Islam dalam Secangkir Teh

Juwandi Ahmad

 

Segerah gerahnya kejiwaan seorang Muslim, bila nalar batinya akrab dengan kemerduan dan kesyahduan al-Qur’an, tak mungkin menyiram wajah orang (tua) dengan secangkir teh.

Ekspresi ketidakstabilan emosi yang dianggap manusiawi dan beragam pemakluman karena sifat sang jiwa, bukan lantas membuat suatu tindakan menjadi benar. Orang cenderung mencari pembenaran meski ia tahu bahwa dirinya salah. Mengapa? Sebab pada dasarnya manusia tidak nyaman berada dalam ketidakbenaran. Karena itu, berkatalah seorang Muhammad, mintalah fatwa pada hatimu, pada nuranimu.

Setiap kali engkau marah dan melakukan tindakan yang berlebihan, yang menciderai apa yang disebut sebagai akhlak, maka saat itu juga batal dan runtuhlah gugusan ilmu dan pengetahuan yang disematkan kepadamu. Dalam bahasa agama, engkau mesti bersyahadat ulang.

 

 

5 Comments to "Islam dalam Secangkir Teh"

  1. juwandi  5 August, 2019 at 14:08

    Mas jos, kabarku apik, sak mono ugo njenengan, semoga baik baik saja. Aku lagi diberkahi pekerjaan sak gunung anak an iki, hahahaha, plus sedang beratapa….

  2. Tanyo  25 June, 2019 at 03:18

    Secangkir teh dapat melambangkan banyak makna… nice…

  3. Kreta Amura  9 June, 2019 at 22:17

    Sederhana tapi ngena banget. Nggak usah pake konsep barat tentang HAM atau segala macam. Karena islam punya yang lebih baku dan sempurna, yaitu Akhlaq

  4. EA.Inakawa  22 January, 2019 at 18:14

    Secangkir Teh, selalu akrab menemaniku saat mendengarkan Tausiah tentang Islam, tanpa Secangkir Teh, aku selalu mudah terlena…..Secangkir Teh apalagi tanpa gula bisa membuat kita tetap awet muda.
    Salam Sehat

  5. J C  27 November, 2018 at 12:05

    Gus Wan, piye kabarmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.