Perjalanan Religi (2)

Ninik Atmodipo – Australia

 

Artikel sebelumnya:

Perjalanan Religi (1)

 

 

Kalau Tuhan sudah menunjuk, maka Terjadilah

Aku putuskan ikut group tour religi dari Australia. Hanya modal dengkul dan bonek (bondo nekad). Niatkan hati untuk pergi “sowan” Gusti Allah. Dalam benak saya dan seyakin-yakinnya bahwa rombongan ini pasti tidak atau jarang ada orang Indonesianya. Kebanyakan pasti dari orang orang migran dari negara Fiji, Afrika Selatan, Pakistan, Lebanon dsb yang tinggal di Australia dan Selandia Baru (New Zealand). Saya paham dan tidak berharap terlalu banyak. Bahasa yang dipakai juga bahasa Inggris tentunya.

Begitu penerbangan dimulai. Saya menunggu di International Airport Sydney sambil tengak tengok, apakah ada yang bareng denganku di Sydney ini. Nyariin orang yang pakai “hijab”, gak ada tuh. Hanya diriku sendiri. Ini penerbangan Sydney-Abudhabi, 15 jam penerbangan. Cari mencari akhirnya aku menemukan dua ibu-ibu dari negara Selandia Baru. Rupanya mereka suami isteri beserta tantenya. Alhamdulilah menemukan tiga orang barengan, bagiku sesuatu banget.

Begitu naik pesawat, ternyata ada sepasang suami isteri dari Afrika Selatan yang duduk bersebelahan denganku, tinggalnya di Sydney. Orang Afrika Selatan itu tidak semua hitam. Ada cantik kulitnya bening, hidungnya mancung. Akhirnya aku duduk bersebelahan dengan suami isteri itu. Kami ngobrol “ngalor ngidul”. Putri-putri mereka hebat-hebat sudah profesor semua (S3). Salah satunya tinggal di New York kerja di United Nation, yang satunya dosen, yang satunya lagi Movie Director. Semuanya tinggal di luar Australia “Byuh….byuh….hebat banget.

Setelah duduk manis, aku disapa dari belakang tempat duduk, ternyata ketua rombongan laki pak ustad dari Afrika Selatan dengan isterinya yang cantik beserta tour leader perempuan dari Selandia Baru tapi asli orang Singapore. Tour leader perempuan ini sibuk sekali “ngos-ngosan” karena dia bertanggung jawab membawa rombongan dari Selandia Baru. Juga bertanggung jawab untuk para wanita. Sebetulnya juga bertanggung jawab denganku juga karena aku travel sendiri tanpa partner.

Rata-rata tour ini adalah tour keluarga. Ada yang bawa anak kecil. Ada juga pasangan yang sudah sepuh tapi masih lincah. Ada juga nenek-nenek sendirian pergi tanpa ditemani plus tidak bisa bahasa Inggris. Bisa terbayang? Bisanya cuman bahasa Arab. Ya sudahlah gak ada orang Indonesia. Pokoknya aku udah dapat teman di satu kursi menuju Abudhabi. Alamak gak bisa tidur selama 15 jam penerbangan.

Etihad airline, pramugarinya usia sekita 30-40, cantik-cantik tapi kelihatan “under pressure”. Makanan enak saat berangkat dari Sydney. Akhir kata kami tiba di Abu Dhabi. Rombongan dari berbagai kota Australia dan Selandia Baru berdatangan. Setelah dihitung semua rombongan yang akan ke Jerusalem jumlahnya 49 orang. Tiba-tiba mendadak aku ditarik tour leader perempuan akan dikenalkan satu orang Indonesia dari rombongan Melbourne.

Alamak…..Tuhan tidak tidur. Aku dikenalkan dengan orang Indonesia yang piawai berbagai bahasa dan professional. Orangnya tinggi, lincah, pengalaman banyak banyak sekaii dan “kemrecek”. Pokoknya pemberani, cethar bicaranya, soleha dan tegas. Dia pergi sendiri juga. Sudah pernah Haji dan umrah sebelumnya. Kebetulah di group ku ini semuanya rata-rata udah Haji dan Umrah.

Belajar banyak saya dari dia. Orangnya sangat disiplin sekali. Tidak main-main dalam menjalankan ibadah. Alhasil saya dituntunnya selama 19 hari. Saya bersyukur berkali-kali. Membayangkan seandainya tidak ada dia.

Jadi selama tour ini kami berdua kemana-mana menjadi tour leader. Karena kami selalu di depan, kami gandeng orang-orang tua karena satu tour leader perempuan tidak mencukupi. Akhirnya saya pun jadi ikutan bantu-bantu ibu-ibu, nenek-nenek yang kebanyakan kebingungan.

Kami saling bantu membantu menjaga nenek-nenek yang harus berjalan dengan rombongan perempuan karena kita harus sholat di tempat perempuan.

Semua orang pikir kalau kami ini bersaudara. Padahal kenal pun tidak. Dengan ridho Allah swt. Kita menjadi saudara. Dia pun juga berfikir “kok bisa-bisanya” terjadi seperti ini. Kalau Allah sudah berkehendak, apapun jadilah. Dari berjuta juta orang pergi Umrah. Saya telah dipilihkan orang yang tepat untuk menjadi guru saya serta untuk bisa diskusi dan menyimak pengalaman selama perjalanan religi ini. Kami panjatkan doa terus atas semua hikmat dan Kuasa Allah. Alhamdulilah “Pray to Allah” atas kebesarannya.

 

bersambung…

 

 

One Response to "Perjalanan Religi (2)"

  1. J C  24 January, 2019 at 11:17

    Bu Hajjah, semoga mabrur sepulang dari sini…kados pundi wartosipun? Sampun dangu sanget mboten kontak nggih…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.