnya, acara diskusinya bakal diliburin karena ada hari raya. Tapi pimpinan minta acara itu tetap jalan. Padahal, host dan narasumber utama udah pada kabur dari Jakarta. Akhirnya kami hanya dapet narasumber yang ada di Jakarta besok. Salah satunya si Furqon. Dia sempet nggak mau karena merasa nggak kompeten. Tapi aku bilang, hal-hal yang dia kuasai aja yang akan dia jelaskan besok.”

“Furqon siapa ‘Ndri? Apa anak SMA 1 juga?”

“Iya, dia dua angkatan di bawah kita. Dulu sempet jadi anggota OSIS. Nggak gitu terkenal waktu itu, tapi dia sekarang jadi salah satu orang kepercayaan para petinggi di provinsi kita Mel ….” Andriani berusaha mencairkan suasana.

Imelda menganguk-angguk. Belakangan, kasus tertangkapnya kerabat orang nomor satu di wilayah ini karena dugaan korupsi telah membuat orang-orang yang ia kenal menjadi sorotan. Nama-nama yang disebut oleh televisi, radio, koran, dan media online sebagai ‘orang dekat’ dari pihak tersangka (terduga?) adalah teman-teman satu sekolahnya di SMA.

Kemudian Andriani menjelaskan bahwa Furgon, yang akan jadi narasumber besok perlu dibantu dengan beberapa masukan apabila ada pertanyaan-pertanyaan atau serangan-serangan dari narasumber lain terkait kasus yang sedang diangkat.

Imelda kebingungan. “Aku mesti ngasih input apa?”

“Yang kamu bisa aja Mel. Kami yakin kamu menguasai topik. Secara, udah ngusulin tema kan? hehe. Staf-staf di kantor juga udah pada tahu kalo tema yang kamu kuasai itu sekitar isu sosial dan politik.”

“Apa? Memangnya pesan-pesan pendek yang aku kirim kalian simpan?”

“Iya dong, kami pelajari. Pendengar yang lebih dari 10 kali kirim pesan pendek ke radio Swara diberi perhatian khusus dan kalau mungkin sesekali diundang untuk talk show.”

“Waduh, jangan deh kalau talk show.”

“Hehe, ya udah. Untuk sementara di belakang layar aja dulu,” Andriani menutup pembicaraan.

Imelda garuk-garuk kepala demi mendengar penjelasan Andriani. Ternyata, pesan pendek yang ia anggap iseng belaka diperhatikan Andriani, dkk.

***

Imelda mendengar berita heboh yang melibatkan petinggi di provinsi X ketika sedang berada di Semarang. Di kamar tempat ia menginap, matanya tak lepas mengamati layar televisi yang hampir setiap menit memberitakan kasus suap tersebut. Lima tahun lalu, ia dan Fany sahabatnya pernah membahas habis soal track record sang pejabat dan keluarga besarnya. Tak kurang buletin ASASI pun pernah memuat tulisan salah satu dosen PTN di kota Sedayu tentang kiprah mereka yang konon sarat dengan KKN. Tapi rupanya hanya mereka saja yang masih concern. Media apapun kala itu belum ada yang mengupas sampai detil tentang keberadaan mereka. Mungkin belum ada momentum yang pas, Imelda mencoba berbaik sangka.

Sejak keluarganya bermukin di kota Sedayu, tak ada yang tak kenal siapa petinggi itu. Ibunya pernah bilang, saat acara 100 hari wafatnya ayah dari pejabat itu, seluruh masyarakat yang datang ke sana ketika pulang dibekali amplop. Karena peristiwa itu berdekatan dengan pilkada, maka ibu-ibu yang mendengar perihal itu jadi ribut. Ibunya sih tidak datang. Dia mendengar dari para tetangga. Berita seperti ini cepat tersiar di lingkungan mereka, karena lokasi rumah tinggal pejabat itu hanya berjarak sekian kilometer saja dari rumah orangtuanya.

Suatu ketika ia bergosip dengan ayahnya soal kiprah pejabat tertinggi itu. Tapi tumben, ayahnya tak banyak berkomentar. Beliau hanya mengatakan bahwa terpilihnya sang pejabat memang disengaja. Selebihnya, sang ayah tidak mau terpancing oleh pertanyaan-pertanyaan Elda. Elda tahu, sewaktu masih aktif berdinas ayahnya mengenal banyak sekali pejabat baik di daerah maupun di pusat. Mereka tak sungkan minta ini dan minta itu yang jadi komoditi unggulan di wilayah. Ayahnya waktu itu bertindak sebagai mediator. Sekali waktu, salah satu menteri di era tahun 90-an minta disediakan sekian ton kelapa. Karena tidak ada, permintaan itu ditolak. ‘Andai usiaku sudah 20-an waktu itu, aku pasti sudah gemas tak kepalang’, pikir Imelda.

Tapi bagaimanapun Imelda tetap belum ingin berkomentar banyak dahulu. Sebab ia tidak menguasai persoalan yang ada di kampung halamannya itu. Ia juga tahu, cukup banyak ‘barisan sakit hati’ yang tidak setuju dengan kiprah dinasti/keluarga ini.

Merasa tidak enak, Imelda tiba-tiba berpikir’ ‘oh, apakah ini juga yang dirasakan oleh mereka yang dekat dengan para pejabat ya? Merasa sungkan dan lebih aman jika tak berkomentar banyak.

Duh, ternyata!

Betullah pepatah yang mengatakan ‘untuk tetap bisa kritis kita harus menjaga jarak dengan kekuasaan’.

Imelda jadi ingat argumen yang dikatakan dosennya beberapa waktu lalu; bahwa KKN di Indonesia jauh lebih sulit diberantas karena terkait dengan budaya. Masyarakat Indonesia umumnya senang memberi dan diberi (uang atau barang) sebagai bentuk ‘persahabatan’ dan ‘ucapan terimakasih’. Persahabatan dan rasa terimakasih berkorelasi erat dengan sifat masyarakat yang komunal, bukan? Dan masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang komunal. Kadang ia ‘iri’ dengan pemberantasan korupsi di negara-negara maju yang tak mengalami kendala budaya seperti ini.

Bukan hanya soal KKN. Unsur pertemanan kadang membuat rumit keadaan apabila mereka menjadi pejabat publik. Kala muncul konflik kepentingan, satu atau dua orang yang saling bersahabat bisa bermusuhan. Dan situasinya semakin pelik apabila salah satu pihak terindikasi melanggar etika/hukum. Ia tidak sedang mengatakan bahwa pertemanan itu buruk, tetapi selalu ada konsekuensi yang harus dipikul dari kedekatan secara emosional antar individu atau kelompok.

Imelda cukup lama berkecimpung di salah satu ormas keagamaan yang belakangan juga mempersiapkan para kadernya masuk ke parlemen. Tahu sendiri, di Senayan itu banyak sekali cengkunek-nya. Ia sedang berpikir, sudah siapkah rekan-rekannya bertarung di sana dan menghadapi kemungkinan permusuhan karena adanya perbedaan mazhab dan cara pandang? Belum lagi kalau salah satu tersangkut masalah hukum. Sebab, ketika masih asyik di komunitas bernuansa keagamaan, belum sempat dibicarakan bagaimana jika mereka masuk dalam konflik kepentingan yang multi dimensi.

Tetapi hatinya lega ketika mengingat ucapan Pak Benyamin Mangkudilaga dalam sebuah wawancara singkat. Beliau tahu betul bahwa masyarakat Indonesia kental dengan budaya memberi. Maka beliau menyampaikan kepada kolega dan kerabatnya, ‘tolong jangan membawa saya pada dilema ini’. Makudnya, dalam posisinya sebagai pejabat negara jangan pernah diberi sesuatu, meskipun itu sebagai simbol persaudaraan. Semata-mata demi kepatuhan pada aturan hukum yang berlaku.

***

Sabtu pagi itu Imleda sudah siap sejak pukul 08.30. Ia tidak hadir di studio, tetapi di rumahnya saja sambil menyimak siaran radio. Andriani sudah memberikan poin-poin yang akan diperbincangkan dan disiarkan secara live.

Namun ketika diskusi berlangsung selama dua jam, ia tak melihat kesulitan apapun pada narasumber yang ia harus pandu. Ternyata Furqon, si narasumber itu, lancar-lancar saja menjelaskan apapun pertanyaan yang diajukan dengan argumentasi yang logis. Topik mengenai politik dinasti dalam pandangan Furqon bukan sesuatu yang aib, katanya. Sebab Undang-undang menjamin setiap warga negara berpartisiasi dalam bidang politik. Jadi tidak ada larangan bagi siapapun yang punya ikatan keluarga untuk berpolitik.

“Jadi, aku bebas tugas nih ‘Ndri,” kata Imelda setengah jam sebelum acara berakhir.

“Iya Mel, kayaknya si Furqon nggak perlu dipandu deh.”

“Hmmm, sejak kapan acara radio ada settingan kayak gini?” seloroh Imelda.

“Haha, nggak sering-seringlah Mel. Kalo lagi darurat aja. Lagian, si Furqon itu pake nggak pe-de segala mau jadi narasumber,” kilah Andriani.

“Topiknya seksi juga ya, ‘Politik Dinasti’. Terus, kita-kita ini termasuk nepotis juga dong, terlibat di acara radio dari satu alamater,” canda Imelda lagi.

“Hahaha …. aku nggak mikir sampe ke situlah Mel. Awalnya kan dari pesan pendek kamu itu,” lagi-lagi Andriani membela diri.

“Hahaha, iya deh,” akhirnya Imelda menyudahi percakapannya dengan Andriani, teman SMA-nya dulu. ***

 

——————————————–

Tulisan lawas yang saya buat lima tahun lalu, Februari 2013 menjelang Pileg dan Pilpres 2014.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.