Puisi Kolaborasi

El Hida

 

Group of business people assembling jigsaw puzzle and represent team support and help concept

Seperti musim dingin tanpa salju

Bagaikan pagi tanpa mentari

Begitulah diriku tanpa dirimu

 

Jika Cleopatra menginginkan keindahan

Jika Gibran memuja bait dan kata

Biarkan aku cukup menginginkan satu

Senyum indahmu…

 

Awan mungkin tetap menatap langit

Bumi selalu lirih menanti hujan

Biarkan aku tetap duduk di sini

Menanti kembalimu di sisiku(Mea)

 

Rasa mengkristal di langit maya sisakan tanya pada waktu yang lalu….Fatamorgana?(Adriano Rahaded)

 

Dalam hening di kala sunyi

Aku hanya diam menatap sepi

Jam dinding yang berdetak

Hanya membuatku semakin gelisah

Menanti kapan hadirmu(Mea)

 

Di perempatan jalan

Yang selalu kita lewati

Tak lagi ku lihat bayangmu

Tapi aku tetap menanti(Titania El Rosda)

 

Kala waktu berlalu

Senyum dan lembut bibirmu masih membekas di hati.(Joko Prayitno)

 

Kutitipkan mendung kuharap hujan,di kebun ini aku tak pernah lelah menunggu,walau diseberang sana tanah pun tak terlihat terbelah belah seperti serpihan cermin….(Mastok Setyanto)

 

Sepagi senyum masih kukantongi kapang di saku kiri

Ketika sore kupindahkan ke saku kanan menjadi genggaman angin

Lalu kutiup bersama ilalang ke arah matahari terbit

Dan kita bertemu di gerbang antara cakrawala dan lazuardi

Maka hari menjadi sepi karena riuhnya hati kita(Yuli Sectio Rini)

 

Jarak adalah hasrat untuk selalu dekat. Rasa, hati, dan angan dalam hadirmu.Ia selalu lepas dari dimensi ruang dan waktu yang semakin melambung jauh. Kini tersimpan dalam hasrat dan ingatan akan kehadiran.(Dewi Aichi)

 

Engkaukah itu, yang mengintip pagi di batas malam dan subuh?(Benedicta Moedjiani Nurmeitasari)

 

Sehasta jarak aku dan kamu

Namun bungkam mengisi relung hati yang berkabut senja

Ku ingin selalu ada di dekatmu

Bukan untuk diammu

Bukan untuk marahmu

Bukan untuk bencimu

 

Ku jelajahi cakrawala

Ku tuai kata dari kaki langit

Kulintasi kembali memori kita

Memori milik aku dan kamu

Penuh canda, penuh cinta

 

60 menit diammu

Merelakan kakiku beranjak

Menjauhimu selangkah demi selangkah

 

Semoga kutemukan kembali dirimu

Di antara langkah gundahku

Dan jejak yang tersisa

Merupakan rahasia hidup(Mea)

 

Adzan subuh telah diseru dari masjid tepi kampung

Tapi otakku masih terus berlarian

Sementara mata nyalang seperti lampu jalan

Entah bagaimana aku menjemput mimpi

Supaya bisa bertemu denganmu(Sekartaji Suminto)

 

Di rinai hujan yang tempias di kaca jendela

Kudengar derai tawamu

Di sehelai roti bakar beroles coklat nutella

Kulihat binar matamu

Di secangkir kopi yang kuseduh pagi ini

Terlukis senyum indahmu

Ah, aku…kelu…(Ratna “Elnino” Agustina)

 

Makammu terlalu banyak untuk kuziarahi.(Juwandi Ahmad)

 

Dan…engkau selalu menjadi temanku di saat kesendirianku.(Handoko Widagdo)

 

aku katakan padamu bahwa malam yang gelap dan dingin

tak ada artinya ketika pedihnya hati aku rasakan

dan kepedihan itu adakah tentang perjumpaan

denganmu kekasih hati yang aku namamu abadi aku pahatkan

 

lalu terik dan hujanpun sungguh aku rasakan tak berbeda

aku yakin, jika ini bukan karena keindahan cinta di jiwa

lalu karena apa

engkau membuat segalanya sama di mataku

termasuk luka dan kepedihan

 

(Taufiq El Hida)

 

 

18 Comments to "Puisi Kolaborasi"

  1. Dewi Aichi  3 December, 2018 at 16:16

    Laniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…hahahhaa…iya jangan percaya….kiamat kalau dia anteng alim…

  2. J C  2 December, 2018 at 20:59

    Lha ket biyen anteng-alim-pendiem kok ora percoyo tho…

  3. Lani  2 December, 2018 at 08:04

    Jeng………jeng………jeng……eng ing eng……akhirnya mbau reksone Kona tangi nglunjak2……krn di utik2 karo buto kkkkkkkk……..

    Dewi kamu betul sekali, buto kok diem anteng mbel gedhessssss……….

  4. Dewi Aichi  30 November, 2018 at 16:01

    Pak Lurah anteng? Dunia kiamatttttttttttttttttttttttt…..

    Tumben Lani ngga muncul nih heheeeeeee..giliran aku muncul, Lani ngga muncul..

  5. J C  29 November, 2018 at 22:36

    Lha Nyai Kona, Nyai Canada, Gus Wan, Nyai Enthung, Buto Kudus, mas Iwan, pak Hand, Aimee, mbakyu Probo, pak Ki Ageng, podo angkrem kabeh piye jal? Nek aku khan memang dari dulu khan memang anteng-alim-pendiem

  6. Dewi Aichi  29 November, 2018 at 21:35

    hahahahhahahaa…………….

    Woi mau menggila di baltyra….aku barusan baca-baca again tulisan pak Patrisius …komentar2nya gokisl kabeh..kangen aku

  7. J C  29 November, 2018 at 21:24

    Iki ujug-ujug kumat po piye ya? Ana Mbaurekso Brazil, ana Nyai Enthung…endi iki Mbaurekso Kona kok durung mecungul…sibuk slulup ning Kilauea ketoke…

  8. Dewi Aichi  29 November, 2018 at 14:43

    Kini, setelah pertemuan itu. Aku bercerita kepada ilalang, tentangmu….semua tentangmu. Aku memandang langit malam, yang kian senyap. Di sana hanya ada rembulan, sebab tak ada lagi engkau di sini. Aku sendiri, dan berharap kau di sana duduk sendiri memandang rembulan yang sama.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.