AYAH (3)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

AYAH (1)

AYAH (2)

 

Pengadilan menjatuhkan hukuman tiga puluh tahun penjara, untuk Priyanta yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Priyanta merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Tapi dia teringat  bagaimana pada waktu itu anaknya Mahesh menangis sambil memanggilnya di gendongan neneknya. Mahesh memandangnya sambil mengulurkan tangan, ingin ikut bersamanya.

Bayangan anaknya membuat Priyanta sadar, bahwa masih ada Mahesh anaknya, ia harus kuat untuk menjalankan kehidupannya, setelah masa hukuman selesai, dia bisa berkumpul lagi bersama anaknya.

 

Srilanka 1987

Hari ini adalah hari pertama, Abimayu bertugas sebagai kepala penjara di Kandy. Setelah satu tahun mendapat pendidikan di England. Ibunya memandang Abimayu dengan rasa bangga.

“Bila ayahmu masih hidup, dia pasti merasa bangga dengan prestasi yang kau capai anakku!” Kata ibu Abimayu sambil tersenyum. Abimayu memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang. Sambil memandang foto ayahnya yang tergantung di dinding.

Almarhum ayahnya seorang hakim, sebagai pegawai pemerintah,  mereka sering berpindah tempat sesuai dengan tugas  ayahnya,  setelah pensiun mereka kembali ke kampung halaman di Paradenia sebuah kota kecil dekat Kandy. Rumah mereka berada di bukit, rumah tua dengan halaman yang luas dan mempunyai pemandangan yang indah, rumah yang dibangun oleh kakek buyutnya.

Di hari pertama kerjanya, Abimayu memeriksa file narapidana yang berada di penjara itu. Bandara salah satu sipir penjara berdiri di sisi meja kerjanya,  siap untuk memberi keterangan dari setiap file narapidana di penjara itu. Pada waktu Abimayu membuka file Priyanta. Bandara menerangkan bahwa Priyanta adalah narapidana tertua dan terlama di penjara itu.

Mendengar keterangan sipir penjara itu, membuat Abimayu merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Priyanta. Sipir itu, menceritakan bahwa Priyanta termasuk narapidana yang baik tidak suka membuat keributan seperti narapidana lainnya. Dan Priyanta adalah narapidana yang tidak pernah dikunjungi keluarganya. Istrinya telah meninggal dunia. Mendengar cerita itu, Abimayu bertanya, sambil membaca file Priyanta.

“Di sini tertulis nama anaknya. Apakah anaknya tidak pernah datang mengunjungi Priyanta?”

“Tidak pernah pak, anaknya baru berumur tiga tahun waktu Priyanta masuk penjara.”

Jawab sipir penjara itu, Abimayu hanya terdiam, betapa malangnya Priyanta, pikir Abimayu.

Penjara di Kandy adalah termasuk penjara yang sudah tua dibangun oleh pemerintah British pada masa kolonial, bangunannya cukup besar, terdapat beberapa blok, setiap blok terdiri dari tiga lantai. Siang itu Abimayu mengadakan inspeksi ke setiap blok dengan didampingi salah satu sipir penjara. Pada waktu mereka sampai di sel tempat Priyanta, ia melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya.

“Priyanta! Ini Mr Abimayu kepala penjara yang baru.” Kata Bandara memperkenalkan Abimayu.

Priyanta, mengangkat kepalanya, memandang kepada Abimayu. Kemudian dia berdiri perlahan-lahan dan memberi hormat dengan cara menyatukan kedua telapak tanggannya sambil membungkukkan badannya Abimayu hanya diam dan memandang Priyanta, ia merasa simpati kepadanya.

Untuk mengisi waktu di penjara Priyanta senang membuat patung dari kayu, ia teringat waktu istrinya sedang hamil, ia membuat patung gajah kecil dari kayu, untuk anak yang sedang dikandung istrinya.

Pada waktu itu istrinya tersenyum dan berkata, bahwa gajah adalah untuk anak lelaki, bagaimana kalau anak yang lahir perempuan? Priyanta hanya tersenyum dan memandang istrinya dengan penuh kasih sayang.

Siang itu Abimayu mengadakan inspeksi rutin didampingi sipir penjara, pada waktu melewati sel Priyanta. Abimayu melihat Priyanta sedang asyik membuat patung gajah di dalam sel. Ia bertanya apa yang sedang dilakukan Priyanta, oleh Priyanta ditujukannya patung gajah yang sedang dibuatnya.

Pada waktu dilihat Priyanta menggunakan pisau di dalam sel. Priyanta mendapat teguran dari Abimayu karena telah melanggar peraturan dengan membawa benda tajam ke dalam sel, seharusnya Priyanta mengerjakannya di ruang kerja yang tersedia di penjara. Priyanta meminta maaf dengan tertunduk-tunduk kepada Abimayu. Tetapi sipir penjara yang mendampingi Abimayu, menerangkan bahwa Priyanta mendapat ijin khusus untuk bekerja di selnya. Mendengar penjelasan dari sipir penjara, Abimayu hanya diam.

Beberapa hari kemudian, Priyanta meminta ijin kepada sipir penjara, untuk bertemu dengan Abimayu, karena ia ingin memberi patung gajah yang dibuatnya untuk Abimayu. Patung gajah itu dibungkus dengan kertas koran bekas, patung kayu tanpa polish dan kelihatan masih kasar.

Abimayu menerima pemberian Priyanta, dipandangnya patung tersebut, seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Abimayu mengucapkan terima kasih dan meletakannya di atas meja kerjanya. Priyanta senang sekali, Abimayu mau menerima pemberiannya.

Hari ini adalah hari terakhir Mahesh mengajar di sekolah desa, tempat dia sekolah dulu. Karena Mahesh akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi ke Ceylon university.

Dalam perjalanan pulang, Mahesh bertemu dengan tukang pos, yang sedang menuju rumahnya untuk mengantarkan surat. Tukang pos memberikan surat pada Mahesh. Dari beberapa surat yang diterimanya, ada satu surat dalam bentuk warkatpos, yang menarik perhatiannya dan surat itu ditujukan kepadanya. Diam-diam dimasukannya surat itu ke dalam saku celananya. Karena ayahnya selama ini selalu memeriksa setiap surat yang datang ke rumah terutama surat yang ditujukan kepadanya.

Dari halaman rumah Somasiri melihat tukang pos memberikan surat kepada Mahesh. Pada waktu Mahesh memasuki halaman rumahnya  Somasiri langsung bertanya tentang surat yang diterimanya.
Mahesh memberikan surat-surat itu ke ayahnya dan masuk ke dalam rumah mencari ibunya, untuk meminta makan. Sebetulnya dia menghindari dari ayahnya yang selalu bertanya macam-macam dan tidak perlu.

Diam-diam Mahesh pergi dari rumah untuk membaca surat yang diterimanya tadi siang, dengan penuh rasa ingin tahu.

“Mahesh putha, tentunya kamu sudah dewasa sekarang. apachi sangat merindukanmu, sudah hampir duapuluh tujuh tahun apachi berada di penjara, beberapa tahun lagi apachi akan dibebaskan. Kita akan berkumpul kembali.” Priyanta apachi

Membaca surat itu, Mahesh sangat terkejut. Siapa Priyanta ini? Dia sama sekali tidak mengenalnya.Tapi tiba-tiba dia teringat waktu kecil, teman bermainnya pernah mengatakan, bahwa dia anak Priyanta. Pada waktu itu dia tidak ambil peduli.  Memang orang tuanya, sering melarang dia untuk bermain dengan anak-anak lain.

Mahesh ingin bertanya ke pada orangtuanya, tentang kebenaran isi surat tersebut, tetapi ia merasa ragu. Ia tidak mau membuat orang tuanya merasa tersinggung, karena ini persoalan yang sangat sensitif.

Akhirnya Mahesh memutuskan untuk bertanya kepada kepala sekolah tempat Mahesh mengajar. Mrs Seniveratne adalah wanita setengah baya yang bijaksana dan berasal dari desa itu. Semula Mrs Seniveratne, merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan dari Mahesh karena itu merupakan persoalan keluarga mereka.Tetapi setelah Mahesh memperlihatkan surat yang diterimanya, dia bisa mengerti problem yang dihadapi Mahesh. Mrs Seniveratne membenarkan bahwa Priyanta adalah ayah Mahesh, ibu Mahesh adalah kakak Piyawati yang bernama Prema dan meninggal karena malaria, pada waktu Mahesh masih kecil dan Priyanta ayahnya ada di penjara.

Ibu Mahesh adalah teman sebaya Mrs Seniveratne. Waktu kecil mereka sama-sama belajar membaca dan menulis di temple desa. Karena waktu itu di desa mereka belum ada sekolah. Mrs Seniveratne meneruskan sekolah di boarding school di kota.

Setelah merdeka pemerintah Srilanka, mendirikan banyak sekolah terutama di desa-desa dan memerlukan banyak guru. Pada waktu itu, banyak pelajar yang telah lulus, mengikuti pendidikan untuk menjadi guru. Termasuk Mrs Seniveratne, sedangkan Prema ibu Mahesh tidak meneruskan sekolah ke kota, karena pada masa kolonial British pendidikan tidak free seperti sekarang. Setelah mendengar keterangan Mrs Seniveratne. Mahesh bertekad untuk menemui Priyanta ayah kandungnya.

Seiring dengan berkembangnya pembangunan di Srilanka, transportasi menjadi lebih baik  dan perekonomian ikut berkembang pesat. Penduduk di desa dapat menjual hasil bercocok tanam mereka ke kota dengan mudah. Jalan setapak di depan rumah Somasiri telah diperlebar walaupun belum diaspal tetapi sudah bisa dilalui kendaraan beroda empat.

Somasiri setelah pensiun dari kantor pos, sering pergi ke kota untuk menjual hasil panen dari kebunnya
Rumah Priyanta yang menjadi tempat tinggal keluarganya,  diperbaiki atap rumbia telah diganti dengan genting.

Pagi-pagi sekali, Somasiri sudah berangkat ke Wariyapola, untuk menjual lada hasil panen di kebun mereka. Pada waktu mengetahui ayahnya tidak ada di rumah. Mahesh menemui ibunya dan menunjukkan surat dari Priyanta kepada ibunya dan menanyakan kebenaran isi surat itu. Piyawati sangat terkejut, ia hanya diam sambil memandang kepada Mahesh. Melihat ibunya hanya diam saja, Mahesh bertanya kepada ibunya, mengapa ibunya tidak pernah menceritakan hal ini kepadanya, karena ia sekarang sudah cukup dewasa. Piyawati diam seribu bahasa. Ia menyadari suatu waktu Mahesh akan mengetahui semua ini, tapi Somasiri ingin tetap merahasiakannya.

Pada waktu Somasiri pulang ke rumah, Piyawati memberi tahu bahwa Mahesh mendapat surat dari Priyanta, dan Mahesh pergi ke Kandy untuk menemui Priyanta. Somasiri sangat terkejut, dan bertanya pada Piyawati.

“Apakah kamu memberi tahu siapa dia?” Piyawati menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya.

Hari itu juga. Mahesh pergi ke Kandy, sepanjang perjalanan Mahesh tidak bisa membayangkan pertemuan dengan ayah kandungnya. Mahesh harus menempuh perjalanan yang cukup panjang, dengan bertanya sana sini, akhirnya ia sampai ke tempat tujuannya. Mahesh melihat bangunan tua yang nampak suram,  perasaannya menjadi tidak menentu, ingin rasanya ia membatalkan kunjungannya. Tetapi rasa ingin tahu membuat ia  meneruskan langkahnya. Setelah melalui berbagai prosedur, Mahesh duduk di ruang tunggu dengan perasaan gelisah.

Setiap narapidana yang mendapat kunjungan, namanya akan dipanggil melalui pengeras suara setelah itu mereka dijemput ke sel mereka, oleh sipir penjara yang bertugas. Pada waktu nama Priyanta disebut, hampir seluruh penghuni penjara merasa terkejut dan mereka ikut merasa gembira.

Sipir penjara melaporkan kunjungan anak Priyanta, kepada Abimayu. Mendengar itu Abimayu meminta anak Priyanta untuk menghadapnya terlebih dulu. Abimayu hanya meminta kartu pengenal Mahesh dan mencocokkan dengan nama yang terdapat di file Priyanta. Ia mendapatkan sedikit perbedaan pada nama di file dengan nama di kartu pengenal. Tapi Mahesh diijinkan untuk bertemu Priyanta. Karena sebetulnya Abimayu hanya ingin mengetahui anak Priyanta.

Mahesh berdiri menunggu di bilik pertemuan, dengan perasaan tak menentu. Seperti apakah wajah ayahnya. Ia memandang ke lorong yang dibatasi dengan kaca pemisah. Setelah menunggu tak lama kemudian muncul seorang laki-laki mengenakan baju seragam penjara, celana pendek dan kemeja tampa lengan berwarna putih yang sudah buram. Berjalan perlahan-lahan, tubuhnya agak bungkuk memandang kepadanya.

“Apachi!!!”
Dengan suara yang hampir tidak terdengar Mahesh memanggil ayahnya, sambil menahan air matanya.

Priyanta memandang anaknya yang sudah menjadi pemuda dewasa di seberang sana, tidak dapat mengontrol emosinya, ia berteriak sambil menangis.

“Mahesh putha…..!”

Mereka saling bertangisan,  dan berusaha saling menyentuh dari balik kaca pembatas, yang memisahkan mereka. Hampir semua yang bertugas di tempat itu, merasa terharu menyaksikan pertemuan itu, sambil berusaha menahan air mata mereka. Priyanta begitu bahagia dapat bertemu dengan anaknya, tetapi mendengar keterangan dari anaknya bahwa selama ini, Mahesh tidak tahu Priyanta adalah ayahnya dan berada di penjara. Mahesh tidak pernah menerima surat yang selalu dikirimnya. Membuat ada rasa marah terhadap Somasiri dan  Piyawati.

Tania saudara sepupu Abimayu yang berdomisili di Melbourne Australia datang berlibur ke Srilanka. Tania teman bermain masa kecil Abimayu pada waktu mereka di Colombo. Tania adalah seorang jurnalist. Tania ingin menulis tentang kehidupan narapidana di Srilanka. Pada waktu Tania mengemukakan keinginannya kepada Abimayu, tiba-tiba Abimayu teringat pada Priyanta. Ia menceritakan tentang narapidana Priyanta. Tania merasa tertarik dengan antusias Tania menerima idea dari Abimayu.

Tania datang ke penjara untuk bertemu dengan Priyanta. Abimayu telah mengatur pertemuan mereka. Sipir penjara membawa Priyanta untuk bertemu dengan Tania di ruang tamu. Tania memandang kepada Priyanta dengan perasaan iba. Priyanta menceritakan kehidupannya,  yang membuat dia harus mendekam di penjara dengan suara terbata-bata.

Tania mendengarkan dengan penuh perhatian dan terharu. Terutama saat Priyanta menceritakan bagaimana ia memukul kepala pengembala kerbau dengan cangkul, karena rasa panik,  ia tidak dapat mengontrol dirinya. Untuk melengkapi tulisannya, Tania ingin bertemu dengan Mahesh dan mengunjungi desanya untuk bertemu dengan Somasiri dan Piyawati.

Pada waktu Mahesh datang mengunjungi Priyanta. Abimayu mengundang Mahesh untuk datang ke rumahnya, untuk bertemu dengan Tania pada hari ulang tahun ibunya yang ke tujuh puluh tahun.

Beberapa keluarga Abimayu berdatangan untuk merayakan ulang tahun ibu Abimayu. Mereka datang dengan mengendarai mobil pribadi yang mewah. Keluarga Abimayu dari keluarga middle class ke atas, mereka semua orang berpendidikan dan English speaking.

“Happy birthday to you….happy birthday to you…happy birthday Tamara aunty…..happy birthday to youuu!!!!!” Mereka bernyanyi dengan gembira, disertai tawa yang riuh rendah

Pada waktu Mahesh melihat mobil yang diparkir di halaman rumah dan  suasana di rumah tersebut, membuat Mahesh ragu-ragu untuk masuk, tetapi dari kejauhan Abimayu melihatnya. Abimayu menghampiri Mahesh dan mengajaknya masuk. Mahesh diperkenalkan dengan ibu  Abimayu dan semua yang hadir.

Pada kesempatan itu Tania mengemukakan bahwa ia ingin menulis tentang kehidupan Priyanta ayahnya. Untuk melengkapi tulisannya. Tania ingin mengunjungi desanya, Mahesh menerimanya, ia tidak merasa keberatan.

Pada hari yang sudah disepakati Mahesh dan Tania, berangkat ke Mawathagama dengan mengendarai mobil yang dikemudikan oleh Tania. Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai juga. Tania menghentikan mobilnya di jalan di depan rumah,  karena dari jalan terdapat kali kecil yang dihubungi oleh jembatan kecil terbuat dari beberapa batang pohon kelapa, sehingga mobil tidak dapat masuk ke halaman rumah.

Somasiri dan Piyawati melihat mobil mewah berhenti di jalan depan rumah mereka, merasa heran mereka saling bertanya satu sama lain. Mereka lebih terkejut lagi, pada waktu melihat yang turun dari mobil tersebut adalah Mahesh dengan seorang wanita muda. Somasiri dan Piyawati memandang mereka berdua dengan perasaan gusar. Pada waktu Mahesh dan Tania memasuki halaman rumah sambil tersenyum kepada Somasiri dan Piyawati.

“Mahesh putha, siapa perempuan itu?  Apakah kalian sudah menikah?” tanya Somasiri dengan penuh kecurigaan.

“Tidak apachi, ini madame guru dari  university.” Jawab Mahesh dengan berbohong kepada ayahnya.

Tania hanya tersenyum,  mendengar jawaban Mahesh. Ia mengerti tradisi di Srilanka, seorang laki-laki pantang membawa seorang wanita yang belum dinikahi ke rumah orang tuanya. Setelah mendengar jawaban dari Mahesh, mereka merasa lega.

Pada umumnya penduduk di desa menerima tamu di balai-balai yang terletak di teras depan rumah. Balai itu juga merangkap untuk tempat tidur, bila ada tamu yang datang menginap. Tania duduk di balai-balai yang tersedia, Piyawati sibuk menjamu Tania dengan seadanya.

Somasiri nampak tidak suka dengan kehadiran Tania. Ia pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Somasiri merasa curiga dengan kedatangan Tania. Piyawati membawa Tania keliling ke sekitar kebun miliknya. Pada kesempatan itu Tania bertanya, tentang keluarga Piyawati sambil menikmati udara segar dan pemandangan yang indah.

Piyawati menceritakan bahwa dia hanya dua bersaudara  orangtuanya telah meninggal,  begitu juga kakak perempuannya Prema. Meninggal karena malaria pada waktu anaknya masih kecil. Pada waktu Tania bertanya tentang suami dan anak kakaknya. Piyawati tidak menjawab dia hanya terdiam, mukanya nampak sedih.

Tania mengerti perasaan Piyawati, ia mengalihkan pertanyaannya ke hal lainnya. Tania ingin mengetahui keadaan desa dan orang-orang di sekitar Priyanta, untuk melengkapi tulisannya. Sore harinya Tania kembali ke kota hanya sendiri, karena Mahesh masih ingin tinggal. Sepanjang jalan Tania menyusun rencana tulisannya.

Setiap tahun pada bulan Desember, di penjara mengadakan perayaan Natal untuk para narapidana. Tahun ini Bandara mendapat tugas untuk mengkoordinir perayaan Natal. Mereka para narapidana mengadakan pertunjukan seperti drama,  tarian, musik. Mereka semua merasa gembira.

Untuk acara tersebut panitia menyewa peralatan musik dan sound system dari luar penjara. Acara dilaksanakan pada sore hari sampai agak malam,  dihadiri oleh seluruh narapidana dan sipir penjara. dan acara berlangsung meriah.

Setelah acara selesai beberapa narapidana membantu mengangkat perlengkapan musik dan sound system yang mereka sewa ke atas truk. Priyanta termasuk di antara mereka. Sebelum meninggalkan tempat truk tersebut, harus melalui pemeriksaan yang cukup ketat,  baru diijinkan meninggalkan penjara. Truk tersebut meluncur dengan cepat, sementara Priyanta badannya terguncang-guncang di antara barang-barang di truk itu.

Priyanta diam-diam  bersembunyi menyelip di antara barang-barang tampa ada yang tahu. Karena hari sudah cukup malam, supir truk langsung pulang ke rumahnya. Setelah memarkir truknya dia langsung masuk ke rumahnya untuk istirahat. Priyanta melihat sekeliling, setelah merasa aman dia melompat turun.Priyanta melihat ada sarung dan baju tergantung di tali jemuran. Diambilnya baju dan sarung lalu dipakainya dan baju seragam narapidana dibuang di tempat sampah di pinggir jalan.

Priyantapun menghilang di tengah kegelapan malam.

 

bersambung…

 

Note: Tahun 1972 Ceylon berubah menjadi Srilanka

 

 

2 Comments to "AYAH (3)"

  1. Syanti  7 December, 2018 at 08:27

    Thanks JC!
    Episode terakhir dalam minggu ini.
    Saya sedang ada di colombo, internet cukup baik. Jadi bisa buka Baltyra dengan mudah.

  2. J C  6 December, 2018 at 14:30

    Syanti, cerita yang apik, sekalian menggambarkan landscape dan budaya Srilanka…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.