Obrigado Barak PMI Belu dan Sesloki Tuak Buat Bung Viktor B. Laiskodat

Alfred Tuname

 

Tahun 2018, Kabupaten Belu menjadi tuan rumah Musyawarah Kerja (Muker) PMI Provinsi NTT. Sebagai tuan rumah, PMI Kabupaten Belu mempersiapkan semua hal untuk memperlancar kegiatan tersebut. Akomodasi dan transportasi disiapkan dengan sungguh-sungguh seakan sedang memanjkan para peserta Muker PMI Provinsi NTT yang datang dari semua kabupaten di NTT.

Muker PMI Provinsi NTT merupakan agenda tahunan PMI Provinsi NTT. Kegiatan tersebut wajib dilaksanakan sebagaimana amanah AD/ART PMI sekaligus moment evaluasi dan menetapkan rencana kerja PMI NTT. Selain itu, moment tersebut menjadi ajang sambung semangat dan berbagi jiwa kemanusiaan di antara para pengurus PMI di NTT.

Dasarnya adalah kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana (tanggap darurat bencana) dan kesukarelaan dalam menolong sesama. Untuk semua itu, PMI Provinsi wajib berkoordinasi dan berkolaborasi dengan semua PMI di tingkat kabupaten yang ada di NTT, selain berkoordinasi dengan PMI Pusat di Jakarta. Koordinasi dan kolaborasi itu diwujudkan dengan usaha meningkatkan (up grade) sumber daya manusia dan sumber daya sukarelawan dalam organisasi PMI (melalui pelatihan dan diklat).

Dari sanalah muncul berbagai ide progresif untuk bersama-sama memajukan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepalanganmerahan di NTT. Bahwa semua elemen jaringan kerja sama (pimpinan pemerintahan, instansi, LSM dan masyarakat) perlu dirangkul untuk memperluas keterjangkuan kerja kemanusiaan. Tentu saja, dana dan perangkat teknologi menjadi faktor determinan dalam memperlancar semua rencana kerja kemanusiaan.

Dengan adanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Kepalangmerahan, PMI merasa mendapat dukungan positif dari pemerintah. Undang-undang tersebut tentu disambut baik oleh semua organisasi kepalangmerahan di Indonesia. Bukan hanya itu, organisasi palang merah dunia juga akan semakin memusatkan perhatiannya kepada Indonesia.

Bahwa dimensi legal PMI (:adanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018) mensyaratkan organisasi harus berbenah dan lebih siap dalam kerja-kerja kepalangmerahan. Artinya, PMI bukanlah organisasi gagah-gagahan, melainkan sekelompok manusia yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi dan pengabdian super dalam menolong sesama manusia.

Tetapi karena dasarnya organisasi kemanusiaan PMI adalah membantu kerja pemerintah (auxiliary to the government), maka perhatian dan dukungan pemerintah (dari pusat sampai kabupaten) kepada organisasi PMI adalah “wajib”. Di sini, wajib diartikan sebagai kualitas relasi resiprokal (reciprocal relationship) yang kuat antara kebijakan pemerintah (daerah) dan kerja-kerja kepalangmerahan. Dengan begitu, setiap program dan kebutuhan (dana, sarana dan prasarana) mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Toh, PMI juga melayani warga masyarakat yang sama dalam sebuah pemerintahan.

Untuk semua itu, mungkin sudah saatnya PMI Provinsi NTT memberikan satu “sloki tuak” buat Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat. Palang Merah memang akrab dengan alkohol, tetapi bukan tuak. Sesloki tuak hanyalah sebuah pendekatan budaya bahwa ada permintaan yang tersirat. Cukup sedikit keterbukaan organisasi PMI Provinsi NTT, Pemerintah Provinsi NTT akan sangat membantu. Dalam hal ini, ada “intervensi” politik anggaran dan keberpihakan Gubernur Viktor B. Lasikodat dalam meningkatkan kerja dan kinerja PMI mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten.

Mengapa bung Viktor B. Laiskodat harus memperhatikan PMI di Provinsi NTT? Tanah Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Rote, Sabu, Alor) adalah daerah yang tidak lepas dari bencana gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, angin puting beliung, kebakaran, dll. Sebagai salah satu jalur ring of fire, NTT tidak lepas dari bencana gunung meletus. Atas semua bencana itu, ada manusia NTT yang siap jadi korban. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi NTT tidak boleh pasif, apalagi duduk manis. Perspektif kebijakan siaga bencana harus menjadi salah satu fokus kebijakan pembangunan dalam pemerintahan Viktor B. Laiskodat dan Josef A. Nae Soi.

Untuk semua itu, PMI Provinsi NTT adalah salah satu organisasi kemanusiaan yang senantiasa siaga dan tanggap dalam menolong sesama manusia yang mengalami bencana alam. Bukan hanya tindakan kemanusiaan pasca bencana (post disaster), sosialisasi dan simulasi tanggap darurat bencana pun digalakan.  Tentu kehadiran PMI bukan untuk mengganti harta benda para korban, tetapi memuliakan manusia dengan memberikan pertolongan kemanusiaan bagi sang korban.

Selain itu, PMI adalah bagian dari organisasi Palang Merah Internasional yang fokus dalam menolong sesama manusia. Dalam pengalaman gempa dan tsunami di Maumere, Aceh, Jogjakarta dan Palu, selalu ada sukarelawan PMI dan Palang Merah Internasional yang bekerja keras menolong para korban. Bukan itu saja, Palang Merah Internasional telah banyak membantu masyarakat Indonesia. Di NTT, ARC (Australian Red Cross) melalui beberapa PMI Kabupaten membantu masyarakat yang mengalami bencana kekeringan dan masalah sanitasi.

Filosofisnya, jaringan kerja kepalangmerahan handal akan menyelamatkan banyak manusia di tengah kepungan raksasa bencana alam. Semua itu akan menjadi sangat ideal apabila pemerintah (daerah) mendukung PMI secara penuh. Selebihnya, biarkanlah masyarakat menikmati kerja kemanusiaan PMI.

Di Belu, PMI Pronvisi NTT dan PMI Kabupaten di NTT telah merumuskan tekad untuk terus meningkatkan kualitas kerja kepalangmerahan seraya menjalin kerja sama erat dengan pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat. Urusannya, selain peningkatan kualitas pelayanan UDD (Unit Donor Darah) yang prima, juga berkaitan dengan peningkatan kualitas kesadaran masyarakat menghadapi bencana alam.

Tahun 2019 adalah “tahun bangkit” bagi PMI di Provinsi NTT. Menjadi lebih baik dan lebih tanggap adalah tekad kerja kepalangmerahan PMI NTT. Kota Atambua menjadi saksi sejarah rumusan kerja kepalangmerahan itu. Dari “kota batas” itu, PMI NTT ingin melampaui batas (beyond the limit) kerja-kerja kamanusiaan PMI. Sebab, menolong sesama manusia merupakan panggilan (vocatio) yang terus mengalir dalam darah setiap insan yang tergabung dalam organisasi PMI.

Setetes darah Anda, setitik keringat Anda, sebercik pikiran Anda, sangatlah berharga dalam menolong nyawa sesama manusia. Dengan menolong sesama yang menderita, sejatinya kita telah menemukan wajah Tuhan yang kita imani.

Akhirnya, jaya terus PMI NTT. Obrigado barak PMI Kabupaten Belu. Atambua 39 derajat Celcius telah membuat aliran keringat kepalangmerahan membasahi tubuh manusia yang ingin melihat wajah Tuhan pada wajah manusia lain (the others). Di batas, PMI NTT menemukan lagi semangat itu.

 

Alfred Tuname

Penulis dan esais

 

 

One Response to "Obrigado Barak PMI Belu dan Sesloki Tuak Buat Bung Viktor B. Laiskodat"

  1. Handoko Widagdo  13 January, 2019 at 14:38

    Setetes darah memang tidak mengenal batas negara.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.