AYAH (1)

Syanti

 

Part 1

“Dang ding dung dung, dang ding dung,” bunyi suara gendang mengiringi lagu yang dinyanyikan oleh Priyanta “Anakku sayang mari kita bernyanyi sambil menari,” Kakinya bergerak ke kanan, ke kiri mengikuti irama gendang di tangannya.

Setiap kali menyanyikan lagu itu, anaknya akan tersenyum gembira sambil ikut menari. Ding dung…dung, dung, dang ding dung plak!

Priyanta merasa hidupnya begitu hampa, tubuhnya yang dulu tegap sekarang menjadi kurus dan bungkuk, rambutnya yang tebal dan berombak, sudah menipis dan berwarna putih, penampilannya terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya, karena hidupnya penuh dengan penderitaan.

Sudah hampir duapuluh lima tahun, dia berada di tempat ini, tidak ada seorangpun dari keluarganya yang datang menjenguknya. Setiap ada kesempatan, dia selalu mengirimkan surat untuk anaknya, walaupun tidak pernah mendapatkan jawaban.

Priyanta selalu menyanyikan lagu tersebut untuk melepaskan rasa rindu pada anaknya.

 

Ceylon 1960

Mawathagama, adalah sebuah desa kecil di Kurunagala district. Penduduk desa tersebut, pada umumnya hidup dari bercocok tanam. Priyanta, hidup bahagia bersama istri dan anaknya.

Siang itu, setelah bekerja di ladang, dia mendapatkan istrinya terbaring di tempat tidur mengerang sambil menggigil kedinginan. Priyanta begitu terkejut, dengan panik diangkat dan digendong istrinya dengan setengah berlari.

Istrinya dia bawa ke veda mahatia di kampung itu. Ternyata istrinya menderita penyakit malaria. Dan jiwanya tidak tertolong, istrinya meninggalkan dia dengan anak laki-lakinya yang belum genap tiga tahun umurnya.

Setelah istrinya meninggal, perhatian Priyanta hanya untuk Mahesh putranya, ke manapun dia pergi. Mahesh selalu dibawa, diwaktu luangnya Mahesh selalu diajak bermain, dibuatkannya mainan dari bambu, yang kalau tertiup angin bisa berputar, mereka tampak sangat bahagia. Apapun akan dilakukannya untuk membahagiakan anak satu satunya.

Setiap kali Priyanta memandang foto mereka bertiga yang tergantung di dinding rumahnya  hatinya begitu sedih dan  teringat akan masa-masa bahagia bersama istrinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah lagi.

Kebahagiaan mereka mulai terganggu dengan kehadiran Piyawati adik dari istrinya. Diam-diam dia mencintai Priyanta dan berusaha menarik perhatian Priyanta. Setiap hari Piyawati datang ke rumah Priyanta dengan membawakan makanan untuk Priyanta dan anaknya.

Somasiri adalah pemuda di desa itu yang bekerja di kantor pos desa, sebagai pengantar surat. Pekerjaannya setiap hari keliling desa, dengan sepeda ongkel, untuk mengantarkan surat.

Tubuhnya yang kurus mengenakan baju seragam yang agak kebesaran dan topi bundar berwarna coklat tua, kelihatan berbeda dengan penduduk desa lainnya Karena pekerjaannya selalu keliling desa, Somasiri banyak mengetahui keadaan di desa. Setiap terjadi sesuatu dia merupakan orang pertama yang mengetahuinya, bisa dikatakan Somasiri sebagai penyebar berita.

Sudah lama Somasiri tertarik pada Piyawati, pada mulanya Piyawati menyukai Somasiri. Tetapi setelah kakak perempuannya meninggal. Piyawati lebih tertarik kepada Priyanta.

Hampir setiap hari di sela-sela pekerjaannya Somasiri selalu mengunjungi Piyawati, tetapi akhir-akhir ini, Piyawati sering tidak mau menemuinya, karena sekarang Piyawati lebih tertarik pada Priyanta.   Pada waktu Somasiri mengetahui itu Somasiri merasa kecewa dan merasa cemburu pada Priyanta.

Pagi itu Priyanta, terbangun karena mendengar suara isakan tangisan seorang perempuan. Pada waktu Priyanta membuka pintu rumah nya, sangat terkejut mendapatkan Piyawati berdiri dekat pintu rumah, sambil menangis. Priyanta memandang Piyawati dengan penuh pertanyaan.

“Kenapa Piyawati nanggi ada apa?” Tanya Priyanta.

Tetapi tiba-tiba Piyawati berlutut sambil memeluk kaki Priyanta

“Aya. . . . Saya ingin hidup bersamamu!”  Jawab Piyawati sambil terisak-isak menangis.
Priyanta melangkah ke depan sambil berusaha melepaskan kakinya dari dekapan Piyawati. Dia hanya diam, sambil menahan amarah.

Dari dalam rumah, terdengar suara tangisan Mahesh, mencari ayahnya. Priyanta melepaskan kakinya, untuk menggendong anaknya dan menyuruh Piyawati untuk pergi.

Priyanta merasa sangat terganggu dengan sikap Piyawati dan dia memutuskan sementara waktu untuk pergi meninggalkan desanya. Dengan diam-diam Priyanta dengan anaknya, pergi meninggalkan desanya. Dalam perjalanan menuju ke halte bis Priyanta bertemu dengan Somasiri

Melihat Priyanta menggendong anaknya sambil menjinjing koper yang terbuat dari kayu, seperti mau bepergian. Pada waktu berpapasan Somasiri menghentikan sepedanya dan menghampiri Priyanta.

“Priyanta aya, hendak pergi ke mana?” Tanya Somasiri sambil tersenyum.
“Ada urusan keluarga, di desa sebelah,” Jawab Priyanta dengan nada tidak suka.

Somasiri senang sekali, melihat Priyanta pergi meninggalkan desanya. Dikayuhnya sepeda dengan cepat menuju rumah Piyawati. Dari jauh dia melihat Piyawati yang berjalan keluar dari halaman rumah Priyanta.

“Hey. . . Piyawati nanggi!” teriak Somasiri.

Tetapi Piyawati, tidak menjawab malah mempercepat langkahnya. Pura-pura tidak mendengar, hatinya kecewa waktu dia mendapatkan rumah Priyanta kosong dan terkunci. Siang itu Piyawati berharap akan mendapatkan jawaban dari Priyanta.

Somasiri mengayuh sepedanya lebih cepat untuk mengejar Piyawati.

Sesampai di rumah Piyawati langsung masuk ke dalam rumah. Ibunya yang sedang menjemur padi di halaman rumah merasa heran, melihat Piyawati. Belum sempat dia bertanya, Somasiri muncul dengan tergesa-gesa, sambil menuntun sepedanya.

“Nenda, sudah tahukah, Priyanta aya pergi?” tanya Somasiri.

Ibu Piyawati, memandang Somasiri dengan penuh pertanyaan.

“Pergi ke mana?” Ibu Piyawati balik bertanya.
“Tadi kami ketemu di jalan katanya, pergi  ke desa lain, mungkin desa ayahnya ” Jawab Somasiri.
Ibu Piyawati nampak berpikir sejenak, kemudian dia berkata.
“Tidak mungkin, ayah Priyanta sudah meninggal dunia, yang ada hanya ibu tirinya dan mereka sudah lama tidak berhubungan.”

Ibu Piyawati kembali meneruskan pekerjaannya, sambil menggerutu di dalam hatinya, “pergi tidak pamit. . . Akh mungkin cuma dekat-dekat saja dan sebentar” pikir ibu Piyawati.

Kemudian Somasiripun pamit karena harus kembali ke kantor pos untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena menanti Piyawati tetapi tidak keluar dari dalam rumah.

 

bersambung…

 

Notes:
Tatha / apachi = Ayah
Ama = ibu
Achi ama = nenek
Sia= kakek
Aya. = kakak laki-laki
Aka = kakak perempuan
Mali = adik laki-laki
Nanggi. = adik perempuan
Putha = anak laki-laki
Dhue = anak perempuan
Veda mahatia = dokter ayurveda /tradisionil
Nenda = bibi /tante
Mame = paman
Mudalali = pengusaha / boss

 

 

2 Comments to "AYAH (1)"

  1. Syanti  4 December, 2018 at 08:35

    Thanks JC yang sudah berkenan dengan tulisan saya.
    Saya masih di Srilanka negara Rahwana
    Sekarang kami sudah pensiun dan tinggal di desa, jadi punya banyak waktu kosong , untuk menulis
    Hanya problem dengan Internet yang up and down. Sering tidak bisa buka Baltyra

  2. J C  27 November, 2018 at 12:05

    Halo Syanti, long long long time no see…terima kasih sudah mengirimkan artikel berseri yang menarik ini…saya tetap menyimak walaupun amat-sangat-jarang sekali komentar…hehehe…

    Apa kabar? Masih di Negeri Seberang?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.