AYAH (4 – selesai)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

AYAH (1)

AYAH (2)

AYAH (3)

 

Acara perayaan Natal telah selesai. Para narapidana harus kembali ke sel masing-masing, para petugas sibuk mengatur mereka.

Tetapi Priyanta tidak ada di antara para narapidana,  petugas sibuk mencari Priyanta. Mereka mengira Priyanta terbawa ke blok lain.

Setelah dicari ke berbagai tempat Priyanta tidak diketemukan juga. Para petugas sangat terkejut, Bandara sebagai koordinator, melaporkan hilangnya Priyanta kepada Abimayu.

Malam itu juga diadakan pencaharian, beberapa petugas mendatangi tempat tinggal Mahesh anak Priyanta dan tempat truk yang mereka sewa untuk membawa barang-barang, tetapi Priyanta tidak diketemukan.
Polisi mendatangi tempat tinggal Priyanta di desa dan berbagai tempat, Priyanta tidak diketemukan juga. Priyanta hilang bagaikan ditelan bumi.

Abimayu sangat marah, karena peristiwa ini akan mempengaruhi reputasinya, sebagai kepala penjara yang belum satu tahun menjalankan tugasnya. Abimayu tidak mengira Priyanta akan melakukan tindakan yang sangat bodoh. Selama ini Abimayu selalu menaruh perhatian pada Priyanta. Sebagai ungkapan kemarahannya dilemparnya patung gajah kayu pemberian Priyanta ke luar.

Bandara dan beberapa sipir penjara, mendapat sangsi atas kelalaian mereka dalam bertugas. Untuk sementara waktu dibebastugaskan dari jabatan mereka.

Hati Bandara merasa sedih, kecewa dan juga rasa marah pada Priyanta, selama ini dia merasa simpati pada Priyanta dan banyak membantu Priyanta.

Mereka semua merasa tidak mengerti,  mengapa Priyanta melarikan diri dari penjara. Karena masa hukumannya hanya beberapa tahun lagi dan Priyanta sudah bertemu dengan anaknya, yang selama ini dirindukannya. Mereka menganggap tindakan Priyanta sangat bodoh.

Somasiri merasa terkejut, waktu dia mendengar dari beberapa penduduk desa. Bahwa ada polisi datang mencari Priyanta yang telah melarikan diri, dari penjara.

Setibanya di rumah. Somasiri langsung bertanya kepada Piyawati
“Apakah ada polisi yang datang ke rumah, untuk mencari Priyanta aya?”

Mendengar pertanyaan Somasiri, Piyawati menjawab dengan nada prihatin

“Ada beberapa polisi datang mencari Priyanta aya, tetapi Priyanta aya tidak datang ke sini…… Kemana Priyanta aya?”

Perasaan Somasiri menjadi tidak menentu. Setiap kali dia melihat ada orang melewati jalan di depan rumahnya. Somasiri mengira itu Priyanta.

Sementara Priyanta bekerja serabutan di kota,  tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Kadang dia menjadi kuli panggul di pasar,  membelah kayu dan kerja kasar lainnya. Priyanta bekerja dengan berpindah-pindah tempat, untuk menghindari dari polisi. Rencana Priyanta adalah menemui Somasiri dan Piyawati di desa. Untuk itu ia memerlukan uang.

Priyanta merasa sangsi kalau Mahesh itu adalah anaknya. Setelah beberapa kali bertemu dengan Mahesh, sedikitpun tidak ada yang diingat oleh Mahesh tentang masa kecilnya. Terutama pada waktu, Priyanta bertanya pada Mahesh, tentang Apuhamy yang melukai lengan Mahesh dengan loyang roti panas. Mahesh tidak ingat dan tidak ada bekas luka bakar di lengan Mahesh.

Priyanta merasa curiga telah terjadi sesuatu dengan anaknya. Mengingat sifat Somasiri yang licik, Priyanta menduga Somasiri telah melakukan sesuatu pada anaknya. Kekhawatiran akan keberadaan anaknya yang sangat ia cintai. Membuat Priyanta nekad melarikan diri dari penjara, tampa memikirkan resiko perbuatannya.

Setelah lebih dari satu minggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Priyanta. Membuat hati Somasiri  merasa agak tenang. Udara siang itu cukup panas, setelah makan siang, Somasiri membaringkan tubuhnya di balai depan rumahnya. Angin yang sepoi-sepoi, membuat Somasiri tertidur, tiba-tiba dia terbangun ada yang memanggil namanya dengan suara yang keras.

“Somasiri.. Somasiri!!!”

Priyanta memanggil Somasiri dengan suara penuh kemarahan.

Somasiri terbangun dengan terkejut,  pada waktu dia melihat seorang lelaki tua berdiri di halaman rumahnya, dan ternyata lelaki itu adalah Priyanta. Somasiri bangkit berdiri dengan perasaan takut.

Piyawati mendengar ada suara yang dikenalnya, keluar dari dalam rumah.

“Priyanta aya!”

Piyawati berkata sambil memandang Priyanta yang kelihatan lebih tua dari umurnya. Ada rasa rindu di hatinya.

“Somasiri!!!…  Dimana Mahesh putha?”

Tanya Priyanta dengan marah. Belum sempat Somasiri menjawab. Piyawati langsung menjawab pertanyaan Priyanta.

“Setelah ama meninggal dunia, Somasiri membawa Mahesh ke kota dan menjualnya.”

Selama ini Piyawati menyimpan rasa marah pada Somasiri. Dia tidak mau lagi menyimpan rahasia tentang Mahesh anak kakaknya dan kelicikan Somasiri.

Pada waktu mendengar jawaban Piyawati, Priyanta sangat marah dihampirinya Somasiri yang berdiri dengan ketakutan. Didorongnya Somasiri dengan keras hingga terduduk.

“Dimana Mahesh putha? Ayo katakan!”

Priyanta berkata dengan penuh ancaman.

“Saya tidak tahu… Premaratne mahatia yang memberikan Mahesh.”

Jawab Somasiri dengan suara terbata-bata.

“Siapa Premaratne  mahatia…Ayok temui Premaratne, sekarang juga!”

Priyanta berkata dengan tegas.

Somasiri mengatakan bahwa Premaratne berada di Matale, mereka tidak bisa pergi sekarang, karena Matale cukup jauh dan mereka tidak punya cukup waktu.

Priyanta tidak peduli dengan semua alasan yang dikemukakan oleh Somasiri. Mereka harus pergi saat itu juga.

Melihat Priyanta yang bersikeras untuk pergi hari itu juga. Somasiri minta ijin untuk mengganti pakaian dan dengan sengaja ia berpakaian pelan-pelan, untuk mengulur waktu. Sambil menyusun rencana, bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari Priyanta.

Sementara menunggu Somasiri, Piyawati menghampiri Priyanta dan menanyakan bagaimana keadaannya. Priyanta hanya menjawab dengan singkat. Priyanta juga menolak, pada waktu Piyawati akan membuatkan tea untuknya.

Dalam perjalanan menuju Matale, di dalam bis,  mereka berdua hanya diam, tidak berkata satu sama lain.

Somasiri teringat betapa bahagianya, waktu Piyawati menerima cintanya. Priyanta kembali dari kota, membuat ia hampir kehilangan harapan.
Baginya Priyanta bagai duri dalam daging. Dia merasa khawatir kehilangan pekerjaan, karena surat palsu yang ditulisnya. Selain itu berarti mereka harus berbagi ladang warisan dari orang tua Piyawati.
Somasiri merasa terbebas dari Priyanta dengan dipenjaranya Priyanta.

Beberapa bulan setelah Priyanta dipenjara, Somasiri dan Piyawati menikah. Tetapi ibu Piyawati sangat berduka memikirkan nasib Priyanta dan cucunya Mahesh yang masih kecil. Ia meninggal dunia karena  merasa tak mampu menahan penderitaan yang harus dipikulnya.

Setelah ibu Piyawati tiada, Mahesh menjadi tanggung jawab Somasiri dan Piyawati. Perhatian Piyawati lebih banyak untuk Mahesh, membuat Somasiri merasa terganggu. Hal ini membuat Somasiri tidak menyukai Mahesh dan Mahesh selalu mengingatkan dia akan Priyanta. Somasiri ingin menyingkirkan Mahesh dari kehidupannya.

Tanpa sepengetahuan Piyawati, Somasiri membawa Mahesh ke kota dan memberikan Mahesh kepada Premaratne salah seorang temannya yang bekerja di kantor pos Wariyapola. Premaratne membawa Mahesh ke rumah yatim piatu, tempat adiknya bekerja dengan mendapat imbalan uang.

Piyawati sangat marah terhadap Somasiri, tetapi Somasiri tidak memperdulikannya. Hal ini membuat Piyawati menjadi sedih, dan mukanya selalu muram.

Somasiri mengambil anak dari salah seorang saudaranya yang tidak mampu dari Arunadhapura, kota yang sangat jauh dari desa tempat mereka tinggal. Somasiri meminta Piyawati untuk mengakui anak itu sebagai Mahesh. Tidak ada penduduk desa yang mengetahui bahwa anak kecil itu, bukan Mahesh anak Priyanta.

Hari sudah sore pada waktu mereka sampai di Matale. Somasiri berusaha mencari alamat Premaratne, karena ia belum pernah ke rumah Premaratne.

Prematne setelah pensiun kembali ke kampungnya di Matale.
Ia hanya mengatakan bahwa rumahnya dekat temple. Setelah bertanya sana sini, akhirnya mereka menemui rumah Premaratne. Mereka mengetuk-ngetuk pintu rumah Premaratne. Setelah menunggu agak lama, keluar seorang wanita setengah baya, istri dari Premaratne. Ia mengatakan, bahwa suaminya sedang berada di rumah anaknya di Kandy. Somasiri menerangkan bahwa ia teman kerja Premaratne di kantor pos dan ingin bertemu dengan Premaratne. Somasiri meminta alamat anaknya di Kandy. Istri Premaratne  masuk ke dalam rumah menuliskan alamat rumah dan nomer telepon  anaknya, kemudian memberikan pada Somasiri.

Priyanta mengajak Somasiri untuk pergi ke Kandy.  Waktu mereka menunggu bis, Somasiri melihat ada toko komunikasi di dekat halte bis, Somasiri mengusulkan untuk menelepon Premeratne. Priyanta menyetujui usul itu dan memberikan uang pada Somasiri untuk menelepon Premeratne.

Somasiri meminta Priyanta untuk menunggu di luar,  sementara ia menelepon Premaratne. Setelah masuk ke dalam, tiba-tiba Somasiri mempunyai idea lain. Somasiri tidak menelepon Premaratne, melainkan menelepon kantor polisi. Ia melaporkan bahwa Priyanta narapidana yang melarikan diri dari penjara, ada bersamanya di Matale. Polisi mencatat laporan Somasiri dan identitas Somasiri. Polisi bertanya di mana lokasi mereka. Somasiri memberi tahu ia menunggu di halte bis dekat temple.

Somasiri menemui Priyanta yang sedang menunggu di luar dan mengatakan Premaratne akan datang menemui mereka dan diminta menunggu di tempat pemberhentian bis.

Priyanta percaya dengan apa yang dikatakan oleh Somasiri. Setelah agak lama Premaratne belum datang juga, Priyanta yang menunggu sambil duduk tertidur karena merasa lelah. Sementara Somasiri menunggu sambil berdiri dengan gelisah.

Abimayu pada waktu menerima laporan dari kantor polisi tentang keberadaan Priyanta. Memutuskan dia sendiri yang akan menangkap Priyanta dari pelariannya. Dari penjara ke Matale tidak terlalu jauh,  hanya sekitar setengah jam perjalanan.

Dengan mudah Abimayu menemukan lokasi tempat Priyanta berada.
Abimayu menghentikan mobilnya, ia melihat Priyanta yang tertidur sambil duduk dan ada seorang laki-laki yang berdiri agak jauh dari Priyanta. Perhatian Abimayu terhadap Priyanta tetapi ia sempat melihat lelaki itu pergi dengan pelan-pelan.

“Priyanta!”

Abimayu memanggil Priyanta dengan suara cukup keras, membuat Priyanta terbangun. Priyanta sangat terkejut melihat Abimayu ada di hadapannya.

” Sir…! Maafkan saya sir.”

Priyanta berkata dengan terbata-bata, sambil membungkuk-bungkuk dan muka memelas.

Dengan marah Abimayu menarik leher baju Priyanta, lalu menarik kedua lengannya ke belakang diborgolnya. Abimayu mendorong Priyanta dimasukan ke bangku belakang mobilnya, secara paksa.

Sesampai di penjara,  Abimayu membawa Priyanta ke selnya, didorongnya dengan kasar. Sementara Priyanta berjalan pelan dengan pasrah.

Piyawati menanti Somasiri dan Priyanta, sampai larut malam. Ia berharap mereka bisa menemukan anak Priyanta. Selama ini Piyawati merasa berduka dan tertekan dengan sikap Somasiri. Tetapi setelah ibunya tiada, hidupnya tergantung pada Somasiri, karena itu ia hanya pasrah.

Pada waktu Somasiri melihat seorang polisi datang menghampiri Priyanta,  ia menyelinap pergi. Hatinya amat senang, bebas dari Priyanta.
Somasiri pulang ke rumah dalam keadaan mabok arak, sambil menyanyi.
Mendengar suara Somasiri, Piyawati langsung keluar untuk menanyakan tentang Mahesh. Somasiri tidak menjawabnya. Tetapi Somasiri langsung membaringkan tubuhnya di balai-balai dan tertidur.

Dengan tertangkapnya Priyanta. Abimayu melantik Bandara dan sipir lainnya. Untuk bertugas kembali. Bandara sangat senang, ia mengucapkan terima kasih pada Abimayu.

Bandara mendatangi Priyanta di selnya, dengan maksud menegur Priyanta yang karena perbuatannya,  ia hampir kehilangan pekerjaannya.
Di dalam selnya Priyanta didapati sedang meratap dan berbicara tak karuan. Tidak dapat diajak bicara.

Melihat keadaan Priyanta yang seperti orang hilang ingatan. Bandara melaporkan keadaan Priyanta kepada Abimayu.

Abimayu mendatangi sel Priyanta untuk mgengecek keadaan Priyanta, didampingi oleh Bandara.

“Priyanta!”

Abimayu memanggil Priyanta dengan nada marah. Mendengar suara Abimayu. Priyanta langsung membalikkan badannya dan berlutut pada Abimayu.

“Mate samawena sir…maafkan saya. Hukumlah saya!  Hidup saya tidak ada artinya lagi.”

Mendengar Priyanta berbicara seperti itu, Abimayu bertanya apa yang telah terjadi dan kenapa dia melarikan diri dari penjara?

Sambil menangis Priyanta menceritakan, bahwa Mahesh bukan anaknya, Mahesh anak kandungnya telah dijual oleh Somasiri. Priyanta juga menceritakan kepergiaannya ke Matale bersama Somasiri untuk mencari anaknya. Ia pergi dari penjara hanya untuk mencari anaknya, setelah itu ia akan kembali ke penjara menjalani hukumannya.

Mendengar cerita Priyanta, Abimayu sangat terkejut dan amarahnya mereda.

Abimayu menceritakan tentang Priyanta kepada Tania. Mendengar semua itu, Tania hatinya terenyuh dan mengusulkan Abimayu untuk datang menemui Somasiri dan Piyawati. Mencari tahu tentang keberadaan anak Priyanta.

Mendengar usul Tania, Abimayu hanya terdiam sambil mempertimbangkannya. Malam harinya Abimayu tidak dapat tidur, entah mengapa ia teringat pada Priyanta terus menerus.

Keesokan harinya Abimayu memutuskan untuk menemui Somasiri dan Piyawati, dengan ditemani oleh Tania yang menjadi petunjuk jalan.

Abimayu memasuki halaman rumah Somasiri, sambil memandang sekeliling rumah. Sementara Tania menunggu di dalam mobil. Tidak nampak orang di depan rumah.

“Somasiri!….. Somasiri!”

Abimayu memanggil Somasiri dengan suara cukup keras.

Mendengar ada orang yang memanggil namanya, Somasiri keluar dari dalam rumah diikuti oleh Piyawati.

Somasiri melihat seorang pemuda yang tidak dikenal, bertubuh tegap dan tampan. Somasiri dan Piyawati memandang dengan penuh tanda tanya.

Abimayu melihat kepada Somasiri, ternyata Somasiri adalah lelaki yang berada bersama Priyanta, ia masih ingat bagaimana Somasiri menyelinap pergi.

“Somasiri masih ingat dengan saya?  Saya adalah direktur penjara di Kandy! mungkin Somasiri lupa karena hari ini saya tidak mengenakan baju seragam.”

Kata Abimayu sambil mengeluarkan tanda pengenal dari saku bajunya.

“Somasiri yang menelepon polisi? Melaporkan Priyanta?”

Tanya Abimayu.

“Betul saya yang melaporkan… Mari masuk!”

Jawab Somasiri dengan senang, dia mengira Abimayu datang akan memberikan penghargaan padanya.

Piyawati mendengar jawaban Somasiri sangat marah sekali, karena Somasiri tidak membawa Priyanta untuk mencari anaknya tetapi melaporkan ke polisi.

“Saya datang untuk menanyakan keberadaan anak Priyanta, dimana anak Priyanta? “

Kata Abimayu sambil menghampiri mereka bedua.

Piyawati langsung menjawab, sementara Somasiri hanya terdiam.
“Mari mahatia, saya tunjukan photo Priyanta aya dengan anaknya dan barang-barang milik Priyanta aya.”

Piyawati masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Abimayu. Kemudian dengan naik kursi Piyawati mengambil sebuah kotak kayu dari atas wuwungan rumah.

Pada waktu Piyawati mengambil kotak itu, Abimayu melihat sebuah gendang kecil dan kincir kecil terbuat dari bambu, di rak dekat Piyawati. Diambilnya gendang tersebut dipandangnya dengan seksama… ia pernah melihat gendang itu, entah dimana.

Tiba-tiba Abimayu teringat, seorang lelaki yang sering muncul dalam mimpinya. Lelaki itu memukul gendang kecil, bernyanyi sambil menari…. Hatinya begitu terkejut….. Ia ingat waktu kecil berlari mengelilingi rumah sambil mengangkat tinggi kincir bambu itu agar berputar dan lelaki itu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi…. Mereka tertawa bersama dengan gembira. Ia memanggil lelaki itu apachi…!

Abimayu hanya terdiam, dia berusaha menahan tangisnya, diambilnya barang-barang di kotak itu, photo keluarga Priyanta, surat-surat dari Priyanta untuk anaknya. Abimayu berjalan keluar tampa bicara.
Sementara Somasiri dan Piyawati memandang Abimayu dengan bingung.

Abimayu memandang kali kecil dengan jembatan batang kelapa, dia ingat duduk di jembatan itu bersama ayahnya…… ayahnya membuat perahu dari kertas dan meletakan ke air di kali itu…. Mereka berdua bersorak gembira, pada waktu melihat perahu kertas itu bergerak. Melihat sawah yang terbentang di seberang sana… Ia ingat bagaimana dia berlari di pematang sawah bersama ayahnya dan ayahnya sering menggendong dia di atas bahu dan mengangkatnya tinggi tinggi.

Tania melihat Abimayu datang memasukan box kayu di kursi belakang mobil tampa bicara. Tania melihat Abimayu berdiri di luar cukup lama sambil memandang sekeliling.

Hati Abimayu hancur luluh, ternyata Priyanta adalah ayahnya… Ia ingat bagaimana dia dengan kasar menarik leher baju Priyanta, mendorongnya ke dalam mobil….. bagaimana dengan kasar mendorong Priyanta yang berjalan perlahan….. dan membentaknya dengan penuh amarah. Terbayang bagaimana Priyanta meminta maaf kepadanya sambil berlutut.

Dengan mata berkaca-kaca, Abimayu berusaha menahan tangisnya. Abimayu masuk ke dalam mobil tampa bicara, menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah.

Hujan turun sepanjang perjalanan. Tania tidak banyak bertanya, melihat Abimayu yang hanya diam saja. Tania mengira Abimayu sedang konsentrasi mengendarai mobil.

Tania yang belum tahu apa yang terjadi, melihat ada tumpukan surat di kursi belakang. Diambilnya beberapa surat, dibacanya surat itu, dengan bersuara.

“Mahesh putha, sekarang kamu sudah berusia lima tahun. Putha tentunya sudah masuk sekolah….
….Priyanta apachi “

“Mahesh  putha umurmu tahun ini sudah dua puluh tahun…..! “

Mendengar isi surat yang dibaca oleh Tania, membuat Abimayu bertambah sedih, hatinya hancur. Dia tak kuasa menahan air matanya.

Setibanya di rumah, Abimayu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Tania. Abimayu berhenti memandang foto anak kecil yang tergantung di dinding dekat foto ayahnya. Foto anak kecil menoleh ke belakang sambil tersenyum, di bagian belakang lengannya ada bekas luka bakar. Anak itu anak yang sama dengan anak yang ada di foto Priyanta. Melihat kesamaan itu, membuat Tania mengerti apa yang telah terjadi. Tania memandang Abimayu dengan perasaan terharu.

Melihat Abimayu telah kembali, ibunya menghampiri Abimayu.

“Mommy……! “

Abimayu memeluk ibunya sambil menangis. Ibunya sangat terkejut, tetapi ketika ia melihat foto keluarga Priyanta tergeletak di meja dekatnya. Ia mengerti apa yang telah terjadi.

Ibu Abimayu teringat duapuluh lima tahun yang lalu,  suaminya pulang membawa seorang anak lelaki kecil dengan pakaian lusuh, matanya memandang penuh ketakutan.

Setelah lebih dari sepuluh tahun pernikahannya, tidak dikarunia anak. Mereka memutuskan untuk mengadopsi anak. Hatinya senang sekali, dihampirinya anak itu, anak itu mundur menghindarinya sambil ketakutan……Tiba-tiba anak itu menangis dengan keras ….. Dipeluknya anak itu, seperti sekarang ia memeluknya.

Sore itu juga Abimayu dengan mengenakan pakaian dinas pergi ke penjara untuk menemui Priyanta ayahnya.

Sesampai di penjara hujan mulai turun, ia bertemu dengan Bandara yang sedang bertugas, Bandara diperintahkan untuk mengambil kunci sel tempat Priyanta.

Tidak perduli dengan hujan yang turun, Abimayu berjalan ke blok tempat Priyanta berada. Abimayu berdiri di depan pintu sel, sambil menunggu Bandara datang membawa kunci.

Ia melihat Priyanta duduk di lantai,  sambil menundukan kepalanya tertidur.

” Apachi…!

Panggil Abimayu dengan suara perlahan.

Pada waktu Bandara datang membawa kunci, Bandara membuka pintu sel dan masuk ke dalam sambil memanggil Priyanta. Abimayu berjalan perlahan sambil memandang ayahnya.

” Priyanta! …. Ini ada lokhu mahatia datang!”

Melihat Priyanta hanya diam saja, ia menggoyang-goyang tubuh Priyanta agar bangun dari tidurnya, tetapi tubuhnya jatuh terkulai….. Priyanta sudah tidak bernyawa.

Melihat semua itu, Abimayu datang memeluk Priyanta ayahnya sambil menangis.

“Apachi….. Apachiiiiii……!”

Teriak Abimayu sambil menangis dengan suara keras, ia tidak perduli dengan sekelilingnya, ia tidak  menjaga wibawanya lagi.

Sambil menangis diangkatnya tubuh ayahnya…. Tubuh itu digendongnya, sambil berjalan keluar. Abimayu tidak perduli dengan hujan yang turun dengan deras…… Tubuhnya basah….air matanya mengalir dengan deras!

“Apachi…. Mate samawena!”

“Api raterang putha… Dang ding dung…. dang ding dung!”

SELESAI

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah ini.

Note:
Kisah ini terinspirasi dari teledrama berbahasa Singhala. Saya tulis kisah ini berdasarkan imaginasi saya dalam bahasa Indonesia.

 

 

3 Comments to "AYAH (4 – selesai)"

  1. J C  3 January, 2019 at 20:43

    Syanti, selamat tahun baru 2019 ya…terima kasih untuk kebersamaan dan kontribusi selama 10 tahun ini…

  2. Syanti  30 December, 2018 at 08:09

    Alvina VB, terima kasih juga.
    Selamat hari Natal dan Tahun Baru.

  3. Alvina VB  29 December, 2018 at 05:52

    Thanks utk ceritanya, Shanti. Sad ending ya.
    Apa khabar? Selamat Natal dan Tahun Baru -2019!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.