SYAHADATAIN (SEKATEN)

Usmantri Sukardi

 

Sejarah panjang Islam di Nusantara sudah terjadi sejak tahun 1380 Caka atau 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali membangun Masjid Demak. Selanjutnya berdasar hasil musyawarah para wali, digelarlah kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Agar kegiatan tersebut menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Pada masa-masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, salah seorang dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijogo, mempergunakan instrumen musik Jawa Gamelan, sebagai sarana untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitannya. Untuk tujuan itu dipergunakan 2 perangkat gamelan, yang memiliki laras swara yang merdu yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu.

Rakyat yang mengikuti kegiatan tersebut, dan ingin memeluk agama Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Kata Sekaten diambil dari pengucapan kalimat “Syahadat”. Istilah Syahadat, yang diucapkan sebagai Syahadatain ini kemudian berangsur- angsur berubah dalam pengucapannya, sehingga menjadi Syakatain dan pada akhirnya menjadi istilah “Sekaten” hingga sekarang. Sekaten terus berkembang dan diadakan secara rutin tiap tahun seiring berkembangnya Kerajaan Demak menjadi Kerajaan Islam.

Demikian pula pada saat bergesernya Kerajaan Islam ke Mataram serta ketika Kerajaan Islam Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta) Sekaten tetap digelar secara rutin tiap tahun sebagai WARISAN BUDAYA ISLAM NUSANTARA.

Di Kasultanan Ngayogyakarta, perayaan Syahadatain (sekaten) terus berkembang dari tahun ke tahun memiliki tiga pokok inti yang antara lain:
1. Dibunyikannya dua perangkat gamelan (Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang.

2. Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Mulud malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan Bacaan riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan rakyat.

3. Pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai upacara puncak sekaten.

Puncak acara dari perayaan Sekaten adalah “grebeg maulid”, yaitu keluarnya sepasang gunungan dari Mesjid Agung seusai didoakan oleh ulama Kraton

Inilah sekelumit sejarah geliat Islam di Jawa yang sudah berabad lamanya, dakwah dengan pendekatan budaya dan kearifan local, niatan para wali dan ulama meng-Islam-kan Jawa berhasil gilang gemilang terbukti saat ini Indonesia adalah Negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia dan suka tidak suka penduduk di Jawa jumlahnya 72% dari total penduduk Indonesia.

Hari-hari belakangan ini ada yang mencoba memaksa merubah kesepakatan para ulama, kesepakatan para wali untuk merubah tatanan keindahan Islam Indonesia, dengan alasan pemurnian dll. Pemaksaan penyeragaman oleh orang orang ini pada dasarnya tidak pernah berhasil diterapkan di Negara manapun, karena dasar mereka adalah MERUBAH BUDAYA DAN KEYAKINAN YANG SUDAH DIYAKINI SEJAK LAMA, sungguh sok tahu dan nista sikap seperti ini. Jangan sok tahu dengan apa yang sudah Negara ini lakukan.

 

Pamulang 4 Nopember 2018

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung mas Usmantri Sukardi, semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel ciamik sejenis ini ya…

Terima kasih Dewi Aichi yang sudah memperkenalkan satu lagi penulis yang mencerahkan seperti ini…

 

 

3 Comments to "SYAHADATAIN (SEKATEN)"

  1. Dewi Aichi  19 December, 2018 at 17:45

    Alvina haha…rayuan saya masih maut kok….apa kabar Alvina?

  2. Alvina VB  18 December, 2018 at 23:31

    Dewi hebring…spt biasa berhasil merecruit org lagi. Pak Usmantri, selamat datang di Baltyra. Ditunggu tulisan2an yg lainnya.

  3. Dewi Aichi  18 December, 2018 at 14:54

    pak Usmantri, terima kasih artikel ini menambah wawasanku, orang Jogja musti tau ini hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.