Puisi Akhir Tahun

Juwandi Ahmad

 

Bukan gerimis, namun tak dapat disebut hujan. Berduaan, bergandengan, di bawah payung kemerahan, berbalut sweater bergaris hitam. Ada syal yang melingkar, menghalau dingin yang kian tajam. Menepi, menjauhi banyak genangan yang tiba-tiba diterjang roda. Sembilan puluh sudah, dan musafir akrabi Yasin. Senja mulai tenggelam, senja mulai tenggelam. Dan sajak cinta tak pernah letih serupa jemari kitari tasbih.

Dicintai,
membuatmu bermakna
Dan diam-diam menyimpan kebanggaan

Dimanjakan,

membuatmu menemukan kembali
sifat anak-anak dalam dirimu
yang tanpanya kehidupan terasa beku dan kaku

Difahami,
membuatmu merasa ada telinga yang mendengarkan
ada hati yang merasakan
ada pikiran yang membawa terang

Dimuliakan,
membuatmu merasa bernilai
membangkitkan percaya diri
dan mengungkap pesonamu

Dan saat kau mempercayai
seolah-olah kau ditakdirkan
untuk tidak kehilangan sesuatupun
dan entah bagaimana semua akan baik-baik saja

 

 

3 Comments to "Puisi Akhir Tahun"

  1. Alvina VB  4 January, 2019 at 09:30

    Romantis yo di tahun yg baru, he…he…..
    Mas Juwandi dan kel: Selamat Tahun Baru, ditunggu tulisan2nya lagi di thn 2019.

  2. J C  3 January, 2019 at 20:40

    Gus Wan, angkrem kok suwe nemen, mbok nulis’o koyok awal-awal tulisanmu tentang Islam sing mencerahkan kuwi lho…

  3. Dewi Aichi  1 January, 2019 at 19:18

    3 artikel tahun baru ini..ciamik..11 menit..puisinya mas Ju dan pak EA.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.