Ayam K alias Ayam Kate bukan Ayam Kampus

Enta Nola – Bogor

 

Hi semuanya,

Sudah lama saya tidak kirim tulisan ke Baltyra karena sibukkkkkk bangettttt. Kali ini saya mau cerita soal ayam-ayam saya.

Berhubung sakit kista, saya memutuskan untuk tidak konsumsi ayam, telur dan makanan yang mengandung kedua bahan tersebut padahal saya tidak doyan daging apapun selain ayam dan kelinci. Cari kelinci potong di Bogor kan susah banget jadi akhirnya untuk asupan protein saya pilih ikan itupun ikan laut dalam yang intinya tidak diternakkan oleh manusia karena jaman sekarang peternak, petani semua memakai cara yang tidak alami untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangbiakan hewan ataupun tumbuhan jadi menurut riset saya sendiri, kista saya disebabkan oleh hormon yang tinggi sedangkan sekarang ayam banyak diternak dengan suntik hormon.

Sesuai informasi yang saya terima dari seorang mantri ayam (pengawas peternakan ayam tapi bukan dokter hewan ya), ayam yang dikonsumsi jenis broiler akan disuntik hormon untuk mempercepat pertumbuhan. Hormon tersebut akan hilang dalam tubuh ayam dalam waktu 45 hari tetapi dalam waktu 28 hari, ayam tersebut sudah dipotong dan dijual untuk konsumsi publik. Jadi semua bagian ayam yang kita makan masih mengandung hormon pertumbuhan.

Untuk beberapa orang yang tubuhnya sensitif seperti saya maka akan tumbuh kista, tumor bahkan bisa berkembang menjadi kanker. Beberapa peternak bahkan sekarang mulai beternak ayam kampung jadi ayam kampung yang kita beli di supermarket belum tentu ayam kampung liar jadi masih berbahaya buat saya. Setelah operasi kista pertama th 2008, saya puasa ayam dan telur bahkan setelah puasa pun, saya masih harus operasi pengangkatan tumor rahim tahun 2015. Setelah operasi yang ke 2, saya mulai coba ternak ayam kampung sendiri.

Ayam tersebut saya beli dari DOC 1 jenisnya Sentul Cemani, tidak dikasih vaksin tetapi hanya dikasih air rebusan kunyit, sereh, daun sirih, jahe alias minum jamu hehehehehhe dan diberi pakan beras merah dan jagung bukan pakan ternak pabrikan karena saya rasa pakan tersebut juga mengandung hormon yang merangsang pertumbuhan. Ayam tersebut tumbuh sehat, usia 6 bulan baru mencapai berat 1 kg dan bisa dipotong. Total dari 50 anak ayam, tingkat kematian hanya 9 ekor itupun mati bukan karena penyakit tapi di bully oleh sesama ayam. Setelah ayam kampung, saya beralih ke ayam kate. Kalau ayam kate ini cuma buat dipelihara saja karena lucu tubuhnya mungil.

Ayam kate yang saya punya awalnya sepasang, dapat barteran dari orang lain. Dia mau pelihara ayam kampung yang saya punya karena menurutnya postur ayam kampung saya bagus buat adu ayam. Ayam kate yang jantan saya kasih nama Bro, yang betina nama Kate walaupun badannya kecil mungil tapi si Bro ini tengil dan suka ngajak berantem ayam kampung lain yang tinggi dan berat badannya 2x lipat dari si Bro karena si Bro gampang kabur dari hotel ayam alias kandang ayam kampung. Akhirnya saya buat kandang si Bro dan Kate terpisah dari ayam kampung. Sekarang ayam kate saya sudah jadi 10 ekor.

Foto keluarga Bro, Kate dan 2 anak pertama

Foto anak ayam kate yang baru menetas

Foto si Bro, Kate yang sedang mengerami dan 2 anak pertamanya yang sudah mengerami juga

 

Sekian dulu cerita saya tentang ayam kate.

Terimakasih bagi yang sudah menyempatkan baca tulisan saya.

 

Cheers,

Enta – Bogor

 

 

2 Comments to "Ayam K alias Ayam Kate bukan Ayam Kampus"

  1. Enta Bogor  18 December, 2018 at 10:41

    @Hennie Oberst : iya, tekstur daging ayamnya berbeda, warna daging juga pink kemerahandan dan agak manis rasanya.

  2. Hennie Oberst  18 December, 2018 at 02:57

    Enta, semoga sehat selalu ya! Pasti lebih enak ya rasa ayam piaraan sendiri.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.