Cerdas dan Cermat Memilih Caleg Idola

EA Inakawa

 

Gema Penanggalan Pemilu pada 17 April sudah berkumandang bagaikan TAKBIR (tentunya dalam bahasa advertising), sisa hitungan waktu 3 bulan 10 hari bukanlah waktu yang lama.  

Dalam periode kampanye yang sudah mulai berjalan ini berbagai aktifitas TEBAR PESONA/kampanye Caleg mulai berlabuh di mana-mana, ada yang secara terang-terangan dan sembunyi mengabaikan berbagai himbauan Bawaslu dan KPU tentang tata cara menempatkan APK, konyolnya para Caleg yang Intelektual ini TETAP SAJA melakukan pelanggaran, terbukti dari berbagai APK (alat peraga kampanye) yang dengan sengaja masih dipasang di tempat terlarang : di pohon, di tiang dan Gardu Listrik, bahkan dinding mobil dan kaca mobil angkot yang sebetulnya tidak diperbolehkan.

Yang paling bikin rakyat bingung lagi, adalah janji politik sang Caleg terlalu overconfident, berani , aneh dan nyeleneh, sang Caleg sampai lupa bahwa janji politik itu harus mewakili kebijakan Partai dan sudut pandang yang sama sesuai bidang kerja berbagai fraksi di lembaga Negara dan kementerian terkait yang diwakili.

Dalam setiap Event Pemilu, Fenomena nya adalah ketika Caleg terpilih sering terjadi keputusan Fraksi lebih sakti daripada janji politik kepada rakyat yang selama berkampanye diumbarkan sedemikian-demikiannya, sering terjadi penempatan si caleg yang menang tadi di luar dari Fraksi yang diinginkannya, sehingga dia tidak mampu mewujudkan janji-janji politik yang sudah disampaikan ke masyarakat, maka sudah pasti si Caleg yang duduk ini dianggap berbohong oleh masyarakat, kebohongan itu akan berbalik menjadi bumerang kepada sang Caleg Menang, potensinya adalah pada Pemilu berikutnya sang Caleg Menang ini sudah pasti akan kehilangan Konstituennya, rakyat jengah kalau mereka telah atau akan dibohongi selama 5 tahun lagi.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk menegakkan keadilan dan integritas dari rakyat pemilih, Caleg sampai aktor Pemilu yang bermain di belakang layar.

Lalu bagaimana kita sebagai rakyat menyikapinya. Kita memilih berdasarkan nama besar Partainya, atau kita memilih karena simpati kepada sosok KETUA UMUM PARTAInya atau Kita memilih pribadi Caleg nya. Anda pasti bingungkan,   lalu apa perlu kita Sholat Istiqorah, mohon petunjuk Sang Khaliq untuk menentukan pilihan tadi.

Menentukan pilihan itu sesungguhnya tidak mudah, tetapi dalam Pemilu banyak hal yang tidak pada biasanya akan menjadi biasa dilakukan oleh para Caleg Ambisi yang menghalalkan semua cara, namanya juga ber Politik (multi taktik dan cara akan dilakukan) banyak cara untuk memainkan instrumen politik sesuai kepentingan pemangku kekuasaan partai. Segelintir atau mungkin bergelintiran rakyat berjamaah sudah tidak peduli dengan sosok Caleg yang akan duduk sebagai Wakil Rakyat, bisa jadi mereka akan menganggap siapapun yang duduk akan sama saja, tidak ada manfaatnya buat mereka, perubahan demi perubahan Wakil Rakyat toh sama saja begitu mereka duduk di parlemen, mereka lupa untuk membela rakyat sampai titik nadirnya, sehingga yang paling sederhana dilakukan masyarakat adalah siapa saja yang mau memberi mereka fulus semuanya mereka terima, dan di saat mereka sudah berada di bilik suara mereka akan mencoblos tanpa mengingat lagi siapa yang musti diingat, itulah fenomena rakyat dari kisi kisi yang sudah apatis dan kehilangan akal sehatnya, mereka abaikan bahwa sebetulnya mereka pun punya peranan yang penting untuk ambil bahagian dalam politik umum.

Bagi penulis, kalau boleh berpendapat, sebaiknya Pilihan Pertama: Pilihlah sosok CALEG nya (terutama Caleg yang jelas Misi dan Visinya serta Kredibilitas dan Integritasnya).

Pastikan anda tidak salah memilih. Bagaimana mungkin ketika anda berharap mendapatkan seorang Wakil Rakyat yang membela rakyat bersih dan jujur tetapi dalam proses untuk memilihnya anda bersebahat menerima amplop darinya, rasanya mustahil ketika wakil rakyat tersebut membuat keputusan penting pastilah terselip niat jahat lainnya untuk mengembalikan dana siluman yang sudah dia berikan di saat melakukan serangan fajar tadi.

Pilihan Kedua: Pilihlah Partainya : sebuah Partai yang memiliki Kekuatan Politik dan Kuat dari sisi financial, jelas Motivasi dan Inovasinya  dan mampu membesarkan para kadernya melalui Edukasi Politik dalam menjalankan proses kaderisasi dari tingkat DPW – DPD – DPC sampai ke anak ranting. Dengan demikian proses pembelajaran dan pemahaman politik kader akan lebih ter-ukur dan ter-uji kemampuannya untuk berkompetisi disaat Caleg tersebut duduk di DPRD/DPR RI.

Secara pribadi saya jatuh hati dan bersimpati kepada Partai Persatuan indonesia bukanlah tanpa sebab:

1. Faktor nama Perindo (Persatuan Indonesia) adalah Roh dari sila ke 3 PANCASILA.

2. Ideologi Perindo adalah PANCASILA, sebuah idealisme membangun masyarakat Indonesia.                     

3. Visi Perindo: Mewujudkan Indonesia yang Berkemajuan – Bersatu – Adil – Makmur – Sejahtera – Berdaulat – Bermartabat dan Berbudaya.

Secara Prestige dalam membangun popularitas, Perindo memiliki infrastruktur Kantor DPW yang dibeli langsung oleh Bapak Hari Tanoe, sebuah kantor yang merupakan Perwakilan Partai dan Kehormatan/Marwah Partai Perindo di seluruh Propinsi di Indonesia, termasuk sarana dan prasarana berbagai dukungan Media Cetak dan TV, sungguh Perindo Hebat dan Luar Biasa (secara Financial tak perlu diragukan lagi Perindo memang sangat mampu memberikan motivasi dan rasa nyaman kepada Kadernya)

Terkait kebijakan Partai yang harus didukung anggotanya walaupun menyimpang dari janji politik sang Caleg maka bagi seorang yang berada di Legislative harus berani menghadapi rakyat yang memilihnya dan sikap ini hanya dimiliki oleh seorang yang memang mendedikasikan kedudukannya sebagai Wakil Rakyat, saya yakin di Era JOKOWI ini Rakyat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih dapat memilih dengan pilihan yang CERDAS, misalnya :

1. Kenali dan cari tau seputar calon Legislatif tersebut  (rekam jejak kehidupan, pendidikan dan latar belakangnya).

2. Pelajari dengan cermat Visi dan Misi serta programnya dan kelanjutan realisasinya.

3. Sesuaikan pengetahuan Politik Dasar anda dengan berbagai gagasan si Caleg, apakah sejalan dengan harapan dan ideology pribadi anda.

4. Pastikan mereka berpendidikan dan faham tentang ilmu berpolitik yang baik sehingga mereka berkemampuan untuk memberikan Pendidikan Politik kepada Rakyat.

5. Pilih Caleg yang tingkat sosialisasi ke Warga/Masyarakat cukup sering dalam menyampaikan programnya, dari pertemuan inilah kita akan melihat kualitas Caleg tersebut.

Memilih dengan kecerdasan emosi akan lebih banyak fadillahnya, memilih wakil rakyat yang Kredibilitasnya (kualitas, kapabilitas) tidak diragukan lagi.

Dengan demikian paling tidak semua harapan ketika pilihan hati sudah kita tentukan kepada seseorang yang kita yakin dan percaya untuk menyerahkan kedaulatan rakyat ini kepada Wakil Rakyat yang Profesionalisme dan Kompetensi nya tidak diragukan lagi untuk mampu mewujudkan masa depan bangsa untuk membawa negeri ini sebagaimana cita-cita luhur Partai Perindo menuju Indonesia Sejahtera, sesuai apa yang menjadi kebutuhan Rakyat Indonesia.

 

salam setepak sirih sejuta pesan

EA. Inakawa

 

 

7 Comments to "Cerdas dan Cermat Memilih Caleg Idola"

  1. EA.Inakawa  23 March, 2019 at 09:13

    Selamat Pagi Sahabat Baltyra,
    Pemilu tersisa 25 hari lagi, agar lebih sederhana pastikan untuk memilih sesuai “KATA HATI” pilihlah calon yang sejalan dengan pandangan politik kita, salam Baltyra

  2. EA.Inakawa  28 January, 2019 at 09:40

    Selamat Pagi, mengingatkan buat para sahabat Baltyra, terhitung hari ini tgl 28 Jan 2019 s/d 17 April Pesta Demokrasi Pemilu tinggal 80 hari lagi, jangan lupa persiapkan diri & hati dengan pilihannya, salam

  3. EA.Inakawa  17 January, 2019 at 12:09

    Selamat Siang Para Sahabat Baltyra,
    Saya hanya mengingatkan,…..
    Persiapkan Diri menjelang Pemilu 17 April 2019,pilihlah Caleg yang anda kenal,
    Ini Pertama sekali Pilpres & Pileg serentak dilakukan,
    Pesta Demokrasi Tinggal 91 hari lagi,
    Salam

  4. EA.Inakawa  13 January, 2019 at 16:23

    @Jhony Lubis, mauliate godang bang atas masukannya. Salam

  5. Jhony Lubis  12 January, 2019 at 22:10

    sedikit masukan pak yang terkait bidang kerja kementrian/lembaga di DPR dikenal dgn istilah komis I-XI, berbeda dgn fraksi yang kesamaan pandangan politik biasanya dalam 1 kelompok dikenal dgn fraksi Golkar, fraksi Gerindra dll.

    masalah utamanya Idealisme Aleg akan terkontaminasi dengan kepentingan partai saat pengambilan keputusan (vote) dan penempatan Aleg di komisi kerja belum tentu sesuai dengan latar belakang pendidikan, pengalaman serta kemampuan nya sehingga tidak optimal kinerjanya (the right man on the right place)

  6. EA.Inakawa  12 January, 2019 at 18:56

    @Bapak Sumonggo,
    Matur Nuwun, sudah singgah sesaat memberikan apresiasinya,

    Mengingat Politik itu sederhananya adalah Seni & Ilmu untuk mendapatkan KEKUASAAN baik secara konstitusional atau Nonkonstitusional, Saya pikir sah sah saja jika Perindo menjadi semacam Nasdem Wannabe atau Bakrie Wannabe.
    Dipuncak kekuasaannya,ditengah PENCAPAIAN yang sudah didapatkan HT sebagai Juragan yang memberi makan lebih dari 30.000 karyawan (dan terus bertambah setiap tahunnya) dari semua lapisan pendidikan & kasta,
    Sebagai Insan Tuhan hatinya mungkin belum puas dengan apa yang sudah dilakukannya untuk bangsa ini (termasuk upaya mencerdaskan bangsa).
    Perindo lahir ditengah rasa ketidak puasan itu setelah HT gagal bersanding dengan Nasdem & Hanura (kita semua tau bagaimana Nasdem & Hanura memanfaatkan situasi saat itu).
    Bapak menyebutkan Perindo semacam Wannabe,
    Wannabe (ref : Wiktionary) = Want to be (ingin menjadi) …..
    saya aamiin kan,sebab didalam nya terkandung Asa & Karsa…..tersirat & tersurat bebagai keinginan – cita cita – harapan – ambisi & motivasi dari sosok HT.
    Perindo sudah berkibar dan sebagai pemilik berbagai media, Perindo sudah JAYA Di Udara, dan sikap HT yang suka turun menyapa rakyat membuat HT juga Jaya di darat.
    Dalam Politik tidak ada yang MUSTAHIL, Perindo memiliki potensi yang besar, semua dukungan yang bersifat A bove the line & Be low the line, logistic, massa & media dia punya,
    Segala Ihktiar sudah dilakukan, sisanya biarkan tangan Tuhan yang bekerja membantu HT/Perindo.
    Terkait Ahok…. Jika ada 1 juta orang yang tidak menyukai kita, tidak mustahil ada 2 juta orang lainnya yang menyukai kita, sebab Bangsa Indonesia secara Sosiologis & Psikologis selalu senang di sapa oleh seorang HT yang rajin ber silaturahmi, adalah sebuah keniscayaan jika sebenarnya HT sudah di cintai Rakyat Indonesia.

    (Mudah mudahan komentar saya ini salah) Pangapunten Bapak,

    Salam Baltyra…..

  7. Sumonggo  12 January, 2019 at 15:44

    Perindo sebenarnya semacam “nasdem wannabe”. Bila dulu Nasdem “bermodal” MetroTV mampu meraup suara untuk duduk di parlemen, mungkin yang dibayangkan dengan 4 stasiun TV (RCTI, GlobalTV, MNCTV, Inews) semestinya Perindo mampu meraup suara lebih banyak. Frekuensi seharusnya adalah milik publik. RCTI, GlobalTV, MNCTV, Inews sempat mendapat sanksi KPI karena penayangan iklan Perindo, sementara program siaran wajib untuk dimanfaatkan demi kepentingan publik dan tidak untuk kepentingan kelompok tertentu. Stasiun televisi yang sudah terkooptasi kepentingan politik para pemodalnya menjadi tidak independen lagi. Bisa dilihat apakah itu pemberitaan MetroTV, TvOne, ataupun grupnya MNC, sudah terbelah dalam kubu-kubu-an dan penuh framing. Masing-masing “menyembunyikan” berita negatif dari kubunya sendiri, sebaliknya mem-blow-up besar-besaran bila itu dari kubu lain.
    Meski anak-anak kecil sekarang hapal Mars Perindo karena sering sekali diperdengarkan di layar tv-nya HT, saya ragu itu akan memperbesar perolehan suara Perindo. Para pendukung Ahok akan enggan memilih partainya HT ini, karena dulu sewaktu Ahok “diserang”, TV-nya HT ini ikut “menyerang” Ahok, meski sekarang HT balik badan pindah ke kubu Jokowi. Para pembenci Ahok yang di antaranya adalah kelompok yang gemar mengusung politik identitas, juga akan enggan memilih partainya HT, karena tidak ada figur di Perindo yang sesuai dengan “simbol” tersebut, praktis HT menjadi “one man show” di Perindo.
    Sebenarnya ada satu cara mudah bagi HT bila ingin berkontribusi untuk mencerdaskan bangsa ini, tanpa harus repot-repot bikin partai dan ikut pemilu. Cukup bersihkan layar televisi dari sinetron sampah …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.