Sumbangsih Tionghoa untuk Bahasa Indonesia

Azmi Abubakar

 

Sumbangsih Luar Biasa Dari Etnis Tionghoa Dalam Sumpah Pemuda 1928. Mengembangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Persatuan

Akankah “Bahasa Indonesia” tetap dipilih sebagai “Bahasa Persatuan” pada tahun 1928 (Sumpah Pemuda), jika tidak ada peran penting Etnis Tionghoa dalam menyebarkan bahasa Melayu?

Sumpah Pemuda 1928. Satu sumpah tersebut adalah berbahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Menarik untuk didalami seberapa jauh peran Etnis Tionghoa dalam menyebarkan bahasa Melayu (karena etnis tionghoa juga menetap tersebar di segenap Nusantara) dan kemudian dikaitkan dengan dipilihnya “Bahasa Indonesia” sebagai “Bahasa Persatuan” pada tahun 1928.

Saya kutip sedikit isi dari buku berjudul:

“Boekoe omong-omongan njang teratoer darie bahasa Tjina, Inggris dan Malayoe” (terbit tahun 1912 di Batavia) yaitu:

……..Tetapi kabanjakan orang-orang Tionghoa jang berdiam di “Lam Yang” atawa Tana Insulinda senantiasa menggoenakan bahasa Malayoe atawa bebrapa bahasa lain, oempama bahasa Kwitang atawa Hokkian.
Dari sebab teroes meneroes marika menggoenaken ini bahasa, sehingga biasa.
Maka marika mendjadi loepa marika poenja bahasa……… Tjim Im (bahasa mandarijn)

Dari buku di atas, sangat jelas dan terang pengaruh orang2 Tionghoa dalam menyebarkan bahasa Melayu yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia.

Berikutnya, Satu Pengakuan Dari Taman Siswa (Ki Hajar Dewantara)

Pada bulan oktober 1941, Taman Siswa (organisasi pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922) mengadakan Kongres di Betawi.

Dalam pertemuan besar tersebut, telah diambil keputusan untuk mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia, bahasa persatuan bagi bangsa-bangsa di kepulauan Indonesia.

Sebelumnya, pengakuan dari bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan telah dilakukan oleh pergerakan politik (Sumpah Pemuda 1928), sebab bahasa Melayu dengan sendirinya telah menjadi bahasa perhubungan yang umum dipakai oleh berbagai golongan penduduk di kepulauan Indonesia.

Satu dari keputusan kongres adalah mengajak golongan Peranakan Tionghoa (yang sebagian besar berbahasa Melayu) untuk bersama-sama bekerja guna memperbaiki dan menyiapkan standar bahasa Melayu.

Sepatutnya Peranakan Tionghoa diikutsertakan, karena etnis ini, telah menggunakan bahasa Melayu secara luas dibandingkan dengan golongan lain. Bahkan diantara surat kabar yang berbahasa Melayu, surat kabar Melayu-Tionghoa masih memegang peranan penting di Indonesia.

Dasar yang betul/standar dari bahasa Melayu tidak ada, oleh karenanya banyak bahasa daerah yang dicampur dalam bahasa Melayu. Sehingga Melayu di Surabaya berbeda dengan Semarang, Bandung atau Betawi.

Melayu-Tionghoa memiliki susunan bahasa dan ejaan sendiri, yang umum dipakai dikalangan Peranakan Tionghoa. Umumnya bahasa dalam surat kabar Melayu-Tionghoa sekarang (1941) memakai dasar dari bahasa Melayu-Betawi. Dasar dari bahasa Melayu-Tionghoa adalah ringkas dan sederhana.

Bahasa Melayu tersiar luas di Indonesia bukan karena disebar luaskan tapi tersiar dengan sendirinya. Kepandaian bercakap atau menulis dalam bahasa Melayu bukan didapat dari sekolahan, tetapi didapat dengan sendirinya dari pergaulan dan membaca dari surat kabar Melayu.

Tindakan untuk memperbaiki, mempersatukan dan membuat standar bagi bahasa Melayu, bagi golongan Peranakan Tionghoa adalah wajib dan sepenuhnya harus menyokong.

Peranan etnis Tionghoa dalam memperkuat dan menyebarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah penting sekali untuk dikabarkan.

Pengakuan Taman Siswa (sebagai lembaga pendidikan utama di Indonesia) terhadap peran etnis Tionghoa, yang bahkan merekomendasikan melalui keputusan kongresnya, adalah satu fakta tak terbantahkan.

Mari Kita Kabarkan

Kita Sebangsa, Setanah Air dan Setara!
Merdeka!

#azmiabubakar
#salampersaudaraanindonesia
#museumpustakaperanakantionghoa

Sumber :
Majalah Liberty, 25 November 1941.
Boekoe omong-omongan njang teratoer darie bahasa Tjina, Inggris dan Malayoe, 1912.

Koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Bang Azmi Abubakar. Ditunggu artikel-artikel dahsyat lainnya ya…semoga betah dan kerasan di BALTYRA.com

 

 

2 Comments to "Sumbangsih Tionghoa untuk Bahasa Indonesia"

  1. James  29 October, 2018 at 16:36

    hanya sayangnya Etnis Tionghoa nya sendiri hingga saat ini belum sepenuhnya di Akui

  2. Handoko Widagdo  29 October, 2018 at 13:38

    Wah bukunya sangat menarik itu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.