Indonesia Melawan Amerika

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Indonesia Melawan Amerika

Penulis: Baskara T Wardaya, SJ

Tahun Terbit: 2008

Penerbit: Galang Press

Tebal: xvi + 448

ISBN:  978-602-8174-03-9

 

Indonesia, dengan posisinya yang strategis di Asia Tenggara adalah negara yang dianggap sangat penting oleh Amerika. Itulah sebabnya sejak Indonesia merdeka, keterlibatan Amerika terhadap Indonesia begitu intensif. Amerika berupaya untuk merangkul Indonesia sebagai sekutunya saat perang dingin. Berbagai upaya, keras, lunak, bersahabat, menekan silih berganti dilakukan oleh Amerika supaya Indonesia mengikuti kemauan Amerika. Namun ternyata Indonesia tidak tunduk begitu saja. Indonesia menunjukkan diri sebagai bangsa yang besar yang mampu duduk sejajar dengan Amerika. Sayang sekali dalam berhubungan dengan Indonesia Amerika selalu menggunakan persepsi mereka sendiri tanpa pernah mau mendengar apa yang disampaikan oleh Indonesia. Amerika selalu ikut campur dengan agenda mereka sendiri dan tidak pernah mau mengerti kebutuhan Indonesia untuk bermitra secara sejajar.

Buku ini membahas posisi Amerika sejak perang dunia II sampai dengan lengsernya Sukarno. Baskara membagi bukunya menjadi beberapa bab sebagai berikut: (1) Amerika Srikat dan Upaya Re-Kolonialisasi Atas Indonesia, (2) Amerika Serikat Dari Agresi Pertama Hingga Konferensi Meja Bundar, (3) Amerika Serikat dan Kecenderungan Indonesia ke Kiri. (4) Amerika Serikat dan Pemberontakan Daerah, (5) Amerika Serikat dan Masalah Irian Barat, (6) Amerika Serikat dan Konfrontasi Malaysia. Baskara menjelaskan bahwa kebijakan Amerika banyak dipengaruhi oleh ketakutan menyebarnya paham komunisme di Asia, termasuk Indonesia. Sikap mendua Amerika terhadap dukungan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan tetap mendukung kolonisasi juga sangat dipengaruhi oleh jatuhnya China ke tangan komunis.

Di Bab 1 jelas sekali digambarkan bahwa Amerika yang saat itu sedang gencar-gencarnya mendukung dekolonialisasi dan mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah menjadi melempem menghadapi konflik Belanda – Indonesia. Indonesia yang telah memrpoklamirkan diri menjadi negara merdeka berhadapan dengan Belanda yang ingin kembali menguasainya. Sikap Amerika lebih condong mendukung Belanda supaya bisa tetap menguasai Indonesia. Selain dari ketakutan terhadap jatuhnya Indonesia ke tangan komunis, Amerika juga ingin menjamin bisnis minyak dan pasokan bahan baku dari Indonesia bisa tetap berjalan aman. Roosevelt sangat ingin Indonesia tetap berada dalam kekuasaan Barat. Bahkan kebijakan Roosevelt ini sampai harus mengorbankan Menteri Luar Negeri Cordell Hull yang sangat anti penjajahan. Cordell Hull harus diganti supaya kebijakan membiarkan kekuasaan kolonial bisa tetap bertahan di Asia. Selain itu, Amerika secara cerdik menyerahkan yuridiksi wilayah territorial Indonesia kepada Inggris, sehingga mereka tidak perlu khawatir ditekan Indonesia untuk mendukung kemerdekaan.

Apalagi setelah Truman menjadi presiden karena wafatnya Roosevelt, sikap pro Belanda semakin terlihat jelas. Pendapat bahwa lebih mudah menegakkan kekuasaan Belanda daripada mengharap konsolidasi kemerdekaan Indonesia dan kekhawatiran bahwa para pemimpin Indonesia lebih condong kepada komunis, membuat Truman lebih mendukung Belanda (hal. 30). Padahal Belandalah yang menakut-nakuti Truman bahwa pemimpin Indoneisa pro komunis. Surat Konsul Amerika di Batavia Albert E. Clattenberg yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri membuktikan bahwa pemimpin Indonesia tidak paham komunis. Demikian pun Kepala Divisi Urusan Eropa Utara Hugh S. Cumming, Jr. dan Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Abbot Low Moffat menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Bahkan Truman tdiak menentang ketika Belanda melakukan agresi ke wilayah Republik pada tahun 1946.

Ketika konflik Indonesia-Belanda terus berlangsung dan akhirnya harus dibawa ke meja perundingan – Perjanjian Linggarjati (dalam buku ini ditulis Linggajati), sekali lagi Amerika justru memihak Belanda yang mendukung usulan negara federasi dimana negara-negara tersebut nantinya bisa lebih mudah dikontrol Belanda. Meski perjanjian tersebut ditolak oleh kebanyakan rakyat Indonesia, tetapi Truman tetap memegang perjanjian tersebut sebagai pijakan kebijakan Amerika di Indonesia (hal. 35). Ketika pertikaian ini berlanjut akibat rakyat Indonesia yang kecewa, Amerika mulai melakukan tekanan kepada Belanda supaya menceri penyelesaian damai dan non militer. Amerika takut bisnisnya di Indonesia terganggu karena pertikaian yang bisa meletus menjadi peperangan. Namun saat Inggris menawarkan untuk menengahi konflik antara Indonesia dengan Belanda, Amerika Serikat justru mundur dan tidak mau bergabung.

Maka agresi militer pun akhirnya terjadi. Jenderal van Mook yang menuduh Indonesia mengingkari kesepakatan Perjanjian Linggarjati, memutuskan untuk melakukan serangan militer. Akhirnya serangan militer dilakukan pada tanggal 20 Juli 1947. Serangan Belanda ini mendapatkan banyak kecaman di Amerika Serikat. Apalagi Belanda menggunakan pesawat-pesawat buatan Amerika. Serangan ini juga mendapat reaksi dari berbagai negara, termasuk China, India dan Australia. Berbagai negara mendukung Indonesia di PBB. Meski banyak pihak mengecam Belanda, tetapi Amerika Serikut tetap enggan untuk ikut serta mengecam Belanda (hal. 49) mereka hanya sekedar prihatin saja. Keengganan Amerika Serikat ini disebabkan ketakutan Presiden Truman akan pengaruh komunis. Setelah masalah ini dibawa ke PBB, akhirnya Amerika Serikat mengusulkan supaya Indonesia dan Belanda menghentikan perang. Amerika Serikat menawarkan diri untuk jadi penengah konflik. Namun tawaran ini dikecam oleh Soviet. Indonesia pun lebih memilih PBB sebagai penengah daripada Amerika Serikat. Setelah kalah dalam pemilihan suara, akhirnya dibentuklah “Komisi Jasa Baik.” Belanda memilih Belgia dan Indonesia memilih Australia. Sementara Belgia dan Australia sepakat memilih Amerika Serikat sebagai pihak ketiga (hal. 53). Komisi Jasa Baik ini berhasil membawa Belanda dan Indonesia ke Perjanjian Renville yang hasilnya sangat menguntungkan Belanda. Amerika Serikat tentu saja sangat mendukung hasil perjanjian ini. Hasil perjanjian Renville yang sangat menguntungkan Belanda ini tentu saja digugat oleh rakyat Indonesia, sehingga Kabinet Amir Sjarifuddin jatuh. Perjanjian Renville ini justru membuat banyak rakyat Indonesia membenci Amerika Serikat dan mulai melihat Soviet sebagai kawan. Hal ini tentu saja menguntungkan Partai Komunis Indonesia. Hal ini diperparah dengan enggannya Amerika Serikat menegur Belanda yang tidak taat kepada hasil Perjanjian Renville.

PKI yang merasa mendapat angin, melancarkan pemberontakan di Madiun pada tahun 1948. Pemberontakan ini bisa dengan cepat diatasi oleh Pemerintah Sukarno. Sikap Pemerintah Republik Indonesia yang menumpas pemberontakan PKI ini membuat Amerika Serikat berpikir ulang tentang pandangannya bahwa para pemimpin Republik adalah pro komunis (hal. 68).

Ketika Amerika Serikat mulai melihat bahwa para pemimpin Republik bukan orang-orang yang pro komunis, justru Belanda melakukan agresi kedua pada tahun 1948. Agresi militer ini tentu saja mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Reaksi internasional ini membuat PBB dan Amerika Serikut mau tidak mau ikut menekan Belanda. Sayangnya ketika persoalan ini dibahas di PBB secara formal, ternyata banyak pihak, termasuk Amerika Serikat yang tidak sungguh-sungguh membantu Indonesia. Akibatnya Indonesia berkesimpulan bahwa dunia Internasional (Amerika Serikat dan PBB) bukanlah pihak yang bisa dimintai bantuan untuk membantu. Indonesia memutuskan untuk melawan Belanda secara gerilya. Upaya perlawanan rakyat ini membuka mata Internasional bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang berdaulat. Perjuangan rakyat ini juga membuka mata Amerika Serikat, sehingga di awal tahun 1949, Amerika Serikat menekan Belanda untuk menghentikan serangan militer dengan menangguhkan bantuan ekonomi kepada Belanda.

Tekanan Amerika Serikat ini memaksa Belanda untuk mau kembali ke meja perundingan. Indonesia dan Belanda sepakat untuk duduk dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Bahkan perundingan ini dimaksudkan untuk pengalihan kekuasaan dari Belanda kepada Republik Indonesia. Amerika Serikat sangat takut terhadap kegagalan perundingan tersebut. Kegagalan berarti Indonesia akan semakin kecewa terhadap Amerika Serikat dan mencari dukungan dari pihak komunis yang saat itu sedang kuat di Asia (China jatuh ke tangan komunis) dan di Indochina (Vietnam).

Di tengah perundingan yang alot tersebut, terjadi perubahan politik di Indonesia. Para pemimpin Republik memilih untuk membentuk negara kesatuan daripada meneruskan bentuk negara serikat. Karena kurangnya pemahaman Amerika Serikat terhadap dinamika di Indonesia, Amerika Serikat mendorong Indonesia secara terbuka masuk ke blog barat. Padahal Indonesia telah memilih untuk tidak partisan. Non block. Perubahan pemerintahan dari Truman ke Eisenhower membuat hubungan Indonesia – Amerika Serikat kembali tegang. Sikap Eisenhower yang melihat kenetralan Indonesia tidak bisa diterima (hal. 95). Sikap netral dipahami sebagai penolakan terhadap blok barat dan mendukung blok komunis.

Di masa jabatan kedua Eisenhower, ketakutan akan jatuhnya Indonesia ke tangan komunis semakin besar. Hal ini karena Soviet semakin jaya dengan teknologi angkasa luarnya. Di saat yang sama Sukarno memberikan peran yang lebih banyak kepada tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia (hal. 156). Apalagi saat dilaksanakan pemilu daerah, PKI mendapatkan kenaikan yang luar biasa. Hal ini membuat Amerika semakin khawatir. Pada saat yang sama, terjadi banyak pemberontakan daerah. Maka CIA memanfaatkan pemberontakan ini untuk merenggangkan hubungan Sukarno dengan PKI. Kolonel Simbolon dan Kolonel Husein yang awalnya hanya menuntut otonomi yang lebih luas untuk Sumatra, atas dukungan CIA akhirnya memutuskan untuk memberontak kepada NKRI (hal. 175). Demikian pun dengan Permesta di Sulawesi Selatan. Bantuan militer diberikan oleh Amerika kepada para pemberontak melalui Operasi Haik (hal. 182). Di sini kita bisa melihat bahwa Amerika tidak segan-segan menghancurkan NKRI untuk mencapai tujuannya mencegah berkembangnya komunisme. Namun dukungan yang diberikan kepada pemberontak ini dengan tujuan merenggangkan hubungan Sukarno dengan PKI justru malah memperkuat posisi PKI dalam pemerintahan Sukarno. Dukungan kuat PKI kepada Sukarno dalam hal menangani pemberontakan di daerah dan pandangan masyarakat bahwa pemberontakan didukung oleh Amerika menyebabkan hubungan Sukarno dengan PKI menjadi lebih kuat (hal. 193). Tertangkapnya Allan Pope, seorang pilot CIA membuat dukungan Amerika kepada para pemberontak diberhentikan. Kegagalan ini membuat Amerika mengalihkan dukungannya kepada pemerintah pusat, khususnya angkatan darat (hal. 201).

Paska pemberontakan, isu Irian Barat menjadi ajang hubungan Indonesia – Amerika. Isu Irian Barat ini sensitive karena Amerika harus menjaga hubungan dengan Belanda sebagai sekutunya di Eropa.

Di Amerika sendiri terjadi perubahan kekuasaan dari Eisenhower (Replublik) ke Kennedy (Demokrat). Berbeda dengan Eisenhower dan pendahulunya yang melihat negara yang baru dalam konteks perang dingin, Kennedy melihat negara-negara baru sebagai sekutu untuk melawan penyebaran komunis. Itulah sebabnya pendekatan Amerika terhadap negara-negara yang baru lahir, termasuk Indonesia sangat berbeda. Kennedy menghargai sikap netral (non block) yang diambil oleh negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Meski mendapat tekanan yang besar dari Kemenerian Luar Negeri dan CIA, Kennedy menolak untuk mendukung Belanda dalam sengketa Irian Barat. Namun pemerintahan Kennedy juga ragu-ragu untuk mendukung Indonesia. Akhirnya mereka mendukung usulan supaya masalah ini dibawa ke PBB. Pemerintah Kennedy memilih absen saat resolusi yang diajukan oleh sekutu Indonesia untuk mendiskusikan secara langsung antara Indonesia dan Belanda atas nasip Irian Barat.

Setelah bersikap netral dan pasif, akhirnya Amerika mendukung Indonesia. Dukungan kepada Indonesia ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa persoalan irian Barat bisa menyebabkan perang terbuka. Jika terjadi perang terbuka maka Soviet pasti mendukung Indonesia. Akibatnya Amerika Serikat mau tidak mau harus ikut berperang mendukung Belanda dan Australia. Untuk mencegah perang, Amerika memilih untuk mendukung Indonesia (hal. 253). Amerika menyampaikan kepada Belanda bahwa jika pecah perang antara Indonesia dengan Belanda, Amerika tidak akan mendukung Belanda. Berkat jasa Robert Kennedy, Jaksa Agung Amerika, Indonesia dan Belanda bersedia untuk berunding dengan hadirnya pihak ketiga, yaitu Amerika. Perundingan ini menyepakati Formula Bunker, dimana Irian Barat diserahkan kepada PBB dan setahun kemudian diserahkan kepada Indonesia. Setelah berada dalam administrasi Indonesia, rakyat Irian Barat boleh menentukan nasipnya sendiri melalui peblisit (hal. 259).

Dukungan pemerintah Kennedy kepada Indonesia ini memperbaiki hubungan Indonesia – Amerika. Ini juga berarti hubungan militer kedua negara. Dengan demikian Amerika bisa memperkokoh tokoh-tokoh militer yang anti komunis. Amerika juga peduli dengan kondisi eknomi Indonesia. Sebab kejatuhan Sukarno karena gagalnya ekonomi akan membuka peluang yang sangat besar bagi komunis untuk mengambil alih kekuasaan.

Setelah masalah Irian Jaya selesai, persoalan baru muncul. Persoalan konfrontasi Indonesia – Malaysia membuat hubungan Indonesia – Amerika kembali dinamis.

Meski awalnya Indonesia menyambut baik pembentukan Federasi Malaysia, namun sikapnya berubah setelah Brunai memberontak. Apalagi setelah ada tuduhan dari Tun Abdul Razak bahwa Indonesialah yang melatih para pemberontak di Brunai (Asahari – pimpinan pemberotak, adalah bekas kapten di angakatan darat Indonesia). Sukarno semakin marah dengan tuduhan tersebut. Akhirnya Sukarno berpendapat bahwa pendirian Federasi Malaysia adalah upaya negara-negara kolonial untuk mengepung Indonesia (hal. 297). Pendapat Sukarno ini didasari kepada pengalaman tahun 1958 saat wilayah Kalimantan Utara digunakan sebagai basis dukungan pemerintah Inggris dan Amerika kepada pemberontakan daerah.

Dua kekuatan di Indonesia, yaitu PKI dan Angatan Darat sama-sama mendukung pandangan Sukarno tentang Federasi Malaysia, meski alasannya berbeda. PKI mendukung dengan alasan bahwa Federasi Malaysia adalah upaya rekolonisasi Asia Tenggara. Sementara Angakat Darat mendukung karena takut pengaruh China Komunis akan masuk ke Indonesia melalui federasi ini, dimana penduduknya banyak keturunan China.

Bagaimana dengan sikap Amerika? Amerika secara terbuka mendukung upaya pembentukan Federasi Malaysia. Sikap ini membuat Indonesia marah. Sebenarnya keputusan Amerika tersebut dilematis. Sebab dengan mendukung Federasi Malaysia, Amerika harus bersiap Sukarno condong kembali ke Soviet dan China.

Sikap Indonesia yang berbeda ini membuat Pemerintah Amerika meninjau kembali program bantuan yang sudah didisain pasca masalah Irian Jaya. Banyak pihak di Amerika kemudian mengusulkan pembatalan bantuan kepada Indonesia. Setidaknya mengurangi bantuan dengan sangat signifikan. Tuntutan yang sangat kuat ini bersanding dengan kewajiban mendukung Inggris. Maka Amerika mencari jalan yang bisa diterima oleh semua pihak. Usulan untuk membentuk Maphilindo yang diprakarsai oleh Sukarno, Macapagal dan Tun Abdul Razak didukung oleh Amerika. Namun upaya ini ditolak oleh Inggris. Bahkan Inggris tak mau lagi bekerjasama dengan Sukarno. Maka Amerika pun menekan Inggris supaya lebih lunak kepada Sukarno.

Pada akhirnya, setelah jajak pendapat yang dilaksanakan oleh PBB di Sabah dan Serawak diumumkan, Federasi Malaysia disahkan. Amerika pun ikut mendukung berdiringa Malaysia. Hal ini membuat Sukarno marah besar. Ia bertekat untuk terus melawan Malaysia. Maka hubungan Amerika – Indonesia kembali tegang.

Sebenarnya Amerika masih berupaya untuk lunak kepada Indonesia. Setelah menyatakan keterkejutannya atas reaksi Indonesia, Amerika memutuskan untuk meninjau kembali segala bantuan Amerika kepada Indonesia, tetapi tidak untuk program yang sedang berjalan. Sikap lunak ini ditentang oleh Inggris, Australian dan Selandia Baru. Mereka menuntuk Amerika untuk bersikap tegas kepada Indonesia.

Konflik yang berlarut-larut ini menimbulkan rumor bahwa Inggris bekerjasama dengan Amerika akan melengserkan Sukarno. Rumor ini dipicu dengan ditemukannya memo Duta Besar Inggris kepada Amerika tentang upaya mendongkel Sukarno. Rumor ini membuat Sukarno semakin benci kepada Amerika (hal. 336). Hanya satu cara untuk meredakan ketegangan ini. Yaitu kunjungan Kennedy ke Jakarta. Sayang sekali, meski Kennedy sudah setuju dan kunjungan sudah diatur, Kennedy dibunuh di Dallas. Maka ketegangan tersebut tidak bisa mereda.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Indonesia Melawan Amerika"

  1. Handoko Widagdo  27 December, 2018 at 10:18

    Mas Sumonggo, pasti JFK langsung mandi susu di kolam susu.

  2. Sumonggo  24 December, 2018 at 17:54

    Jika JFK bertemu Koes Plus, sejarah Amerika akan berbeda …..

  3. Handoko Widagdo  20 December, 2018 at 09:36

    Menurutku, jika JFK bertemu Sukarno, sejarah Indonesia akan berbeda.

  4. Alvina VB  20 December, 2018 at 00:41

    Thanks buat bedah bukunya Han. Apakah kl JFK berhasil ketemu Soekarno waktu itu, sejarah hub USA-Indonesia jadi berbeda?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.