PSI Rumah Generasi Bergegas, Cergas, Lekas dan Pedas

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SEKITAR 75 juta anak muda Indonesia saat ini adalah harta dan kekayaan tak ternilai Indonesia di masa depan.  Harta itu yang akan digali, diolah dan diwujudkan bermanfaat bagi masa depan Indonesia di era demokrasi digital oleh banyak pihak, termasuk oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang genap merayakan HUT ke 4, Minggu malam 11 November 2018, di Jakarta yang dihadiri calon presiden RI 2029-2024, Joko Widodo.

“Ketika saya masuk ke tempat ini, mulai dari pintu masuk, saya sudah merasa aura yang berbeda. Sangat berbeda”, sambut Joko Widodo di acara perayaan partai ‘anak generasi Z’ ini. “Aura kaum muda!”, tambah capres RI yang akan diusung PSI kelak pada pilpres 2019.

Sekitar 40% suara yang berhak memilih pada pemilihan serentak (presiden dan legislative) 2019 adalah kaum muda berusai 17-35 tahun. Artinya, mereka sangat menentukan untuk masa lima tahun ke depan nasib Indonesia. Mereka itu, yang disebut oleh Ketua Umum PSI Grace Natalie, sebagai sumber daya optimis Indonesia mendatang dalam pidatonya sangat milenial dengan tema ‘Yang Muda Yang Menangkan Indonesia’. “PSI akan menjaga Pak Jokowi di DPR, menjaga , Ridwan Kamil di Jawa Barat, menjaga Pak Nurdin Abdullah di Sulawesi Selatan, menjaga Ibu Risma di Surabaya!”, janji Grace Natalie.

 

BERANAK DALAM KUBUR

Di era demokrasi digital ini, dunia demokrasi Indonesia disesaki kaum generasi Z yang lahir kurun 1995-2005, ketika dunia dijejali penemuan teknologi komunikasi yang makin spektakuler.  Generasi Z ini biasa disebut ‘digital native’ atau ‘multitaskers’ yang serba. Mereka anak biologis media sosial yang waktunya habis berpraktisi dengan dawai super cerdas.

Mereka dinamis, bersifat instan, tak terduga, kadang labil, likuid, tak bisa diduga, dan mudah memuja tokoh yang mereka suka tanpa beban sama sekali serta bisa membencinya seketika, juga tanpa pretensi. Mereka bisa pindah dari isu satu ke isu lainnya dengan riang. Ini yang disebut ‘Sis’ (sapaan antar kader PSI) Grace Natalie bahwa demokrasi yang diusung PSI adalah “demokrasi yang penuh kegembiraan”.

Pada pilpres 2014, PSI memang belum lahir walau benihnya sudah ada. Bagi pengamat sosial Daniel Dhakidae, Pilpres 2014 seharusnya menjadi panggung terakhir politikus stok lama. Nyatanya, meleset. Buktinya pada pilpres 2019 nanti akan menjadi ‘balas dendam’ pada Pilpres 2014. Kita memilih capres yang sama dalam lima tahun. Dan banyak politikus lama yang konservatif masih ikut arus putaran elektoral di berbagai tingkatan.

Artinya, yang seharusnya sudah mati sejak lima tahun lalu, ternyata mereka masih bisa hadir kembali dengan sosok yang sama, juga melahirkan bayi-bayi baru yang masih berpikiran konservatif walau secara kronologis mereka tergolong ‘generasi Z’ atau kaum milenial. Mirip seperti film ‘Beranak Dalam Kubur’. Sudah mati masih bisa melahirkan kader.  Tak sedikit kaum muda yang seharusnya menjadi generasi era digital ini, justru masih berpikiran konservatif gaya lama, karena keterpengaruhan sosial dan budaya. Bahkan banyak kejadian sosial politik di era pre pemerintahan Presiden RI Joko Widodo yang dilakukan milenial, tetapi direspon oleh pemerintah dengan cara dan gaya khas generasi lama yang sangat konservatif.

 

UNICORN DUNIA POLITIK

Pemerintah Joko Widodo sangat berharap kaum muda memegang tampuk kemajuan Indonesia saat ini. Jokowi misalnya, sangat bangga, menyebut 7 start-up terbaik di Asia Tenggara, ada 4 yang dimiliki dan dibangun anak muda Indonesia. Sehingga dia tak ragu menginginkan PSI akan menjadi “unicorn di dunia politik Indonesia”. Unicorn adalah sebutan bagi start-up atau perusahaan rintisan yang bernilai di atas 1 miliar dollar AS atau setara Rp 13,5 triliun. Ini artinya, dipundak PSI diharapkan kaum muda generasi Z bisa terdepan dan penuh keberanian mengisi dunia perpolitikan di era demokrasi digital yang penuh toleran, dinamis, fleksibel dan serba horisontal tanpa memandang perbedaan SARA. Inilah yang kita sebut generasi yang bergegas, cergas, lekas, dan pedas.

Namun untuk menjadi ‘unicorn di dunia politik”, PSI harus memenuhi syarat, seperti yang disampaikan capres RI Joko Widodo di depan kaum muda PSI. “Door-to-door” atau banyak turun ke lapangan menyapa warga dari hati ke hati secara nyata. Tidak sekedar unggul secara sosial di dunia maya.

Walau PSI lahir untuk menjadi rumah generasi muda yang jumlahnya membludak saat ini, setiap kader PSI tak boleh memutuskan dialog antar generasi. Masa lalu adalah masa kini dan juga masa depan. Harus dibangun jembatan komunikasi antar generasi. Biarkan generasi lalu pergi dan generasi kini datang. Tetapi kita tak boleh kehilangan solidaritas antar generasi untuk membangun bangsa ini tanpa perbedaan dan kebencian. (*)

 

 

8 Comments to "PSI Rumah Generasi Bergegas, Cergas, Lekas dan Pedas"

  1. Jhony Lubis  22 November, 2018 at 22:41

    Partai baru…. harapan baru…. waktu berjalan yang akan mencatatkan sejarahnya…

  2. Jhony Lubis  22 November, 2018 at 22:35

    Partai baru… harapan baru… semoga tetap terjaga integritas dan idealisnya untuk kepentingan rakyat… waktu berjalan yang akan membuktikan….

  3. Sierli FP  19 November, 2018 at 14:13

    Mantaapp, maju terus bung !!

  4. Alvina VB  16 November, 2018 at 10:36

    Hebring…..Semoga generasi muda merubah perpol Indonesia yg sudah kaya dagelan. Wow….lurah Baltyra ikutan yo…..

  5. Swan Liong Be  14 November, 2018 at 23:10

    PSI tidak mau mendukung perda berbasis agama, baik islam maupun kristen; siapa yang sewot….??

  6. James  14 November, 2018 at 08:54

    PSI…..sip

  7. Lani  13 November, 2018 at 14:43

    Jozzz Aku lihat pidatonya di YouTube dgn penuh semangat.

  8. bagong julianto  13 November, 2018 at 13:31

    Satu lagi Bung Iwan: bernas!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.