Islam dalam Secangkir Teh

Juwandi Ahmad

 

Segerah gerahnya kejiwaan seorang Muslim, bila nalar batinya akrab dengan kemerduan dan kesyahduan al-Qur’an, tak mungkin menyiram wajah orang (tua) dengan secangkir teh.

Ekspresi ketidakstabilan emosi yang dianggap manusiawi dan beragam pemakluman karena sifat sang jiwa, bukan lantas membuat suatu tindakan menjadi benar. Orang cenderung mencari pembenaran meski ia tahu bahwa dirinya salah. Mengapa? Sebab pada dasarnya manusia tidak nyaman berada dalam ketidakbenaran. Karena itu, berkatalah seorang Muhammad, mintalah fatwa pada hatimu, pada nuranimu.

Setiap kali engkau marah dan melakukan tindakan yang berlebihan, yang menciderai apa yang disebut sebagai akhlak, maka saat itu juga batal dan runtuhlah gugusan ilmu dan pengetahuan yang disematkan kepadamu. Dalam bahasa agama, engkau mesti bersyahadat ulang.

 

 

One Response to "Islam dalam Secangkir Teh"

  1. J C  27 November, 2018 at 12:05

    Gus Wan, piye kabarmu?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.