SHAKUNTALA (1)

Syanti – Srilanka

 

Srilanka 1999

Shakuntala seorang gadis Tamil Srilanka, ayahnya Ananda Rajasingham seorang dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah dan ibunya social worker yang bekerja di non government organization untuk “Women in need ” sebuah organisasi yang membantu wanita yang mengalami family problem, seperti perceraian, family violence etc.

Sejak kecil Shakuntala sering merasa rendah diri, dia merasa dirinya tidak cantik seperti saudara-saudara sepupunya. Setiap ada acara pertemuan keluarga ia jarang mendapat perhatian. Mereka selalu memuji Sharika, Savitri…etc tapi Shakuntala tida. Tubuhnya yang kurus dengan rambut keriting yang susah diatur dan bentuk mukanya yang tirus, tidak menarik perhatian mereka.
Hal ini membuat Shakuntala tidak suka bila ada acara pertemuan keluarga, tetapi orang tuanya selalu memaksanya untuk ikut bersama mereka.

Shakuntala bersahabat dengan Theruni, tetangganya. Keluarga Theruni dari suku Singhala, ayahnya bekerja sebagai administrative di kantor pemerintah,  ibunya seorang penjahit. Mereka senang bermain bersama, Theruni belajar di sekolah pemerintah dengan Singhala medium. Shakuntala ingin pergi ke sekolah yang sama dengan Theruni tetapi di sekolah itu tidak ada Tamil medium. Sebetulnya ada sekolah pemerintah dengan Tamil medium dan ada Ladies Hindu college. Tetapi orang tua Shakuntala kurang suka, karena keluarga mereka berasal dari high cast.

Orang tuanya menyekolahkan dia ke “ladies college ” sekolah Kristen swasta untuk anak perempuan yang terkenal. Di sekolah itu ada Singhala dan Tamil medium. Pada umumnya pelajar di sekolah itu berasal dari keluarga menengah ke atas, dalam kesehariannya mereka lebih banyak berbicara dalam bahasa Inggris.

Orang tuanya berharap Shakuntala bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tetapi Shakuntala merasa tidak bisa get long together dengan teman-teman sekolahnya. Membuat Shakuntala sering merasa rendah diri. Prestasi Shakuntala di sekolah tidak terlalu bagus. Tidak seperti kakak laki-lakinya yang selalu mendapat nilai yang bagus. Tampa disengaja orang tuanya sering memuji prestasi kakaknya. Membuat dia semakin kurang percaya diri.

Dilip kakaknya berhasil lulus ujian year 5 dengan nilai tinggi dan mendapat beasiswa untuk study di boy school Royal college, sekolah pemerintahan yang sangat terkenal khusus untuk pelajar yang berprestasi.

Di Srilanka hanya mereka yang lulus A level dengan nilai tinggi, yang bisa masuk di university. Dilip berhasil melalui semua itu. Sebagai sarjana Dilip mendapat pekerjaan dengan kedudukan yang cukup baik di pemerintah.

Sedangkan Shakuntala untuk lulus dari O level harus mengulang dua kali dengan nilai pas-pasan. Shakuntala merasa tidak mampu untuk menyelesaikan A level, apalagi untuk ke university.

Hal ini membuat orang tuanya merasa prihatin. Mereka berusaha agar Shakuntala mengikuti program diploma, di bidang computer atau acounting. Tetapi Shakuntala lebih suka untuk belajar menjahit, ia sering melihat ibunya Theruni menjahit baju, membuat dia tertarik untuk belajar menjahit.

Kedua orang tua Shakuntala, terutama ibunya merasa sangat kecewa. Ayahnya seorang dokter, ibunya bachelor’s degree dan anaknya hanya ingin menjadi penjahit. Tetapi mereka terpaksa menyetujui pilihan Shakuntala.

Shakuntala lebih banyak mengisi waktunya di rumah bersama Padma ama, salah seorang sepupu ayahnya. Padma ama, suaminya meninggal pada waktu ia masih muda dan mereka tidak dikarunia anak. Tradisi di India, biasanya mereka tidak mengijinkan para janda untuk menikah lagi. Walaupun sekarang sudah banyak yang menikah lagi. Tetapi Padma memutuskan untuk tidak menikah lagi. Ia tinggal bersama keluarga sepupunya dokter Ananda.

Padma yang mengasuh Dilip dan Shakuntala sejak kecil, mereka memanggilnya Padma ama. Sementara dokter Ananda dan istrinya Solochena, sibuk dengan pekerjaannya.

Melihat Shakuntala yang hanya sibuk dengan jahit menjahit, orang tuanya memutuskan untuk mencari calon suami untuk Shakuntala melalui married broker.

Di Srilanka pada umumnya pernikahan diatur oleh orang tua, melalui proposal. Dalam pernikahan, persyaratan pertama adalah berdasarkan kasta, horoscope, dowry, pendidikan, penampilan adalah yang kesekian. Walaupun sekarang sudah banyak yang love married, tetapi tetap harus mengikuti persyaratan terutama horoscope harus cocok dan orang tua tetap ikut campur tangan. Walaupun mereka saling mencintai bila horoscope mereka tidak cocok, biasanya orang tua menolak pernikahan mereka.

Mereka mendapat beberapa proposal dan ada yang sesuai dengan yang mereka inginkan. Yaitu berasal dari keluarga Tamil, Prateph Nadesen businessman yang menetap di Trincomale, di sebelah timur Srilanka. Mereka sedang mencari calon istri untuk anak lelakinya, seorang engineering lulusan university di India dan bekerja di sebuah perusahaan asing di Trincomale. Keluarganya dari kasta yang sama.

Mereka merencanakan pertemuan untuk saling mengenal dan mempertemukan kedua pasangan.

Shakuntala tidak bisa menolak keinginan orang tuanya, walaupun sebetulnya ia mempunyai perasaan tersendiri pada Nimal aya, kakaknya Theruni teman bermainnya sejak kecil. Tetapi ia menyadari hal itu tidak mungkin. Ia dari suku Tamil dan Nimal dari suku Singhala. Nimal setelah lulus A level melanjutkan pendidikan ke “Army Academy” Nimal ingin menjadi army untuk membela negaranya dari pemberontakan suku Tamil di bagian utara dan timur Srilanka, yang ingin membentuk negara sendiri, mereka menamakan organisasi mereka LTTE.

Pada hari yang telah ditentukan, Shakuntala dipertemukan dengan calon suami, Ravi Nadesen. Ibunya membawa Shakuntala ke salon untuk menata rambut dan make up wajahnya, Shakuntala nampak cantik, rambutnya dihiasi dengan untaian bunga melati, sesuai dengan tradisi wanita Tamil, ia mengenakan sari berwarna hijau pupus dengan border benang emas dengan segala pernak perniknya dan dilengkapi dengan perhiasan dari emas.

Pertemuan berjalan dengan baik, walau agak kaku. Shakuntala  hanya duduk dengan menundukan kepalanya dan nampak malu-malu. Ravi dapat memakluminya dan berusaha untuk mencairkan suasana, dengan bertanya tentang kegiatan Shakuntala sehari-hari.

Shakuntala ingin pertemuan ini segera berlalu, ia merasa seperti sedang interview mencari pekerjaan. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan hati-hati. Shakuntala berusaha agar Ravi menyukai dirinya, agar tidak mengecewakan orang tuanya.

Sesuai dengan tradisi masyarakat di South Asia, dalam pernikahan pihak wanita harus memberi emas kawin. Karena itu bila mereka mempunyai anak perempuan, mereka harus siap untuk itu.

Beberapa hari kemudian, melalui married broker keluarga Ravi, menerima proposal mereka. Tetapi dengan permintaan, mereka menghendaki wedding diadakan di hotel berbintang dan mereka meminta dowry selain perhiasan dari emas, mereka juga meminta rumah di Colombo.

Karena anak mereka Ravi, seorang sarjana mempunyai pekerjaan di perusahaan asing dengan gaji yang tinggi. Sedangkan Shakuntala hanya berpendidikan O level dan tidak bekerja.

Dokter Ananda, telah mempersiapkan dowry untuk putrinya. Tetapi mereka hanya mempunyai satu rumah yang mereka tempati. Mereka tidak punya cukup uang untuk membeli rumah lain. Walaupun dia seorang dokter, ia hanya bekerja di rumah sakit pemerintah dan mengajar di university. Bila ada waktu ia mengunjungi klinik swasta untuk charity. Sedangkan istrinya sebagai konsultan gajinya tidak terlalu tinggi. Mereka hidup berkecukupan tetapi tidak berkelimpahan.

Karena keluarga dokter Ananda berada di Jaffna yang di bawah kekuasaan LTTE. Mereka harus membayar ransom pada LTTE untuk membiyayai pemberontakan mereka. Kalau tidak keluarga mereka akan mendapat problem.

Mereka berusaha mengadakan negosiasi dengan keluarga Nadesen. Mereka bisa memberikan permintaan mereka yang lain tetapi tidak bisa memberikan rumah.

Keluarga Nadesen tetap menghendaki rumah sebagai dowry untuk pernikahan atau tidak ada pernikahan.

Dilip sebagai kakak berusaha untuk membantu orang tuanya, dia memberikan tabungannya untuk pernikahan adik perempuannya. Tetapi tetap tidak mencukupi.

Shakuntala merasa sedih melihat orang tuanya, ia merasa memberikan problem. Dan ia meminta orang tuanya untuk membatalkan rencana pernikahan ini. Mungkin ada proposal lain, tetapi semua sama, mereka meminta dowry yang tidak dapat mereka penuhi bahkan ada yang permintaannya lebih tinggi. Dan yang terbaik adalah proposal dari keluarga Nadesen

Setelah melalui perundingan yang panjang akhirnya mereka mendapat kesepakatan. Rumah dokter Ananda diberikan sebagai dowry, dengan perjanjian dokter Ananda dan istrinya bisa tinggal di rumah tersebut selama mereka masih hidup, tetapi Dilip kakaknya bila telah menikah harus meninggalkan rumah tersebut.

Bagi setiap orang tua merupakan suatu kebahagian untuk menikahkan anak mereka. Dokter Ananda merasa senang anaknya Shakuntala bisa menikah, tetapi sedih karena mereka tidak memiliki rumah lagi.

Setelah menikah Shakuntala diboyong ke rumah mertuanya di Trincomale.

Trincomale adalah kota pelabuhan di sebelah timur Srilanka, mayoritas penduduknya adalah suku Tamil. LTTE berencana untuk medirikan negara sendiri. Dari bagian utara semenanjung Jaffna sampai ke bagian timur, termasuk Trincomale dan Baticaloa.

Keluarga Nadesen native dari Tamilnadhu India, kakek buyutnya datang ke Srilanka untuk berdagang. Dari Madras ia membawa textile ke Trincomale kota pelabuhan di sebelah timur Srilanka. Ia menikah dengan anak rekan bisnisnya yang berasal dari India tetapi sudah lama menetap di Trincomale Srilanka.

Orang tua Ravi adalah generasi ke lima, istrinya berasal dari kampung halaman kakek buyutnya, Madras India. Keluarga Nadesen masih mengikuti tradisi dengan kuat. Mereka tinggal di rumah yang dibangun oleh kakek buyutnya. Rumah yang sangat besar, mereka mempunyai enam orang anak. Anak pertama dan kedua laki-laki telah menikah, tinggal di rumah itu. Yang ke tiga perempuan telah menikah tinggal bersama keluarga suaminya di Baticaloa. Sedangkan Ravi adalah anak ke empat. Adik lelakinya sekolah di India, adik bungsunya perempuan baru berumur tiga belas tahun.

Sesuai dengan tradisi, mereka semua tinggal satu atap. Ibu Ravi yang menjadi komandan di rumah itu. Semua ia yang mengatur, dengan peraturan dari tanah leluhurnya India. Seperti dalam berpakaian. Untuk wanita yang telah menikah setiap hari harus mengenakan sari. Dan ibunya hanya berbicara dalam bahasa Tamil. Suaranya keras, kalau memanggil anggota keluarganya dengan berteriak… Setiap kali mendengar suara ibu mertuanya, jantung Shakuntala berdebar-debar.

Shakuntala yang lahir dan besar di Colombo, keluarganya hidup berbaur dengan berbagai suku dan sudah modern…….mampukah dia menyesuaikan diri dengan keluarga suaminya?

 

bersambung…

 

 

One Response to "SHAKUNTALA (1)"

  1. J C  24 January, 2019 at 11:15

    Selalu menarik untuk menyimak warna-warni budaya lain dari yang selama ini kita kenal…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.