AYAH (2)

Syanti

 

Artikel sebelumya:

AYAH (1)

 

Sebetulnya Priyanta sendiri, belum tahu akan pergi ke mana. Sekitar setahun yang lalu, setelah panen Priyanta bersama istri dan anaknya, pergi ke Wariyapola kota kecil terdekat dari desanya. Mereka pergi berbelanja untuk merayakan Avurudhu (tahun baru Singhala dan Tamil). Pada kesempatan itu mereka juga pergi ke photo studio, untuk mengambil foto keluarga.

Mereka pergi ke kota, hanya untuk acara tertentu saja, ini merupakan yang pertama kali Priyanta pergi ke kota bersama, istri dan anaknya, mereka tampak bahagia sekali.

Pada waktu itu, mereka bertemu dengan Kumara, teman Priyanta waktu masih kecil, dia bekerja di kota, dan Kumara mengajak Priyanta untuk mampir di tempat kerjanya, di sebuah rumah makan merangkap toko roti.

Akhirnya Priyanta mengambil keputusan untuk menemui Kumara, mungkin bisa menolong dia untuk mencarikan pekerjaan dan memberikan tumpangan, untuk sementara waktu.

Sepanjang jalan, Priyanta terus berpikir apa yang harus dia lakukan. Perjalanan kali ini tampa direncanakan, membuat dia merasa  sedih, tidak seperti waktu bersama dengan keluarganya. Pada waktu itu mereka sangat antusias dan gembira.

Setibanya di kota, Priyanta dan anaknya langsung mencari Kumara di tempat pekerjaannya. Ternyata Kumara sudah tidak bekerja di tempat itu lagi.

Priyanta merasa bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Priyanta mendudukkan anaknya di salah satu kursi kosong di rumah makan itu dan mengambil roti dari rak saji di toko itu, diberikannya roti itu kepada Mahesh anaknya. Mahesh memakan roti dengan lahap, karena perutnya kosong sejak pagi belum makan.

Sementara Mudalali pemilik toko roti itu, memperhatikan mereka.

“Anakmu kelihatan sangat lapar!” kata Mudalali.

Priyanta hanya diam saja, tidak menjawab. Dia sendiri perutnya kosong, tetapi dia hanya mempunyai uang sedikit dan belum tahu harus pergi kemana.

Melihat Priyanta hanya diam saja, Mudalali bertanya lagi.

“Sebetulnya kamu mencari Kumara ada keperluan apa? “

“Mencari pekerjaan”

Jawab Priyanta singkat, sambil memandang Mudalali dengan muka memelas.

“Bagaimana mau bekerja dengan membawa anak kecil”

Kata Mudalali sambil memandang kearah anaknya.

“Istri saya meninggal dunia beberapa bulan lalu “

Jawab Priyanta, sambil membelai kepala anaknya.

Mudalali merasa terharu, dari penampilannya Mudalali tahu, Priyanta hanya seorang petani. Mungkin dia dalam kesulitan karena panen yang gagal, sehingga meninggalkan desanya, untuk mencari pekerjaan. Mudalali merasa iba dan memutuskan untuk memberikan Priyanta pekerjaan, sebagai pembantu di pabrik rotinya. Priyanta menerima pekerjaan itu, walaupun Mudalali hanya akan memberikan upah sedikit, tetapi dia dan anaknya diijinkan tinggal di gudang pabrik roti.

Pabrik roti yang berada di belakang rumah makan itu, sangat sederhana. Hanya ada dua orang yang bekerja di situ, Apuhamy pembuat roti dan asistennya yang sudah tua. Tugas Priyanta adalah membelah kayu bakar untuk memanggang roti, menimba air dari sumur dan pekerjaan kecil lainnya.

Setelah beberapa minggu, Priyanta pergi. Somasiri berharap Piyawati melupakan Priyanta. Ternyata Piyawati masih tetap menantikan Priyanta.

Siang itu Piyawati dan ibunya sedang membersihkan halaman rumah. Somasiri datang mengantarkan sepucuk surat untuk mereka. Mereka jarang sekali mendapat surat.

“Surat dari siapa? ” tanya ibu Piyawati sambil memandang Somasiri dengan wajah penuh pertanyaan.

Somasiri membaca nama pengirim surat itu.

“Dari Priyanta aya ” jawab Somasiri sambil memberikan surat tersebut dan bersiap-siap untuk pergi, matanya memandang ke arah Piyawati yang pura-pura sibuk, tetapi pada waktu ia mendengar ada surat dari Priyanta.

Piyawati menghampiri ibunya dan mengambil surat itu. Tetapi Piyawati mengembalikan lagi surat itu karena dia tidak dapat membaca dengan baik.

Ibu Piyawati meminta tolong Somasiri untuk membacakan surat tersebut.

Somasiripun membacakan surat tersebut sambil duduk di balai- balai yang ada di depan rumah. Piyawati menghampiri Somasiri dan duduk di sebelah Somasiri dengan antusias.

Ama dan Piyawati nanggi,
Kami baik-baik saja, semoga
ama dan Piyawati nanggipun
demikian adanya.
Saya ingin memberi tahu,
bahwa saya akan menikah
saya mohon restu dari ama
dan Piyawati nanggi……

Belum selesai Somasiri membacakan surat tersebut. Tiba-tiba Piyawati menangis terisak-isak membuat ibunya dan Somasiri sangat terkejut.

” Cukup!  jangan dilanjutkan!”

Teriak Piyawati, sambil menangis.

“Belum satu tahun istrinya meninggal, sudah mau menikah lagi “

Ibu Piyawati berkata dengan marah.

Somasiri hatinya bahagia sekali dengan adanya surat itu, Piyawati mau menikah dengannya. Mereka merencanakan untuk menempati rumah Priyanta setelah menikah. Rumah itu  diberikan pada Priyanta dan kakaknya, waktu mereka menikah sebagai mas kawin. Setelah Priyanta menikah lagi, dia tidak berhak lagi untuk menempati rumah itu.

Sementara Priyanta berusaha bekerja sebaik mungkin, setiap kali dia bekerja, Mahesh selalu berada tidak jauh darinya.

Apuhamy si pembuat roti tidak suka dengan Priyanta, terutama Mahesh dia merasa terganggu dengan adanya anak kecil di tempat pekerjaannya.

Seringkali dia marah dengan Mahesh tampa alasan, hal ini membuat Priyanta tidak suka. Bagi Priyanta Mahesh adalah segalanya, dia tidak suka kalau ada orang lain yang memperlakukan anaknya dengan tidak baik.
Apuhamy sering menegur Priyanta, bila melihat Priyanta, masih suka menggendong, menyuapin dan bermain dengan anaknya.

Siang itu tampa sepengetahuan Priyanta, Mahesh masuk ke dalam pabrik roti. Mahesh melihat roti manis yang baru matang, menarik perhatiannya. Diambilnya sebuah roti, Apuhamy yang melihat rotinya diambil sangat marah, ditempelkannya loyang yang masih panas ke lengan Mahesh.

“Apaachiiii…..!”

Teriak Mahesh sambil menangis kesakitan. Mendengar suara tangisan anaknya, Priyanta langsung berlari ke arah suara tangisan anaknya. Dia melihat apa yang sedang dilakukan oleh Apuhamy. Didorongnya Apuhamy dengan keras, sampai hampir terjatuh.

Priyanta berlari menggendong anaknya sambil berteriak meminta tolong. Mahesh dibawa ke veda mahatia terdekat,  Mahesh berteriak kesakitan pada waktu luka bakarnya diobati. Hati Priyanta terasa perih, seandainya bisa dia ingin menggantikan Mahesh, biar dia yang merasakan sakit.

Priyanta memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali ke desanya. Dalam perjalanan ke rumah, mereka bertemu dengan ibu mertuanya. Pada waktu Mahesh melihat neneknya, dia langsung berlari menghampiri neneknya.

Tetapi neneknya bersikap dingin, tidak seperti biasanya.

“Aci ama, kenapa… Aci ama marah?”

Tanya Mahesh sambil minta digendong.

Priyantapun merasa aneh melihat sikap mertuanya kepada mereka berdua.

“Ada apa ama? “

Tanya Priyanta sambil memandang ibu mertuanya dengan heran, karena tidak seperti biasanya.

“Katanya kamu sudah menikah lagi, dan tidak akan kembali ke sini!”

Priyanta sangat terkejut mendengar pertanyaan mertuanya.

Ibu mertuanya mengajak Priyanta ke rumahnya, lalu dia masuk ke dalam rumah mengambil surat yang dikirimkan oleh Priyanta.

Pada waktu membaca surat itu, Priyanta sangat terkejut karena dia tidak pernah menulis surat tersebut. Priyanta mengambil surat itu dan berjanji pada ibu mertuanya untuk mencari tahu siapa yang menulis surat tersebut ke kantor pos.

Pada waktu Priyanta memasuki halaman rumahnya, dia melihat Piyawati dan Somasiri berada di depan pintu rumah, sedang berusaha membuka pintu rumah dengan mendongkel kunci gembok pintu rumah.

“Hey, apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Priyanta dengan marah.

Mereka terkejut melihat kedatangan Priyanta yang tidak terduga. Somasiri merasa ketakutan dan hanya diam. Tetapi Piyawati menjawab, bahwa mereka mau membersihkan rumah, karena setelah mereka menikah akan menempati rumah itu.

“Kalian bicara apa? Ini rumah kami,  rumah saya dan Mahesh… Ayo pergi sana! “

Kata Priyanta, sambil mengusir mereka dengan marah. Melihat kemarahan Priyanta, mereka pergi meninggalkan rumah Priyanta, menuju rumah Piyawati. Sesampai di rumah mereka disambut ibu Piyawati dengan pertanyaan.

“Siapa yang menulis surat itu? Menurut Priyanta, dia tidak menulis surat untuk kita.”

Mendengar pertanyaan ibu Piyawati, Somasiri sangat terkejut, karena sebetulnya dia yang menulis surat itu. Kemudian Somasiri meminta surat itu pada ibu Piyawati, tapi ia mengatakan, bahwa suratnya sudah dibawa Priyanta, dan akan dibawa ke kantor pos untuk mengetahui siapa pengirim surat itu. Mendengar perkataan ibu Piyawati, Somasiri merasa ketakutan, karena bila diketahui dia yang menulis surat itu, dan secara diam-diam dia telah memberi stempel di surat itu, tampa sepengetahuan kepala kantor pos, dia akan mendapatkan problem dan ada kemungkinan dia bisa kehilangan pekerjaannya.

Dengan adanya rencana pernikahan Somasiri dengan Piyawati, Priyanta bisa hidup bersama anaknya dengan tenang. Somasiri selalu menghindar untuk bertemu dengan Priyanta. Setiap kali dia melihat Priyanta dari jauh, dia langsung membalikkan sepedanya. Priyanta hanya tersenyum melihat kelakuan Somasiri, dia sudah menduga Somasiri yang menulis surat tersebut.

Di hari yang naas itu, setelah bekerja di sawah. Priyanta dan anaknya pergi ke sungai untuk mandi. Setelah memandikan anaknya, dia mendudukan anaknya Mahesh pada sebuah batu di pinggir sungai tersebut. Kemudian Priyanta berenang ke tengah sungai, udara yang panas, membuat tubuhnya terasa segar setelah bekerja di sawah.
Tidak lama kemudian rombongan kerbau melalui jalan setapak di pinggir sungai, melihat rombongan kerbau yang mendekati tempat Mahesh duduk, maka Mahesh pun merasa ketakutan.

“Apaachiiii…..!” Teriak Mahesh.

Mendengar teriakan suara Mahesh yang ketakutan. Priyanta sangat terkejut, ia membalikkan badannya, dan melihat rombongan kerbau berjalan ke arah tempat Mahesh berada. Dengan secepatnya Priyanta berenang ke tepi sungai, berlari menuju tempat Mahesh. Pada waktu dia sampai di sisi sungai. Rombongan kerbau tersebut sudah melalui tempat itu. Tetapi Mahesh tidak ada di tempat.

Priyanta sangat panik, mungkin Mahesh terseret kerbau-kerbau itu dan terinjak-injak, bagaimana kalau anaknya meninggal??? Di tengah rasa panik Priyanta dan pikiran yang buntu. Pada waktu dilihat pengembala kerbau itu lewat, diambilnya cangkul yang ada di dekatnya dipukulnya kepala gembala itu, sehingga terluka, gembala itu tersungkur jatuh ke tanah dengan kepala bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.

Kejadian itu begitu cepat, di luar dugaan.
“Apachi!”

Terdengar suara Mahesh, memanggil ayahnya, dari balik pohon tempat ia bersembunyi dari rombongan kerbau yang melewati tempat itu.

Somasiri yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu, tidak berusaha menolong Priyanta yang sedang dalam keadaan panik. Tetapi dia memutar sepedanya, pergi ke pos polisi desa, melaporkan peristiwa itu.

 

bersambung…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.