[Imelda’s Stories] Surat-surat untuk Irena (2)

Emma Debora

 

Artikel sebelumnya:

[Imelda’s Stories] Surat-surat untuk Irena (1)

 

 

Belakangan aku diberitahu Neni, ternyata pasar tradisional

yang murah itu milik perorangan. Gila. Apa ini namanya, Ren?

Irena,

Terimakasih ya sudah mengirimiku modem dan selimut cantik buatanmu. Modem memang sangat kubutuhkan, karena di sini tidak banyak tempat yang terpasang wifi. Mungkin sudah banyak, tapi di tempat-tempat nongkrong anak muda. Sementara tempat tinggalku jauh dari tempat-tempat seperti itu. Selimut juga akan kubutuhkan suatu saat. Sekarang masih musim kemarau. Panasnya minta ampun, Ren. Aku cepat lelah jadinya. Sesuka-sukanya aku pada suhu yang hangat ketimbang dingin, tapi kalau sudah panas seperti ini …. Hufff, aku bakal jadi seperti orang pesisir tak lama lagi.

Aku melewati perjalanan yang nyaman. Aman lebih tepatnya. Hanya selang beberapa hari saja sebelum peristiwa jatuhnya pesawat dari airlane yang sama dengan yang kutumpangi. Di atas, belum banyak turbulensi.

Kau tahu nggak Ren, ketika pesawat mendarat pukul 10 pagi itu, dadaku berdesir. Merasakan sensasi aneh setelah 3 tahun meninggalkan kota ini. Mirip waktu kamu bertemu si Mas Joko setelah 2 bulan tidak bertemu. Seru bagaimanaaa, gitu haha. Tak lama lagi aku akan makan ikan, yeaaay.

Tapi sekarang malah harus kubatasi karena tensiku naik. Tapi kalau pisang, jalan terus. Bagaimana tidak? Di jakarta pisang yang imut-imut dan nggak enak itu paling murah 10 ribu harganya. Sedangkan di sini masih ada yang 5000 ukuran sedang. Aku bisa menyimpannya untuk 3 hari. Kalau mau yang lebih banyak, beli saja pisang yang sudah dipreteli. Jumlahnya banyak sekali untuk harga 10 ribu. Kalau aku tidak ingat bahaya kelebihan kalium, aku bisa makan hanya dengan pisang saja setiap hari. Kalau jeruk, bagaimana? Huh, sudah mahal. Dulu sekilo masih 3 ribu, malah ada yang 2 ribu. Sekarang sudah 8-10 ribu. Mungkin karena minuman Es Jeruk yang booming di Jawa itu menular ke sini. Di mana-mana banyak penjual es jeruk.

Eh, tapi rasanya sih sudah tak lagi perbedaan antara suasana kota di Jawa dan di luar Jawa. Hanya topografi kotanya saja yang masih berbeda. Di Jakarta, ruas jalan relatif simetris. Jalananpun rata. Kalau di sini, konturnya turun naik. Teman si Riviel yang dari Jakarta, pernah dengan pedenya mengendarai motor kebut-kebutan. Tak lama dia jatuh dan ditertawai Riviel. Kata dia kepada temannya, “Bro, ini bukan di Jakarta. Sini aku saja yang bawa motor.” Memang ya, orang-orang kota itu suka sok-sokan deh. Aku juga dulu begitu waktu baru datang J.

Hari pertama aku jalan-jalan di sepanjang Teluk. Pagi dan malam. Tidak ada yang berbeda dengan ketika kutinggali 3 tahun yang lalu. Tetapi perasaanku kini berbeda. Mau aku buatan ibaratnya? Ibarat dua orang memadu kasih, lalu putus karena bosan. Kemudian bertemu kembali, dan CLBK. Mereka jatuh cinta lagi kepada orang yang sama. Ya, aku memang jatuh cinta lagi kepada kota yang sama. Hanya saja, kali ini aku tidak bisa lagi mencintai tanpa beban seperti dulu. Aku harus ingat bahwa ibuku sudah tua dan tetap menunggu kapan aku segera pulang dan jangan balik lagi ke sini.

Hari berikutnya aku bernostalgia ke pasar dekat rumah. Sama, tidak ada yang berubah. Pasar ini dibangun dengan biaya apbd, melingkupi bangunan dan pemakaian cuma-cuma untuk pedagangnya. Maka ketika pemkot memungut biaya sewa yang dianggap tinggi, para pedagang protes. Mereka mengadu ke LBH dan LBH kemudian mendampingi mereka untuk mengajukan keberatan. Aku sempat membaca spanduknya terpampang di sudut-sudut lingkungan pasar.

Kamu masih ingat dengan ceritaku tentang satu pasar yang menjual kebutuhan masyarakat dengan harga murah? Paling murah di antara passar-pasar yang ada di kota ini. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada sarana vital masyarakat yang melakukan persaingan tidak sehat seperti ini. Karena murahnya itulah, banyak orang yang berbelanja di pasar tersebut. Kalau sekali waktu mereka membeli sesuatu di pasar lain dan si pembeli protes, “Kenapa mahal sekali? Di pasar Anu lebih murah.” Maka si penjual akan menjawab dengan ketus, “Belanja saja di sana, tak usah di sini.” Ya, bagaimana tidak ketus kalau orang-orang sering membandingkan kedua pasar itu. Belakangan aku diberitahu Neni, ternyata pasar yang murah itu milik perorangan. Gila. Apa ini namanya, Ren?

Hari-hari berikutnya selama seminggu aku full di rumah, membereskan barang-barang yang kutinggal cukup lama. Barulah di awal minggu kedua, aku mulai beraktivitas di luar. Yang pertama, menemui kepala sekolah dimana aku akan mengajar sebagai guru tidak tetap. Kupikir, aku akan mengajar 1 atau 2 hari saja dalam seminggu. Ternyata harus masuk setiap hari, dari pagi sampai siang. OMG Reeeen, dengar itu Ren? Aku mesti bekerja nine to five lagi? Aku harus melupakan angan-angan bangun tidur menikmati suasana pagi di rumah, lalu jogging 3 keliling di lapangan, atau berjalan kaki ke tempat orang menjual ikan. Lalu menikmati primetimeku di rumah. Aku harus melupakan itu!

Kini aku harus bergegas menuju sekolah setiap pagi.

Barangkali kamu bertanya, kenapa tidak ditolak saja tawaran mereka? Ketimbang mengeluh tidak jelas begitu. Kok repot sekali Imelda ini. Ya, aku sudah duga kamu akan bertanya begitu. Dan aku akan menjawab begini; lalu apa gunanya sahabat kalau bukan jadi tempat curhat, wkwkwk. Kita ini pasangan sahabat perempuan, Sist. Meski aku tak lagi mau membedakan gaya persahabatan berdasarkan gender. Maksudku, bukankah kita ini sudah biasa bercerita apa saja tak peduli butuh solusi atau tidak. Kalau orientasinya selalu solusi, itu mah si Didi.

Aku menerima dulu tawaran Ibu Sulaeman, dengan masa uji coba 2 bulan. Kalau tidak cocok, akan kulepas.

Akhirnya, tepat tanggal 1 kemarin aku mulai mengajar. Setelah pimpinan di sekolah mengurus semua keperluan adiminstrasiku. Mulai dari SK sampai seragam mengajar. Meski merasa belum perlu itu semua karena masih uji coba, aku menurut saja. Aku menghargai upaya beliau mengupayakan agar hak-hakku diperhatikan dengan baik. Walaupun untuk ukuran seorang pekerja, honor yang kuterima di bawah standar.

Hari pertama mengajar, aku mati gaya. Tidak tahu bagaimana menertibkan anak-anak yang ribut dari awal sampai akhir. Pulang sekolah, aku menonton youtube yang menayangkan metode mengajar murid sekolah dasar. Aku serap sebisanya. Tapi ini jadi petaka waktu di hari kelima, aku diminta memberi ceramah di kampus. Gaya berkomunikasi kepada anak SD tak bisa kuhindarkan beberapa kali. Mereka bete tentu saja. Duh, Ren. Aku tak mau memperpanjang uji coba ini. Bulan Januari aku berhenti saja.

***

Aku sungguh naif ya Ren, kalau menganggap semua anak-anak itu

masih imut dan unyu-unyu.

 

Sekarang sudah mulai musim hujan. Aku mulai merasa kelabu seperti cuaca yang mendung. Apalagi tadi kudapati bangku yang biasa diduduki Filemon, murid kelas 5 itu, kosong. Kenapa dia tidak masuk ya? Aku agak khawatir dia merajuk karena minggu lalu kudenda Rp 500,- gara-gara memukul pantat teman perempuannya. Aku memang marah kepada anak-anak yang memukul. Aku umumkan bahwa kalau ada anak yang memukul, termasuk memegang bagian tubuh yang sensitif temannya, akan aku panggil. Aku menjelaskan sedikit kenapa mereka tidak boleh melakukan hal itu. Anak-anak perempuan semuanya bersorak setuju.

Tapi ada anak perempuan kelas 2 SD di kelas lain yang menurutku bersikap genit kepada lawan jenisnya. Aku pernah dilapori orangtua murid, dia naik ke atas rak buku dengan kedua kakinya yang terbuka lebar, lalu ada murid laki-laki berjalan di bawah kakinya sambil mengintip celana dalamnya. Seperti apa gerangan aktivitas dia di rumah? Dan supaya adil, aku juga harus bercerita padamu Ren, kalau ada murid laki-laki di kelasku yang kosakatanya banyak yang cabul. Cara si murid memperlakukan lawan jenisnya juga menurut pengamatanku agak kurang ajar. Aku belum punya kesempatan berbicara kepada dia. Aku sungguh naif ya Ren, kalau menganggap semua anak-anak itu masih imut dan unyu-unyu.

Lalu tadi siang, ketika hendak keluar gerbang, ada murid kelas 2 yang bertanya kapan lagi kita belajar. Padahal baru 30 menit yang lalu dia dan teman-temannya bersorak keras waktu aku memperbolehkan mereka pulang lebih cepat. Pikiranku tentang anak-anak itu masih terbawa sampai di rumah. Dan sampai aku beranjak tidur. Bisakah aku tegas pada diriku sendiri untuk tidak melanjutkan mengajar?

Baiklah Irena, aku sudahi dulu suratku ya? Kalau tidak direpotkan oleh Priyanka, balaslah suratku ini.

 

Peluk dari jauh, 

Imelda

 

 

2 Comments to "[Imelda’s Stories] Surat-surat untuk Irena (2)"

  1. emma debora  19 February, 2019 at 08:16

    EA Inakawa, terimakasih untuk tanggapan dan masukannya. Betul, anak-anak zaman sekarang memang penuh kejutan. Tp sy kira itu bukan salah mereka sepenuhnya. Selain orangtua yang hampir semuanya bekerja, juga pengaruh media sosial. Saya bahkan juga tidak bisa menyalahkan orangtua, karena mereka dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup; dimana semuanya serba harus pakai uang.

    Salam,
    ed

  2. EA.Inakawa  22 January, 2019 at 18:07

    anak anak SD zaman NOW, memang bikin kita miris….ekspresi mereka photo copy dari semua media yang mereka lihat, sayangnya orang tua tidak lagi sensitif memperhatikan pertumbuhan mereka, pastinya peran Bu Guru silakan mengambil alih kondisi ini untuk mengembalikan etika yang tercecer disemua sudut trotoar , salam sehat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.