NUSANTARA

Erix Hutasoit

 

Air mata saya hampir menetes, ketika rombongan suku Batak melintas. Pesta budaya Irau yang identik dengan suku Dayak, rupanya dirayakan suku-suku lain di Indonesia. Betapa bangganya saya bisa melihat peristiwa ini.

Horas…horas…horas! Tiga kali kata khas Batak ini dilantunkan pembawa acara dari atas panggung besar. Di bawahnya ratusan anak-anak, orang muda dan dewasa melintas. Mereka menggunakan ragam jenis ulos. Kain khas Batak yang membahana ke penjuru negeri. orang-orang Batak ini berpartisipasi alam karnaval Nusantara yang digelar pemerintah kabupaten Malinau.

Malinau, daerah paling tepi di utara Kalimantan. Berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Banyak sungai besar membelah kabupaten ini. Tanahnya luas tetapi penduduknya sedikit. Malinau baru berusia 19 tahun.

Malinau punya acara besar. Namanya Irau. Dalam bahasa Dayak artinya pesta. Beragam kegiatan budaya digelar di sini. Ada tarian dan lomba-lomba tradisional. Digelar di lapangan Intimung yang luasnya enam kali lapangan sepak bola. Lapangan ini jantungnya Kota Malinau.

Irau adalah alat perekat. Dari narasi yang ada, banyak suku Dayak yang mendiami Malinau. Ada Dayak Lundaye, Dayak Kenyah, Dayak Tahol, Dayak Punan dll. Dahulu suku-suku ini kerap berkonflik. Perang suku tidak terhindarkan. Sampai satu ketika, para tetua adat memilih berhenti berperang dan hidup harmonis. Mereka mengatur pertemuan di tepi Sungai Malinau. Berjanji setia menjaga perdamaian. Sejak itu semua suku Dayak hidup berdampingan dan saling menghormati.

Walau hidup terpencar-pencar di antara belantara dan sungai, suku-suku ini rutin bertemu. Melakukan ragam aktivitas bersama. Pertemuan ini yang disebut Irau. Irau menjadi perekat satu sama lain.

Seiring perkembangan waktu, suku-suku Nusantara lain datang ke Malinau. Ada orang Bali, orang Jawa, orang Timor, orang Manado, orang Sunda, orang Toraja, orang Batak dan keturunan Tionghoa. Mereka menjadi penduduk Malinau. Hidup dalam tata cara setempat yang kharismatik dan saling menghargai.

Keragaman ini membuat Malinau menjadi khas. Budaya suku Nusantara bisa berkembang dengan baik di sini. Pesta-pesta orang Batak misalnya, bisa diselenggarakan tanpa ganggungan. Tarian, nyanyian dan musik Batak yang melodik diperdengarkan dengan mudah.

Tawa saya pecah ketika rombongan keturunan Tionghoa melintas di antara kerumunan warga. Mengenakan pakaian khas Tionghoa, mereka melengkapi parade Nusantara. Tidak lupa Hakim Bao dan seorang vampir cina ikut serta. Kedua tokoh legendaris ini mengocok perut penonton. Hakim Bao kumisnya sangat panjang. Sampai mulutnya tertutup kumis. “Baru lihat kumis tumbuh di mulut,” ungkap seseorang di samping saya.

Vampir Cina juga tidak kalah unik. Sambil melompat-lompat, vampir ini mencoba menakuti anak-anak. Bukannya lari ketakutan, anak-anak itu malah tertawa terbahak-bahak.

Saya juga tidak bisa menyembunyikan tawa. Dari balik lensa Canon 6D, saya tertawa kecil. Saya terus memotret. Memastikan momen berharga ini terekam dengan baik.”Keturunan Tionghoa juga kita. orang Indonesia,” kata saya dalam hati.

Biar saya sudah setahun di Kalimantan, tapi baru kali ini saya bertemu Dayak sesungguhnya. Maksudnya orang Dayak yang berpakaian adat, memakai topi bulu burung enggang dan memanggul mandau. Mereka benar-benar tampak berwibawa dengan semua atribut budayanya.

Bagi saya Malinau menjadi anti tesis kota-kota besar di Indonesa. Terletak di batas Republik, daerah ini begitu memuliakan keberagaman. Sebuah rasa hormat yang nyaris hilang di kota-kota besar di Indonesia.

Kita perlu belajar dari Malinau, bahwa keberagaman merupakan kekuatan. Istilah mereka: Budaya Membangun Bangsa!

Selamat ulang tahun Malinau!

 

Note Redaksi:

Erix Hutasoit, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya, ditunggu artikel-artikel lainnya. Pak Hand, terima kasih sudah mengenalkan BALTYRA ke Erix…

 

 

6 Comments to "NUSANTARA"

  1. Lani  4 November, 2018 at 12:36

    Hand: Jik ngerti aku jebule sampeyan dipindah ke Malinau nun jauh disana, pasti dan jelas sepi nyenyet, indah permai tdk ada hiruk pikuk………semoga tetap indah, bersih dan rapi jali……………

  2. Handoko Widagdo  1 November, 2018 at 14:34

    Lani, Malinau adalah tempat kerja kami yang indah permai dan penuh damai.

  3. Lani  30 October, 2018 at 23:20

    Selamat datang dan bergabung dirumah Baltyra………
    Kalau tidak ada tulisan ini aku tidak tahu dimana itu Malinau. Indonesia itu negara besar, kalimat itu selalu didengungkan oleh bapak president Jokowi dan memang benar adanya……….

    Aku yakin suku Dayak saat ini tidak berpakaian adat mereka yg dipakai sehari-hari akan tetapi hanya dikenakan ktk ada upacara adat dan carnival saja apakah benar begitu?

  4. Gunawan Prajogo  29 October, 2018 at 07:00

    Inilah sesuai dengan pita yang dicengkeram oleh Garuda Panca Sila, Bhineka Tunggal Ika.
    Berbeda-beda tetapi tetap Satu yaitu Indonesia.

  5. [email protected]  25 October, 2018 at 16:00

    Salam kenal

  6. Handoko Widagdo  25 October, 2018 at 13:51

    Selamat bergabung Erix Hutasoit. Tulisan tentang Irau Malinau ini sangat keren. Indonesia tetap ada, meski di perbatasan negeri.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.