Selamat Berpisah Tiwi, untuk Kamu dan Mahluk-mahluk Astralmu

Emma Debora

 

“Belum pernah aku mengucapkan selamat berpisah bukan kepada seseorang, tetapi kepada sesuatu. Selamat berpisah Tiwi, untuk kamu dan makhluk-makhluk astralmu …”

 

Tiwi, itulah nama yang ingin kuberikan kepadamu. Kamu bukan nama ibu induk semang kami, pemilik pondokan ini. Kos-kosan kalau kata anak muda masa kini. Kamu juga bukan nama salah satu temanku di sini. Kamu adalah nama rumah, pondokan, yang sudah kutinggali selama 3 tahun. Nama itu muncul begitu saja dan terdengar enak di telinga. Jadi aku menyebutmu seperti itu saja ya.

Aku datang akhir Desember 3 tahun lalu ketika sedang ingin menyendiri. Aku baru saja datang dari kotaku di sebelah utara negeri ini, hendak berlibur beberapa bulan. Kalau ada pekerjaan tetap, 1-2 tahun. Tapi aku datang ke kota ini bersama duka yang memenuhi rongga dadaku. Petra baru saja memutuskan hubungan tetapi dengan cara yang tidak gentle. Aku minta kami berbicara baik-baik tetapi dia menyalahkanku tanpa ampun. Di depan teman-temannyapula. Mungkin dia merasa tersudut dan tidak sanggup membelaku. Ya, barangkali ada kesalahan atau ketidakcocokan yang fatal sehingga Petra tidak tahan dan minta kami berpisah.

Sudah ah, itu cerita yang usang sekarang.

Intinya, siang itu aku mengetuk pagarmu, lalu Ibu Magda membuka pintu. Ia mempersilakan aku melihat-lihat kamar yang cocok, di lantai bawah Rumah Utama. Aku memilih kamar tengah dan membayar uang mukanya. O ya, aku belum langsung masuk. Aku masih harus tinggal di tempat lain karena harus mengurus sesuatu. Pikirku, aku hanya akan tinggal sementara. Sejujurnya aku kurang cocok bentuk rumah yang tertutup dan terlindungi seperti ini. Seperti dikurung. Padahal aku senang berada di tempat terbuka, bisa melihat langit, dan tidak dipagari apapun. Rumah ini memang halamannya luas, tapi ada pagar yang terkunci rapat dan tembok tinggi mengelilingi dua bangunan pondokan. Untuk keamanan tentu saja.

Tiwi, 3 minggu kemudian aku datang dan mulai mengatur kamarku. Duh, seperti anak yatim rasanya. Belum ada apa-apa di dalam. Udara pengap dan panas, dan uangku terbatas waktu itu. Tapi ada aura kebebasan dan itulah yang membuatku bahagia. Sebelumnya, aku tinggal selama beberapa minggu di rumah adik ibuku. Rumahnya besar dan mewah, rumah baru. Terletak di perumahan lumayan elit, yang untuk mencari ojek saja mesti berjalan kaki ke ujung jalan.

Di sana, aku tinggal di kamar paling kecil. Tugasku adalah menemani sepupuku di rumah dan membantunya menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Ini tugas ringan bagiku. Yang berat adalah ketika rumah baru dan besar itu berkali-kali dibersihkan dalam sehari dan aku mesti berjingkat untuk melintasi lantainya. Tante, adik ibuku itu, pun kerap mengingatkan berbagai peraturan yang berlaku di rumah itu.

Aku menjadi cengeng seperti anak remaja belasan tahun jadinya.

Untunglah waktu berlalu juga meski lambat. Selesai acara keluarga besar di rumah Tante, aku segera menuju tempatmu. Ini adalah hari pertama aku menikmati kebebasan. Ruang privatku memang hanya sekian meter persegi saja, tetapi rasa lapang melebihi luas rumah besar itu.

Hari kedua aku naik ke lantai atas dan menemukan sesuatu di sana. Kamar berteras kayu! Menghadap pelataran mencuci dan atap yang terbuka. Dari situ aku bisa memandang langit dan atap hotel terkenal itu. Betapa indahnya.

Aku lalu minta izin kepada ibu Magda untuk pindah ke atas. Ke kamar berteras itu. Syukurlah ibu Magda membolehkan. Sebagai imbalannya, aku akan membersihkan area di lantai atas. Secara, aku memang senang menyapu, haha.

Sebulan aku menikmati tinggal di kamar baru dan ada rutinitas baru. Kini setiap sore menuju pukul delapan malam, pelataran mencuci itu akan ramai dengan teman-teman kos mencuci pakaian atau aktivitas lain. Kata ibu Magda, sebelum aku tinggal di situ pelataran mencuci jarang dipakai anak kos kalau malam. Selalu pagi.

Kenapa, tanyaku. Ibu Magda hanya mengendik bahu. Menurutnya, mungkin anak-anak sekarang merasa lebih aman karena ada orang di lantai atas. O ya, yang menghuni kamar atas itu memang hanya aku dan teman yang satu lagi.

Tapi tahukah kamu Tiwi, selang beberapa hari saja setelah itu, ada kehebohan di lantai bawah. Mereka bercerita tentang apa, aku tidak mendengar dengan jelas. Sampai kemudian ibu kos datang ke kamarku dan bertanya, “Mbak, suka melihat makhluk halus tidak kalau sore atau malam? Di pelataran mencuci. Kamar Mbak kan dekat posisinya dengan tempat mencuci?”

Oh, Tiwi. Apa yang mesti aku jawab pada ibu Magda? Kalau melihat, jelas aku belum pernah melihat. Dan aku sama sekali tidak ingin memiliki kemampuan untuk itu. Tidak. Tetapi kalau merasakan, iya. Aku berkali-kali merasa tidak nyaman ketika berada di sudut rumah ini. Di kediamanmu, Tiwi.

Tapi aku menjawab dengan taktis.

“Enggak tuh, bu. Memangnya kenapa?”

“Ah, nggak papa. Ini anak kos ada yang merasa melihat makhluk halus di sana dan sekarang mau keluar.”

“Oh, gitu.”

Takutkah aku? Sedikit. Tapi aku tidak berniat segera pindah. Aku mulai bekerja penuh waktu dan tidak ada waktu untuk mencari rumah kos baru. Lagipula, bukankah di banyak gedung itu ada …., yah itu deh. Di kantor kami pun ada yang seperti itu.

Aku kemudian malah pindah kamar ke bagian ujung yang lebih luas. Enak rasanya, tapi hanya tahan sebulan saja. Di sana lebih panas, dan aku tidak menemukan sudut yang nyaman untuk beraktivitas. Jadi aku pindah ke lantai bawah lagi, tetapi di kamar yang berbeda dari kamar pertama.

Ibu Magda begitu legowo menyaksikan salah satu anak kosnya ber-PTT seperti aku. PTT itu pendirian tidak tetap. Ia memaklumi rasa penasaranku tinggal di berbagai kamar yang berbeda, meski hanya tahan beberapa bulan saja. Nah, di kamar bawah ini aku lumayan lama. Mungkin sudutnya cocok denganku. Letaknya pun strategis. Dekat kulkas, wastafel, tangga, dan pintu keluar. Kamar mandi saja yang agak jauh. Di sini aku kemudian berkenalan dengan Sona, yang 15 tahun lebih muda dariku. Sona itu yah, phlegmatik habis. Santai, dan … haha, kamarnya berantakan seperti kapal pecah. Sedangkan aku, senang kamar yang rapi dan suka terburu-buru. Kami cocok.

Karena itu dia cuek saja ketika mengatakan bahwa di sudut kamar mandi yang sering kami pakai itu, setiap sore berkumpul makhluk halus. Aduh Sona, apa-apaan sih kamu? Pake membahas yang satu itu. Aku hanya mengiyakan dan tidak membahas lebih lanjut. Aku sudah tidak memikirkannya, sampai Sona membahasnya. Sona juga mengatakan kalau kamar besar di lantai atas yang pernah aku tinggali itu juga tempat berkumpulnya …. mereka!

“Kamu tahu dari mana? Emang kamu punya indera keenam?” tanyaku.

“Bukan aku yang lihat mbak, tapi cowokku.”

“Oh, jadi si Mas punya keahlian bisa melihat mereka ya?”

“Iya.”

“Sudah ah, jangan cerita-cerita lagi tentang itu, nanti kita nggak berani ke kamar mandi. Masa mau pipis di kamar?”

“Hahaha ….”

***

Tak terasa aku sudah 3 tahun tinggal di kediamanmu, Tiwi. Tahun kedua aku pindah ke kamar di Rumah Sayap Kanan. Aku hanya bertahan 5 bulan saja di sana. Tapi jangan salah, selama lima bulan itu aku sudah menemati 3 kamar(. Dan ini selalu jadi cerita seru oleh ibu Magda. Dia bilang, akulah anak kos yang paling berpengalaman menghuni rumah Tiwi. Total sudah 8 kamar aku pernah tinggali .. wkwkwk.

Menurutmu, aku ini tipe apa sampai begitu? Pembosan? Petualang? Peragu, atau bagaimana? Tetapi dari 8 kamar itu, ada 1 kamar yang cukup lama aku tinggali; yaitu di kamar bawah yang strategis itu. Aku bertahan mendiami kamar itu selama 1,5 tahun. Ini seperti menggambarkan model pertemananku dengan orang-orang. Ada yang hanya berteman beberapa bulan saja, ada yang setahun, ada juga yang lebih dari lima tahun. Faktor penentu lamanya pertemananku adalah chemistry atau kecocokan.

Kamu tahu tidak Tiwi, waktu aku masuk lagi ke kamar strategis itu, perasaanku sangat nyaman dan menduga akan tinggal terus di situ sampai aku keluar dari rumah ini kelak. Uh, aku terharu sangat ketika menuliskan ini.

Sekarang, aku akan pergi. Bukan hanya beberapa bulan, tetapi tahunan. Mengapa begitu lama, mungkin itu tanyamu. Ya, karena aku akan kembali bekerja di kotaku setelah kutinggalkan 3 tahun lamanya. Aku akan memulai lagi dari awal. Kali ini tidak bersama Petra. Tentu butuh penyesuaian lebih lama dan mungkin banyak hal baru akan aku temukan di sana.

Tapi jangan sedih ya. Setiap tahun aku akan datang ke kota ini dan aku berjanji akan singgah di sini. Mungkin 1 atau 2 bulan. Semoga sudut-sudut rumah ini tetap sama.

O ya, tentang para makhluk halus itu, beberapa anak muda yang kukenal setahun lalu menyebutnya sebagai makhluk astral. Penampakkannya memang halus bahkan mata kasat tidak bisa melihatnya. Namun beberapa orang yang terlatih bisa melihat dan berinteraksi dengan mereka. Kata anak-anak muda itu, para astral ini tidak perlu ditakuti. Katanya, ada cara untuk menghadapi mereka. Ah, aku tidak ingin tahu terlalu banyak sebab belum berminat. Anggap saja mereka itu teman-temanmu ya, Tiwi.

Aku menjadwalkan keluar dari rumah ini, dari kediamanmu, dua hari yang lalu. Tapi entah kenapa berat sekali hati ini. Aku sudah mempersiapkan pengepakan dan berbagai keperluan lainnya. Aku juga sudah mengosongkan jadwal agar bisa fokus ke pindahan, tapi tetap saja persiapan belum selesai.

Mungkin aku belum mengucapkan selama berpisah denganmu, Tiwi. Atau, kamu sedih melihatku akan pergi? Huuuufffhh, apakah sebuah benda bisa merasakan sesuatu? Mungkin akunya saja yang sentimentil, berat meninggalkan tempat ini dan segala kenangannya. Di rumah yang berkali-kali pernah kurencanakan untuk pindah. Di rumah yang di awal hanya tinggal sementara, tetapi ternyata sampai 3 tahun lamanya. Kamu mau tahu berapa kali aku nyaris pindah ke tempat lain? Empat kali! Tapi selalu tak jadi.

Terimakasih Tiwi. Aku sudah menjadi bagian dari dirimu. Sudah menjadi saksi keributan dua teman kami yang membawa persoalan kantor ke rumah. Ya, kebetulan keduanya memang satu kantor. Sesuatu yang sebaiknya jangan dilakukan, kata orang-orang. Kantor biarlah tempat untuk bekerja, rumah biarlah untuk beristirahat.

Nanti malam, aku akan berkeliling ke penjuru rumah ini untuk mengucapkan salam perpisahan. Sampai bertemu kembali, Tiwi. Nikmati kehadiranmu di sini bersama orang-orang yang berganti datang dan pergi. Aku selalu akan merindukanmu. ***

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.