Pejambon 1945: Konsensus Agung Para Pendiri Bangsa

Osa Kurniawan Ilham

 

Hari ini, tepat pada peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018, kami merayakannya dengan menerbitkan buku baru berjudul Pejambon 1945: Konsensus Agung Para Pendiri Bangsa. Semoga ini menjadi sumbangsih kami untuk merawat negara bangsa bernama Indonesia yang kami cintai ini.

Negara adalah suatu organisasi politik yang bermuka dua. Di satu pihak memiliki kewajiban untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Di pihak lain juga mempunyai hak memaksa rakyat untuk melakukan sesuatu. Menyangkut kepentingan di atas, maka pada tanggal 28 Mei 1945, Raden Tumenggung dr. Radjiman Wedyodiningrat, ketua BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) mengajukan pertanyaan dasar. Melalui pidato pembukaan sidang badan tersebut, ia mempertanyakan tentang apa tujuan bangsa ini untuk mendirikan suatu negara yang merdeka dan juga apa yang akan menjadi dasarnya.

Pertanyaan dr. Radjiman tersebut; yang oleh Ir. Soekarno diistilahkan sebagai Philosofische Grondslag negara yang akan didirikan; telah dijawab oleh para pendiri bangsa. Setelah melalui sidang-sidang yang melelahkan pada tanggal 28 Mei – 16 Juli 1945, dilanjutkan sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 – 20 Agustus 1945 di Pejambon Jakarta, hasil perdebatan dan pergumulan batin mereka telah melahirkan suatu konsensus berupa karya agung berwujud falsafah negara Pancasila dan UUD 1945.

Sekarang, Republik Indonesia, negara yang mereka dirikan tersebut masih berdiri dengan kokoh. Dalam perjalanan waktu telah dilakukan beberapa amandemen terhadap isi dari UUD 1945. Beberapa kalangan mempertanyakan apakah amandemen-amandemen terhadap isi UUD yang telah dilakukan itu sesuai dengan konsensus dari para pendiri negara.

Mereka khawatir yang demikian itu pada gilirannya dapat mengancam keberadaan bangunan agung yang bernama Republik Indonesia. Namun di sisi lain, juga terasa pemahaman sejarah kelahiran Pancasila dan UUD 1945 terasa meredup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keprihatinan terhadap hal yang demikian tersebut menggugah hati kami untuk menulis kisah sejarah tentang terbentuknya UUD 1945 dan rembug para anggota BPUPK serta PPKI tentang falsafah Pancasila. Dalam penyampaiannya kami akan menggunakan bahasa populer, jauh dari kesan text book tetapi mudah dimengerti oleh masyarakat pembaca. Namun demikian kami berusaha untuk tetap menjaga validitas data dan fakta sejarah.

Apa yang ingin kami sajikan ialah tentang hal-hal dasar dan kesepakatan agung dari para pendiri negara, setelah mereka berdiskusi dan menyepakatinya sebagai konsensus. Dan karena yang menjadi sorotan adalah saat diskusi, maka menurut hemat kami vahan yang relevan untuk menjadi dasar penulisan adalah risalah rapat dari BPUPK dan PPKI. Selain dapat diketahui tentang perdebatan dan pergumulan pemikiran yang terjadi saat itu, juga dapat disimak suasana kebatinan yang meliputinya.

Hal ini merupakan faktor penting apabila kita berbicara tentang suatu produk undang-undang. Mr. Soepomo, anggota BPUPK, di sela-sela sidang badan tersebut pernah mengingatkan kepada kita,

”Untuk mengerti sungguh-sungguh suatu UUD suatu negara, kita harus mempelajari bagaimana terjadinya teks itu, harus diketahui keterangan-keterangannya, dan harus diketahui dalam suasana apa teks itu dibikin. Oleh karena itu segala pembicaraan dalam sidang ini menjadi sangat penting, karena segala pembicaraan dalam hal ini menjadi material, menjadi bahan yang historis …..“.

Bangsa ini pantas bersyukur karena catatan persidangan BPUPK dan PPKI masih dapat diketemukan walau kurang lengkap. Usaha untuk mempublikasikannya ke ranah umum juga telah dilakukan oleh beberapa pihak. Sejauh ini menurut catatan kami ada dua buku yang telah mempublikasikan tentang risalah sidang-sidang BPUPK dan PPKI yang sesuai dengan risalah asli sebagai yang tersimpan di Arsip Nasional:

1. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei-22 Agustus 1945, Tim penyusun Saafroedin Bahar, Ananda B. Kusuma, Nannie Hudawati, Penerbit Sekretariat Negara 1995.

2. Lahirnya UUD 1945 Yang Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidik Oesaha Persiapan Kemerdekaan dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, tulisan R. M. Ananda B. Kusuma, Edisi Revisi , BP Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009.

Mengingat kedua buku tersebut memuat risalah otentik dari suatu diskusi atau perdebatan, maka ada kecenderungan bagi khalayak ramai menganggapnya sebagai suatu text book bagi para akademisi. Terkait itu, kami mencoba untuk mengangkat hasil rembugan para anggota BPUPK dan PPKI tersebut dalam suatu kisah dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dikarenakan risalah yang termuat dalam dua buku diatas merupakan sumber acuan utama dalam penulisan ini, maka sepanjang menyangkut tentang rembugan para anggota BPUPK dan PPKI, kami tidak memberikan catatan kaki tentang sumbernya. Dapat dipastikan sumbernya berasal dari kedua buku tersebut atau dokumen otentik yang berada di arsip nasional. Demikian juga, mengingat bahwa yang menjadi pokok bahasan kami adalah apa yang diperdebatkan oleh para penyusun UUD, dengan tujuan untuk menyuguhkan inti sari dari pemikiran mereka, maka kami tidak menuangkan opini kami maupun mereka yang bukan anggota BPUPK dan PPKI.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa kami bukan orang-orang yang memiliki latar belakang keahlian hukum, maka kami menghindari membuat analisis yang bersangkutan dengan kaidah hukum pasal demi pasal dari UUD 1945. Kami sekedar merekam dan merekonstruksi ulang dari pembicaraan yang berlangsung. Kami mempunyai anggapan bahwa pemikiran para pendiri bangsa di saat-saat sidang berlangsung, dapat diibaratkan bagaikan mozaik indah yang berserakan di khazanah persidangan BPUPK dan PPKI. Dalam merekatkan mozaik indah yang bertebaran tersebut, untuk beberapa hal kami ingin menambah pandangan-pandangan para anggota BPUPK dan PPKI tersebut dengan ucapan-ucapan atau tulisan yang pernah dikemukakan di masa lalu masing-masing mereka.

Selain itu sejalan dengan ucapan Mr. Soepomo yang mengatakan bahwa penafsiran suatu perundang-undangan tidak dapat lepas dengan sejarah terjadinya, maka kami juga menyadari bahwa suatu perundang-undangan tidak dapat dilepaskan dari sejarah kehidupan para penyusunnya. Untuk kepentingan itu kami berusaha untuk menampilkan riwayat hidup singkat dari para anggota BPUPK maupun PPKI.

Sebagaimana lazimnya manusia yang berkarya, maka kami juga menyimpan harapan terhadap karya kami ini. Semoga generasi-generasi mendatang dari bangsa ini senantiasa akan selalu mengetahui secara utuh, sejarah dari bangsa ini. Semoga mereka selalu dibekali gambaran yang tidak menipu tentang terbentuknya ideologi bangsa yang telah menjadi konsesus dari masa ke masa. Hanya dengan kesadaran yang demikian, maka akan terjamin tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa ini. Tepat dengan apa yang disumpahkan oleh para pemudi dan pemuda dalam Sumpah Pemuda 90 tahun yang lalu.

Kedua penulis berasal dari dua generasi yang jauh berbeda. Daradjadi lahir di zaman kolonial Belanda, lantas menjalani masa kanak-kanak di masa penjajahan Jepang, dan ikut menyaksikan riuhnya perang kemerdekaan. Penulis berikutnya Osa Kurniawan Ilham lahir jauh setelah Indonesia merdeka, di masa-masa bangsa Indonesia sudah berdiri teguh sebagai negara yang menempati tempat terhormat dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Kendati demikian, kami mempunyai kekhawatiran yang sama, jangan sampai bangsa ini terpecah dalam puing-puing, menjauh dari kesejahteraan, dan rasa keadilan sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendirinya.

Spesifikasi buku:

Judul                     : Pejambon 1945: Konsensus Agung Para Pendiri Bangsa

Halaman             : xxii + 350 halaman

Penerbit              : Puspawedha – Solo

Harga                    : Rp. 80.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Pemesanan online bisa melalui berikut:

Puspawedha (Facebook dan email [email protected])

Osa Kurniawan Ilham (Facebook dan email [email protected])

 

Balikpapan, 28 Oktober 2018

Osa Kurniawan Ilham

 

 

One Response to "Pejambon 1945: Konsensus Agung Para Pendiri Bangsa"

  1. Nurrohman  16 November, 2018 at 14:18

    Buku in layak dibaca

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.