MELATI

Alfred Tuname

 

Seorang di masa lalu menelpon di sore itu. Sore hari, garis cahaya mentari sudah menguning emas. Pasti sangat indah jika orang menyaksikannya saat ia mulai tenggelam di horizon demarkasi pantai Parang Tritis.  Beautiful sunset. Saat itu aku tidak sedang merasa di pantai. Aku sedang duduk di halaman depan kos.

“Halo, apa kabar?

“Baik-baik saja”, jawabku.

Aku menarik nafas panjang. Nafas yang paling dalam seperti seorang sedang melakukan meditasi atau latihan yoga. Tiba-tiba ia berkata seperti seorang jaksa penuntut.

“sombong ya sekarang”

Aku agak terkejut dengan kalimat itu. Seolah-olah i am in trouble.

“Sombong bagaimana maksudmu?”, jawabku

“Iya, kamu sombong dan sudah berubah sekarang”

Aku semakin bingung. Seolah-olah aku seorang terdakwa yang dikenai pasal berlapis. Ada sesuatu yang aneh dengan orang ini. Itu kukatakan dalam hati saja.

Dengan sedikit naluri pemberontak, aku meladeni “tuduhan” itu.

“ya, penta rhei. Segala sesuatu pasti berubah. Semua orang pasti berubah. Demikian juga dengan aku. Yang tetap hanya perubahan. So?”

Dia tertawa. Tertawanya membuatnya suasana menjadi cair. Tertawa membuat perasaan seperti kembali ke titik nol. Normal. Dengan tenang ia menjelaskan kesombongan dalam kategorinya sendiri.

“Maksudku, kamu sombong sekarang. Kamu tidak pernah mengirim SMS (short message service) dan telpon aku lagi. Intinya, kamu tidak pernah menghubungi aku lagi”.

Sekarang giliranku tertawa dengan sedikit senyum. Ia sedang berpikir aku sedang melupakannya. Padahal aku pernah membaca Milan Kundera. Kemanusiaan adalah perjuangan melawan lupa.

“Hei, aku minta maaf kalau begitu. Tidak menghubungimu, tidak berati aku sedang melupakanmu. Aku masih akrab dengan suaramu. Suaramu masih seperti yang dulu.”

“Ya, iyalah. Mana ada suara berubah?”, ia memotong jawabanku.

“Oke, oke. Basicly, you’re locked in my mind“, sambungku mengutip sebuah percakapan dalam film Shakespeare In Love.

“oh, ya. Kamu sekarang merokok ya?”

Apa urusanmu dengan kehidupan pribadiku, kataku dalam hati. Mungkin ia sedang menaruh perhatian padaku. Ia tahu semenjak berkenalan dengannya aku tak pernah merokok.

“Yap… Man likes smoking. Merokok membuatku tidak merasa sendirian”

“Oooh… Masih sendiri nih?”, ia mencoba menggodaku.

“Wait, i have a beautiful and smart girlfriend. She is sweet too”

“oooooo…….”

Sebuah sepeda motor dengan plat EB masuk halaman kos. Dua orang sahabatku datang. Rij dan Lux. Mereka sahabat yang baik. Rij adalah sahabat yang ramah dan senior dan humoris. Banyak orang mengenalnya. Kadang karena sikapnya itu, adik-adik kurang menjaga sikap hormat kepada Rij. Untungnya tak ada yang berlebihan dari sikap adik-adik tersebut. Sejauh ini ia punya sikap yang egaliter.

Yang pasti, ia tahu bagaimana ia harus menempatkan diri. Rij juga sangat digemari oleh adik-adik putri yang punya sense of humor. Kehadirannya membuat sang putri-putri tertawa gemas terhadapnya. Maklum, Rij punya bakat humor par excellent. Tapi kadang, karena humornya, ia tak berdaya atas perasaannya. Ketika ia mendekatinya seorang putri dan mengatakan isi hatinya, ia dianggap sedang memainkan gelagat humor.

Ungkapan isi hatinya itu masih dianggap candaan oleh pujaannya. Sebuah paradoks. Paradox of humour. Sementara Lux adalah seorang yang pendiam. Ia tak banyak bicara. Ia tipe pekerja. Darinya, orang dapat belajar apa itu tanggung jawab.

Rij langsung menyapaku. “siap sudah. Kita akan berangkat sebentar lagi”.

Aku mengangguklan kepala. Sementara itu aku harus menghentikan pembicaraan telponku.

“Sori, sori. Nanti kita telpon-an lagi ya? Aku harus mempersiapkan sesuatu. Ada urusan penting. Adieu...”

“Ok. Bye…Sori juga sudah mengganggu”, komentarnya

“Oke. Tidak apa-ap….”.

Belum selesai aku menjawab, ia sudah memutus telponnya. Dugaku, ia kecewa. Ia ingin bercerita banyak hal. Tapi aku membatasinya. Batasan sering membuat orang kecewa. Kadang juga, kecewa muncul dari paksaan ego. Aku tidak sedang membuatnya kecewa, egonya menciptakan kekecewaan itu.

                                   ******

Beberapa pasang pakaian kumasukan dalam tas. Perlengkapan mandi dan alat cukur kumasukan di sisi belakang saku tas. Aku teringat pacarku yang sering mengatakan “jangan lupa mandi!”, padahal ia tidak pernah melihat aku jarang mandi. Sekarang aku mengerti Wittgenstein. Filsuf ia bilang jangan memaksakan sebuah pengertian, tapi maksud dari sebuah pernyataan. Artinya pacarku itu sedang bermaksud memberikan perhatian padaku. Kecil tapi penting. Aku juga membawa notebook. Notebook sangat penting bagiku. Aku harus membawanya. Aku ingin mendengarkan lagu, vidoe klip atau menulis sesuatu kalau-kalau ada kesempatan. Relaksasi saraf pikir untuk mengusir kepenatan melalui musik. Aku teringat sebuah kalimat dalam film “My Girlfriend’s Boyfriend” bahwa music makes alot of senses.

Dan sekarang waktunya berangkat.

“Dimana Tendi?”, tanyaku pada Lux.

“Ce ho’o kaku e … Cao ga“, jawab Tendi.

Ternyata Tendi sudah menunggu di gang, jalan depan kos. Tendi, ia seorang pemain gitar berbakat. Ia pandai bermain gitar sekaligus pemalu. Ia pemalu sebab ia rendah hati. Ia pernah punya seorang pacar yang manis dan sangat ia cintai. Tapi pacarnya salah menilai sikap rendah hatinya. Sikap pemalunya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Pacarnya tak suka dengan sikap pemalunya.

Lambat laun, sikap pemalunya membunuh tali kasih dengan pacarnya meski tak membunuh perasaan sayangnya kepada sang putri itu. Cintanya berakhir di gerbang pembatas cinta. Ya, begitulah relasi cinta. “all relationships are bubble. They are fragile. It is like tulips”. Sebuah komentar menarik tentang hubungan cinta yang terujar oleh seorang aktor dalam film Wallstreet Money Never Sleeps.

Transjogja mengantar kami ke terminal Jombor. Hari sudah hampir gelap. Tak ada lagi bus yang akan mengantar kami ke Tumanggung. Kami terlambat, ketinggalan bus. Di kota besar seperti ini ternyata jadwal bus antar propinsi juga terbatas tidak seperti mini market-mini market 24 jam yang bertebaran sembarangan di kota Djogja. Terpaksa kami menggunakan mini bus dengan risiko membayar sedikit lebih mahal. Risiko dari sebuah keterlambatan. Redup lampu-lampu jalan seolah mengikuti kami dalam perjalanan itu. Jalanan masih ramai. Mungkin pengendara (mobil dan sepeda motor pribadi) lain labih suka melakukan perjalanan malam. Maklum, lebih baik melakukan perjalanan malam dari pada harus menanggung risiko tilang yang jika bayar di tempat sama dengan makan lima hari bagi anak kos di kota Djogja. Bukan main mahalnya.    

Aku duduk di kursi belakang diapit kedua sahabatku, Tendi dan Lux. Rij duduk dengan penumpang lain, dua orang perempuan. Di kursi belakang, kami bercerita dan bercanda. Ini yang bisa kami lakukan untuk menguris kejenuhan dan kegerahan di minibus. Ejek-ejekan membuat kami sedikit merasa “at home” di mobil tersebut.

Asap rokok menguap dan pergi bersama kata-kata. Yang tertinggal hanya gelak tawa dan puntung petit histoire. Dua jam telah berlalu. Mobil berhenti di sebuah gerbang hotel. Sebuah hotel pada skala melati. Hotel itu bukan hotel melati. Hotel itu punya nama. Hotel Dewata. Pemilik hotel ini bukan orang Bali, bukan orang Jawa, bukan orang Batak, bukan Chinese, bukan pribumi, bukan kristiani, bukan budha, bukan juga muslim. Pemilik hotel ini adalah orang Indonesia yang beragama. Di hotel ini, kami berempat akan bekerja 10 hari.

Boleh jadi kami adalah karyawan paruh waktu untuk menyambut tamu hotel yang sedang liburan lebaran. Lumayan, beberatus ribu untuk tambahan uang saku. Bagi mahasiswa yang nyambi jadi karyawan jelas bukan sebuah refreshing atau mencari pengalaman kerja. Menjadi karyawan berarti bekerja untuk bebas dari beban atribut ekonomi. Arbeit macht frei.

                              ******

Djogja, Desember 2010

Alfred Tuname

 

 

3 Comments to "MELATI"

  1. Dewi Aichi  5 February, 2019 at 21:49

    Romantisme Jogja..

  2. James  2 February, 2019 at 07:14

    hotel Melati

  3. Alvina VB  2 February, 2019 at 02:38

    Judulnya mengingatkan nama putri bung Iwan Kamah dan juga nama jalan di Jakarta, jalan Melati (karena kebanyakan rumah di jalan tsb punya kembang Melati di pekarangannya dan kl jln di sana harum banget jadul, entah masih ada/gak itu jalan ya).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.