Lelaki Berkuda di Balik Senja Merona

Ida Cholisa

 

Ini kesekian ratus kali  keterdiaman itu terjadi. Selalu dan selalu, membuat hati Anggun tertusuk duri. Lama-lama, rasa benci semakin menggelayuti diri. Sikap arogansi dan selalu menutup mulut setiap permasalahan terjadi, membuat hati Anggun semakin tertekan dan tertekan setengah mati. Bayu, suaminya, akan sanggup mendiamkannya berhari-hari lamanya. Mereka akan saling mendiamkan tanpa pernah saling menyapa hingga beratus jam lamanya. Kemudian ketika suasana mencair, mereka akan kembali seperti semula, dan ketika kerikil kembali menerpa, sikap mereka akan berubah saling tak memperhatikan apalagi menyapa, berhari-hari lamanya.

Anggun lelah. Ingin ia mebanting  kapas dan melawan angin; dan semuanya akan menjadi sia-sia. Ingin ia berteriak dari balik gunung dan memberontak dinding baja; dan semuanya kembali sia-sia. Anggun terduduk tak berdaya.

Bayu adalah suami yang sangat dicintainya, dan suami yang sangat mencintainya. Tapi pembawaan tersemnbunyi di antara keduanya yang memiliki kesamaan membuat mereka tak mudah melepaskan ego masing-masing mereka. Betapa Anggun ingin mendengar kata maaf yang keluar dari mulut suaminya, tapi hingga detik ini kalimat yang dirindukannya tak pernah keluar dari mulut mereka. Kecuali, ya kecuali saat sekarat pernah menyergap diri mereka. Kata maaf meluncur sedemikian indahnya.

Hati Anggun berselimut mendung. Bahkan beberapa menit sebelumnya bara api menguasai dirinya.Jalan buntu seolah terbentang di depan mata. Ia benci pada suaminya; tapi ia tak ingin hancur perkawinan indahnya. Sungguh ia ingin berteriak sekeras-kerasnya  agar beban hati sirna seketika.

Seorang lelaki berkuda tiba-tiba menghampirinya, dari balik senja yang jingga merona.

“Adinda,” sapanya mesra.

Anggun menengadahkan kepalanya. Tampak olehnya lelaki gagah di atas kuda hitamnya.

“Siapa kau?” Anggun mundur selangkah.

“Aku lelaki impianmu. Naiklah ke atas punggung kudaku.”

Bagai tersihir Anggun mengikuti perintah lelaki itu. Dalam sekejap ia telah berada di belakang punggung lelaki gagah itu.

“Pegang erat pinggangku. Aku akan membawamu ke langit tinggi.”

Anggun bertamasya mengarungi jagat raya. Mendung di hatinya berangsur sirna. Lelaki berkuda membuat surya di hatinya kembali bercahaya.

“Lihatlah itu,” kata lelaki berkuda.

Anggun membentangkan pandangannya. Tampak olehnya ribuan wanita tengah disiksa.

“Kenapa mereka?” tanyanya.

“Mereka para perempuan yang berlaku jahat pada suaminya. Mereka pengkhianat di balik punggung suami mereka. Mereka tak bersabar atas kekurangan suami mereka. Mereka menyebar keburukan atas diri suami mereka. Seolah mereka mahluk yang paling hebat dan perkasa.”

Anggun terdiam. Sungguh hatinya bersulam kesedihan.

“Mari kubawa kau menuju tempat lain. Di sana, di sebuah tempat yang teramat indah.”

Anggun kembali melepaskan pandangannya. Kini tampak olehnya istana megah dengan lelaki dan perempuan cantik yang tengah bercengkerama.

“Mereka, dahulunya adalah pasangan yang sabar dalam menjalani kesulitan hidupnya. Saling bersabar atas derita apa pun yang mereka terima, pun bersabar atas kekurangan dan ketidaksempurnaan  pasangannya. Hingga kemudian kesabaran itu membuahkan kesadaran pada mereka, bahwa memang demikianlah hidup seharusnya. Selalu ada rintangan untuk menuju sebuah keberhasilan. Selalu ada perjuangan untuk menggenggam kebaikan. Selalu bersabar untuk menuju kebahagiaan yang tak berkesudahan. Ikhlas menjalani takdir kehidupan, sebab ada hadiah tersembunyi setelah akhir perjalanan. Surga, yang keindahan dan kenikmatannya tak akan lekang di makan masa. Sungguh, apalah artinya derita dunia di banding kekalnya bahagia di surga?”

Hati Anggun bermandi awan. Kemudian gerimis turun berdatangan. Kecil awalnya, tetapi lama kelamaan menjadi rinai hujan yang menggelontorkan banjir penyesalan.

“Bawa aku, lelaki berkuda! Bawa aku kembali ke sana, aku tak ingin terlambat!”

Lelaki berkuda memandangnya lekat.

“Kau telah terlambat, Adinda.”

“Bawa aku pulang, bawa aku pulang…!”

Anggun berteriak kencang. Air matanya tumpah tak terperikan.

Lelaki berkuda pun membawanya pulang. Di sana, di rumah kecil di ujung malam, Anggun menghamparkan segenap kesedihan dan penyesalan.

“Bangun, suamiku. Banguuun…., maafkan aku, maafkan aku. Bangun suamiku…, aku akan bersabar atas apa pun yang kaulakukan apadaku. Maafkan aku suamiku, bangun…, bangun suamiku….!”

Anggun tersengal-sengal. Hatinya remuk redam. Lelaki yang berpuluh tahun berdiri di sisinya lelap dalam diam yang sangat tenang.

“Sayangku, beri aku kesempatan untuk berbakti padamu. Beri aku kesempatan untuk ikhlas menerima kekurangnmu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki diriku. Meski ini kesempatan kesekian yang mesti kauberikan kepadaku, setelah kesempatan-kesempatan lain yang selalu terlewatlkan olehku. Bangun, sayangku….”

Bayu masih diam membisu.

Penyesalan besar menghantam dada Anggun; adakah telah habis kesempatan itu? Ia tak ingin menjadi wanita yang masuk pada kelompok ribuan wanita yang disiksa lantaran tak ada bakti pada suaminya. Ia tak menginginkan itu terjadi pada dirinya…

“Berjanjilah untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Jangan ikuti hawa nafsumu. Syetan akan selalu membisikkanmu untuk berlaku durhaka pada suamimu, saat terlihat kejelekan dan ketidakbaikan pada diri suamimu. Bersabar, bersabar dan bersabar. Setiap tetes kesabaranmu akan berbuah pahala untukmu. Raih keindahan yang telah kausaksikan di langit sana, dan bergegaslah untuk menyempurnakan kebaikanmu. Jengan melihat sisi buruk suamimu, tapi lihatlah sisi kebaikannya. Ia sebaik-baik lelaki untukmu. Bersabarkah, karena dalam kesabaran selalu terdapat banyak keindahan.”

Lelaki berkuda hendak berlalu, tapi Anggun berhasil menahannya.

“Katakan, siapakah kau sebenarnya?”

“Itu tak penting bagimu.”

Tapi kalimatmu membuka kesadaranku.”

“Syukurlah, sebab itu yang kumau. Bergegaslah, jangan tunda waktumu. Tebar kebaikan untuk suamimu.”

“Tapi…, bukankah aku telah kehilangan kesempatan itu?”

“Tidak, ia hanya tidur sejenak. Ia pun tengah berkelana dengan lelaki berkuda, menatap dua pemandangan yang berbeda, sebagaimana engkau telah menyaksikannya. Selamat tinggal Adinda, semoga kau beruntung.”

Lelaki berkuda membuka topeng hitamnya. Bayu!

“Mas Bayu…., Mas Bayu….,” Anggun hendak mengejar lelaki berkuda itu. Tapi kakinya terasa sangat berat, hingga derap kuda menghilang lamat-lamat dari pandangannya. Lelaki berkuda menghentakkan seluruh urat nadinya.

“Dinda…, Dinda Anggun…, maafkan aku..,” sebuah suara mendayu di telinganya. Anggun membuka mata. Tampak olehnya sang suami berada tepat di depan matanya.

“Mas Bayu…, maafkan aku….,” Anggun memeluk suaminya. Sungguh, kata maaf yang dahulu kerap dirindukan dari mulut suaminya, kini terdengar indah di kedua telinga. Kata maaf yang akhirnya sama-sama terucap dari mulut mereka, hingga mampu merontokkan ego dan dendam membara dalam hati mereka.

“Aku akan menjaga kesabaranku, maafkan aku yang banyak berlaku salah atasmu,” Anggun berbisik pada suaminya.

“Dan aku akan memperbaiki kekuranganku, maafkan aku yang selalu merasa benar atas semua  tingkah lakuku,” Bayu memeluk erat istrinya.

Awan hitam dan tebal yang beberapa waktu lalu  menyelimuti hati mereka, kini tersapu oleh keikhlasan hati yang mulai terbuka. Dan cahaya cinta itu terus menyala tanpa pernah padam sesudahnya. Hingga waktu tiba, menuju pada hidup kekal yang mulia.

***

Dari kejauhan lelaki berkuda bernafas lega. Sebuah keburukan berhasil dibalikkan olehnya. Ia telah menyelamatkan cinta Anggun dan suaminya.

Senja kembali tiba. Selalu dengan warna jingga yang merona. Setiap senja tiba, Anggun selalu berharap bahwa sang lelaki berkuda akan kembali datang menghampirinya, memberinya hikmah dan lautan kata.

Tapi hingga lelah ia menanti, lelaki berkuda itu tak pernah  kembali lagi…***

 

Bogor, penghujung 2011-

 

 

2 Comments to "Lelaki Berkuda di Balik Senja Merona"

  1. El Patio  22 January, 2019 at 12:57

    Sesungguhnya SABAR itu salah satu kunci menuju pintu SURGA

  2. EA.Inakawa  20 January, 2019 at 13:13

    Sesungguhnya SABAR itu salah satu kunci menuju pintu SURGA

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.