Menemukan Buah Kawista Saat Blusukan ke Lasem dan Cambodia

Dwi Setijo Widodo

 

Ternyata banyak yang belum pernah nemu dan bahkan nyobain (ya iyalah…kalo belum nemu gimana mau nyobain?)  Yang namanya buah kawista.

Mungkin saya termasuk yang beruntung karena saya mengenal buah ini sejak duluuuu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Ya, saya masih ingat kalau pasar-pasar tradisional di Surabaya dulu (salah satunya Pasar Pacar Keling yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal orangtua saya) masih menjual buah unik ini bila saat musimnya tiba.

Mungkin karena Surabaya tidak jauh dari Rembang dan Lasem dimana memang kawisata masih banyak ditanam dan dibudidayakan di sana. Sekadar info, bagi yang ingin membuka peta lokal, Lasem itu letaknya di perbatasan antara Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Yaaa…sekitar empat jam bila ditempuh dari Surabaya dengan kendaraan sendiri tanpa berhenti…

Ceritanya dulu, kalau sudah dibelikan Ibu dari pasar, kami bersaudara di rumah pasti saling berebut untuk membuka buah ini. Bukan karena membelinya terbatas sehingga kami saling berebut. Tetapi karena kulit buah yang banyak dijual dalam bentuk sirup oleh-oleh khas Rembang ini sangat keras. Jadi, kami biasanya membanting buahnya di lantai atau apa saja yang keras dan mengejar buahnya yang menggelinding agar isi buahnya tidak tumpah ke mana-mana.

Atau yang paling mudah, kami mengambil palu dan memukulnya dengan keras. Kalau sudah terbuka, kami kembali berebut mengambil untuk menaburi isi buahnya yang banyak mengandung biji ini dengan gula pasir sambil mengaduknya di kulit buah sebelum menyantapnya bersama. Sama persis seperti cara makan buah alpukat di dalam batok kulitnya. Rasanya, luar biasa! Paduan manis, asam, dan susah diceritakan ujungnya. Bagi yang suka buah dengan aroma unik, pasti ketagihan makan kawista. Sama seperti durian, kawista menebarkan aroma yang tidak dimiliki oleh buah lain, selain penampakan luarnya yang memang juga unik.

Makanya, setelah lama tidak tinggal di Surabaya dan sempat melupakan buah ini, saat saya ke Cambodia tahun lalu, saya masih mengenali buah ini dengan baik di sebuah pasar saat bus kami berhenti untuk rehat makan siang.

Setelah makan selesai, saya melipir melihat-lihat pasar tersebut, tiba-tiba mata saya tertumbuk di satu sisi di bakul seorang pedagang buah-buahan yang ternyata salah satunya menjual setumpuk kawista! Saya mendekati dan mengambilnya sambil menimang dan menciumnya. Kawista itu lebih besar dari yang saya lihat biasanya. Saya sempat ingin membeli tapi setelah saya cium, kawista itu masih mentah.

Si Ibu penjual menjelaskan dalam bahasa isyarat sambil menunjukkan irisan kawista yang masih muda itu untuk dicampur dengan nanas sebagai bahan rujak khas Cambodia. Katanya enak dalam bahasa lokal sambil menunjukkan jempolnya. Dan juga saya baru tahu, setelah saya sempat tanyakan saat di Rembang dan Lasem, kalau orang-orang di sana juga makan kawista yang masih mentah sebagai bahan rujak… Ah, ternyata… Dua tempat yang jauh dan berbeda, tetapi rupanya mempunyai budaya yang mirip. Menarik ya?

Jadi, setelah ini, kalau akhirnya ada yang pengen nyobain buah kawista gara-gara cerita saya, pilihannya, bisa ke Rembang, Lasem, atau…Cambodia! Hehe…

 

 

9 Comments to "Menemukan Buah Kawista Saat Blusukan ke Lasem dan Cambodia"

  1. Lani  23 October, 2018 at 05:29

    Belum pernah makan buahnya, akan ttp pernah mencoba syrup nya mungkin buah segar dan yg telah dibuat syrup rasanya berbeda ya Dwi? Apakah bisa didijelaskan?

  2. Dwi Setijo Widodo  19 October, 2018 at 11:11

    Maafkan baru dibalas komentarnya. Seksi sibuk dan ngider…

    Mbak Elnino, teksturnya kayak “pulp”, bubur ya kalau sudah masak. Tinggal dikerok bersama bijinya yang bisa dimakan karena tidak keras. Biasanya dicampur gula dan langsung dimakan begitu saja. Aromanya cukup keras. Ditambah warnanya yang hitam, tak banyak memang yang suka makan buah ini mentah begitu. Makanya diolah menjadi sirup sebagai alternatif menikmati buah ini. Atau, seperti info temen dari Aceh, kawista juga dinikmati saat masih mentah (belum masak) untuk campuran rujak. Sama seperti yang saya jumpai saat ke Cambodia.

    Mas Gunawan, kawis atau kawista. Sama saja. Hehe… Tergantung daerah masing-masing menyebut buah ini.

    Mas Elhida, iya, ternyata setelah saya sempat tulis di Facebook, ada banyak tanggapan dari teman-teman yang ternyata buah ini memang sudah tersebar dimana-mana di Indonesia. Hanya karena buah ini di Rembang dibuat minuman, jadilah seakan-akan buah ini hanya ada di sana.

    Mas Dodo, sereman duren dari tampak luar…banyak durinya. Tapi sekali coba, ternyata duren juga bikin banyak orang ketagihan, di samping yang mabuk harumnya… Haha

    Mbak Alvina, nah, di Bali ini malah jarang ditemukan orang berjualan kawisata di pasar. Mungkin karena dianggap kurang komersil dengan rasa dan aromanya ya. Meskipun saat pameran agro beberapa waktu lalu buah ini dijual juga di beberapa stand dari Bali Utara.

  3. Alvina VB  15 October, 2018 at 01:20

    Mas Dwi, ini buah musiman gak?
    Wah kudu dicoba ini kl ke Bali lagi.

  4. dodo  14 October, 2018 at 16:25

    Buahnya bentuknya serem, takut kracunan. Cari aman aja, enak makan duren kalih

  5. elhida  14 October, 2018 at 04:11

    waktu kemarin mudik ke kampung istri, pamanukan-subang, sy lihat mertua sy malan buah ini. namanya sama, kawista

  6. Gunawan Prajogo  5 October, 2018 at 09:08

    Seingat saya pada masa kecil dulu, buah ini disebut buah kawis. Entah mana yang benar, kawista atau kawis…..hehehe.

  7. Elnino  4 October, 2018 at 14:12

    Wah, menarik… Tekstur buahnya mirip apa mas? Buah naga kah? Tapi kawista sepertinya lebih kering ya..

  8. Dwi Setijo Widodo  3 October, 2018 at 18:22

    Bang James, wahhh…bisa ke Kabupaten Rembang, sekaligus wisata kampung lama…dan juga Bali…

    Sekadar tambahan informasi, ternyata kawista juga banyak ditanam di wilayah Kabupaten Negara, Bali. Ini saya ketahui saat ada pameran agro di Denpasar. Nah, siapa yang membawa pertama, saat saya tanyakan kepada petani, mereka tidak mengetahui karena sudah lama kawista ditanam di sana.

  9. James  3 October, 2018 at 11:05

    memang asli belum pernah coba atau sekalipun melihat buah Kawista ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.