Menghirup Udara Masa Lalu di Kampung Bambu Klathakan

Awan Tenggara/Jenar Aribowo

 

“Sejenak saya seperti merasa terlempar ke masa lalu, dalam kampung yang masih asri dan penuh wangi bakaran daun-daun kering itu. Cahaya matahari pagi terlihat kelap-kelip, menelisip dari sela-sela  pohon bambu tua yang tumbuh menjulang di sejauh mata memandang.”

 

Ada sebuah tempat dengan pemandangan istimewa di Kabupaten Magelang, orang-orang sekitar menamainya dengan nama Kampung Bambu Klathakan. Tapi tak banyak dari traveler yang tahu tentang kampung yang jaraknya hanya 5 kilometer saja dari Candi Borobudur ini, ternyata. Entah apa yang membuatnya kurang populer, padahal menurut saya pribadi setelah berkunjung ke sana, tempat—yang sudah cukup lama dibuka sebagai destinasi wisata—ini sangat wajib dimasukkan ke dalam list perjalanan saat kita berkunjung ke Magelang lantaran daya tariknya yang tidak biasa.

Kampung ini sangat eksotis karena di sana banyak sekali terdapat pohon-pohon bambu besar yang tumbuh—dan sengaja dirawat—di sejauh mata memandang. Menurut penduduk setempat, ada sekitar 10 jenis pohon bambu yang dilestarikan di sini. Dan inilah yang menjadi salah satu daya tariknya.

Daya tarik yang lain ada ketika hari Minggu tiba, Kampung Bambu Klathakan ini akan berubah menjadi surga bagi mereka penggemar kuliner Nusantara. Karena di sini digelar sebuah pasar yang khusus menjajakan makanan-makanan tradisional, seperti nasi bakar bambu, bubur atau jenang, wedang bajigur dan juga jajanan-jajanan tempo dulu yang notabene sudah jarang sekali bisa kita jumpai di jaman sekarang. Sayangnya tidak setiap minggu pasar ini dibuka, melainkan hanya pada hari Minggu Legi dan Minggu Kliwon saja berdasar kalender Jawa. Jadi, seandainya anda berniat berwisata kuliner di Pasar Bambu Klathakan ini, sebaiknya simak dulu baik-baik kalender di dinding rumah jauh-jauh hari sebelum berangkat dengan niatan untuk mencicipi kuliner khasnya.

***

Saya tahu tempat ini juga baru-baru saja, padahal sudah bertahun-tahun saya hobi ‘berselancar’ di internet mencari destinasi-destinasi wisata untuk mengisi agenda liburan bulanan.

Bisa sampai ke sana bagi saya adalah sebuah keberuntungan. Ini tidak direncanakan. Saya iseng mencari destinasi wisata di Magelang Sabtu itu via tagar di Instagram lantaran ketika itu saya sedang berada di kota menawan yang diapit oleh lima gunung ini, hingga akhirnya bertemulah saya dengan sebuah postingan yang membahas tentang kampung Bambu Klathakan, yang ternyata akan dibuka pagi berikutnya. Data lengkap—dari rute yang harus saya tempuh dan jam buka pasar ini—pun kemudian saya kumpulkan, hingga akhirnya sampailah saya ke tempat yang pertama kali saya kunjungi ini keesokan harinya.

Pasar Kuliner Kampung Bambu Klathakan dibuka mulai pukul 07.00 pagi, tapi ternyata suasana masih sepi saat saya sampai ke sana pada jam segitu. Hanya ada perempuan-perempuan ramah senyum yang menjaga dagangannya dan juga ayam-ayam kecil yang lalu-lalang mencari makan saja di sana. Padahal kata salah seorang pedagang di pasar itu, jam segitu biasanya sudah ramai pengunjung. Barangkali karena hari itu bertepatan dengan acara jalan sehat kampung sebelah—yang hari itu juga membuat saya lebih berusaha untuk sampai di kampung bambu dengan mencari jalan memutar karena akses jalan utama menuju ke pasar kuliner ini ditutup sementara.

Bukan saya jadi tidak gembira ketika sepi, saya justru senang karena pemandangan pasar bambu Klathakan jadi terlihat lebih dramatis jika begini. Sejenak saya seperti merasa terlempar ke masa lalu, dalam kampung yang masih asri dan penuh wangi bakaran daun-daun kering itu. Cahaya matahari pagi terlihat kelap-kelip, menelisip dari sela-sela  pohon bambu tua yang tumbuh menjulang di sejauh mata memandang.

Pasar itu terlihat teduh karena naungan kanopi yang terbentuk dari lengkungan pohon-pohon bambu. Induk-induk ayam terlihat riang berjalan ke sana kemari menuntun anak-anaknya mencari makan di lantai hutan bambu yang terlihat luas dan bersih itu. Pedagang-pedagang mengisi setiap sudut lokasi dengan jajanan-jajanan unik dan sedap dipandang mata. Ini sungguh pemandangan yang menakjubkan. Kampung ini bisa memberi kenangan tersendiri di benak saya dengan ‘sihir’ ajaibnya.

***

Sebelum mencicipi jajanan yang ada di sana, memotret adalah hal yang pertama saya lakukan. Suasana sepi ternyata adalah kesempatan emas. Banyak sudut menarik untuk diabadikan lewat jepretan kamera ketika tempat itu masih belum terisi penuh manusia.

Selesai memotret, saya pun langsung memanjakan perut dengan jajanan-jajanan klasik yang sejak awal kedatangan saya sudah menggoda mata dan membikin perut keroncongan. Wajah pedagang-pedagang di sana kelihatan sangat ramah, mereka menawarkan dagangan dari tempat mereka duduk dengan senyuman yang memikat, hingga membuat saya bingung harus mencicipi menu dan mengunjungi warung yang mana dulu.

Akhirnya pilihan pertama saya pun jatuh pada sebuah panganan berbahan baku singkong yang dibentuk dan diwarnai serupa pelangi dengan pewarna makanan. Harganya juga ternyata sangat murah. Soal rasa, hmm..  ternyata tidak juga mengecawakan! Yang lebih mengesankan lagi, hampir semua makanan yang dijajakan di pasar bambu Klathakan  ini disajikan dengan alat-alat makan berbahan baku alam dan ramah lingkungan; ada mangkok yang terbuat dari batok kelapa, gelas dari bambu, dan juga piring dari rotan. Yang begini saya rasa juga bisa jadi nilai jual tersendiri dari kampung ini.

Selain hal-hal yang saya sudah ceritakan tadi, usut punya usut ternyata masih banyak lagi aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan di sana. Sayangnya hari itu saya buru-buru karena ada panggilan tugas. Dan saya pun pulang ketika orang-orang mulai berdatangan sekitar setengah jam kemudian. Menyambangi Kampung Bambu Klathakan benar-benar merupakan sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Maka bukan hal yang tidak mungkin jika lain waktu saya kembali berkunjung ke sana untuk berburu kegembiraan lainnya.

 

 

One Response to "Menghirup Udara Masa Lalu di Kampung Bambu Klathakan"

  1. J C  27 November, 2018 at 12:06

    Jepretane ciamik tenan…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.