Perjalanan Religi (1)

Ninik Atmodipo – Australia

 

Ketiga hotel tempat kami menginap adalah Gerasa di Amman (tidak perlu saya review karena hanya semalam), Holyland di Jerusalem, Hilton Madinah dan Fairmonth ClockTower, Mahjidil Haram Makkah. Ketiga fungsi hotel sangat bermanfaat bagi kami, terutama sangat dekat dekat tempat yang akan kami kunjungi setiap hari. Hilton dan Clock Tower ini masuk bintang lima.

Sedang Holyland paling bintang tiga, tapi sangat dekat dengan route Mahjidil Aqsa. Hotel ini hanya kecil, team kami sebagian menginap di lain hotel. Karena hanya kecil kami bisa naik turun pakai tangga saja, tidak perlu lift. Namun pada saat itu kaki kami sudah terasa sakit, kebanyakan naik turun menuju Mahdjid Aqza. Hampir setiap Isha dan Subuh kami sholat di sana. Selama enam hari di Jerusalem, sepatu saya hancur harus saya buang. Siap pakai sepatu “serep”.

Cuman meskipun sedekat-dekatnya banyak yang kita tidak perhitungkan. Di Hollyland untuk menuju Mahjidil Aqsa minimal dibutuhkan waktu 20 menit, untuk mencapainya, Ini harus jalan cepat, badan dan fisik harus “fit/prima”. Jalannya terjal menurun kemudian naik dengan cuaca dingin dan hujan di akhir bulan Desember 2018. Untuk ibu-ibu yang kurang kuat, minim butuh waktu 45 menit. Tidak ada akses kursi roda sama sekali. Ada 3 mesjid di sini yang bisa dipakai untuk berjamaah lebih dari 500 orang. Yaitu Mahjidil Aqsa (Dome of the Rock), masjid Kibli biasa dipakai untuk 6000 orang dan mesjid Marwani. Di Mahjidil Aqza ada jejak kaki Rasulullah besar sekali, kita bisa merabanya berbau wangi.

Hotel Hilton Madinah Almunawarah berada di depan patung jam yang banyak burung dara berterbangan di situ. Meskipun sangat dekat ke Majid Nabawi. Diperlukan waktu minim 20 menit untuk mencapai masjid. Deperlukan waktu paling tidak 1 jam untuk bisa duduk di shaf depan. Banyak sekali pengunjung masjid Nabawi. Di situ terletak makam Nabi Muhammad. Hanya jam tertentu dibuka yaitu setelah Dzuhur dan setelah Isha. Pengunjungnya melimpah ruah. Perlu ketabahan dan kesabaran. Hotel Hilton Madinah menurut saya cukup fasilitasnya. Lift nya sangat cepat dan efisien. Makanannya juga enak. Semua memadai dan memuaskan. Ada beberapa hotel ring satu di situ, tapi saya belum mencobanya seperti “Obare”, kata orang ini juga top class.

Sekarang menganalisa hotel kami yang terakhir dan terhebat di Baitullah yaitu Fairmonth, ClockTower. Wadalah….lift nya banyak sekali. Meskipun selama 6 hari kami sudah menguasai. Tapi tetap aja kesasar. Dari ground floor semua lift harus ke M2, yaitu receptionis. Habis itu harus pindah lift satunya ke kamar masing-masing. Ini yang membingungkan, saking banyaknya lift yang yang menuju ke kamar masing-masing. Jadi kita harus benar mencari lift kamar kita sendiri. Jangan keliru. Orang yang menginap di situ juga ratusan. Sekali masuk lift selalu “full”. Semakin besar sebuah hotel, semakin membingungkan bagi yang “tulalit” seperti saya.

Hotel Fairmont ini besar sekali segalanya. Ruang receptionnya kurang dimanfaatkan. Kesannya kurang ramah, terlalu jauh antara lift dan reception. Tapi saya suka kamar mandinya ada tempat duduk porselin. Sambil mandi duduk dan melamun apa yang telah kita capai seharian, dan apa yang akan kita kerjakan. Tiap pagi kami sholat di Roof Top “Mahjidil Haram”. Butuh waktu 25 menit dari hotel, mesti jalan cepat dan melalu 4x escalator yang penuh sesak. Kalau saya jadi escalator pasti udah mengumpat-umpat karena tiap hari diinjak ribuan manusia.

Bersyukur teman saya orangnya super cekatan dan pengalaman. Jadi saya tinggal mengekor dari belakang kalau pergi kemana-mana. Tahu-tahu udah nyampai. Seperti diterbangkan oleh burung Buraq. Ini saya bilang sebuah keajaiban yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku yang benar-benar buta tak tau apa-apa. Apalagi berjuta-juta manusia berada di situ. Saya hanya pasrah dan ternyata saya diberi partner penunjuk dalam hal segalanya. Orangnya lebih tinggi dari saya.

Banyak yang mengomentari kami berdua, paka bahasa Indonesia. “Wow….jangkung-jangkung sekali, langkahnya cepat”. Saya tersenyum saja, lah wong sama-sama jamaah Indonesia. Untuk katagori orang Indonesia, kami terlalu tinggi. Untuk katagori Arab, kulit kami coklat, dan hidung pesek. Alhamdulilah kami melenggang kemana-mana, seperti ular naga saja. Cepat sekali melesatnya.

Jalannya cepat menembus jutaan orang tanpa terhempas. Alhamdulilah. saya bisa mendapatkan teman dan super duper lincah kemana-mana, dan berkali kali bisa mengerjakan Tawaf, Saii, dan makam Nabi. Serta bisa sholat di Masjid-masjid besar tepat pada waktunya. Bisa bayangkan tanpa temanku ini. Aku bakalan tertatih-tatih ikut rombongan yang notabone terdiri berbagai usia lanjut. Waktu kita terpakai dengan efisien. Hanya Allah yang tahu telah memberikan peta tercepat untuk kita berdua.

Dari pengalaman ini, kita harus cekatan, cepat berfikir menembus ribuan manusia tanpa harus mendorong. Doanya juga harus kencang, usaha juga harus terus menerus. Tiap hari kami tidur maksimum sekitar 4 jam saja. Pulang Saii udah jam1 pagi, kadang kelaparan jam 2 pagi baru pulang. Jam 4:30 pagi udah bangun untuk sholat ke Masjid dan Baitullah. Pulang jam 6:30 pagi langsung makan pagi di hotel.

(Ringkasan perjalanan Religi seri pertama)

 

Note Redaksi:

Matur nuwun mbak Ninik akhirnya menulis di BALTYRA setelah sekian lama. Terima kasih Dewi Aichi yang berhasil mengajak mbak Ninik mengirimkan tulisannya ke sini…

 

 

2 Comments to "Perjalanan Religi (1)"

  1. Ninik Atmodipo  12 January, 2019 at 17:06

    Iya betul, banyak sekali jangkrik warna ungu kehijau hijauan. Nanti saya tulis kisah perjangkrikan mas Sumonggo. Terimakasih atas komentarnya.

  2. Sumonggo  12 January, 2019 at 15:48

    Mekkah saat ini kabarnya diserang jangkrik ya? Jadi mirip judul film Warkop, “Jangkrik, Bos” ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.