Halo Desember

Dewi Aichi – Brazil

 

Hujan sejak Jum’at sore di hari terakhir bulan November. Dan memang semalam suntuk hujan mengguyur deras kota São Paulo hingga pagi ini 1 Desember, gelap dan sejuk. Tetapi menciptakan suasana yang cukup hening dan damai. Memang, saya ingin menciptakan waktu-waktu yang ada dengan keindahan dan kedamaian. Yang bisa dilakukan adalah mengolah hati dan pikiran untuk mewujudkan apa yang diinginkan.

Bulan Desember adalah bulan yang special sekali, menjelang pergantian tahun, bulan Desember bagiku adalah hujan, ulang tahun, Natal. Seperti yang pernah ditulis oleh mba Seroja White dalam artikel Desember, Hujan dan Natal.

Seperti pagi ini, sebelum melakukan aktivitas, aku sejenak meluangkan waktu untuk menyapa dunia, menyapa sahabat, menyapa alam semesta. Berdoa sebelum beranjak dari tempat tidur, agar alam semesta memberikan kedamaian bagi makhluk Tuhan. Sejuk, tetapi hangat yang bisa kurasakan. Karena memang hati ingin menciptakan kehangatan. Kehangatan yang membuat damai.

Jangan lupa bahagia, sebab dengan memiliki kebahagiaan kita bisa membahagiakan yang lain. Bahagia bukan diperoleh dari orang lain, tetapi diri kita sendirilah yang menciptakan. Bahagia bukan berarti tanpa masalah. Sebab, selagi kita hidup di dunia, masalah tak pernah lepas. Tinggal bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah tersebut. Jika tidak mau menerima masalah, ya jangan hidup. Sekolah saja kita diberi persoalan yang rumit, ujian, Agar bisa lolos dari ujian, ya belajar yang baik. Demikian pula dengan kehidupan, sepanjang hidup kita, adalah pembelajaran, dan kita juga belajar terus menerus.

Masalah tidak akan selesai dengan teriak-teriak kepada dunia. Fokus saja untuk menyelesaikan, bukan mencari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu. Gunakan energi untuk hal yang bermanfaat, jangan kemarahan-kemarahan yang menguras energi hingga lelah, sakit dan mencuri kebahagiaan.

Ya, demikian dengan hujan semalam, begitu indah, akupun memanjakan raga dengan rileks, berdialog, lalu membaca, sampai kantuk memanggil untuk segera berbaring dan beristirahat. Pagi masih hujan, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Olah raga 40 menit sudah cukup untuk mengawali segala aktivitas.

Masih meluangkan waktu untuk membuka laptop, menulis, berceloteh, yang katanya dunia maya pada dasarnya adalah dunia nyata. Nyata, kita terkoneksi dengan seluruh dunia. Sambil menikmati teh tawar hangat, mendengarkan alunan musik.

Maka, ciptakanlah hari-harimu dengan keindahan. Dengan cinta semua menjadi indah. Yah…begitulah, everything is beautiful if you look at all with love. Ciptakan bahagiamu sendiri. Jangan pernah berharap pada siapapun. Hal yang paling pahit adalah berharap kepada manusia. Bahagia itu adanya di hati, dekat sekali. Maka, Syukuri saja segala ketentuan Tuhan. Itu kuncinya.

 

Salam hangat,
São Paulo, 1 Desember 2018 (09:02)

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

27 Comments to "Halo Desember"

  1. Alvina VB  28 December, 2018 at 05:59

    Dewi, iyalah yg gak toleran sedikit dibandingin yg toleran; ttp sayangnya org2 yg toleran suaranya lebih kecil gaungnya dibanding yg gak toleran. Di samping itu, biasalah manusia di mana-mana sama aja, ada yg baik dan ada yg jahat. Btw, kamu dah tahu ya airport Yogya akan pindah jauhhhhh dari pusat kota?

    Selamat Tahun Baru buat Dewi & Keluarga!

  2. Alvina VB  28 December, 2018 at 05:53

    Mbakyu Lani, thank you….. Selamat Tahun Baru – 2019. Semoga sukses terus ya…..

  3. Lani  27 December, 2018 at 11:24

    DA: Kang Monggo kenthir abadi wakakak dgn yg satunya Kang Geni itu malah tambah sudrun ambyaaaaaar……….

    AL: Terima kasih selamat Natal juga buatmu walau telat “better late than never”

    Moga2 tesisnya cepat rampung dan kamu lulus terbaik

  4. Dewi Aichi  25 December, 2018 at 23:56

    Alvina, terima kasih, selamat Natal untukmu, terima kasih sharingnya selama di Jogja, banyak yang bilang sekarang Jogja kurang baik kesannya setelah banyak kasus intoleran…walau sebenarnya masih juga dan saya yakin lebih banyak warga yang baik di banding yang tidak baik.

  5. Alvina VB  25 December, 2018 at 13:24

    Selamat Hari Raya Natal 2018 utk JC, mbakyu Lani, James, Handoko, Linda, Angela, Meitasari, Hani, mas Djoko Paisan, mas Sumonggo, bung Fidelis, Pak Effendi, Indriati, dkk (sorry kl ada yg terlupakan, pokoknya bagi semuanya yg merayakan, jangan dibakar yak lapak ini, Peace….he…he….)

  6. Alvina VB  21 December, 2018 at 03:27

    Iya….belum jodoh ya….. Dalam perjalananku ke Yogya kali ini, rada2 unik, karena bertemu dengan berbagai macam org, ya seniman/seniwati, penari, peneliti, businessman dan businesswoman. Yg bikin aku mikir dan terkesima, waktu ketemu ketua IWAPI di Bantul. Pendapat ibu ini masuk diakal dan pertanyaanku selama ini kenapa kok Solo lebih maju dlm hal Festival dan anjang seni ini dan itu. Sepertinya gudang seniman di Yogya buanyak banget, ttp mereka gak bisa berkolaborasi secara maksimum. Kamu org Yogya pasti tahu jawabannya, he…he…. Satu lagi yg bikin aku ketawa (dalam hati tentunya) kok ya org Yogya ternyata banvak yg anti/kurang suka sama orang2 dari Jakarta, pokoknya pendapat mereka rada2 miringlah tentang org Jakarta, biasalah “stereotyping”. Aku lahir dan besar di Jakarta, ttp jauhhhhh dari yg mereka deskripsikan, aku sing manggut2 dan mesem2 aza, he..he…Mereka soalnya tahunya oh org Indonesia dari Canada, gak ada yg tanya di Indonesianya dari mana? ha…ha….

  7. Dewi Aichi  20 December, 2018 at 14:32

    Alvina, wow, ngga kabar-kabar ya, kita rada putus kontak beberapa waktu. Tapi tidak apa, kabar bagus tentang penelitianmu, penasaran juga.

    Oya, jejamuran itu kampung ibuku, waduh udah deket-deket , sayangnya aku pas ngga ada ….semoga suatu saat bisa bertemu dirimu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.