Memahami Ranting Kering

Dwi Klik Santosa

 

Minat baca yang rendah merupakan problem yang serius kiranya bagi bangsa ini.

Data yang mengatakan ranking minat baca Indonesia berada di urutan 60, paling bawah nomer 2 dari negara-negara berdasarkan survei “Most Littered Nation In The World” oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, tak pelak merupakan faktual yang ironi dan memprihatinkan.

Buku adalah jendela dunia, ada benarnya. Dengan membaca buku, seseorang jadi banyak tahu dan leluasa melongok isi dunia yang luas ini. Begitupun bisa jadi menyebabkan pola pikir dan sikap hidupnya ; cermat, arif dan bijaksana.

Setiap buku yang terbit selalu punya ceritanya tersendiri. Tapi secara umum, perlu keahlian yang spesifik sebagai latar belakang di sebalik terbitnya buku tersebut.

Yang terutama sekali adalah isi atau materi yang menjadi naskah dan siap dimusyafkan sebagai buku. Isi pikiran manusia, jelas bukan mesin. Maka, derajatnya secara teknis menempati unggul dibandingkan dari proses mencetak, menjilid atau bahkan mengcopynya secara bajakan.

Secara pribadi saya meyakini; penulis buku itu punya kecenderungan sabar, tidak grusa grusu dan sudah pasti banyak tahu. Nah, begitupun dengan pribadi yang maniak baca buku atau yang lebih sering disebutkan sebagai kutu buku. Niscaya punya kepribadian yang sabar, berwawasan luas dan pembenci hoax.

Berkait dengan minat baca buku yang rendah, bisakah kemudian disebutkan lebih menjadi penyebab banyak manusia Indonesia kita kurang luas pengetahuannya alias …  . Bisakah jika kemudian disebutkan dalam kecenderungan : menjadi penyebab dan menyuburkan sifat yang temperamental, grusa grusu, gemar merasa sok padahal …., mudah terhasut karena tidak cukup luas wawasan dan pengetahuannya?

Nah, bisakah juga jika kemudian secara politis dihubungkan dengan istilah “seperti ranting-ranting kering”. Yang jika terpercik isu, cepat terpanggang dan akhirnya mudah terbakar. Bahkan nyala apinya jadi sedemikian berkobar-kobar. Siap melumat dan menghanguskan apa saja.

Padahal, api sebagaimana sifatnya panas dan menyala. Tapi tidak melulu untuk menghanguskan sebaiknya. Bukankah begitu? Tapi bisa juga untuk memasak; menjadikan yang mentah menjelma hidangan yang matang dan siap memberi masakan yang lezat bagi jiwa dan raga. Begitupun jika nyalanya serupa obor dan pelita, bukankah sangat berguna untuk menerangi yang gelap dan kelam. (DKS)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.