[Imelda’s Stories] Surat-surat untuk Irena (1)

Emma Debora

 

Tapi bisakah percintaan diturunkan dulu satu atau dua tingkat?

Apakah Robin mau? Apa dia tidak akan menimpuk aku

dengan kacang mete?

 

Irena,

Apakah seorang anak menjadi durhaka ketika ia pernah menginginkan ibunya segera pergi? Angan kanak-kanak itu membubung ketika ia kerap dipukul dan dicerca saat melakukan kesalahan. Anak itu terluka ketika apa saja yang tidak berkenan di hati ibunya akan berbuah cubitan dan makian.

Mungkin ibunya pernah mengalami depresi.

Tapi pada masa itu kami tidak tahu apa-apa tentang penyakit seseorang. Kalau seorang ibu sering marah-marah, itu berarti dia memang bukan ibu yang baik. Begitu anggapan si anak. Tetapi sekarang aku sedikit lebih memahami situasi ini. Bahwa depresi, konon bukanlah akibat dari sesuatu keadaan yang buruk. Depresi adalah sebab itu sendiri. Teman-temanku yang ahli mengatakan, depresi bisa terjalin erat dengan ikhwal fisik sekaligus psikis seseorang. Mungkin ibu dia demikian adanya. Ada bagian dari fisik dan psikisnya yang terluka. Tetapi aku yakin, yang paling membuat si ibu menderita adalah perlakuan ayahnya. Beliau sih tidak pernah memukul ibu; sangat modern untuk urusan relasi dengan orang banyak, baik istri maupun anak-anaknya. Tetapi dari dari cerita pamannya, si ayah sering mengabaikan ibu.

Baiklah Ren, aku mengaku saja. Si anak itu adalah aku sendiri.

Kamu tahu rasanya diabaikan? Padahal ayahku itu protektif, pemerhati, dan punya kepedulian melebihi orang-orang pada umumnya. Jadi, kenapa ayah yang care itu malah mengabaikan ibu? Mungkin karena ibu cerewet dan tidak disaring kalau bicara, begitu dugaan kami anak-anaknya.

Setelah ayah wafat, ibu kini yang mengatur seluruh peninggalan ayah. Ibu tampaknya bahagia. Untunglah 8 hari sebelum ayah pergi, beliau meminta maaf kepada ibu untuk kesalahannya selama pernikahan mereka. Mimik ibu pada waktu itu datar-datar saja. Tampak tidak merasa kehilangan. Tetapi seminggu setelah ayah dimakamkan, kerja ibu hanya berbaring dan menonton televisi. Sepanjang hari. Lalu sakit 2 minggu. Lalu mulai ketakutan kalau tinggal sendiri di rumah. Anak-anak ayah dan ibu semuanya hidup mandiri. Kami termakan didikan ayah bahwa semua anaknya tidak boleh ada yang tinggal bersama mereka. Maka, sejak usia 25 kami semua sudah keluar rumah. Aku malah di usia 18 sudah jadi anak kos yang mandiri.

Tetapi, si anak kos yang sudah puluhan tahun ini berkelana di beberapa kota (saja), akhirnya mau tinggal dengan ibunya. Aku harus berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan ibu yang amat berbeda denganku. Mungkin juga ia. Awalnya aku frustrasi. Kok seperti ini ya tinggal satu rumah dengan orang lain? Setiap hari kami akan berdebat tentang mau masak apa hari ini, kenapa merk sabun harus yang itu, bukan yang ini. Kenapa sarapan harus bubur, padahal aku tidak terlalu suka bubur. Dan, kenapa aku sering lupa menutup keran air? Oh, kalau ini memang kelewatan kalau sampai lupa terus.

Tetapi tahukah kamu Ren, setelah dua bulan kami mulai bisa cair satu sama lain. Kami bertemu dari bangun tidur sampai mau tidur. Akhirnya aku merasa sukses bisa hidup dengan orang lain. Padahal, tadinya kukira tidak. Tetapi aku menemukan satu hal di sini; bahwa aku bisa menerima orang lain apa adanya, bukan sebatas chemistry. Tetapi juga karena aku tinggal bersama dia dalam jangka waktu tertentu secara intens.

Aku tak akan pernah lupa betapa sakitnya disalahmengerti oleh teman-teman yang tidak tinggal satu kota. Atau yang tidak tinggal dalam satu atap kantor. Atau, yang bukan satu pondokan. Aku jadi paham sekarang, kedekatanku dengan orang; ditentukan oleh karena kami tinggal bersama-sama.

Kau masih ingat kak Rosa, Ren? Kau lihat sendiri bagaimana jengkelnya dia kalau aku sudah berbicara soal umur, haha. Apalagi kalau membahas soal penyakit. Dia akan berkata dengan sinisnya, “Imel tuh lebay, seperti hanya dia saja yang menderita”. Tetapi aku tidak tersinggung dengan celaannya. Karena aku kan mengenal dia. Kami satu kantor dan satu ruangan selama 2 tahun dan terlibat dalam banyak proyek pekerjaan. Di awal perkenalan kami, memang dia sempat sinis. Tetapi karena kami setiap hari bertemu dan ternyata kesinisannya hanya di saat-saat tertentu saja, aku maklum. Apalagi kemudian aku melihat kelebihan dia yang lain.

Tetapi berbeda kalau yang menyinisi aku orang lain. Aku ingin tutup kuping sejadi-jadinya. Aku suka sensi kalau orang tidak mengenalku lalu membuat opini yang prematur tentang aku. Tak masalah orang mengorek-ngorek hal pribadiku. Sejauh aku dan dia sudah mengenal satu sama lain, dan punya intensitas pertemuan yang tinggi. Lebih enak lagi kalau kami berada dalam satu habitat. Mungkin kamu berpikir, betapa banyaknya syarat untuk berteman dengan seorang Imelda, haha.

Kita kembali ke ibuku. Ibuku, perempuan yang waktu mudanya itu lebih cantik dari aku, tidak suka basa-basi. Tetapi setelah beberapa bulan tinggal satu atap, aku mulai bisa cocok dengannya. Tentu saja karena aku sudah tahu kebiasaannya apa, kesukaannya apa, dan kapan harus menyingkir kalau dia sudah mengomel, dll.

Sekarang, aku punya masalah dengan Robin. Bukan karena kami bertengkar. Tetapi karena kami tidak punya kesempatan untuk berada dalam satu habitat. Bagaimana kalau suatu saat kami berada dalam lingkar yang lebih kecil? Cocokkah kami? Atau kebalikannya? Bagaimana cara kami menggunakan uang? Oh, ini hal yang rill, Irena. Jangan menertawaiku. Bahkan sahabatku satu kantorpun tahu seperti apa gayaku membelanjakan sesuatu. Aku bukan perempuan yang modis, tapi cukup boros untuk …… ada deh. Nanti aku beritahu kamu kalau kamu sudah berhenti tertawa.

Kamu tahu tidak bagaimana kebiasaan cowok-cowok zaman sekarang kalau makan bersama teman-temannya? Masih berlakukah si pria yang (selalu)  membayari? Aku hidup di zaman itu. Mungkin dia tidak ya? Aku juga tidak tahu bagaimana reaksi dia kalau aku sedang moody. Apalagi kebiasaan dia yang lain, sungguh aku belum tahu.

Bagaimana kalau tiba-tiba dia ilfil? Atau akunya yang ilfil? Kalau sama-sama ilfil sih tak masalah.

Yang menyedihkan, justru aku lebih mengenal teman-temanku melebihi aku mengenal Robin. Pelajaran pentingnya adalah, untuk bisa mengenal teman-teman mereka, aku menyediakan cadangan kebesaran hati yang cukup. Aku mengasihi teman-temanku dan tidak ingin kehilangan mereka. Jadi, aku berjalan maju dan mundur, tarik dan ulur. Bagiku, komunitas ini terlalu berharga untuk ditinggalkan.

Sekarang, mengapa aku tidak bisa mengalami hal yang sama dengan Robin? Andai kami dulu memulainya sebagai teman biasa terlebih dahulu. Tapi bisakah percintaan diturunkan dulu satu atau dua tingkat? Apakah Robin mau? Apa dia tidak akan menimpuk aku dengan kacang mete?

Rena, sambil aku menulis begini, aku suka tiba-tiba membayangkan Robin tiba-tiba bilang, “Mel, aku mau dijodohkan nih. Bagaimana menurutmu?”

Aku tutup saja dulu suratku ini ya? Nanti aku sambung lagi. Salam sayang buat si cantik Priyanka.

Sekarang aku harus bersiap-siap. Besok subuh harus berangkat ke bandara. Ibuku sudah wanti-wanti aku harus bangun jam 2 pagi. Aku akan mengabarimu begitu aku tiba nanti ya. ***

 

 

3 Comments to "[Imelda’s Stories] Surat-surat untuk Irena (1)"

  1. Alvina VB  18 December, 2018 at 23:23

    Ini ayah modern ya…biasanya utk org Asia (kl setting ini cerita kel. Asia), anak2 keluar rumah kl sudah menikah, he…he….Ditunggu lanjutan ceritanya Emma!

  2. emma  18 December, 2018 at 08:20

    Arum, terimakasih untuk mampir(an)nya. Kelanjutan ceritanya ….. tunggu saja ya.

  3. Arum  18 December, 2018 at 06:07

    Menarik. Penasaran kelanjutannya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.