Spiritualitas Sebelas Menit

Adriano – Amazon, Brazil

 

Oriximiná, kota kecil di pinggir sungai Trombetas-Pará, Negara Bagian Brasil. Saat senja, Bar-bar kecil membunyikan musik, cahaya memerah, riak-riak gelombang sungai menampar lembut punggung perahu dan nelayan mendayung sampan pulang ke rumah. Indah, persis seperti di kampungku, Duroa, Maluku Manis e. Penduduk kota ini kurang lebih 80 ribu jiwa. Kebanyakan kaum wanita! Orang-orangnya ramah, terbuka, rileks, seksi dan romantis.

Brasil umumnya tidak kenal BELIS atau harta kawin seperti kebanyakan daerah di Indonesia. Jadi bisa dibayangkan mereka ‘suka-suka gue’ saja jika tak ingin dibilang kawin lepas…! Sebutan “a mãe solteira”, Ibu tanpa suami sering terdengar di sini.  Betapa tidak, banyak ibu berjalan menggendong anak tanpa suami. Bahkan seorang Ibu bisa punya beberapa anak dari lelaki yang berbeda. Sebuah realitas kompleks yang mungkin jarang ditemukan di seantero Nusantara. It’s not a problem here! Yang pasti model pendekatan ala “hermeneutika kecurigaan” harus dikesampingkan apalagi moral.

Sore ini saya ingin membuang penat dan kebosanan dengan menyusuri bibir sungai setelah dua minggu disibukkan dengan pelbagai kegiatan pesta Paroki. Di pinggiran sunggai ini, saya menjumpai Natália (sebut saja demikian) bersama kedua anaknya. Dia tersenyum menatapku dalam. Natália adalah umat salah satu stasi di Parokiku. Sebagai seorang pekerja di Sekolah Dasar, dia menghidupi kedua anaknya sendirian tanpa bantuan sang suami yang telah lama menghilang. Menurut pengakuannya, ex-suaminya itu sudah hidup bersama wanita lain dan punya anak lagi. Dia memilih untuk tidak lagi berhubungan dengan lelaki setelah punya pengalaman traumatis bersama ex-suaminya. Pertemuan kami yang singkat ini harus terhenti ketika MALAM membawa INGAT untuk kembali.

Kisah Natália, mengingatkanku akan novel “SEBELAS MENIT” karya Paulo Coelho, sastrawan Brasil yang terkenal itu. Ini mungkin satu-satunya novelnya yang mengulas tentang SEKS. Menurutnya, judul itu adalah waktu rata-rata yang digunakan pasangan manusia untuk berhubungan seks. Ia berasumsi, jika ulah manusia banyak ditentukan oleh sesuatu yang berlangsung SEPENDEK itu (11 menit), bukankah itu ABSURD? Dengan kata lain, mestinya ada MAKNA lebih dalam dari aktus itu.

Paulo Coelho tegas menyatakan bahwa bersatunya dua raga LEBIH dari sekadar tanggapan terhadap dorongan FISIK belaka. Baginya, “seks adalah manifestasi sebuah energi spiritual bernama CINTA.”

Tokoh utama novel ini Maria, perempuan cantik Brasil yang pingin terkenal tapi terlempar menjadi pelacur di Jenewa. Seraya pasrah mengikuti nasib, ia malah bertemu dengan Ralph, seorang pelukis kaya yang justru jatuh cinta padanya.

SPIRITUALITAS keintiman mereka menyeruak ketika mereka bisa melakukan apa saja kecuali berhubungan BADAN, yang dengannya Maria memperoleh pengalaman orgasme paling yahud sepanjang hayatnya.

Saya kira Coelho menulis novel ini dengan ‘aroma’ khas Brasil untuk “membawa seksualitas dan spiritualitas ke level yang lebih sehat pun sakrali.” Seksualitas pertama-tama dan terutama adalah cara Tuhan untuk memilih sesuatu bagi kita di dunia ini, untuk menikmati energi CINTA TULUS dalam bentuknya yang fisikal. Jadi seks adalah manifestasi ilahi yg merupakan berkah. Dengan pemahaman yang sehat tentang seksualitas manusia membantu Tuhan memanifestasikan diri di dunia.

Ini yang dalam tradisi katolik disebut Sakramen. Tanda kehadiran cinta Allah dalam relasi suami istri/keluarga.

Kembali ke Natália. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya kira Natália adalah TEKS hidup yang dapat dibaca dalam teropong ‘Sebelas Menit’.

Ia merepresentasikan sebuah dunia ‘lain’ yang sedang diperankan banyak orag. Dia adalah kritik atas pandangan yang mengagungkan seks ‘in se’ yang terpusat pada 11 menit namun mengabaikan dimensi sakralitas seks.

Seksualitas yang bersifat sakrali menjadi tercemar justru ketika dia terbatas hanya pada seks (11 menit) itu sendiri dan mengabaikan roh cinta yang menjiwainya!

Natália,

Semoga di suatu senja yang lain engkau kembali dengan kisah yang lebih MEMBAHAGIAKAN tentu melampaui durasi kebahagiaan SEBELAS MENITNYA Paulo Coelho.

………

 

Brasil 24’8’17

 

Note Redaksi:

Adriano, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Ditunggu artikel-artikel lainnya ya…semoga betah dan kerasan. Dewi Aichi, terima kasih sudah memperkenalkan BALTYRA kepada Adriano dan mengajak Adriano menulis di sini…

 

 

18 Comments to "Spiritualitas Sebelas Menit"

  1. Dewi Aichi  31 July, 2019 at 18:10

    Alvina, di mana udah balik belum nih?

  2. Dewi Aichi  10 January, 2019 at 19:16

    Yahhhhhhhhhhhhhh..Alvina…ngilang lagi..

    pak Lurah……

  3. J C  9 January, 2019 at 17:37

    Dewi Aichi memang pakarnya yang beginian…Lani jugak…

  4. Alvina VB  8 January, 2019 at 06:58

    Dewi, lama2 kita bikin lapak ini ambyar…..
    Sampe ketemu bln depan yo…..mau ngilang lage, nyelesaiin tugas.

  5. Dewi Aichi  7 January, 2019 at 20:26

    Alvina, hahaha…di sana msim dingin, mandi pasti lama, karena butuh air panas buat bantu menghangatkan badan, aku mandi saja lebih dari 11 menit kok…..apalagi pemanasan haha…jangan ngeres juga.

  6. Alvina VB  7 January, 2019 at 04:55

    Kemarin melirik jam di dinding, 11 menit hanya pemanasan badan doang, wkkkk….

    Jangan ngeres dulu…. pemanasan badan maksudnya dioles minyak dan dipijitin karena lagi dingin dan sakit, uhuk…uhuk…

  7. Dewi Aichi  4 January, 2019 at 14:45

    Didik..woi, ini bacaan dewasa, kamu anak kecil kenapa nyusup ke sini?

    haha..yang sa’ nyukan itu pak lurah ya…..beliau yang bilang…

  8. Didik Winarko  4 January, 2019 at 06:28

    Wakakakakakk..
    Ealaaahhh.. Iki to yang mbak Dewi katanya lagi mbahas sak nyuk 11 menit tapi efeknya 9 bulan..

    Jian!
    Saru! Eh! Seru tenan!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.